
Endri pusing tujuh keliling. Bayangkan! Selama satu minggu ia tidak bisa menemukan Niana di mana pun! Ia sudah berkali-kali mendatangi rumahnya, tetapi rumah itu kosong melompong. Bahkan Nur juga tidak ada! Mobil Niana tidak ada. Dan yang lebih membuat Endri benar-benar heran sekaligus marah adalah ketika kunci rumah diganti, dua hari setelah Endri datang untuk terakhir kali. Gerbang rumah digembok. Apakah ini masuk akal? Tentu saja tidak! Situasi ini benar-benar menjengkelkan, membuatnya lantas bertanya-tanya, apa yang tengah direncanakan oleh Niana?!
Lesy melipat kedua tangannya di atas perutnya yang sudah lebih buncit. Ia menghela napas dan berangsur menyandarkan tubuh bagian sampingnya di dinding. Matanya terus menatap Endri dengan kesal dan sudah malas.
"Sudah aku katakan kalau dia itu tidak tulus padamu, Mas!" ucap Lesy yang sudah mendengar beberapa hal mengenai Niana dari Endri. "Dia pasti memiliki sebuah rencana, dan untuk menghancurkan kamu!"
"Diamlah!" sahut Endri kesal. "Semua ini gara-gara kamu!"
"Kenapa kamu malah menyalahkan aku?! Aku sudah menuruti keinginan kamu untuk kembali ke apartemen ini, 'kan? Aku juga selalu diam di tempat, selain hanya keluar untuk mencari angin segar. Itu pun juga tidak jauh! Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"
"Ketika aku masih bersamanya, kamu selalu merengek! Dan itu kesalahanmu!" Endri yang sudah nyaris kehilangan akal mulai menyalahkan istri keduanya itu. "Dia pasti marah padaku, karena aku terus-terusan bersama kamu! Padahal dia juga masih menjadi istriku!"
"Oooh! Astaga!" Lesy mulai jengkel, bahkan sampai mengangkat kedua tangannya. Sudah lelah pada sikap Endri yang semakin parah dalam menyalahkan dirinya. "Aku hamil dan wajar jika aku—"
"Berhenti membawa-bawa kehamilanmu, Lesy!"
"Aku memang hamil!"
"Kubilang, berhenti!"
"Aku selama ini selalu diam, tapi lama-lama aku juga menjadi muak padamu, Mas! Kenapa memangnya? Kaget setelah aku marah begini? Kamu yang membuatku harus mengandung anak ini! Sudah aku bilang, aku tidak pernah mau hamil! Tapi kamu bodoh, kamu keras kepala! Kamu tidak mau pakai pengaman! Di otak kamu tuh isinya cuma nafsumu saja!"
"Lesy! Ingatlah!"
__ADS_1
Endri berjalan ke arah Lesy. Berhenti di hadapan istri keduanya itu, lalu menuding kepala Lesy. "Kamu duluan yang menggodaku!"
"Aku tidak pernah menggodamu! Bahkan seandainya aku melakukan hal itu, kenapa kamu yang sudah punya istri justru tergoda oleh diriku? Kenapa kamu memilih tidak setia pada Niana, Mas? Itu artinya kamu tuh serakah! Pria bodoh yang mencari—"
"Diamlah, Sialan!" Endri sudah mengacungkan tangannya, bersiap untuk menampar pipi Lesy. Namun beruntung ia bisa menahan refleks yang nyaris ia perbuat tersebut. "Diamlah, aku bilang diamlah!"
Mata Lesy sudah berkaca-kaca. Ekspresinya sudah menunjukkan ekspresi seseorang yang hendak menangis. Ia membenci situasi ini, ketika dirinya justru disalahkan. Ia benci pada Endri yang akhir-akhir ini memang tak pernah berada di pihaknya lagi. Ia sudah tidak bisa bertahan hidup dengan pria labil bin mesum itu, tetapi apa daya, ia masih hamil dan tidak memiliki apa-apa.
"Kenapa kamu berhenti, Mas! Tampar saja aku! Biar kamu puas!" ucap Lesy. "Dasar laki-laki bodoh! Sudah aku katakan, ceraikan saja dia sejak awal, tapi kamu malah keras kepala. Sekarang dia menghilang, dan rumahmu dikunci. Bahkan aku yakin, saat ini Niana sudah merencanakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan! Jika seandainya itu terjadi, awas saja jika kamu masih berani menyalahkan aku lagi, Mas! Aku sudah mengatakan kemungkinan terburuk!"
"Aaaarrrrgggh!"
Endri mengeram jengkel sembari mengacak-acak rambutnya sendiri. Sepertinya sebentar lagi ia bisa menjadi gila hanya karena menghilangnya sosok Niana. Detik berikutnya, ia mengambil langkah untuk menuju ruang tamu apartemen itu. Hari sudah semakin siang, tak akan baik jika ia menahan diri terlalu lama di apartemen itu, apalagi kondisinya dengan Lesy sedang memanas.
Setelah keluar dari apartemen tanpa mengatakan kata pamit sama sekali, Endri lantas memasuki sebuah elevator. Ia berencana untuk menuju basemen dan mencari keberadaan mobilnya. Ia harus bergegas ke kantor.
***
Endri menghentikan langkahnya, alih-alih menuruti permintaan Royan. "Ada apa?! Kenapa kamu begitu panik, hah?!"
"Niana, eh! Anu, Nyonya Niana, ada di sini, Pak. Ada di sini!"
"A-apa?"
__ADS_1
"Itu—"
Sebelum jawaban Royan terselesaikan, Endri langsung mengambil langkah cepat, yang tidak lama kemudian, ia sampai berlari. Perusahaannya yang hanya memiliki tiga lantai saja, membuatnya memilih untuk menaiki para anak tangga. Apalagi di saat elevator masih belum terbuka.
Niana ada di sini! Ada apa? Setelah satu minggu menghilang, bagaimana bisa wanita itu berpikir untuk menemui Endri di perusahaan? Jika Niana memang ingin membuat sebuah kejutan, tentu saja Endri akan senang, tetapi jika ada hal lain semacam rencana buruk seperti yang Lesy pikirkan, oh, astaga! Endri bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
"Niana!" seru Endri sembari membanting pintu ruangannya sendiri. Napasnya terengah-engah. Namun ia tetap berusaha untuk menemukan Niana dengan sepasang matanya.
Hanya saja, yang Endri temukan tidak hanya Niana yang sedang memutar kursi kerjanya, melainkan juga lima orang berjas hitam dengan bros pengacara di pakaian mereka. Tak berselang lama, Niana menunjukkan sebuah senyum yang bagi Endri terlihat cukup aneh.
"Niana ...? Ke mana saja kamu?" ucap Endri sembari berjalan cepat untuk mendekati sang istri pertama. "Dan siapa mereka?"
"Kenapa lama sekali, Mas? Kamu sudah terlambat lho masuknya. Padahal aku sudah menunggumu sejak satu jam lalu. Sungguh mengecewakan, tahu, tidak?" sahut Niana yang berlagak bak penguasa. "Memangnya mata kamu sudah rabun? Atau bahkan mendekati buta? Seharusnya kamu tahu siapa mereka, Mas, yah, kecuali jika kamu masih bodoh akut!"
Endri menghentikan langkah di hadapan Niana berseberangan dengan meja kerjanya sendiri. "Apa yang kamu lakukan sampai membawa lima pengacara sekaligus? Dan ke mana saja kamu belakangan ini? Kenapa pula rumah kita kamu gembok?!"
"Aduh, aduh, aduh. Hahaha!" Niana tertawa sampai barisan gigi putihnya terlihat dengan jelas. "Pelan-pelan dong, Mas! Aku kan jadi bingung untuk menjawab semuanya sekaligus! Aah, ... aku sudah memeriksa beberapa data keuangan dan juga perencanaan, baik untuk marketing, maupun pembangunan. Rupanya kamu bisa memulihkan apa yang hampir hilang ya, Mas!"
Niana bertepuk tangan. "Hebat sekali! Semua itu karena diriku, bukan? Bukan Lesy tentunya! Bagaimana, sekarang kamu sudah menyadari tentang kehebatan istri pertamamu ini belum? Daaan ... aku harap kamu juga tidak lupa, Mas, tiga tahun yang lalu, ketika kita masih berpacaran selama satu tahun, akulah yang lebih banyak memikirkan tentang pembangunan perusahaan ini! Dan aku tidak segan untuk menginvestasikan semua uang tabunganku sebagai modal awal! Masih ingat, bukan? Masih dong! Masa tidak?"
Kedua telapak tangan Endri mengepal kuat, seiring dengan munculnya sebuah kesadaran, meski hati kecilnya masih berharap semoga saja Niana hanya ingin memberikan kejutan. "Lekas berdiri, dan mari kita berbicara dengan baik-baik, Niana. Jelaskan apa yang sedang kamu lakukan saat ini."
"Tidak mau!" sangkal Niana begitu cepat. "Memangnya kamu siapa? Kenapa ingin mengaturku? Oh, jangan-jangan kamu masih berpikir bahwa kamu adalah suami terbaikku ya? Bukan, Mas! Kamu tuh hanya suami laknatku. Yang sudah berselingkuh, bahkan sampai menghamili selingkuhanmu. Kamu ingin benar-benar tahu apa yang terjadi belakangan ini? Oke! Aku akan menjelaskannya, Mas, tenang saja. Aku tidak sekaku itu kok."
__ADS_1
Niana tertawa lagi. Sungguh lucu dan puas! Meski dirinya belum benar-benar membuat segalanya menjadi berhasil. Detik berikutnya, Niana mulai bangkit. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di area ruangan itu, sembari menceritakan segalanya. Tentang perasaan hancurnya ketika Endri membuat pengakuan perihal perselingkuhan untuk pertama kalinya. Lalu kemarahannya selama ini, sampai di malam satu minggu yang lalu, ketika Niana meminta Endri untuk menandatangi berkas-berkas yang diberikannya.
***