
"Ayolah, Ibu, kata Ayah yang tahu di mana Niana saat ini hanyalah Ibu seorang. Masa, aku sudah memohon sampai seperti ini, Ibu masih tidak mau memberi tahu sih? Ayolah, Ibu! Kumohon, Ibuku yang cantik? Sudah enam bulan Niana memutuskan untuk pergi, bahkan sampai resign dari perusahaan. Dan sudah hampir dua bulan aku datang untuk mendapatkan jawaban Ibu, tapi kenapa Ibu masih saja tidak luluh sih? Aku ini benar-benar mencintai Niana lho, Bu!"
Seorang pria sampai bersimpuh di hadapan Rita, dan bahkan tidak hanya satu kali ini saja. Melainkan sudah berkali-kali, dan terus merengek seperti itu sejak dua bulan yang lalu. Adalah Dany Dharmawangsa yang masih sulit meluluhkan hati Rita, padahal ia sudah nyaris gila karena merindukan Niana. Ia bahkan sudah mengakui perasaannya terhadap Niana pada Rita dan tentu saja juga Surya.
Enam bulan memang sudah berlalu, sejak Niana bercerai dengan Endri. Dan Endri yang akhirnya setuju untuk mengakui perbuatannya melalui sebuah video, dan berkat Arsyita yang bekerja sama dengan seorang pemilik akun gosip terkenal di sosial media, akhirnya sosok Endri menjadi bulan-bulanan. Sayang sekali, keinginan Niana untuk turut mempermalukan Lesy tidak terlalu berhasil, lantaran Endri memohon agar Niana tidak melibatkan Lesy yang sedang hamil. Karena jika Lesy sampai depresi gara-gara hujatan banyak pihak, kehamilan wanita itu bisa terganggu.
Entah karena masih memiliki sejumlah rasa kasihan atau bagaimana, akhirnya Niana mengabulkan permintaan Endri setelah satu bulan pria itu tak segera menuruti keinginannya. Dan sejak Endri terus dicerca, sekaligus perceraian sudah secara sah terjadi, Niana memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Dany serta mengembalikan perusahaan Endri. Dengan menggunakan uang penjualan rumah yang senilai lima milyar, Niana pergi bersama Nur, dan Dany tidak tahu mereka ke mana.
Rita menghela napas lalu menatap anak muda yang sudah jam delapan malam masih saja bersimpuh di hadapannya, sedari petang tadi. Terkadang ia merasa sangat kasihan, tetapi ia masih harus memegang janjinya pada Niana untuk tidak memberi tahu tentang tempat kepergian Niana pada siapa pun, bahkan meski Surya sekalipun. "Bukannya Ibu itu tidak kasihan padamu, Nak Dany. Tapi Ibu sudah berjanji pada Niana. Lagi pula, sekalipun kamu mencintainya seperti yang kamu akui selama ini, dia belum tentu sudah sembuh dari lukanya. Ketidakpulangannya sampai selama ini sudah membuktikan bahwa Niana belum bisa melupakan pengalaman buruk tentang pernikahannya bersama Endri. Dan lagi, kamu kan sahabatnya, sekaligus anak orang kaya. Apa kamu yakin kamu betul-betul mencintai Niana? Bisa saja kamu cuma merasa sayang padanya seperti seorang saudara! Lagi pula, orang kaya dan orang dari keluarga sederhana seperti kami, mana mungkin bisa bersatu sih, Nak? Ibu tidak mau hubungan kalian hancur jika—"
"Ibu! Aku mencintai Niana lebih dari apa pun! Bahkan jika aku harus meninggalkan semua hartaku yang akan membuat Niana tidak nyaman, aku pasti akan melakukannya, Ibu!" Dany lantas menatap Surya yang baru keluar dari arah dapur. "Ayah, percayalah! Aku bukan orang yang seperti Endri!"
Surya menghela napas. Detik berikutnya, ia duduk di sebelah Rita. "Kasih tahu saja, Bu. Dany sudah membuktikan diri sampai selama ini," lirihnya.
Namun Dany tetap dapat mendengar ucapan Surya. "Ya, ya! Betul! Benar, Ayah, Ibu! Aku bahkan tak akan menyerah sebelum Ibu memberi tahu di mana Niana. Dany berjanji akan membahagiakan dia! Jadi, aku mohon, Ibu, tolong beri tahu aku di mana Niana. Aku tidak akan memaksanya untuk langsung menikah kok, cuma ingin membujuknya agar dia mau pulang secepat mungkin, dan tentu saja membantu dia sampai sembuh dari trauma! Ibu ... Dany, mohon ...."
__ADS_1
Mata Dany tampak berkaca-kaca, dan lantas membuat hati Rita mulai goyah. Ia sendiri sebenarnya takut untuk mengingkari janjinya pada sang putri, tetapi Dany sudah melakukan pembuktian sampai sejauh ini. Ia pun tahu betul mengenai sosok Dany yang memang sudah ia kenal sejak anak itu masih kuliah bersama Niana. Dany anak yang sopan, dan memang lebih dekat dengan Niana daripada ketiga sahabat mereka lainnya.
Dany juga pria yang mapan, bahkan seorang anak konglomerat yang sudah memimpin sebuah perusahaan besar. Namun identitas Dany malah seperti sebuah beban. Rita takut jika Niana tidak bisa diterima dengan baik oleh kedua orang tua Dany nantinya. Kalau masalah sifat, sudah pasti Dany lebih menyenangkan daripada Endri, dan pasti lebih bisa menjaga Niana mengingat pengalaman hidup Dany yang juga dipenuhi banyak luka. Ya, Rita juga sudah mendengarnya di salah satu momen ketika Dany mencoba merayunya.
"Bagaimana dengan orang tuamu, Nak? Memangnya mereka akan menerima janda sebagai menantu mereka?" ucap Rita sebelum memutuskan untuk mengungkap di mana Niana berada. "Ibu tidak ingin menyerahkan Niana pada orang yang salah lagi."
Dany menggeleng cepat. "Mereka bukan masalah, Ibu. Bahkan meski kedua orang tuaku bukan orang tua yang baik sekaligus bukan pasangan yang harmonis, mereka tidak akan mencampuri urusan asmaraku sama sekali! Mereka sudah lepas tangan padaku dan kakakku, Ibu, asalkan perusahaan tetap berjalan dengan baik, dan ada jatah keuangan yang dimasukkan di rekening mereka. Lagi pula, mereka juga sudah mulai sepuh. Melihat putranya menikah dengan siapa pun itu, tak akan jadi masalah kok!"
"Sudahlah, Bu, asalkan Dany tanggung jawab saja. Lagi pula, sampai kapan kita biarkan Niana terus bepergian hanya bersama Nur? Mereka berdua adalah perempuan, tak baik lho," ucap Surya.
Mata Dany kian berbinar, meski sudah ada tetesan yang keluar menodai pipinya. Ia sangat berharap Rita bersedia untuk melunakkan hati. Sebenarnya Dany sendiri sudah melakukan berbagai cara untuk mencari Niana, tetapi ia tidak pernah berhasil. Tampaknya Niana juga tidak menggunakan jasa biro perjalanan apa pun. Niana tak aktif di sosial media, dan minim sekali wanita itu memberikan informasi untuk orang lain.
***
Baru saja kembali dari pesta pernikahan Indri, perasaan Lesy sudah sangat kacau, bak seorang anak yang kehilangan salah satu balon yang berwarna hijau. Ia bahkan enggan untuk menggendong putra mungilnya, dan membiarkan Endri melakukannya.
__ADS_1
"Masa Indri berkata kalau aku tidak boleh muncul sih? Aku disuruh cuci piring! Aku tidak mau, Mas! Kenapa pula dia tidak menikah di gedung hotel saja? Kenapa harus di rumah dan menyusahkan banyak orang sih?! Belum lagi ucapan tetangga-tetangga orang tuamu yang pedas sekali. Kalau pun aku istri kedua memangnya kenapa? Kita kan sudah resmi menikah secara hukum dan sudah punya anak! Kenapa mereka terus-menerus membahas soal Niana?!" gerutu Lesy.
Endri menyerahkan putra mungilnya pada sang asisten rumah tangga. Saat ini ia memang masih tinggal di apartemen Lesy. Dan setiap hari, ia harus menghadapi istrinya yang mudah sekali marah itu. Bahkan ia merasa kantor adalah tempat terbaik, tidak jarang ia lebih memilih untuk tidur di kantor. Kalau sedang lelah, Niana yang muncul di dalam pikirannya.
Bahkan meski Niana sudah menghancurkan nama baiknya, Endri belum bisa melupakan mantan istrinya itu. Setengah tahun sejak bercerai, Endri nyaris gila karena merindukan Niana yang selalu patuh, cantik, dan pandai. Setengah tahun, Endri dijadikan bulan-bulanan oleh banyak orang di mana pun dirinya berpijak, tetapi tidak pernah mengurangi kerinduannya pada Niana. Namun sampai saat ini, Endri tidak bisa menemui Niana, ia bahkan tidak tahu Niana ada di mana. Wanita itu tak pernah kelihatan sama sekali.
"Diamlah dan lekas mandi! Jangan lagi menghina keluargaku, terutama adikku. Kedua orang tuaku sudah begitu baik menyambutmu yang hanya orang ketiga, dan mereka menerima kehadiran anak hasil perselingkuhan kita, seharusnya kamu berterima kasih, Lesy! Kamu tuh hanya wanita pengangguran yang manja, latar belakangmu pun tidak jelas, selain hanya punya ayah tukang mabuk saja! Bahkan belum lama ini, ayahmu memerasku lagi, sejak kita menikah secara sah, ayahmu terus meminta uang. Aku bisa gila dan bangkrut gara-gara kalian berdua! Kalau bukan karena anak, aku lebih baik menceraikanmu!" Endri yang sudah naik pitam mulai mengatakan banyak hal yang sinis, apalagi saat ini keadaannya sudah lelah setelah mengurus pernikahan Indri yang memang sempat diundur empat bulan hanya karena pemberitaan tentang dirinya mencuat.
"Kamu tuh tega banget kalau ngomong! Keterlaluan banget! Kamu masih mau membandingkan aku dengan Niana lagi, hah? Kamu pikir dong siapa yang bodoh! Ditipu oleh perempuan macam itu saja, kamu tidak tahu! Dan sekarang kamu melampiaskan semuanya padaku, Mas! Aku capek jadi bahan ocehan kamu terus! Kalau memang mau bercerai, silakan saja! Aku tidak peduli! Urus saja anak kamu sendiri yang masih membutuhkan ASI itu! Aku masih cantik, wajahku belum dikenal banyak orang. Aku masih bisa mencari pria lain yang jauh lebih kaya!" Lesy membalas disertai deraian air matanya.
Detik itu juga, Endri langsung mengambil sebuah vas bunga dari atas meja ruang tamu. Cepat, ia melemparkan benda itu ke dinding yang berada di belakang Lesy, sampai membuat istrinya itu berteriak keras. Tangisan sang bayi juga langsung terdengar. Dengan cepat, si asisten rumah tangga memutuskan untuk keluar terlebih dahulu bersama bayi itu.
"Sudah aku bilang diam ya diam! Ketika aku bilang diam, kamu itu malah seolah tuli dan terus banyak bicara! Coba saja cari pria lain, aku yang akan membuat pria itu mengetahui siapa dirimu, Lesy!" ancam Endri.
"Aaaaaaaaaakkkhhh!" Lesy berteriak sekencang-kencangnya. "Kamu jahat! Kamu egois! Kamu keterlaluan, Mas! Aku capek hidup kayak gini sama kamu! Bahkan lebih baik aku mati saja!"
__ADS_1
Lesy berlari meninggalkan Endri yang masih terlihat mengerikan. Menangis sudah seperti rutinitas yang harus ia jalani selama ini. Dan saat ini ia tengah sesenggukan di dalam kamar sembari meringkuk di balik pintu yang sudah ia tutup rapat. Endri terlalu kejam dan dingin, apalagi jika sedang marah, Endri kerap melempar barang meski tidak sampai melukai tubuh Lesy. Sebagai seorang ibu, tentu saja Lesy masih memikirkan putra kecilnya meskipun beberapa kali ia mengatakan kalimat yang sangat egois. Sejauh ini pun ia sering meminta asisten rumah tangganya untuk mengurus putranya, dan ia hanya bertugas memberikan ASI saja. Mau bagaimana lagi, Lesy seperti tidak sanggup menjadi seorang ibu, ketika ia pun juga tidak bisa meninggalkan bayi yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri.
***