
Niana pikir Endri akan langsung membawa Lesy ke hadapannya setelah ia menyetujui permintaan dari suaminya itu. Namun ternyata, sampai satu Minggu berlalu, Endri belum membawa pulang si wanita pengganggu rumah tangga orang tersebut. Selama satu minggu ini pun, Niana tetap menjalani semua kegiatannya seperti biasa.
Niana tetap bekerja dan ketika berada di rumah, ia tak segan untuk membantu pekerjaan Nur di dapur. Endri jarang sekali pulang dan tentu saja selalu menggunakan alasan yang sama; bahwa Lesy perlu lebih diperhatikan mengingat kondisinya yang sedang hamil muda. Endri sama sekali tidak memedulikan kondisi Niana yang nyaris seperti orang linglung.
Ketika gelap semakin pekat, tangisan Niana langsung tumpah. Di dalam kamar yang biasa ia gunakan untuk tidur bersama Endri, ia selalu merintih sendiri. Dalam satu minggu ini, pola tidurnya menjadi kacau sekali. Sekacau perasaan lara yang membuat seluruh mimpi indahnya berakhir sia-sia.
Namun Niana harus tetap bertahan. Inilah keputusan yang telah ia kemukakan. Tinggal bersama suami sekaligus sang madu. Dan pastinya keputusan itu akan jauh lebih menyakitkan. Niana sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan wanita itu di rumah di mana ia pun tinggal sejak menikah dengan Endri. Ia tidak boleh terlihat takut apalagi lemah. Jalan sulit ini memang harus ia tempuh demi sebuah misi yang sudah diselimuti besarnya ambisi. Pun demi mencari keadilan untuk dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk melarikan diri.
"Nur, kalau nanti Mas Endri membawa seorang wanita, kamu jangan kaget ya?" ucap Niana pada Nur yang masih sibuk mengiris bawang sementara dirinya masih duduk di salah kursi yang berada di dapur itu.
Nur agak terperangah. Ia lantas menelan saliva. Kegiatan yang sedang ia lakukan pun menjadi terhenti. Detik berikutnya, ia memutar badan dan menatap sang nyonya yang sedang duduk sembari menggenggam gelas kaca berisi air mineral.
Perlahan, Nur memutuskan untuk menghampiri Niana. Jika biasanya agak slengean, kini Nur yang sudah menduga-duga bersikap jauh lebih santun dan penuh kehati-hatian.
"Maksud Nyonya wanita itu maksudnya siapa?" tanya Nur berlagak tidak tahu, karena sejujurnya ia sedikit sudah tahu. Mengenai sikap Endri yang belakangan ini tak pulang ke rumah. Ketika Niana berbincang dengan Endri di pagi hari di satu minggu yang lalu, Nur pun tak sengaja mendengar perbincangan mereka. Mengenai Niana yang tak ingin diceraikan, tetapi selama ini ia memutuskan untuk diam.
Niana menghela napas. Sesak sekali rasanya. Sebenarnya ia enggan untuk membagi kisah pilu yang ia alami pada orang lain, termasuk Nur. Namun ketika Lesy sudah datang, Nur pasti juga akan tahu dan bisa saja Nur membuat spekulasi sendiri.
__ADS_1
"Tuanmu memiliki wanita idaman lain, Nur. Dan ...." Niana menelan saliva untuk sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan gatal. "Tuanmu dan si wanita selingkuhannya itu sudah memutuskan untuk menikah. Mereka bahkan akan segera punya anak. Wanita itu juga akan segera pindah ke sini, Nur. Tinggal bersama kita."
Wajah Nur langsung luar biasa kebas. Bahkan meski sudah menebak kerenggangan hubungan tuan dan nyonyanya, ia tetap terkejut setelah mendengar penuturan Niana. Bagaimana bisa? Padahal Niana adalah wanita yang super baik dan rajin. Selain bisa membantu perekonomian rumah tangga, Niana juga pandai mengolah makanan dan tak jarang mengambil alih tugas Nur di dapur hanya demi menyenangkan hati sang suami.
"Aduh, Nyonya ...!" Nur terduduk di hadapan Niana, sementara kedua tangannya tergeletak di atas pangkuan sang nyonya. Bahkan Nur secara tulus sampai menumpahkan air matanya. "Lebih baik kita pindah saja, Nyonya Niana. Saya akan mengikuti ke mana pun Nyonya pergi. Saya ingin bekerja dengan Nyonya saja daripada bekerja untuk Tuan Endri dan wanita itu, Nyonya." Nur semakin sesenggukan.
Melihat Nur yang sampai menangis, tentu saja Niana turut menangis. Ternyata anak gadis yang bekerja selama dua tahun bersamanya itu begitu menyayangi dirinya. Padahal belum tentu ia sudah menjadi majikan yang baik. Bahkan mungkin ia justru kerap memarahi Nur.
"Tidak bisa, Nur," kata Niana. "Kenapa aku dan bahkan kamu harus pergi? Aku tidak bersalah, apalagi dirimu. Kenapa kita harus mengalah? Jika aku mengaku kalah, pasti kamu juga akan terkena imbasnya. Jika kamu ikut bersamaku, belum tentu saya mampu memberikanmu gaji sebesar pemberian tuanmu, Nur."
Niana menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. Kendati buliran air mata masih terus berjatuhan, ia berencana untuk segera menguasai dirinya. Ia tidak mau matanya kembali sembab oleh air mata, apalagi jika Endri tiba-tiba datang bersama sang wanita simpanan. Ia tidak mau terlihat jika tengah terluka parah.
"Nur, apa kamu akan selalu setia pada diriku seperti yang kamu katakan barusan?" Mata Niana menatap Nur yang terus tertunduk. Tangannya mulai bergerak dengan lembut untuk mengusap rambut Nur yang hitam legam dan tersisir rapi.
"Benar, Nyonya. Demi Tuhan! Saya akan terus setia pada Nyonya Niana. Jadi, jika Nyonya pergi, saya juga akan ikut pergi!" sahut Nur antusias dan ia betul-betul tulus.
Niana menelan saliva. Salah satu telapak tangannya yang menganggur ia gunakan untuk membersihkan air matanya. Setelah itu, ia kembali berkata, "Kalau begitu dengarkan aku, Nur. Dengarkan aku baik-baik. Mari bertahan di rumah ini, Nur. Dan bantu aku untuk memberikan pelajaran pada Mas Endri dan wanita itu." Mata Niana berangsur memancarkan ketegasan. "Inilah sebabnya kenapa aku setuju saat Mas Endri ingin membawa wanita itu ke rumah ini, Nur. Aku ingin menghukum mereka berdua, lalu aku akan membawa kamu pergi setelah berhasil mendapatkan keadilan suatu saat nanti. Dan kamu tidak boleh mengkhianati aku sama sekali, Nur!"
__ADS_1
Nur mengangkat kepalanya, kemudian mendongak menatap Niana yang tak lagi menangis, melainkan menatap nanar ke arah depan. Nur tahu betul bahwa majikannya itu sedang menyimpan kemarahan yang sangat besar. Bagaimana tidak, jika Niana yang selalu setia dan terus berusaha melakukan yang terbaik justru dikhianati bahkan dicurangi. Nur sangat mengerti. Lalu ia mengepalkan salah satu telapak tangannya, ia juga sudah menghentikan tangisannya. Ia menunjukkan ekspresi berapi-api. Ia siap berjuang bersama Niana!
"Saya akan selalu berada di pihak Nyonya Niana, dan saya akan membantu Nyonya Niana untuk memberikan hukuman pada mereka! Saya berjanji!" ucap Nur dengan antusias.
Niana menatap Nur. "Aku memegang janji yang kamu katakan, Nur!"
Nur mengangguk mantap.
Dan kini, Niana sudah memiliki dua dukungan penting yang akan membantu rencananya. Teruntuk Nur, ia merasa bersalah jika harus memanfaatkan asisten rumah tangganya itu. Namun semangat dan janji yang Nur katakan berangsur membuatnya sadar, bahwa Nur harus ia perjuangkan sebagai salah satu orang yang selama ini bekerja untuk dirinya. Ia tidak akan membiarkan Lesy merampas sosok Nur sebagai pembantu pribadi. Karena Lesy bisa saja semena-mena pada gadis muda tersebut.
Tepat setelah Niana dan Nur mengucapkan janji, tiba-tiba pintu utama rumah itu terdengar tengah dibuka oleh seseorang. Setiap nomor sandi diketik di alat kunci digital dari depan. Dan tak berselang lama suara Endri terdengar sedang berbincang ringan dengan seorang wanita.
Tentu saja Niana terperangah, Nur pun segera bangkit.
"Nyonya ... se-sepertinya ... Tuan Endri su-sudah membawa wanita itu," ucap Niana. Dan ucapannya tidak disahut oleh Niana karena dunia Niana seolah berhenti detik itu saja.
***
__ADS_1