
Niana menyantap makanannya dengan perlahan, bukan karena ingin menjaga citra dirinya, melainkan sedang ragu. Di sebuah restoran steak ia berada saat ini. Dan di hadapannya, sudah duduk seorang Dominic yang memang tak kalah tampan daripada Dany bahkan juga Endri. Mungkin dibandingkan mereka berdua, penampilan Dominic memang cenderung lebih nyentrik, dengan rambut agak pirang alaminya. Padahal, Dominic bukanlah pria blasteran luar negeri.
"Ada apa, Niana? Kamu seperti ingin mengatakan sesuatu padaku?" ucap Dominic kemudian meletakkan piring dan garpu di atas piringnya. Saat ini matanya sudah berfokus pada Niana. "Apa karena kejadian tadi malam?" tebalnya setelah itu.
Niana menelan saliva dan berangsur menatap Dominic. Perasaannya sungguh kalut dan terutama malu. Jika Dany yang di hadapannya saat ini, mungkin ia bisa lebih bebas dalam berkata-kata bahkan berekspresi. Bahkan meski Dominic adalah salah satu sahabatnya, pria itu sudah terlalu jauh darinya dan tak sedekat Dany bagi dirinya. Niana tetap merasa malu dan canggung.
Namun dengan terpaksa, Niana lantas menganggukkan kepalanya. "Benar, Dom," katanya. "Dan sepertinya aku membutuhkan bantuan darimu, tidak, tapi ... mungkin makan siang kali ini, aku memiliki niat lain setelah memutuskan untuk menerima tawaran ini darimu," ucapnya secara jujur.
"Ah, begitu ya ... jadi, kamu menerima tawaranku karena ada maunya, begitu?" sahut Dominic. Ia tidak merasa kecewa, dan ia justru senang karena bisa membantu Niana. "Silakan saja, tidak apa-apa. Barang kali aku memang bisa membantu dirimu. Dan ... mm, sebenarnya aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada kalian. Maksudku dirimu dan Endri. Sejak kapan dia melakukannya, Niana?"
"Sudah sejak satu bulan lebih dia menikah dengan wanita itu, dan masih secara siri karena permintaanku. Sementara perselingkuhan mereka, aku tidak tahu kapan waktu dimulainya. Tapi, yang pasti, wanita itu sudah hamil," ungkap Niana. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menahan segala perasaan yang bermunculan. "Tapi, tolong, kamu jangan bertanya kenapa aku tidak meminta cerai saja. Karena aku tahu yang terbaik untuk diriku sendiri. Dan lagi, saat ini, sebenarnya ... aku menerima tawaran makan siangmu, karena aku ingin mendapatkan kepercayaan suamiku lagi setelah apa yang aku katakan tadi malam sampai kamu dan Nona Arsyita tahu bahwa dia sudah berselingkuh."
Dominic terkesiap, sampai sesak napas. "Kenapa, Niana? Kenapa kamu justru ingin mendapatkan kepercayaan pria itu lagi? Dia sudah menyakitimu dan ... dan ... keputusan kamu sudah tepat dengan mempermalukan dia di hadapanku. Tapi ...? Ah! Niana, apa kamu masih ingin bertahan di pernikahan itu? Satu bulan lebih, menurutku itu sudah terlalu lama untuk berada di situasi yang sudah begitu buruk!"
"Sudah aku katakan bahwa aku tahu yang terbaik untuk diriku sendiri. Dan aku tidak sebodoh itu, sampai memilih bertahan hingga saat ini. Jadi, tolong, jangan mencoba menudingku, Dom."
Dominic tertawa kecut di saat hatinya turut hancur. Wanita yang ia kenal sebagai gadis ceria dan baik hati memilih bertahan di dalam pernikahan yang sudah hancur lebur! Dan Endri sudah begitu gila karena sampai menyia-nyiakan wanita sebaik itu. Secara visual pun, Niana tampak cantik. Dan menurut ingatan Dominic, Niana begitu pandai dalam mengatur keuangan. Jabatan Niana di perusahaan Dany pun terhitung tinggi. Namun mengapa Endri malah berbuat kecurangan?
"Dany ... Dany sudah tahu semuanya?" Dominic bertanya.
Niana mengangguk pelan. "Dia orang pertama yang tahu, selain asisten rumah tanggaku," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu memang benar-benar sedekat itu dengan Dany ya?"
"Kami sudah dekat sejak masa kuliah, bukan? Tapi setelah menikah, aku menjauhinya. Meski berada di perusahaan yang sama, selama dua tahun itu, kami nyaris jarang bertegur sapa. Aku pun selalu menjaga jarak darinya."
"Tapi, orang pertama yang kamu temui setelah disakiti suamimu adalah dia?"
"Ya." Niana mengangguk lagi. "Karena dia yang bisa membantuku dan dia yang lebih dekat denganku."
"Dan mungkin ... dia lebih berharga untukmu daripada ketiga temanmu yang lain, bukan?"
Niana menelan saliva dan menatap Dominic dengan perasaan tak menyangka. "Tidak seperti itu, Dom! Sejak dulu pun—"
"A-apa?"
"Bukankah saat ini kamu juga sedang digosipkan sedang dekat dengan atasanmu itu?"
"I-itu ...."
Niana tampak tertekan. Dan Dominic mengakui kesalahannya karena sudah membuat wanita itu kebingungan. Padahal seharusnya ia memberikan penghiburan. Namun ia justru membuat kesalahan. Entahlah. Ia hanya merasa marah. Salah satu temannya sudah dihancurkan oleh pria bodoh tak bertanggung jawab. Seandainya dulu ia nekat menyatakan rasa cintanya pada Niana, ada kemungkinan saat ini ia yang berada di samping Niana.
"Maafkan aku, Niana. Aku sudah terlalu emosional. Pasti kamu memiliki kesulitan dan pasti kamu sangat malu karena kondisi rumah tanggamu. Maaf ... karena aku justru menekan dirimu, Niana. Aku hanya ... ikut marah, karena orang itu telah menyakitimu," ucap Dominic.
__ADS_1
Niana tersenyum kecut lalu menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa kok, Dom!" katanya. "Aku hanya ingin mengatakan niatku yang sebenarnya saja ketika aku menerima tawaran darimu. Aku merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah. Tapi, jika tidak seperti ini, semua yang aku lakukan sampai saat ini hanya akan sia-sia dan gagal. Tinggal sebentar lagi, dan aku tidak mau menghancurkan rencanaku."
"Kamu memiliki rencana?"
"Ya. Sudah aku katakan bahwa aku bukan orang yang sebodoh itu. Aku tahu yang terbaik, bahkan meski aku harus mengorbankan diriku untuk melakukan segala hal yang sudah aku rencanakan."
"Apa yang kamu rencanakan memangnya? Ah, itu pun jika aku boleh tahu."
Niana menghela napas. "Terlalu panjang untuk menjabarkannya. Tapi suatu saat, aku mungkin bisa saja meminta bantuan kamu lagi, Dom."
"Aku pasti akan membantumu, Niana. Kamu temanku dan kedua orang tuamu seperti kedua orang tuaku sendiri. Kalian sama berharganya seperti keluargaku sendiri. Dan jika yang kamu rencanakan adalah untuk menghukum orang itu, aku akan dengan senang hati membantumu, Niana. Dan Dany pasti juga sudah berbuat banyak hal untukmu, bukan?"
Niana mengangguk pelan. "Dia sudah terlalu banyak membantuku, bahkan sampai mengorbankan namanya untuk dijadikan gosip hangat para karyawan. Dan memang benar yang kamu tanyakan tadi, ada rumor yang mengatakan bahwa kami memiliki hubungan spesial. Tapi, Dom, aku sungguh tidak enak hati pada Dany. Bahkan aku sudah berpikiran untuk tidak terlalu banyak merepotkan dirinya lagi. Dia adalah adik Nona Arsyita, dia juga merupakan seorang pesohor. Jika sampai muncul gosip makin parah, aku benar-benar akan merasa bersalah."
"Kalau begitu, padaku saja. Repotkan diriku saja, Niana."
"Ah ... te-terima kasih."
Ketika hendak berkata lagi, Dominic terpaksa menghentikan niatnya ketika dering di ponsel Niana terdengar. Wanita itu pun sudah tak lagi fokus padanya, melainkan pada benda tersebut. Kelopak mata Niana tampak bergetar saat menatap layar ponsel. Dan sepertinya apa yang Niana rencanakan dengan menggunakan makan siang bersama Dominic memang sudah hampir terjadi.
***
__ADS_1