
Mata Endri masih terasa sangat berat, meski hari sudah semakin siang, dan di saat dirinya sudah berada di dalam kantor. Rasanya ia ingin segera pulang dan tidur lagi, tetapi itu tidak mungkin terjadi. Pagi ini ketika berangsur membuka matanya, ia tak menemukan Niana dan juga Nur. Dan yang membuatnya heran, mobil Niana masih ada di garasi depan. Belum lagi soal tinta biru yang tertera di jempol tangannya, apakah Niana yang melakukannya?
Endri nyaris tidak ingat apa-apa, selain hanya permintaan Niana mengenai tanda tangannya. Istrinya itu hendak ikut tur perusahaan katanya, dan ... satu hal lagi, tetapi Endri lupa. Ah, soal tur! Sial, seharusnya Endri tidak memperkenankan Niana mengikuti tur tersebut, sebab bisa jadi Dany juga akan ikut.
"Kenapa aku sangat mengantuk tadi malam? Padahal Niana sudah menyambutku dengan begitu manis dan ...." Wajah Endri memerah di detik itu juga. "Dia sangat seksi. Nur pun sudah disuruh pergi oleh Niana, tapi kenapa aku justru menyia-nyiakan kesempatan emas tadi malam? Benar-benar aneh, bagaimana bisa aku mengantuk itu coba?"
Apa boleh buat, nasib baik tampaknya masih belum ingin menyapa. Endri hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Toh masih ada kesempatan di lain waktu. Lagi pula, Niana akan selalu menyambutnya. Tinggal bagaimana dirinya tidak membuat wanita itu menjadi lebih kecewa, daripada sebelum-sebelumnya.
"Ah ... siang ini ada jadwal memeriksakan kondisi calon anak," gumam Endri. Dan tak berselang lama, matanya langsung melebar seiring dengan datangnya sebuah keterkejutan. "Tadi malam Niana ...? Pemeriksaan? Rahim? Jangan-jangan, dia ingin ... aaaah!"
Endri langsung bangkit dari duduknya. Matanya bergerak ke sana kemari, tetapi fokus utamanya tetap sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Jantungnya mulai berdebar-debar. Bukan karena sedang kasmaran, melainkan bingung dan panik. Seandainya Niana memang benar-benar ingin memeriksakan kandungan, itu artinya, ada dua kemungkinan. Niana hamil, atau sedang ingin hamil!
"Waktunya di hotel, saat itu aku memakai benda itu, bukan? Apa aku sempat tidak memakainya? Dan astaga! Di momen seperti itu, kenapa aku justru sangat mengantuk?" Endri menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh tidak habis pikir pada dirinya sendiri yang kalah dalam permainan sederhana buatan Niana. "Namun seandainya, dia ingin hamil, seharusnya kami melakukannya tadi malam, bukan? Aaaaah! Sial!"
Penyesalan tinggallah sebuah penyesalan. Nasi sudah menjadi bubur. Namun sebegitu bodohnya Endri menilai apa yang sebenarnya terjadi. Ia terlalu hanyut dalam kebahagiaan yang Niana berikan, tanpa mau menyelidiki terlebih dahulu. Keanehan yang ia rasakan pun selalu ia tepis dengan sebuah keyakinan. Keyakinan tentang hubungannya dengan Niana semakin membaik.
__ADS_1
***
"Bagaimana, Niana? Apa kamu sudah siap? Aku sudah mendengar tentang rencanamu dari, Dany. Dan maafkan aku karena harus memaksa adikku bercerita lagi, hal itu aku lakukan karena ingin memastikan langkahku selanjutnya," ucap Arsyita yang saat ini berada di ruang kerja adiknya, di mana Niana juga sudah dipanggil ke sana.
Waktu yang sudah mendekati jam makan siang membuat Dany akhirnya bersedia untuk mengabulkan permintaan Arsyita. Ya, kakaknya itu sempat memintanya untuk memanggil Niana. Lama-lama, ruang kerjanya bisa berganti fungsi. Kalau untuk Niana sih tidak apa-apa, tetapi kalau Arsyita, entah mengapa Dany tidak terlalu suka.
Sebelum memberikan jawaban pada Arsyita, Niana lebih dulu menatap Dany. Tadi malam pria itu memberikan banyak penghiburan untuk dirinya. Dan memang benar, berkat Dany, semua kerisauan Niana tadi malam nyaris menghilang. Di pukul sebelas malam, Dany baru mengantarkan untuk menyusul Nur di salah satu hotel.
Waaah! Arsyita menemukan sesuatu yang aneh sekaligus manis. Lirikan Niana terhadap adiknya sungguh sangat menarik untuk diulik. Sepertinya mereka sudah memulai sesuatu yang Arsyita tidak tahu, tetapi ia cukup pandai dalam menebaknya.
Mendengar pertanyaan Niana, sebuah senyum lantas terulas manis di bibir Dany. Wanita yang berharga baginya itu tampaknya ingin lebih berhati-hati. Niana memang menerima semua ide yang ia berikan belakangan ini, tetapi Niana juga tak sebodoh itu dalam hal menerima tanpa pertimbangan apa pun.
"Saya tidak mau jika Kakak mengalami hal buruk karena terus membantu saya. Belakangan ini saya melihat beberapa komentar negatif dari beberapa orang di akun media sosial milik Kakak, saya hanya tidak ingin nama baik Kakak sebagai seorang aktris malah menjadi buruk karena saya," ucap Niana.
Dan Dany semakin girang sekaligus takjub. Bahkan meski sangat membutuhkan bantuan dari Arsyita, rupanya Niana masih tetap memikirkan nama baik Arsyita. Di beberapa kesempatan pun, Niana juga melarang Dany untuk ikut campur. Mungkin Niana tidak terlalu ingin merepotkan sekaligus tidak enak hati.
__ADS_1
Wanita ini memang luar biasa, lemah tapi sok kuat. Tapi dia baik sekali, pintar juga, pantang menyerah, cantik, dan ah ... sepertinya aku sudah tergila-gila padanya. Tadi malam, pertama kalinya kami bercanda semanis itu, hihi, ucap Dany di dalam hati.
"Ahahahaha!" Arsyita justru tergelak.
"Hais!" ucap Dany sembari mengusap wajah Arsyita. "Kakak ini anggun kalau di layar kaca doang! Pencitraan tahu, tidak?!"
"Apaan sih?!" sahut Arsyita sembari menepis tangan Dany. Detik berikutnya, ia lantas menatap Niana. "Tenang saja, Niana. Aku bisa dengan mudah membungkam mereka. Lagi pula, aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa sebuah strategi. Aku jarang terlibat rumor aneh, selain pacaran. Jadi, orang-orang lebih mempercayaiku nantinya. Dan ini cukup seru, aku ingin melanjutkannya, sebagai salah satu saksi hancurnya pria itu. Kamu tahu, aku dan Dany tidak bisa menghancurkan orang tua kami, tapi menghancurkan Endri barang kali bisa menyembuhkan lara hati kami."
"Jadi, begitu ya?" Niana manggut-manggut. "Baiklah, kalau begitu, Kak. Tapi jika Kakak kesulitan, saya juga akan muncul untuk membela Kakak nantinya. Dan ... soal rencana selanjutnya. Saya ingin menghilang terlebih dahulu dari Endri. Tiga sampai satu Minggu, saya ingin membuatnya bingung."
Pembahasan mereka berlanjut, ketika Arsyita dan Dany ingin mendengarkan susunan rencana dari Niana. Termasuk bagaimana Niana akan membuat perceraiannya dengan Endri bisa terjadi. Dan ternyata semuanya sudah tersusun begitu rapi. Niana memang cerdas sekali. Dany tahu betul soal itu. Suatu saat jika Niana bersedia untuk memberikan kesempatan padanya, ia berjanji akan menjadi sosok pria yang tidak akan pernah membodohi Niana. Ia bahkan berjanji akan menunggu sampai kapan saja, karena rupanya, Niana pun sudah memiliki tujuan setelah misi pembalasan dendam itu telah selesai.
Sampai jam makan siang pun benar-benar tiba, mereka bertiga lantas menyudahi perbincangan yang keluar dari zona pekerjaan itu. Untuk siang ini, Niana terpaksa menolak lagi tawaran makan siang dari Dany, ada seseorang yang harus ia temui. Namun demi menjaga hati Dany, Niana memutuskan untuk mengatakan bahwa ia sudah memiliki janji dengan Nur. Lagi pula, Dany dan Arsyita sedang diundang untuk makan siang oleh kedua orang tua mereka. Niana tidak boleh mengganggu agenda kakak-beradik itu.
***
__ADS_1