
Dominic sudah pergi setelah memberikan salam singkat pada Endri. Namun meski ingin berpura-pura baik seperti yang diinginkan oleh Niana, Dominic tetap bersikap dingin pada suami jahat dari sahabatnya tersebut. Mau bagaimanapun ia tetap marah, dan meski sering bergaul dengan para aktor, ia tetap tidak bisa berakting dengan sempurna seperti apa yang Niana minta.
Dan kini, tentu saja hanya ada Niana dan Endri saja di meja makan yang sama. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Ekspresi di wajah Endri pun menunjukkan kebingungan yang sudah bercampur sedikit kekecewaan. Ia tidak menyangka bahwa orang yang akan Niana temui sebelum dirinya adalah Dominic yang telah mendengar kenyataan rumah tangganya.
"Duduklah, Mas. Waktu kita tidak banyak dan aku ingin mengatakan sesuatu agar kamu tidak salah paham dengan Dom," ucap Niana sembari mengambil sikap duduk terlebih dahulu daripada suaminya.
Endri menghela napas. Detik berikutnya, ia berangsur duduk di kursi yang sebelumnya telah diduduki oleh Dominic. "Akhir-akhir ini kamu sering bergaul dengan mereka ya? Tuan Dany dan Tuan Dominic?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tidak," sahut Niana yang menangkap adanya rasa cemburu yang terkandung di dalam perkataan Endri. "Tapi, misalnya aku membenarkan ucapan kamu, apa menurutmu aku sudah melakukan kesalahan? Dany adalah atasanku sekaligus orang yang sudah membantu memulihkan perusahaanmu. Dan Dom hanyalah sahabat dari masa remajaku, yang baru aku temui akhir-akhir ini dan kami sama sekali tidak berkomunikasi selama kurun waktu lebih dari dua tahun."
"Tentu salah, kamu masih memiliki seorang suami, Niana. Baik, tak perlu mengingat soal suamimu, tapi setidaknya ingatlah statusmu yang masih menjadi istri seseorang. Kamu hanya akan di—"
"Hanya akan digosipkan dan dianggap sudah melakukan kecurangan? Seperti misalnya sebuah perselingkuhan?"
__ADS_1
Endri menelan saliva dengan susah-payah. Perkataan Niana sungguh membuat perasaannya tersinggung, lebih tepatnya tersindir. "Kamu masih marah padaku? Soal kemarin siang dan tadi malam?"
"Iya," jawab Niana tanpa ragu. "Aku benar-benar tidak menyangka kamu justru bersenang-senang dengan Lesy di saat aku pergi, kamu seolah memanfaatkan ketiadaanku untuk membahagiakan dia. Padahal aku terluka, setelah aku merasa bahwa hubungan kita sudah membaik, kamu justru menaruh curiga padaku dan fatalnya kamu memanfaatkan kepergianku. Bagaimana mungkin aku tidak marah, Mas?"
"A-aku kan sudah berkata bahwa kencanku dengan Lesy tadi malam hanyalah sebuah trik, untuk membujuknya agar mau keluar dari rumah kita dan aku berhasil!"
Niana menghela napas. "Oleh sebab itu, Mas, setelah mendengar alasanmu, aku langsung menemui Dom. Aku membujuknya agar dia tidak mengatakan masalah kita pada siapa pun, terutama orang tuaku, atau Dany. Agar apa pun yang dia dengar dari mulutku tadi malam tidak menjadi sumber masalah bagimu yang baru bisa memulihkan perusahaanmu. Dan aku merasa sangat bersalah, karena ketika sedang kecewa sekaligus marah aku sampai mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan tadi malam. Karena aku adalah sahabatnya, Dom pun bersedia dan berjanji untuk menutup mulutnya dan melupakan ucapanku tadi malam. Dia juga akan membujuk dua orang yang bersamanya tadi malam yang juga telah mendengar. Beruntungnya kedua orang lainnya itu, aku tidak mengenal mereka, selain hanya Nona Arsyita seorang aktris ibukota."
Cerdas, cerdik, dan mampu menyelesaikan masalah dengan cepat. Niana. Wanita yang Endri temui empat tahun lalu, di sebuah seminar yang diadakan oleh salah satu pebisnis hebat, memanglah memiliki otak begitu cemerlang. Tak hanya satu kali Niana hadir dalam sebuah seminar. Kala itu untuk ketiga kalinya bertemu di acara yang sama, Endri lantas meminta nomor ponsel wanita cantik yang dulu berpenampilan sederhana tetapi elegan. Endri tertarik pada Niana yang memiliki selera sama dengan dirinya. Di beberapa kesempatan pun, ia dan Niana bertukar kabar serta saling menghubungi jika sebuah seminar oleh tokoh besar akan diadakan. Kedekatan karena persamaan selera akhirnya menumbuhka benih cinta di antara keduanya setelah kurang lebih lima bulan saling mengenal.
Jadi, sejak kapan tepatnya selera Endri soal wanita lantas berubah? Mungkinkah sejak ia terlalu sering bertemu dengan pengusaha lain yang memiliki seorang istri cantik, glamor, serta modis? Ataukah sejak Lesy datang sebagai karyawan di perusahaannya yang menurutnya luar biasa menarik, begitu berani, serta lebih menyenangkan?
"Mas?" ucap Niana. Ia sampai mengerutkan dahinya karena melihat suaminya yang justru melamun. "Ada apa? Apa kamu tidak setuju dengan apa yang aku lakukan? Apa kamu masih kecewa padaku karena aku sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan tadi malam?"
__ADS_1
Harap-harap cemas. Niana merasa khawatir jika Endri masih sulit untuk ia atasi. Jika kepercayaan Endri terhadap dirinya menurun drastis, tentu saja ia akan kesulitan untuk mengendalikan suaminya itu. Fatalnya, jika Endri memutuskan untuk tinggal bersama Lesy, sebelum semua rencana Niana terealisasikan. Itu artinya, Niana pun harus merelakan semua usaha yang ia lakukan sampai saat ini tanpa mendapatkan hasil yang signifikan.
"Tidak, Niana. Aku tidak marah ataupun tidak setuju pada keputusanmu barusan. Aku justru sangat berterima kasih, karena semarah apa pun dirimu padaku, kamu masih saja melakukan banyak hal untukku. Kamu juga langsung mencari solusi atas apa yang sudah kamu lakukan tadi malam, meskipun aku yang bersalah karena aku tidak mengatakan apa pun padamu terlebih dahulu," jelas Endri. Detik berikutnya, ia menghela napas panjang. "Niana, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu ...."
Ekspresi di wajah Endri lebih menunjukkan emosi yang merujuk pada sebuah penyesalan. Belakangan ini, ia memang mulai sadar bahwa dirinya sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Niana. Namun kali ini, ia benar-benar ingin Niana tahu bahwa dirinya sudah sangat menyesal. Benar-benar menyesal, sampai nyaris tidak bisa bernapas ketika membayangkan masa-masa indahnya bersama Niana sekaligus kala dirinya memulai hubungan dengan Lesy.
Bahkan, tak berselang lama mata Endri tampak berkaca-kaca. Hingga akhirnya jatuh sebuah bulir air mata di pipi kirinya. Membuat Niana cukup terkejut, tetapi langsung muak. Jika dugaannya benar, mungkin Endri memang sedang berada di puncak sebuah penyesalan. Namun mengapa sampai menangis konyol seperti itu? Menggelikan dan menyebalkan!
Memangnya Endri pikir Niana akan lantas memaafkannya? Mau bagaimanapun Endri sudah sampai menghamili wanita lain. Sudah pasti, Endri dan wanita itu sudah terlalu sering melakukan perzinahan!
Memangnya aku wanita gila yang bisa menerima suami seperti itu? Kalau saja bukan demi pembalasanku untuk kalian, aku tidak akan bertahan sekaligus tidak akan menyerahkan tubuhku, bahkan meski aku masih berstatus sebagai istri sahmu, Endri! Sialnya, aku masih harus menyerahkan diriku lagi, sekaligus kata maaf palsuku untukmu. Merasa legalah terlebih dahulu, Endri, karena aku akan benar-benar menyiksa dirimu! Ucap Niana dalam batin sekaligus pikirannya.
Namun secara kasat mata, saat ini Niana sedang menunjukkan perhatiannya. Ia bahkan rela mengusap lembut telapak tangan suaminya. Ia juga mengatakan bahwa Endri tak perlu bersedih hati karena detik ini kesalahpahaman sudah berakhir.
__ADS_1
***