
"Niana!" seru Dany yang memasuki salah satu tempat perbelanjaan pakaian di mal tersebut. Dan Niana tampak terdiam sembari melamun di dekat salah satu alat yang digunakan untuk menggantung beberapa pakaian.
Lamunan Niana buyar ketika Dany menyerukan namanya. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk segera berjalan ke arah pria yang sudah datang, meskipun belum sampai sepuluh menit sejak panggilan berlangsung.
Dany dan Niana kompak menghentikan langkah mereka ketika sudah saling berdekatan. Setelah bertatap muka dengan Dany, rasa bersalah di hati Niana muncul kembali. Namun pria itu justru cengengesan sendiri. Padahal suara napas Dany terdengar begitu memburu, kemungkinan besar Dany menuju tempat ini dengan langkah yang cepat atau mungkin sampai berlari.
"Apa aku terlalu lama datangnya?" tanya Dany.
Niana menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Justru aku yang ingin bertanya padamu, apa kamu datang ke tempat ini dengan menggunakan jet pribadi? Kedatanganmu cepat sekali lho, Dan," sahutnya setelah itu.
"Hahaha, ternyata aku memang secepat itu, ya?" Dany tergelak. "Kamu bilang akan berangkat jam tujuh malam ke rumah orang tuamu, dan sekarang sudah nyaris jam enam. Aku tidak mau kita terlambat."
Dany berangsur mengambil langkah kendati ucapannya belum selesai. Niana berjalan di belakangnya dan tentu saja masih mendengar ucapan yang ia katakan. Dany menghentikan langkahnya di tempat pakaian-pakaian bagus yang Niana pegang sebelumnya. Tanpa banyak mengatakan apa pun, ia langsung mengambil setidaknya lima gaun untuk Niana.
"Jangan ragu memilih, Niana. Katanya kamu sudah tidak membutuhkan tabungan itu? Tapi, aku melihat kamu masih tampak ragu," ucap Dany aarkastik. "Nih! Pakai saja satu per satu dan aku akan menilai setiap pakaian yang kamu kenakan," Dany berangsur mengerahkan gaun-gaun itu pada Niana. "Aku yang akan membayarnya."
"Hah?! Tidak! Tidak mau!" tandas Niana, lalu mendorong gaun-gaun itu pada Dany. "Dan lagi, aku tidak sedang ragu kok! Aku tidak sayang pada uang itu, aku memang ... wanita dengan selera yang buruk. Aku tidak tahu pakaian apa yang pantas untuk diriku sendiri."
Dany tersenyum mengejek. "Ya, kamu memang tidak modis. Makanya aku datang kemari dan tentu saja ingin menyelamatkan hidupmu, Niana."
"Ah! Baiklah, kalau itu memang maumu, Dany. Tapi, tidak perlu dibayarkan juga. Uangku masih banyak!"
__ADS_1
"Halah! Berlagak tidak mau ditraktir ya kamu, Niana? Memangnya kamu tidak ingat ketika masih menjadi mahasiswa super irit? Yang setiap Minggu pasti minta traktiran padaku hahaha. Bagiku, kamu ini masih gadis kecil meskipun usiamu sudah kepala tiga sekalipun."
"Gadis kecil apanya? Aku dan kamu hanya berbeda satu tahun, Dany! Lagi pula, zaman dulu dengan masa kini kan berbeda! Sekarang aku sudah bekerja, meskipun yang memberikan gaji adalah dirimu juga. Tapi, setidaknya aku—"
"Diamlah. Dan pakai satu per satu pakaian ini. Kita tidak punya banyak waktu, bukan?"
"Ugh ...."
Niana pun menyerah. Ia mengambil kembali gaun-gaun yang Dany pilihkan untuk dirinya. Lalu dengan perasaan yang sungkan dan serba salah, ia menghampiri salah satu tempat untuk mencoba pakaian. Dan Nur pasti masih berada di dalam. Ia hanya perlu menunggu Nur, lalu melakukan apa yang Dany inginkan darinya.
Sepeninggalan Niana, Dany kembali memilih-milih pakaian. Pakaian yang masih berjenis gaun. Kalau bisa, ia ingin membuat Niana menjajal setiap gaun yang ada di dalam toko tersebut. Namun sepertinya hal itu tidak bisa terealisasikan, sebab waktu yang Niana bahkan Dany miliki sangatlah sedikit. Dan di waktu yang sangat sedikit tersebut, Dany berencana untuk mengubah penampilan sederhana Niana menjadi penampilan yang luar biasa.
Sejujurnya, Dany tak terlalu lihai dalam menilai penampilan wanita. Oleh sebab itu, ia tak hanya sekadar memilih-milih pakaian saja, melainkan juga meminta bantuan dari staf yang bertugas di tempat perbelanjaan itu. Sang staf memandunya dengan baik, juga tak segan untuk memberikan saran dengan menyesuaikan visual Niana yang sudah sang staf lihat sebelumnya.
Setidaknya sampai lima kali, Niana mencoba setiap gaun. Namun di mata Dany masih tak cocok. Niana mulai lelah dan hampir menyerah. Bahkan ia sampai menganggap bahwa dirinya memang begitu buruk rupa. Sementara Dany dan Nur terus mendesaknya. Yang membuat Niana akhirnya meraih sebuah gaun putih yang dihiasi bordiran bunga putih, panjangnya hanya sebatas lutut, sementara bagian roknya bergelombang. Lengannya pendek biasa. Nyatanya pakaian yang tampak sederhana tetapi elegan itu justru cocok di tubuh Niana yang berkulit kuning langsat.
"Sempurna!" ucap Dany sembari bertepuk tangan dan juga bangkit dari duduknya.
"Nyonya Niana cantik sekali!" seru Nur sangat antusias.
Niana hanya tersipu. Dan gaun itu mungkin akan menjadi pilihan terakhirnya. Gaun yang pastinya sangat mahal dibandingkan dengan gaun-gaunnya yang lain. Namun jika Dany dan Nur menganggap dirinya begitu cocok dengan gaun itu, tak apa, Niana akan membelinya menggunakan tabungan yang selama ini ia persiapkan jika sudah memiliki buah hati.
__ADS_1
"Nah, Mbak, bungkus semuanya saja!" ucap Dany pada staf yang bertugas.
"Eh! Tidak!" tandas Niana cepat. "Kamu jangan sembarangan, Dany! Aku—"
"Bungkus, Mbak. Nanti saya yang bayar, sekalian punya gadis manis ini." Dany menunjuk ke arah Nur yang sudah membawa beberapa lembar pakaian.
"Tapi, Tuan? Tuan kan baru pertama kali bertemu dengan saya. Masa' saya juga ikut ditraktir?" Nur berkata.
Dany tersenyum. "Tidak masalah. Asalkan kamu bisa menjaga nyonyamu dengan baik, Nur," sahutnya yang memang sudah berkenalan dengan Nur ketika menunggu Niana berganti pakaian.
Niana tidak bisa menerima bantuan semacam ini. Bantuan yang ia inginkan dari Dany hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan Endri saja. Bukan hal-hal semacam ini. "Dany, kamu tidak boleh bersikap seenaknya seperti ini! Baik, aku akan membeli semua pakaian ini, tapi bukan kamu yang bayar, melainkan aku! Aku tidak semiskin itu, tahu! Kamu hanya perlu membantuku ketika berkaitan dengan lelaki jahat itu saja!"
Niana hendak mengambil langkah untuk menuju meja kasir. Sayangnya, Dany langsung menahan lengannya, yang akhirnya membuat langkahnya terhenti di detik itu juga.
"Biar aku saja! Nanti jika kita berkumpul dengan Dominic, Rubel, dan Keisya, kamu yang menanggung biaya makan kami, Niana. Jangan keras kepala, aku yang memaksamu untuk memilih semua pakaian itu, jadi aku yang harus bertanggung jawab!" tegas Dany. "Lebih baik ganti gaun itu dengan pakaian semula, kecuali jika kamu ingin langsung memakai gaun itu."
Mata Niana langsung menatap penampilannya yang masih mengenakan gaun pilihan. Ia menelan saliva dengan malu. Rupanya ia melupakan kondisi dirinya hanya karena ingin menentang keinginan Dany. Ah, benar-benar tidak beres otak pria itu! Kendati merupakan pria yang baik, sikap Dany masih tergolong berlebihan bagi Niana. Namun Niana pun masih mengenal sosok Dany yang memang sulit diatasi jika sudah membuat keputusan, sehingga pada akhirnya ia menyerah dalam memberikan penolakan.
"Waaah! Luar biasa!" ucap Nur secara tidak sadar ketika hatinya berangsur merasa takjub pada sosok Dany yang tidak hanya tampan, melainkan juga gagah, tegas, serta super baik.
Tak lama berselang, Dany meminta staf yang bertugas untuk ke bagian kasir ketika semua pakaian sudah berada di tangan staf tersebut. Berbeda dengan Niana yang memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian sebelumnya. Karena selain masih tak percaya diri, saat ini dirinya masih belum mandi.
__ADS_1
***
*K*arena satu bab hanya berisi seribu kata, jadi terkesan lama. Hehe. Kalau ditulis dua ribu kata nanti kebanyakan dan bikin capek mata. Terima kasih semua yang sudah berkenan untuk mampir!^^