
"Di luar terlalu banyak orang, dan khawatir ada seseorang yang mengenal kita. Jadi, apartemenku adalah tempat paling tenang untuk saat ini. Ta-tapi jika keberatan, kamu boleh menolak dan—" Ucapan Dany menjadi terhenti ketika Niana langsung menatapnya dengan tajam.
Niana menghela napas. "Sudah sampai di depan pintu apartemenmu, jadi kenapa aku harus berubah pikiran? Di sini saja, tidak apa-apa, asalkan kamu tidak berpikiran macam-macam. Lagi pula, aku hanya membutuhkan waktu setidaknya satu jam atau bahkan cuma setengah jam untuk menenangkan diri, sebelum menyusul Nur. Aku tidak mau membuat Nur cemas," jelasnya.
"Te-tentu saja, Niana! Aku bukan pria sejorok itu kok!" Dany cepat-cepat menekan setiap angka yang sesuai dengan digit sandi pintu apartemennya. "Ja-jangan khawatir! Aku ingin menjagamu, bukannya mencelakaimu. Bahkan aku berkenan pergi jika kamu tidak berkenan aku ada di sampingmu. Ma-masuklah!"
Dany memang benar-benar gugup, juga gelagapan. Sampai setiap sikap yang ia ambil semuanya terasa salah. Canggung, ditambah jantungnya yang berdebar-debar tidak keruan. Seharusnya ia menitipkan Niana pada Arsyita saja, toh, mereka sama-sama wanita. Namun, kadang kala Arsyita memang tidak bisa melihat kondisi. Arsyita lebih kepo dan bisa saja tidak memedulikan kondisi hati Niana yang sedang tidak baik-baik saja.
Namun berbeda dengan Dany yang kalang kabut sendiri, Niana justru lebih bisa mengendalikan diri. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah sebuah ketenangan, dan menghindari kebersamaan dengan Endri, sebelum pria itu sadar. Sekaligus sadar bahwa Niana-lah yang membuat Endry akhirnya tumbang. Niana berjalan ke arah ruang tamu, sementara Dany bergegas dengan langkah begitu lebar dan cepat ke arah dapur memang masih terlihat dari ruang tamu.
"Duduklah, aku akan membuatmu sesuatu," ucap Dany pada Niana sesaat setelah ia menghentikan langkahnya di balik meja permanen dapurnya.
Niana menatap Dany, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih banyak, Dany," ucapnya setelah itu.
Hanya sebuah senyuman yang Dany berikan. Saat ini ia sudah sibuk mengambil sebuah toples berisikan bubuk minuman cokelat. Cokelat dipercaya bisa memperbaiki mood yang berantakan, bukan? Siapa tahu, Niana bisa segera tersenyum lebar setelah menyantap minuman tersebut.
Di saat Dany mulai mengaduk minuman itu, tiba-tiba terdengar suara hujan yang begitu deras. Padahal sebelumnya hanya mendung saja, tetapi saat ini hujan lebat justru datang secara tiba-tiba.
"Ah, hujan ...?" gumam Niana sembari menatap pintu yang mengarah ke balkon yang tidak tertutup rapat. Dany memang disiplin dan sangat detail, tetapi rupanya pria itu masih memiliki sedikit keteledoran. Meski apartemen berada di lantai tinggi, tetap saja setiap pintu harus ditutup secara rapat, bukan? Apalagi ketika sang pemilik sedang tidak ada di tempat.
"Nih, silakan diminum. Pas sekali sedang hujan deras. Cokelatnya panas cocok menjadi teman," ucap Dany yang sudah muncul dengan membawa nampan berisi dua mug minuman berwarna gelap tersebut. Ia lantas menaruhnya di hadapan Niana.
Detik berikutnya, Dany meletakkan nampan di ujung kanan meja, sementara dirinya bergegas duduk di samping Niana, tetapi masih memiliki jarak kurang lebih 50 centimeter.
"Terima kasih banyak," ucap Niana yang merasa sebanyak apa pun ungkapan itu, rasanya tidak akan bisa membayar semua hal yang telah Dany lakukan untuknya.
"Sama-sama, dan terima kasih karena kamu tetap aman sampai saat ini," sahut Dany lalu tersenyum manis.
Niana menatap netra cokelat milik pria di hadapannya itu. "Memangnya kamu tahu jika aku aman?"
"Lho?" Dany mengernyitkan dahi. Wajahnya langsung kebas di detik itu juga. "Memangnya tidak? Endri menyentuhmu lagi? Apa dia memaksamu untuk ... ah! Tidak, 'kan, Niana?"
"Kenapa begitu terkejut? Seandainya kata-katamu benar, toh, tak apa-apa. Aku ini masih menjadi istri—"
"Tak apa-apa bagaimana?!" potong Dany tegas sampai ia berdiri dari duduknya. "Ah!" Ia mengumpat seraya mengusap wajahnya. "Jika itu terjadi, berarti aku sudah gagal dalam melindungimu, Niana. Aku—"
"Pft ... hahaha!"
"A-apa? Kenapa kamu justru tertawa, Niana?"
Niana masih terkekeh dan sulit baginya untuk memberikan jawaban dalam beberapa saat. "Kamu ... kamu itu lucu, Dany! Aku ... haha ... benar-benar masih geli melihatmu yang adalah sahabatku bisa mengkhawatirkanku sampai seperti itu. Tak pernah terbayangkan olehku bahwa kamu akan benar-benar tergila padaku, tahu!"
Wajah Dany langsung memerah. Lemas, ia pun memutuskan untuk mendudukkan dirinya lagi. Mencintai seorang sahabat yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, memangnya semenggelikan itu, ya? Mengapa Niana justru menertawai perasaan tulusnya? Padahal ia benar-benar sedang mencemaskan wanita itu!
Menyadari ketidaknyamanan yang dialami oleh Dany, Niana berusaha untuk segera meredam tawanya. Meski sesekali ia masih kerap ingin tertawa. Ah, pria bernetra cokelat itu memang mudah ngambek dan Niana sempat lupa. Namun Dany menjadi lebih imut ketika berwajah murung bak anak kecil yang tak dituruti kemauannya.
"Aku menyayangimu, bahkan mulai mencintaimu. Dan memangnya itu salah, meskipun sebelumnya kita hanya sekadar teman biasa?" ucap Dany dengan nada suara yang begitu datar, dan disertai embusan napas kasar.
__ADS_1
"Kamu sedang ngambek lagi ya?" sahut Niana yang berangsur melupakan ketidaknyamanan hatinya. Dany memang menjadi sosok tertepat untuk menghilangkan segala gundah gulana. Pria itu bak malaikat penyembuh luka. "Kenapa sih suka ngambek?"
"Aku tidak ngambek!" tukas Dany sengit.
"Apanya yang tidak sih, Tuan CEO?"
"Tidak, Niana, aku hanya—"
"Hanya apa? Marah sedikit?"
"Tidak!"
"Iya deh!"
"Tidaaaak!" Dany yang sudah tidak tahan karena dibuat malu mendadak meraih kedua pipi Niana. Ia mencubit pipi wanita itu dengan gemas. Dan ...
Glup! Dany menelan saliva. Gerakannya pun terhenti di detik itu juga. Cantik! Lagi-lagi paras Niana begitu memikatnya. Matanya pun lantas menurun menatap bibir Niana yang pucat pasi. Dany menelan saliva lagi.
"Hei, hei!" ucap Niana sembari memicingkan matanya. "Jangan berpikir kamu ingin menciumku, Dany! Ingat, ya! Kamu sudah berjanji untuk tidak macam-macam padaku, dan lagi, kendati hubunganku dengan Endri sudah hancur, kami masih belum bercerai!"
"Ah! Hahaha!" Dany secara spontan langsung melepaskan wajah Niana. "Aku tidak berpikir seperti itu kok!"
"Setiap kamu bersikap, aku bisa membacanya. Ah ... sepertinya keputusanku untuk mengikutimu ke tempat ini adalah sesuatu yang salah." Niana menghela napas. Diam-diam menahan rasa malunya setelah Dany menatap aneh pada parasnya beberapa detik yang lalu. Saat ini ia hanya berusaha bersikap tenang dan biasa saja. Karena mau bagaimanapun, ia juga harus tetap menjaga sikapnya. "Kamu sudah memeriksa suratnya? Aku bahkan menaruh cap jari Endri. Dia pasti akan terkejut setelah bangun dari tidurnya."
Dany menganggukkan kepalanya. "Surat pengalihan kekuasaan itu sudah resmi kamu miliki, Niana, tentu saja termasuk kedua aset yang tertera. Rupanya kamu memang belum mendapatkan tanda tangan perceraian ya? Tapi, kamu bisa menggugatnya bersamaan dengan syarat yang ingin kamu berikan pada Endri ketika pria itu menginginkan perusahaannya kembali. Untuk saat ini, aku harap kamu menghindarinya terlebih dahulu. Ketika Arsyita bisa menahannya di dalam pekerjaan, kamu bisa pulang dan mengambil mobil serta pakaianmu."
"Terima kasih atas saranmu, tapi aku—"
Niana terdiam. Memikirkan rencananya sendiri. Sebenarnya setelah mendapatkan rumah itu pun, ia ingin segera menjualnya pada pihak lain. Rumah yang berada di kawasan elite, dan meskipun hanya dua lantai sudah pasti memiliki nilai jual yang tinggi. Apalagi lokasinya sangat strategis. Aman dari banjir, dekat dengan jalan raya, dan kantor-kantor penting. Setidaknya memiliki tiga kamar tidur, yang dua di antaranya memiliki balkon. Niana bisa mendapatkan uang minimal tiga milyar ketika berhasil menjual rumah tersebut. Uang yang akan ia gunakan untuk bersenang-senang keluar negeri bersama Nur.
"Dany, bantu aku memasarkan rumah itu secepatnya. Kamu memiliki banyak relasi, dan aku rasa kamu bisa membantuku. Tolong kamu juga yang mengatur harganya asalkan tidak di bawah tiga milyar," ucap Niana.
Dany tersenyum senang setelah idenya diterima oleh wanita itu. Namun ia yakin, Niana pasti juga sudah mempertimbangkan ide itu jauh sebelum dirinya mengatakan. "Tujuh milyar, aku rasa masih laku. Halaman rumah itu masih luar, di sisi kiri tampaknya juga masih memiliki area, bukan? Desain dan lokasi yang sangat strategis bisa menambah nilai jual," sahutnya setelah itu.
"Aku ingin segera mendapatkan uangnya, jadi, turunkan sedikit saja."
"Serahkan padaku, Niana, tak sampai satu bulan rumah itu bisa terjual. Waktu yang pas dan cukup untukmu dalam mengurus perceraian."
"Tapi, aku tidak mau jika kamu yang membelinya!"
"Kenapa?"
"Aku akan merasa sangat tidak senang."
"Hmm ... baiklah, tenang saja. Aku memiliki banyak partner bisnis, tenang saja!"
"Terima kasih banyak, Dany!"
__ADS_1
"Alah! Diamlah saja dan jangan katakan kalimat itu lagi, lama-lama aku muak tahu!"
"Baiklah, baiklah, tapi jangan ngambek lagi!"
"Tidak akan, Niana!"
"Hmm." Niana meraih mug berisi cokelat yang belum tersentuh sama sekali. Detik berikutnya, ia menghabiskan minuman itu seketika itu juga. Sesaat setelah selesai, Niana kembali berkata, "Baiklah. Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu lagi, Dany. Tolong antarkan aku ke tempat Nur."
"Hmm?" Dany mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"
"Apa?"
"Masih hujan, tahu!"
"Kita berangkat menggunakan mobil dan langsung ke basemen, bukan halaman parkir tanpa atap!"
"Lebih tepatnya, aku ingin bersamamu lebih lama lagi, Niana. Setengah jam lagi, bagaimana?"
"Aku masih jadi istri orang, ingat!"
"Aku tidak peduli, toh, aku tidak berbuat macam-macam padamu!"
"Kamu nyaris melakukannya, Dany!"
"Kamu hanya salah paham saja!"
"Tidak! Aku yakin kamu ingin menciumku barusan!"
"Tidak, Niana!"
"Aaarrrggghhh! Kenapa sih tidak pernah mau mengaku?"
"Kalau aku mengaku memangnya kamu bakal kasih izin?"
Niana melongo. "I-izin apa?"
"Menciummu ...," lirih Dany. "Tidak akan, bukan?"
Glek! Niana merasa dirinya sudah dijebak oleh pria itu. "Te-tentu saja tidak!"
"Hahaha! Kenapa wajahmu panik begitu? Aku kan hanya bercanda!"
"Sa-sama sekali tidak lucu, tahu!"
"Aku tidak peduli, yang penting bisa bikin kamu panas dingin, Nona!"
"Ugh ...."
__ADS_1
Niana yang geram karena dipermainkan langsung mengarahkan tinjunya pada Dany. Dan tentu saja Dany segera menghindar. Ia tertawa ketika niat Niana tak berhasil, sementara wanita itu semakin kesal. Namun yang pasti, Niana sudah jauh lebih baik daripada saat baru keluar dari rumah di mana Endri berada.
***