
Dany semakin gugup ketika Niana sudah hadir di hadapannya. Ia sampai gemetaran dan salah tingkah, bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Padahal, sebelum Arsyita memintanya melakukan sesuatu yang konyol itu, Dany tidak pernah merasakan kecemasan, kecanggungan, serta kebingungan yang saat ini telah melingkupi dirinya. Ia tidak mengerti. Dan sepertinya masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa dirinya memang jatuh cinta pada Niana.
Niana menatap semua hidangan yang sudah tersaji di atas meja di hadapannya itu. Beruntung ia tidak makan terlebih dahulu. Entah apa yang ada di dalam otak Dany, sampai Dany memesan banyak hidangan yang terlalu banyak jika disantap berdua saja. Dan saat ini, Dany juga terus terdiam sejak kehadiran Niana, yang tentu saja membuat Niana bingung sekaligus heran.
"Hei, Dan! Ada apa? Tak biasanya kamu diam saja?" ucap Niana mencoba untuk menelisik apa yang sebenarnya terjadi pada Dany. "Apa kamu masih marah padaku karena aku menolak ajakan makan siangmu tadi sekaligus karena aku tidak membalas pesanmu?"
Dany menelan saliva dengan susah-payah. Detik berikutnya, ia menggeleng pelan. "Tidak kok. Aku sudah tidak marah. Tak mungkin juga aku bisa marah padamu terlalu lama. Aku hanya ... entah, aku sendiri juga bingung. Belakangan ini aku memiliki sesuatu di dalam diriku dan aku tidak mengerti arti dari 'sesuatu' tersebut," jawabnya.
"Sesuatu?" Dahi Niana berkerut. "Bisakah kamu menjabarkan tentang 'sesuatu' yang kamu maksud? Barang kali aku bisa membantumu, Dan. Atau setidaknya aku bisa mengetahui sedikit tentang 'sesuatu' itu."
Sekali lagi, Dany menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Niana. Belum saatnya kamu mengetahuinya, atau bahkan kamu belum tentu harus mengetahuinya."
"Cih. Kamu sungguh membingungkan, Tuan CEO. Ya sudahlah, itu hakmu."
Niana menghela napas. Ia memutuskan untuk meraih salah satu makanan dan memindah sepotong makanan itu ke dalam piringnya. Dan tanpa permisi, ia mulai menyantapnya. Selain memang sudah lapar, ia merasa sayang jika makanan-makanan itu dibiarkan terlalu lama. Lagi pula, niat datang ke tempat ini bukan sekadar untuk berbicara, melainkan juga makan malam bersama. Namun Niana sendiri menyadari jika bukan dengan Dany, ia belum tentu memberanikan diri untuk menciduk makanan-makanan itu.
__ADS_1
Melihat Niana yang mulai menyantap, Dany sempat terdiam. Wanita cantik di hadapannya itu memang selalu menunjukkan sikap yang berbeda ketika bersamanya. Bahkan ketika bersama Dominic saja, Niana terkesan canggung. Hal yang membuat Dany merasa sedikit tersanjung, bahkan ia mulai bisa tersenyum. Baiklah, lupakan terlebih dahulu soal jantung. Sekarang Dany perlu bersikap senatural mungkin, bahkan meski debaran itu masih sulit ia redam. Namun setidaknya ia ingin mencoba untuk lebih rileks.
"Ngomong-ngomong, apa yang ingin kamu katakan padaku sampai memanggil ke tempat tersembunyi seperti ini, Dany?" tanya Niana setelah menelan makanan untuk suapan kedua.
Dany terdiam, rahangnya yang sedang mengunyah pun turut terhenti. Lalu ia menghela napas dan melanjutkan aktivitas, sampai makanan itu bisa ia telan. Detik berikutnya, barulah ia menatap Niana. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi tadi malam. Dan aku ingin mendengar dari kamu, aku rasa kamu punya pikiran berbeda sampai berani mengungkap perselingkuhan Endri di depan Dom dan kakakku. Jadi, Niana, apa yang sedang kamu pikirkan pada saat itu?"
"Ah, rupanya kamu sudah mendengarnya ya? Aku dengar kakakmu juga sempat datang ke perusahaan. Apa beliau yang mengatakannya? Atau mungkin Dom?"
"Memangnya itu penting? Tapi, baiklah, kakakku yang mengatakannya. Dia sangat bersimpati padamu. Kakakku tahu bagaimana rasa sakitnya ketika dikhianati, bahkan meski Syita dan aku dikhianati oleh orang tua kami yang sama-sama berselingkuh, bahkan oleh seorang pasangan."
"Aku ... hanya marah. Kamu sudah mendengar keputusanku yang memutuskan untuk tidak pulang ke rumah itu terlebih dahulu. Dan aku terkejut kenapa Endri makan begitu romantis di sebuah restoran elite dengan Lesy. Aku tahu aku juga melakukannya, lebih tepatnya aku juga telah berfoya-foya dengan Nur. Tapi, ... entahlah, aku hanya merasa marah. Dan malam itu, Lesy tampak mengintimidasi. Dia mungkin merasa menang serta bangga karena telah diajak jalan oleh Endri, dan ingin pamer padaku. Aku semakin kesal dan akhirnya aku mengatakan kenyataan di hadapan Dom dan kakakmu, Dany," jelas Niana.
Hati Dany turut terenyak sakit. "Kamu pasti sangat kesulitan, Niana. Maafkan aku karena aku justru ngambek padamu."
"Tidak, tidak masalah," sahut Niana lalu tersenyum tipis. "Aku sendiri juga tidak tahu. Sebelumnya aku pernah merasa bahwa diriku sudah mati rasa, kebal, serta tangguh. Tapi, ternyata aku masih bisa marah bahkan mendapatkan efek trauma. Aku merasa sangat mual ketika aku bersama Endri. Aku benar-benar sudah jijik padanya. Tapi respon tubuhku menunjukkan bahwa diriku memang belum baik-baik saja. Oleh sebab itu, aku ingin segera mengakhiri ini semua. Aku tidak mau ... tidak mau ... menyerahkan diriku lagi pada Endri."
__ADS_1
Niana memeluk dirinya sendiri, mengusap lengannya dengan amat keras. Wajahnya tak lagi cerah, melainkan masam dan penuh kecemasan. Kondisi Niana membuat Dany langsung terkesiap. Tampaknya memang ada yang terjadi di antara Niana dan Endri yang begitu intim dan tidak Dany ketahui. Dany benar-benar menyesal karena membahas hal yang tak seharusnya, sampai membuat Niana diserang kepanikan.
"Niana, tenanglah, aku di sini. Aku Dany, sahabatmu, bukan Endri. Kamu tak perlu cemas. Aku akan terus berada di sisimu, aku akan terus menjagamu," ucap Dany sesaat setelah menghampiri Niana dan lantas duduk di samping Niana. Ia mencoba menyentuh kedua jemari Niana yang masih mencengkeram lengan. "Tenanglah. Jika tak sanggup, aku berjanji tidak akan membahas apa pun mengenai Endri tanpa seizinmu."
"Tidak, Dan. Aku tidak takut. Tapi, aku ... aku hanya merasa diriku sangat kotor." Air mata Niana berlinang menodai pipinya yang merona karena polesan tipis bubuk blush-on. "Aku ... aku merasa seperti seorang wanita malam yang menjual diri. Aku selalu menahan diri, tapi, sekarang aku justru ingin menumpahkan perasaanku. Semuanya, dan itu padamu. Bu-bukankah kamu akan merasa jijik padaku juga, Dany?" Niana berangsur menatap Dany, dan tubuhnya semakin gemetaran.
"Tidak, Niana! Mana mungkin aku jijik padamu?! Oh, astaga. Kamu terluka, Niana. Kamu masih hancur. Kamu belum setangguh itu."
"Aku sudah merelakan diriku, tapi dia, dia ... dia malah makan malam bersama wanita itu, meski pada akhirnya dia memiliki rencana tersendiri. Tapi aku sudah terlanjur kesal, aku terlanjur marah, dan aku sampai mengungkapkan segalanya. Aku malu pada Dom, pada kakakmu, pada orang itu. Aku malu karena tidak bisa menjaga rumah tanggaku. Aku benar-benar malu. Aku merasa kotor, sangat kotor."
Nyatanya, Niana belum sepenuhnya mati rasa. Selama ini, mungkin ia hanya berusaha menahan dirinya dan terus memendam penderitaannya. Kini ketika Dany ada di hadapannya dan memintanya bercerita, barulah ia bisa menumpahkan segalanya. Termasuk mencurahkan isi hatinya pasca bermalam dengan Endri.
Mengapa harus pada Dany? Mengapa sampai saat ini Niana terus bergantung pada Dany? Padahal ia sudah menjauhi Dany selama dua tahun! Mengapa kejadian di masa perkuliahan harus terulang? Ketika putus cinta, Dany-lah yang Niana temui. Dan sekarang ketika diselingkuhi, Dany lagi yang menjadi sandaran.
***
__ADS_1