First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 27-Aku Ingin Membuat Endri Jatuh Sejatuh-jatuhnya


__ADS_3

Dominic pergi lebih awal, begitu pun dengan Rubel. Berbeda dengan Niana dan Dany yang memutuskan untuk tinggal lebih lama di restoran itu. Padahal Niana juga memiliki janji dengan Endri tentang pembicaraan yang Niana sendiri tidak terlalu ingin mengetahui. Justru saat ini Niana menganggap bahwa pembicaraan empat matanya dengan Dany jauh lebih penting. Sebab keesokan hari ia belum tentu bisa menemui Dany dengan lebih leluasa karena beberapa alasan yang berkaitan dengan pekerjaan.


"Aku tidak tahu kamu ke rumah Ayah dan Ibu, Dan," ucap Niana memulai pembicaraan. "Kapan kamu datang ke sana?"


Dany meletakkan gelas yang berisi teh hangat pesanan terakhirnya. "Setelah pulang dari menemui Dominic, Niana. Aku tidak memiliki agenda apa pun dan aku kesepian, haha. Jadi aku memutuskan untuk mengunjungi ayah dan ibumu. Setelah pertemuan di malam, aku mendapatkan keberanian lagi untuk berkunjung ke sana," jawabnya.


"Oh, itu bagus. Dan aku harap kamu sering-sering datang ke sana nantinya. Kamu kan tahu kalau Ayah dan Ibu sudah menganggap kalian seperti anak sendiri."


"Benar. Dan kami sebagai anak sudah benar-benar kurang ajar karena telah melupakan mereka. Padahal dulu, kita sering merampok makanan sepulang dari kuliah. Dewasa ini kami justru tidak pernah berkunjung lagi."


"Sudahlah, aku yang anak kandung mereka saja juga jarang berkunjung. Kesibukan kadang kala membuat kita tak lagi memikirkan soal balas budi."


Dany menghela napas, lalu tersenyum tipis. Ia teguk lagi teh pesanannya yang sudah kian mendingin sembari memikirkan ucapan Niana. Dan memang benar, manusia terkadang dibutakan oleh uang hingga rela menjalani banyak pekerjaan sampai menjadi super sibuk dan pada akhirnya melupakan hal yang paling penting di dunia ini. Sebuah keluarga.


Sebenarnya Niana ingin segera mengatakan niatnya, tetapi ia masih sulit untuk memulai pembicaraan yang ia inginkan. Dan lagi-lagi, ia akan memanfaatkan posisi Dany sebagai orang yang cukup tersohor. Baik sebagai CEO dari perusahaan manufaktur terkemuka yang memproduksi segala jenis merek makanan, hingga sebagai adik dari aktris cantik yang sangat terkenal. Pastinya identitas Dany bisa membuat rencana Niana semakin lancar. Hanya saja, bagaimana Niana akan memulai perkataannya?


"Jadi, ...." Dany berucap lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menatap wajah Niana dengan penuh tanda tanya. "Apa gerangan yang membuat kamu menahanku di sini, Niana? Tak mungkin kamu ingin membahas soal pekerjaan saja, 'kan? Oh, atau jangan-jangan kamu ingin bertanya soal Dom?"

__ADS_1


"Dom?" Dahi Niana berkerut samar. Lalu ia menghela napas dalam-dalam. "Kenapa belakangan ini kamu mengaitkan Dominic dengan diriku, Dany? Apa maksudmu? Dia bisa terganggu oleh sikapmu itu, tahu!" omelnya setelah itu.


Dany tersenyum, sampai akhirnya ia tertawa kecil. "Tidak, Nona. Dia tidak akan marah apalagi terganggu, karena aku yakin seratus persen kalau dia masih menyukaimu. Aku rasa, dia akan merebutmu dari Endri jika dia tahu soal kondisi pernikahanmu dengan suami laknatmu itu."


"Jangan asal berbicara, Dany! Dom merupakan pria baik dan masih bujang. Dia bekerja di dunia hiburan dan pastinya selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik. Untuk apa dia merebutku dari Endri? Bahkan meski nantinya aku akan bercerai dengan Endri, Dom tidak boleh mengencani janda bodoh seperti diriku. Dan lagi, mengenai Dom yang menyukaiku, sepertinya hanya sebatas spekulasimu saja, 'kan?"


"Niana, dengar, ini bukan spekulasiku saja. Sejak dulu pun Dom menyukaimu."


"Ayolah, Tuan CEO. Berhentilah. Melihatmu yang terus mengaitkan Dominic dengan diriku, sepertinya kamu memang berencana untuk membuka mataku, bahwa di dunia ini masih banyak pria yang lebih baik daripada Endri. Sayangnya, aku merasa kesal dengan rencanamu itu karena kamu menggunakan Dominic, Dany. Tolong jangan rusak hubungan pertemananku dengan Dom setelah akhirnya kami bisa bertemu lagi. Dan lagi, aku tidak akan menghentikan misiku sebelum aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar untuk menghancurkan Endri. Aku sudah bertahan bahkan rela hidup di bawah atap yang sama dengan Lesy, jadi, aku sudah tidak bisa berhenti begitu saja."


Rupanya Dany memang terlalu peka, ucapan sepele saja dapat menarik perhatiannya. Namun Niana belum sanggup untuk berkata-kata. Karena mungkin ia akan dinilai berlebihan, atau mungkin permintaannya akan ditolak mentah-mentah oleh sahabat sekaligus atasannya itu. Pasalnya, permintaan yang ia rencanakan nantinya bisa memberikan dampak yang besar untuk Endri, perusahaan Endri, atau bahkan perusahaan Dany yang turut terikat kerja sama dengan perusahaan suaminya itu.


Meski begitu Niana tidak berniat untuk mundur lagi. Sudah ada beberapa hal yang berada di dalam genggamannya. Tinggal bagaimana ia memanfaatkan dengan baik keuntungan itu untuk menghukum suaminya dan juga istri kedua suaminya itu.


"Tolong buat Endri menjadi sosok yang terkenal," ucap Niana lalu ia menghela napas. Ia menatap Dany lagi setelah sebelumnya hanya menatap cangkir teh yang ada di atas meja. "Apa kamu masih bersedia untuk membantuku, Dany?"


Dany terdiam, ia hanya menatap Niana tanpa ekspresi yang berlebihan. Namun ia tetap berusaha mengartikan apa yang telah Niana katakan. "Dan jika suamimu sudah menjadi orang lebih terkenal, kamu ingin membuka aibnya agar dia dipermalukan satu negara, begitu? Bukankah hal itu bisa kamu lakukan sekarang, Niana? Zaman sekarang hanya bikin konten berisi curahan hatimu mengenai suamimu yang berselingkuh di sosial media bisa cepat viral kok!"

__ADS_1


"Tidak bisa. Perusahaan Endri belum sepenuhnya stabil."


"Apa?"


"Jika kerja sama yang kamu berikan membuat perusahaan Endri stabil dan bahkan kian membesar, aku akan merampas perusahaan itu dari tangannya. Jadi, aku belum bisa mencoreng nama baik Endri sebelum perusahaannya pulih. Aku juga menginginkan rumah yang kami tinggali, sebab aku yang telah menjaga dan merawat rumah itu dengan sepenuh hati. Aku tidak akan membiarkan wanita itu merampasnya dariku, Dany."


Wajah Dany begitu kebas. Ia tidak menyangka Niana memiliki rencana yang sepicik itu. "Rupanya kamu sudah semakin gila dan bahkan telah menjadi orang super jahat, Niana ...."


"Bukankah cara menghadapi orang jahat adalah dengan cara menjadi lebih jahat, Dany?" Niana menyeringai. "Aku merasa senang ketika melihat Endri semakin sengsara, dan akan lebih baik jika dia mendadak bergantung pada diriku. Oh, dan tentu saja, aku akan mengembalikan perusahaannya jika aku berhasil merampasnya setelah dia memenuhi persyaratan yang aku inginkan. Sepertinya aku belum terlalu jahat kok! Hehe. "


"Jika dia sudah terkenal, aku ingin membuatnya mengakui kesalahannya sendiri di depan publik, media, keluarganya, atau siapa pun. Aku tidak mau membuat konten curahan hati meskipun memiliki kesempatan untuk viral. Karena aku tidak mau disalahkan oleh pihak mana pun, apalagi zaman sekarang kan banyak netizen yang jahat, yang bisa menghakimi diriku meskipun aku adalah korbannya. Jika aku yang speak up, Endri bisa membuat bantahan. Tapi, jika dia yang mengakui kesalahannya sendiri, tentu dia tidak akan bisa membantah ucapannya sendiri, bukan?" lanjut Niana.


Mendengar semua ucapan Niana membuat bulu kuduk Dany meremang. Sepertinya rasa sakit hati Niana memang kelewat parah, sampai Niana mampu menyusun rencana brilian tetapi juga cukup kejam. Entah bisa dikatakan sebagai misi pembalasan dendam atau malah mengarah pada obsesi berlebihan. Yang pasti, Niana sudah menunjukkan perubahan mengerikan. Hebatnya, Niana tetap berusaha melindungi dirinya sendiri agar tidak disalahkan oleh pihak mana pun ketika berita perselingkuhan Endri menyebar luas.


Lantas, haruskah Dany membantu Niana?


***

__ADS_1


__ADS_2