First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 33-Mak Comblang yang Gagal


__ADS_3

Niana sedikit terkejut dengan kehadiran Dominic di kedai kopi di mana ia dan Dany sedang menyantap kopi bersama. Dan ia masih terdiam setelah sempat memberikan sapaan pada salah satu teman pria semasa kuliahnya itu. Ia hanya bingung untuk menentukan sikap, apalagi di saat hatinya mulai dipenuhi tanda tanya. Tentang mengapa Dominic datang di tempat yang sama? Dan apakah pria yang berprofesi sebagai produser itu sebenarnya telah diundang oleh Dany sebelumnya? Apakah Dany memang hendak membuat Niana tertarik untuk menjalin hubungan dengan Dominic dalam hal asmara?


Helaan napas panjang terdengar tengah Niana lakukan. Kepalanya mulai tertunduk dan matanya tak lagi menatap heran ke arah dua pria yang saat ini berada di hadapannya. Namun sejujurnya sudah ada sekelumit perasaan jengkel dan nyaris kecewa. Perasaan buruk itu ia arahkan pada Dany. Padahal Niana sudah mewaniti-wanti agar Dany tidak melakukan sesuatu yang konyol, dengan melibatkan Dominic, apalagi jika sampai meminta Dominic untuk merayu dirinya. Ia tidak mau hubungannya dengan Dominic menjadi serba canggung dan kaku. Sayangnya, Dany sudah terlanjur melanggar aturan kecil yang Niana buat pada malam reuni itu.


“Niana? Apa keberadaanku cukup mengganggumu?” tanya Dominic tiba-tiba dan tentu saja membuat Niana sedikit terkesiap. “Kamu tampak lebih murung setelah aku datang.”


“Ti-tidak kok! Mana ada aku seperti itu padamu, Dom?! Kita kan bukan orang asing lagi, melainkan teman sejak kita masih labil! Hehe,” sahut Niana sembari berusaha menutupi perasaannya yang sesungguhnya. Kemudian, ia melirik Dany, sementara sahabat sekaligus atasannya itu langsung memalingkan wajah. Sikap Dany sudah membuktikan bahwa prediksi Niana bukanlah sebatas spekulasi semata.


“Ah, kamu mau pesan apa? Biar aku yang pesankan ke meja pelayan, Dom.” Niana memberikan penawaran, agar setidaknya keadaan tak lagi terkesan canggung. Masalah Dany, ia akan mengatasinya nanti setelah Dominic pergi.


Dominic tersenyum lalu menggeleng pelan. “Terima kasih atas tawaranmu, tapi sebelum duduk di sini aku sudah memesan. Mungkin sebentar lagi, pesananku akan datang. Bagaimana kabarmu?”


“Aku tidak ditanya?” sela Dany lalu memasang ekspresi memelas. “Aku cemburu lho, Dom!”


“Baik, Dom. Lagi pula, tadi malam kan kita sudah bertemu dan kondisiku masih dalam keadaan yang cukup baik.”


“Pft ....” Dany nyaris tertawa.


Niana menggertakkan gigi sembari menatap Dany dengan tajam. Diamlah! Setidaknya ungkapan itu yang ingin ia sampaikan pada Dany seandainya ia tidak malu pada Dominic. Lagi pula, ia tidak mau jika Dominic menganggap ucapannya hanyalah sebatas kebohongan. Dan mau bagaimanapun Niana harus tetap terlihat baik-baik saja.


“Kenapa, Dan? Ada yang lucu?” tanya Dominic pada CEO perusahaan manufaktur itu.


Dany menggeleng cepat sembari menunjukkan senyuman usil. Ia mengarahkan wajah tengilnya pada Dominic kemudian pada Niana. “Bukankah yang cute itu aku?”


“Menjijikkan!” tukas Dominic.


Niana tertawa kecil. “Dasar kalian!” ucapnya. Detik berikutnya, ia berangsur menghela napas dalam-dalam. “Sebenarnya aku merasa aneh karena duduk di kedai bersama dua pria tampan di saat aku sudah memiliki seorang suami.”

__ADS_1


“Oh, jadi kamu tampak murung karena teringat pada suamimu?” Dominic bertanya. Ia akan lega jika Niana memang tidak sedang menghadapi masalah apa pun di dalam pernikahan, tetapi dalam waktu bersamaan ia merasa aneh, apalagi ketika Niana langsung menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan darinya.


Rasa resah pun mulai melanda hati Dany. Ia jengkel tetapi juga sedikit memahami Niana yang tetap memikirkan Endri di situasi saat ini. Bahkan meskipun Niana tidak memikirkan Endri, mungkin saja Niana sedang membangun batasan. Jika Niana peka terhadap keberadaan Dominic yang diundang oleh Dany, sudah pasti saat ini Niana tengah mengambil sikap agar rencana Dany tidak berjalan dengan lancar.


Dany menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia harus menyingkir terlebih dahulu, sebab perasaannya pun mulai kesal pada Niana yang masih enggan membuka hati untuk pria yang jauh lebih baik daripada Endri.


“Mau ke mana, Dan?” tanya Dominic yang baru saja mendapatkan kopi hitamnya dari salah seorang pramusaji.


“Ke toilet sebentar,” ucap Dany. “Aku juga harus menelepon seseorang untuk mengurus beberapa pekerjaan.”


“Oh, oke.”


Dominic menyahut singkat disertai anggukan kepala, sementara Dany sudah melangkah untuk meninggalkan meja.


Niana terdiam dan matanya terus menatap punggung Dany yang semakin mejauh. Ada yang salah dengan pria itu. Setelah sempat berekspresi cerah, wajah Dany mendadak masam. Apakah Niana sudah salah bicara? Apakah Dany mengetahui niatnya dengan membawa-bawa nama suaminya?


“Niana?” ucap Dominic. “Bagaimana dengan suamimu?”


Dahi Niana mengernyit. “Apa maksudmu? Memangnya kenapa dengan suamiku, Dom?”


“Tidak apa-apa sih. Aku hanya sekadar penasaran saja. Selama dua tahun setelah kamu menikah dengan Endri, kamu mulai menarik diri dari kami, terutama dariku dan Dany. Aku paham soal itu karena mungkin aku dan Dany sebagai dua orang pria bisa membuat kesalahpahaman. Aku hanya ingin memastikan apakah suamimu sudah memperlakukanmu dengan baik di saat kamu pun telah merelakan waktu bebasmu untuk bisa bersama sahabat-sahabatmu.”


Niana menelan saliva dengan susah-payah. Kebimbangan mulai mendera dirinya. Dan haruskah ia memberikan jawaban yang jujur atau tetap menutupi semua kenyataan yang sudah terjadi? Ah, sepertinya Niana harus memilih opsi kedua, sebab ia sudah berjanji untuk tidak membuat Dominic terlibat apalagi sampai merasa iba padanya.


“Suamiku ... memperlakukanku dengan baik kok,” ucap Niana lalu tersenyum masygul.


Dominic memicingkan mata, menelisik setiap ekspresi yang tertera di wajah Niana. Barang kali Niana sedang menutupi sesuatu yang bisa saja telah terjadi.

__ADS_1


“Bagus deh!” ucap Dominic pada akhirnya, setelah ia pun mulai sadar diri lagi.


“Ah, i-iya, Dom.” Niana terus tersenyum. “Mm, ka-kalau begitu apa aku boleh undur diri sekarang juga?”


“Eh? Kenapa? Aku kan baru datang.”


“Mm, maaf. Bukan bermaksud untuk tidak menghargai kamu, tapi aku punya janji dengan kedua mertuaku, kalau aku dan Mas Endri akan datang ke rumah mereka setelah kami pulang kerja. Tadinya aku juga hanya mampir ke sini untuk minum kopi dan setelah habis aku akan pulang, yah, sembari menunggu suamiku pulang juga. dan kebetulan Dany juga ingin ke sini, makanya kami mampir bersama. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu mau datang. Lain kali kita bisa bertemu lagi, bukan? Akan lebih bagus jika ada Rubel dan Keisya. Dan lagi, saat ini aku tidak akan menarik diri dari kalian lagi kok! Yah tentu saja selama kalian pun masih senggang dan belum dicemburui oleh pasangan hehe. Tolong sampaikan pamitku pada Dany, ya?”


Tanpa menunggu jawaban Dominic terlebih dahulu, Niana langsung bangkit dari duduknya. Situasi sudah cukup aneh, ia tidak bisa berada di tempat itu terlalu lama. Belum lagi, ia harus memikirkan Dany yang mungkin saja sedang kecewa. Ah, Dany. Niana ingin memarahi pria itu, tetapi ia pun sadar bahwa dirinya masih kerap meminta bantuan.


“Niana!” ucap Dominic. Ia pun turut berdiri dari duduknya. “Bolehkah aku meminta kontakmu?”


“Hmm? Memangnya belum punya?” sahut Niana.


Dominic menggeleng. “Belum, aku bisa saja memintanya dari Dany, tapi aku tetap membutuhkan izin darimu.”


“Oh, astaga, Dom! Kenapa sih kamu masih bersikap kaku seperti itu?” Niana tertawa kecil. Detik berikutnya, ia membuka tas jinjing cokelat mudanya dan mengeluarkan dompet. Ia menarik salah satu kartu nama dari dompet tersebut. “Kontakku sudah tertera di sana, Dom.”


Dominic tersenyum. “Terima kasih, Nyonya.”


“Sama-sama, Dom. Kalau begitu aku pulang dulu ya?”


“Hati-hati di jalan.”


Niana mengangguk. Detik berikutnya, ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan meja itu. Dominic hanya bisa terdiam dan menghela napas. Mata pria itu pun masih menatap punggung Niana yang kian menjauh. Rupanya Niana memang tidak sedang berada dalam masalah besar. Nyatanya wanita itu masih memiliki janji penting untuk datang ke rumah orang tua Endri. Salah Dominic sendiri yang begitu berani membuat spekulasi dan bahkan menganggap serius ucapan Dany. Padahal ia tahu betul jika Dany memang kerap bercanda kecuali jika sedang bekerja.


“Ah, gadis mungil itu sungguh keras kepala. Dia benar-benar ingin menghindar dan membuat rencanaku gagal. Bukankah seharusnya dia berterima kasih padaku yang sudah mencarikan pria lebih baik daripada Endri?!” gumam Dany jengkel sembari mengintip kepergian Niana dari meja lain, tempatnya bersembunyi setelah keluar dari toilet.

__ADS_1


***


__ADS_2