
"Mas!"
"Mas!"
"Mas!"
Telinga dan kepala Endri dikelilingi oleh satu kata yang merujuk pada sebutan untuk dirinya, tetapi terus terdengar secara berulang-ulang. Lelah, wajahnya pun menunjukkan keletihan yang sangat berat. Bibirnya pucat, pandangan matanya begitu sayu. Tampaknya ia pun semakin kurus akhir-akhir ini. Padahal Niana masih cukup membantunya dalam mengurus rumah, baik untuk persediaan makanan hingga memasak bersama Nur. Masalah bersih-bersih pun masih dilakukan oleh Nur dengan begitu rajin, kendati Nur sudah dijadikan asisten rumah tangga pribadi oleh Niana.
Namun meski Niana dan Nur masih memberikan bantuan, rasa lelah justru kerap mendera tubuh Endri. Bagaimana tidak, setiap malam ia harus terbangun, bahkan beberapa kali dirinya sampai bergadang hingga dini hari. Selain untuk mengurus pekerjaan, Lesy masih merengek. Istri yang ia pilih itu begitu manja dan tetap emosional.
Apakah memang sesulit itu dalam menghadapi seorang wanita hamil? Kehamilan Lesy saja belum menimbulkan perut buncit, tetapi wanita itu sudah merasa pegal-pegal? Apakah jika Niana yang hamil, Niana pun akan bersikap demikian? Atau apakah Lesy memang hanya stres dalam menghadapi keberadaan Niana di rumah yang sama? Seandainya memang sebenci itu pada Niana, mengapa Lesy begitu nekat untuk tinggal bersama?
Seluruh pertanyaan itu memenuhi benak Endri, yang membuatnya tidak hanya pusing dengan dengungan kata 'Mas!' yang terus muncul berulang-ulang. Ia menyadari bahwa keputusan untuk membuat kedua istrinya tinggal bersama bukanlah sesuatu yang tepat. Namun, jika ia meminta salah satu dari mereka untuk pergi, sudah pasti mereka tak akan setuju.
Seharusnya Niana yang lebih bisa pergi, tetapi Endri memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya jika kedua orang tuanya atau kedua orang tua Niana mendadak datang dan tak menemukan Niana di rumah itu, melainkan justru bertemu dengan Lesy yang masih merupakan seorang istri siri, pastinya akan menimbulkan sebuah malapetaka.
Perselingkuhan yang Endri lakukan pun akan terungkap. Masalah besar akan datang. Ia sempat mempersiapkan diri untuk menanggung segala konsekuensi, tetapi jika hal itu ia lakukan lagi, ia akan kehilangan partner kerja sama yang bisa menyelamatkan perusahaannya. Dan lagi, ... entah mengapa saat ini ia tidak rela jika Niana pergi dari sisinya. Tanpa Niana, bisa saja rasa lelah yang mendera dirinya semakin meningkat pesat.
"Aku lelah, rasanya tidak ingin pulang. Ingin di luar saja sampai malam, tapi setidaknya nanti malam Ayah dan Ibu mengundang aku dan Niana untuk datang. Setidaknya aku punya waktu untuk tidak bersama Lesy terlebih dahulu," ucap Endri lalu mengembuskan napasnya secara kasar. "Aku tidak mau berada di samping Lesy dengan perasaan yang berantakan seperti ini. Jika ucapanku kelewatan seperti tadi pagi, aku hanya akan menyakitinya dan fatalnya aku bisa membahayakan anak kami."
Endri menghela napas dalam-dalam. Detik berikutnya, ia mencengkeram kepalanya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Ia menunduk dan matanya terpejam. Kemudian suara napasnya pun terdengar lebih memburu. Dan sungguh! Rasanya memang selelah itu. Ia bisa gila jika tidak mampu mengendalikan dirinya.
Suara ketukan pintu yang akhirnya membuat Endri mulai mengubah sikap. Meski masih lesu, ia tetap menegakkan tubuhnya. Barang kali ada sosok penting yang ingin menemui dirinya.
"Selamat siang, Pak Endri." Royan pun muncul sesaat setelah membuka pintu utama itu. Ia lantas berjalan ke arah sang atasan. Ia menghentikan langkah di hadapan atasannya itu dan segera merundukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ada apa, Royan?" tanya Endri. "Apakah ada jadwal yang begitu penting?"
Royan—sekretaris pribadi Endri—langsung menganggukkan kepala. "Setengah jam lagi, Anda harus bertemu dengan Tuan Dany Dharmawangsa. Kita harus segera berangkat, Pak."
Mata Endri langsung terbuka lebih lebar. "Astaga! Aaah ... aku sampai melupakan agenda itu. Jadi, apa kamu sudah menyiapkan hal yang perlu dipersiapkan?"
"Sudah, Pak."
"Baik, jadi aku tinggal mempersiapkan bagianku saja."
"Benar, Pak."
"Terima kasih. Keluarlah dan biarkan aku mengerjakan pekerjaanku. Beri aku waktu sedikit lagi untuk bersiap-siap, aku akan cepat."
"Baik, Pak."
Sepeninggalan Royan, Endri lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir pada dirinya sendiri. Ia bahkan sudah berangkat kerja terlambat karena harus mengantarkan Lesy ke rumah sakit, tetapi beruntungnya ia memutuskan untuk mengubah jadwal pemeriksaan di jam delapan. Namun saat ini ia justru nyaris melupakan hal yang sangat penting tersebut.
"Bisa gila aku!"
***
Dany sudah berada di ruang private VVIP di salah satu restoran. Orang yang hendak ia temui adalah suami dari wanita yang meminta pertolongan padanya. Namun tampaknya Endri akan tiba terlambat. Sebab sudah lewat lima menit berlalu sejak jam perjanjian tiba. Rupanya tidak hanya tak setia pada pasangan, melainkan juga pada waktu. Bahkan meski hanya terlambat lima menit sekalipun, Dany paling tidak bisa menoleransi sebuah keterlambatan. Apalagi sebagai orang yang akan memberikan bantuan, Dany justru datang lebih awal.
Ketika suara pintu geser terdengar, barulah Dany menghela napas. Ia sudah agak malas, tetapi jika bukan demi Niana, ia pasti akan memilih kembali ke perusahaannya atau makan siang di tempat lain.
__ADS_1
"Selamat siang, Tuan Dany," ucap Endri yang baru saja dipandu masuk ke dalam ruangan itu oleh salah satu pelayan restoran. Ia menundukkan kepalanya untuk menunjukkan rasa hormatnya pada Dany.
Dany memberikan tatapan tajam. Kedua telapak tangannya terlipat di depan. Helaan serta embusan napasnya yang mewakili rasa muaknya masih kerap terdengar.
"Rupanya seorang pimpinan dari suatu perusahaan juga bisa datang terlambat, ya? Dan tanpa pemberitahuan!" ucap Dany sarkastik.
Endri agak tercengang. Ia menelan saliva, tubuhnya pun kian menegang. Oh, astaga, padahal keterlambatannya tak sampai berjam-jam. Namun mengapa Dany sepertinya akan mempermasalahkan? Mengapa pria itu begitu sombong?
Endri menghela napas, setelah akhirnya ia berkata, "Maafkan saya, Tuan Dany, tadi sa—"
"Jangan gunakan alasan jalanan macet untuk membuat saya bersedia untuk memberikan toleransi pada sikap Anda, Pak Endri," sahut Dany. "Ketika salah satu karyawan Anda terlambat, pasti Anda langsung memotong gaji karyawan Anda tersebut, bukan? Bahkan mungkin saja sistem absensi di perusahaan Anda sudah diatur dengan pembatasan waktu masuk. Dan bagaimana bisa, Anda yang begitu tega memotong gaji karyawan yang hanya karena terlambat satu menit, malah melakukan keterlambatan sendiri? Bukankah seharusnya Anda datang lebih cepat sebagai pihak yang sedang meminta bantuan? Oh, atau jangan-jangan Anda sengaja menganggap sepele diri saya hanya karena saya mengenal istri Anda?"
"Ti-tidak, Tuan Dany. Sungguh! Saya tidak pernah bermaksud menganggap Anda sesepele itu. Saya minta maaf atas keterlambatan saya, saya benar-benar minta maaf bukan karena saya suami dari Niana, tapi atas kesalahan saya sendiri."
"Memang seharusnya Anda melakukan hal tersebut, Pak Endri. Bahkan ketika kita belum membahas banyak hal, Anda justru sudah mengecewakan saya. Kalau Anda bukan suami Niana, saya pasti akan membatalkan rencana kerja sama ini sekarang juga. Mau bagaimanapun saya tidak ingin mengecewakan Niana, itu sebabnya saya ingin memberikan Anda kesempatan demi Niana. Toleransi yang saya berikan pada Anda karena saya begitu memikirkan Niana!"
"Te-terima kasih, Tuan Dany."
Endri tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, selain harus tunduk, meskipun ia tetap kesal karena Dany berulang kali menunjukkan kepedulian terhadap istri pertamanya. Seolah-olah Dany memang ingin mendapatkan nilai plus dari Niana. Dany terus menekankan bahwa dirinya lebih memikirkan wanita itu. Bukankah itu terlalu aneh ketika hubungan mereka hanya sebatas hubungan pertemanan saja?
"Tunggu apa lagi?" celetuk Dany. "Anda harus segera duduk dan mari kita mulai pembahasaan di meeting kali ini. Saya tidak mau jam makan saya pun turut terpotong hanya karena kelambanan pergerakan Anda, Pak Endri!"
"Ah, ba-baik, Tuan Dany," jawab Endri.
Lalu dengan gerakan lebih cepat, Endri segera menarik salah satu kursi di hadapan Dany. Ia lekas duduk dan membuka tas kerjanya, kemudian mengeluarkan beberapa berkas sebagai bahan diskusi sekaligus untuk menarik minat Dany lebih banyak lagi. Meskipun ia tetap tak menyukai Dany yang begitu terang-terangan memedulikan Niana di hadapannya.
__ADS_1
***