
Niana terus memainkan makanan yang seharusnya ia santap sebagai makan siang. Selera makannya memang sudah hilang sejak tadi malam. Tentu bukan sesuatu yang aneh jika hal itu bisa terjadi pada dirinya setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari suaminya sendiri. Makanan lezat yang Dany pesankan pun seolah hanya sampah yang tak mungkin diterima oleh lidah sekaligus lambungnya.
Menatap Niana yang tampak resah sekaligus terpuruk parah membuat Dany semakin prihatin, sehingga keinginannya untuk menghampiri Endri dan memukuli pria itu juga turut menjadi semakin membesar. Namun ia tidak boleh gegabah, sebab permasalahan yang dihadapi oleh Niana bukanlah perkara mudah. Bukan sebuah perselingkuhan seorang pasangan yang masih berstatus sebagai pacar, melainkan sudah menjadi suami Niana secara resmi. Dan Dany yang terhitung sebagai orang luar tidak boleh asal ikut campur di dalam rumah tangga wanita itu.
"Niana?" ucap Dany sembari mengambil satu lembar tisu yang juga disajikan sebagai salah satu fasilitas restoran Nusantara tersebut.
Niana berangsur menatap Dany, kemudian berkata, "Ya?"
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan pada suami jahatmu itu? Kamu tahu, 'kan, jika dia bukan lagi seorang pacar yang bisa aku atasi di saat dia mengkhianati dirimu? Dia suami kamu dan tentu saja, aku tidak boleh terlalu ikut campur." Dany meletakkan tisu bekasnya ke dalam piring yang sudah kosong. Ia menatap Niana lalu kembali berkata, "Yang bisa aku lakukan adalah terus mendorongmu untuk lekas pergi dari sisinya, karena aku sebagai teman lamamu tidak ingin kamu semakin terluka. Lagi pula, kedua orang tuamu pasti akan mengambil keputusan yang sama seperti aku, 'kan?"
Helaan napas panjang Niana terdengar. "Aku tidak mau bercerai sebelum aku bisa membuatnya hancur lebur, Dany. Aku hanya akan mendapatkan ketidakadilan setelah melihat mereka menjadi lebih bahagia. Mencari kebahagiaan baru dengan orang yang baru bukankah sesuatu yang mudah, Dany. Aku bisa mati jika sampai tidak bisa mengendalikan diriku nantinya. Setidaknya, aku ingin mereka merasakan hal yang lebih pedih terlebih dahulu."
Usaha Dany tetap tak berhasil. Wanita mungil yang sejak dulu sudah keras kepala itu memang selalu konsisten dalam mengambil setiap keputusan. Niana bukan wanita yang plin-plan. Namun untuk urusan hati, Niana bisa menjadi wanita yang paling bodoh di dunia ini. Dany hanya khawatir jika rencana untuk menghancurkan Endri justru akan membuat Niana semakin tidak bisa melepaskan diri dari pria itu.
"Hidup sendiri bukan sesuatu yang buruk, Niana. Bahkan ketika usiaku nyaris tiga puluh empat tahun, aku masih merasa bahwa kesendirian adalah sesuatu yang terbaik," ucap Dany.
__ADS_1
"Aku mohon jangan mencoba membujuk aku lagi, Dany. Aku membutuhkan bantuan darimu, bukan butuh ceramah yang masih sulit untuk aku realisasikan di dalam kehidupanku. Akibat kesendirian yang kamu pilih itulah, kamu tidak akan pernah mengerti perasaanku."
"Bagaimana aku tidak mengerti apa yang kamu rasakan, ketika aku pun hidup di dalam keluarga yang suka berselingkuh? Ayah dan ibuku, mereka sama-sama berselingkuh. Mereka masih bersama sampai saat ini hanya demi menjaga citra keluarga yang baik. Itulah mengapa aku paling tidak ingin menceritakan keluargaku dan siapa diriku yang sebenarnya padamu, Keisya, Rubel, maupun Dominic."
Pengakuan Dany cukup membuat Niana terkesiap. Tenggorokannya sampai terasa tercekat. Bagaimana tidak, ia dan Dany serta ketiga orang lainnya telah berteman sejak lama. Namun baru kali ini Dany mengungkapkan apa yang terjadi di dalam keluarganya. Sejak dulu, Dany memang tidak pernah menunjukkan siapa sosok ayah dan ibunya. Sampai saat Niana mengetahui bahwa Dany yang akan naik sebagai CEO di perusahaan di mana ia bekerja, barulah Niana sedikit tahu mengenai identitas Dany dan ia sempat cukup kecewa.
Niana merasa seperti mati langkah. "Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk—"
"Tidak apa-apa," sahut Dany. Di mana senyuman manis pun ia tunjukkan demi meredam rasa bersalah yang bersarang di hati Niana. "Hal itu sudah lama terjadi dan kedua orang tuaku sudah menua. Mereka tak seaktif seperti dulu saat melakukan perselingkuhan haha. Lagi pula, keberadaan Om Surya dan Tante Dewi—kedua orang tuamu—sudah sangat mengobati setiap kesepian yang aku alami kala itu, Niana. Jadi, tentu saja saat ini aku berada di pihakmu. Aku mendorongmu untuk pergi dari sisi Endri karena tidak ingin jika kamu menjalani kehidupan rumah tangga sepelik rumah tangga kedua orang tuaku."
"Maafkan aku karena ternyata aku memang tidak tahu apa pun mengenai dirimu, Dany. Dan terima kasih karena kamu selalu memberikan banyak nasihat sekaligus dukungan terbaik untuk diriku. Tapi, sekali lagi, aku belum mampu menyanggupi perceraian itu. Saat ini, aku masih terlalu gila untuk hidup sendirian dan tanpa melakukan apa pun. Dendam memang bukan sesuatu yang baik, tapi mengalah begitu saja bagiku tetap bukan sesuatu yang tepat," jelas Niana yang masih bersikeras untuk mempertahankan rencananya.
Dany menghela napas. Baiklah, mungkin sudah cukup bagi dirinya untuk membujuk Niana agar lekas pergi dari sisi Endri. Lagi pula, Niana berhak mengambil keputusan apa pun, sekalipun keputusan itu sangat berbahaya. Sebagai seorang teman, Dany hanya perlu menjadi penjaga di belakang Niana, yang harus maju ketika Niana nyaris berada di ambang lautan bahaya. Merengkuh tubuh wanita itu ketika sudah tak mampu berdiri dengan tegak dalam pertempuran yang akan terjadi sebentar lagi.
"Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, Niana? Bagaimana kamu akan memanfaatkan diriku untuk membakar habis kebahagiaan suamimu serta calon istri barunya?" tanya Dany.
__ADS_1
Niana menatap mata Dany, sementara binar matanya sendiri begitu tajam dan nanar. Kemarahan begitu terpancar dan seolah menimbulkan hawa panas yang melebihi suhu udara siang hari ini. Dan desakan kemarahan itu keluar ketika ia mulai mengambil suaranya lagi.
"Aku ingin mereka jauh menderita daripada aku!" ucap Niana. "To-tolong dengarkan aku ...."
***
Sepanjang hari ini, Lesy terus dibuat resah. Dirinya tak bisa tenang barang sedetik saja sejak kekasihnya muncul dengan keputusan yang bikin pusing tujuh keliling. Kendati sudah setuju, sejujurnya rasa hati Lesy masih sangat ragu-ragu. Ia bahkan sampai nekat agar bisa diajak tinggal bersama Endri dan Niana di rumah utama, yang pastinya akan membuat dirinya dan Niana semakin terlibat dalam banyak hal. Dan ide gilanya itu tengah mengganggunya saat ini.
"Dia tidak lebih cantik daripada aku. Dia kumuh dan kusam. Pakaiannya saja benar-benar kampungan!" gerutu Lesy sembari membayangkan sosok Niana ketika wanita itu sempat datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang untuk sang suami. "Jadi, tak ada alasan bagiku untuk merasa minder hanya karena dia istri pertama dari Mas Endri. Karena selain kumal, dia kan tidak bisa memberikan keturunan. Mas Endri juga tidak mencintai dia lagi. Akulah yang akan menjadi ratu di dalam rumah itu!"
"Lihat saja! Aku akan membuatnya menjadi seorang pembantu, agar dia lekas menyerah dan pergi dari sisi calon suamiku!" Lesy berkata lebih lantang seolah ia sedang menggenggam sebuah kemenangan.
Lesy tidak memperkirakan jika mungkin saja Niana jauh lebih tangguh daripada dirinya. Di dalam ingatannya, Niana hanyalah wanita yang lebih tua darinya, kumal, dan tidak modis sama sekali. Tentu saja Niana bukanlah tandingan baginya dan akan dengan mudah ia singkirkan secepatnya.
***
__ADS_1