
Niana berjalan dengan lunglai dengan membawa sebuah map. Langkahnya pelan. Tubuhnya pun hanya terbalut pakaian tidur yang sama seperti sebelumnya. Kepalanya tertunduk, wajahnya semakin pucat. Saat ini ia tengah menuju gerbang rumah itu. Ingin memenuhi permintaan Dany yang mungkin masih menjaganya di depan rumah sampai saat ini. Sementara Endri, ... pria itu sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri.
Mata Niana menatap kunci gerbang yang masih terkunci, tetapi tidak di bagian gemboknya. Terdiam dirinya, tanpa benar-benar tahu apa yang ia pikirkan. Belum ada perasaan lega, meskipun langkahnya sudah hampir dekat dengan puncak keberhasilan. Perasaannya masih berantakan, setelah sepanjang satu jam bersama Endri keyakinannya masih teramat dalam.
Beberapa detik kemudian, Niana berangsur membuka pintu gerbang itu. Suasana sudah cukup sepi, bahkan cenderung suram. Tampaknya langit yang kelam juga tengah menderita mendung hitam. Hawa dingin menyergap tubuh Niana yang hanya terbalut pakaian tipis dengan lengan pendek itu, tetapi beruntung di bagian dada sampai pangkuannya, pakaian itu masih tidak tembus pandang, selain hanya pendek dan memiliki bagian atas cukup terbuka.
Niana berdiri di depan gerbang rumahnya. Dan ia tidak tahu saat ini Dany ada di mana. Ia hanya berharap supaya Dany lantas menangkap keberadaannya di tempat itu saat ini. Jalan beraspal di depan rumah Niana, sekaligus penghubung perumahan elite itu ke jalan raya, sangat sepi. Suasana yang tentu saja membuat Niana merasa diuntungkan.
Lalu tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti di hadapan Niana. Mobil yang tidak asing. Dan tak perlu diragukan lagi, ketika sesosok pria muncul yang adalah Dany. Pria itu berdiri tegak di hadapan Niana dengan wajah yang berekspresi sendu sekaligus prihatin.
"Aku ... hanya mendapatkan dua tanda tangannya saja, Dany," ungkap Niana lalu menyerahkan map yang berisi tiga buah surat. "Bukankah aku sudah gagal?"
Air mata akhirnya berlinang, membahasi pipi bagian kanan milik Niana. Mungkin karena satu kegagalannya-lah yang membuat hatinya belum kunjung baik-baik saja. Padahal ia sudah berusaha. Ia menggunakan alasan tur dari perusahaan yang ingin ia ikuti dan harus mendapatkan persetujuan pihak suami. Endri yang telah terserang kantuk berat justru terus menolak. Namun Niana tidak menyerah.
"Kamu sudah berjanji untuk tidak mengantuk, tapi sekarang justru sudah tidak bisa menahan diri untuk lekas tidur! Kamu kalah dari permainan yang aku buat, Mas! Kamu tidak bisa bertahan jika aku yang menginginkannya, tapi aku yakin, ketika Lesy merengek di tengah malam, kamu siap menjaganya sampai bergadang! Tapi, kenapa ketika bersamaku tidak begitu?!" omel Niana ketika Endri mengeluh mengantuk untuk pertama kalinya setelah menghabiskan teh yang sudah diisi bubuk obat tidur.
"Tidak tahu, Niana, sepertinya aku benar-benar lelah. Aku juga menginginkanmu, tapi aku sudah tidak tahan. Hari ini aku sudah bekerja keras dan ke sana kemari untuk mengurus masalah pemasaran. Dan ah!" sahut Endri pada saat itu dan lantas menguap lebar. "Aku mengantuk sekali, Sayang, maaf, kita bisa melakukannya lagi di keesokan harinya, bukan?"
Niana berlagak menghela napas. "Jangan tidur dulu! Aku besok harus berangkat pagi-pagi. Jadi, aku membutuhkan tanda tangan untuk mengikuti tur dari perusahaan, aku sudah menikah, jadi aku membutuhkan persetujuan suami. Dan satu lagi, aku ingin memeriksakan rahimku ke dokter, dan aku membutuhkan tanda tanganmu sebagai waliku, Mas. Kamu kan jarang di rumah, jadi, cukup tanda tanganmu saja!"
Mata Endri sudah benar-benar sulit diajak berkompromi sedikit saja. Namun ia berusaha untuk mendengar ucapan Niana, meskipun beberapa suka kata yang terlontar dari bibir Niana sempat terdengar kurang jelas.
"Tanda tangan ...? Besok saja ya ...." Endri berucap dan nyaris terlentang di atas sofa, sebelum akhirnya Niana meneriaki namanya secara tegas. "Niana ...."
__ADS_1
"Please ... tanda tangan dulu!"
"Aku tidak bisa membaca isinya."
"Percayalah padaku, aku jauh lebih teliti daripada kamu. Aku sudah membaca isinya. Lagi pula, hanya dokumen persetujuan saja kok! Bukan sebuah perjanjian. Nih, di sini ...."
Niana sebagai menutup bagian atas isi surat. Lalu ia menyerahkan sebuah bolpoin yang memang sudah ia siapkan. Endri tidak punya pilihan lain selain manut, daripada Niana terus-terusan membuatnya tak bisa tidur. Dan entah mengapa ia bisa merasakan kantuk yang begitu berat secara tiba-tiba. Yah, memang ia sudah cukup lelah. Namun sebelum ia belum merasakan kantuk sama sekali.
Pada akhirnya, Endri berusaha membubuhkan tanda tangannya. Namun di berkas ketiga, ia sudah tumbang terlebih dahulu. Berkas perceraian yang Niana inginkan justru tidak mendapatkan tanda persetujuan. Demikianlah yang terjadi beberapa menit lalu, sebelum Niana keluar dari rumah itu.
Dengan cepat, Dany melepaskan jaket hitam yang ia kenakan. Detik berikutnya, ia menyelimuti tubuh Niana dengan jaket tersebut.
"Pergilah bersamaku, aku akan mencari cara terbaik. Aku pastikan Endri akan ketiduran sampai pagi."
"Iya, aku akan menunggumu di sini, Niana," sahut Dany sembari mengusap air mata di pipi Niana. Ia tersenyum tipis. "Cepatlah ...."
"Biarkan aku membawa mobilku sendiri."
"Boleh saja, tapi biarkan aku yang menyetir."
Dahi Niana mengernyit. "Tapi, bagaimana dengan mobilmu?"
"Aku akan meninggalkannya sebentar di pinggir jalan ini. Biar Brian yang mengurusnya nanti."
__ADS_1
"Tidak, jangan. Aku akan membatalkan niatku untuk membawa mobilku, terlalu berbahaya. Lagi pula tak boleh parkir sembarangan."
"Itu lebih baik, Niana. Toh rumah ini akan menjadi milikmu, jadi, kamu masih bisa pulang mengambil mobilmu kapan saja."
Niana tahu Dany hanya tidak ingin membiarkan dirinya menyetir sendirian. Alasan Dany pun pasti berkaitan dengan kondisi mentalnya saat ini. Dan demi tidak mau berdebat lama-lama, akhirnya Niana mengikuti apa yang pria itu inginkan. Detik berikutnya, ia menyerahkan map berisi tiga surat itu pada Dany dan lantas memutar tubuhnya, kemudian berjalan untuk memasuki rumahnya lagi.
Mata Niana mengarah pada sosok Endri yang tertidur begitu pulas. Tampaknya obat tidur yang Endri minum memang memberikan efek tidur lebih nyenyak. Itu lebih baik, setidaknya Niana bisa menghindari tanpa harus memberikan banyak alasan.
"Mau bagaimanapun, aku ingin tetap bercerai darimu, Endri. Kendati saat ini aku masih gagal untuk mendapatkan tanda tangan perceraian darimu," gumam Niana.
Selepas menatap Endri yang masih terkapar di atas sofa, Niana langsung melanjutkan perjalanan menuju kamar. Ia bergegas untuk berganti pakaian dengan setelan yang lebih sopan. Tak lupa, ia mengambil tas, ponsel, serta dompet berharga miliknya. Baju ganti untuk esok hari pun tak luput dari pengamatannya saat ini. Entah ke mana Dany akan membawanya, tetapi Niana punya rencana untuk menyusul Nur tidur di hotel saja.
Persiapan telah selesai, Niana keluar dari kamar itu. Sekali lagi, ia menatap Endri dengan mata yang berbinar tajam sekaligus penuh kebencian. Sebentar lagi, sebentar lagi ia akan melepaskan diri dari pria itu, kendati surat perceraian belum Endri tanda tangani. Namun seperti kata Dany, pasti ada cara lain untuk mengatasinya.
Ketika Niana sudah keluar setelah mengunci pintu utama rumah dan gerbang bagian depan, Niana langsung melesakkan diri ke dalam mobil milik Dany, sementara pria itu sudah bersiap-siap untuk mengemudi.
"Bawa aku ke tempat yang lebih tenang, dan setelahnya antarkan aku ke hotel di mana Nur berada," ucap Niana. Detik berikutnya, ia berangsur menatap Dany. "Maafkan aku karena masih harus merepotkan dirimu."
Dany tersenyum tipis. "Aku yang memutuskan untuk selalu ada bagi dirimu, Niana. Tenang saja."
Mobil mulai dilaju oleh sang pemilik. Mereka meninggalkan rumah yang saat ini sudah secara sah dimiliki oleh Niana. Niana juga tidak ingin memikirkan Endri yang masih terkapar setelah menyantap obat tidur. Biarlah Endri bermimpi indah terlebih dahulu, sebelum memiliki kehidupan yang jauh lebih buruk!
Sebentar lagi, semuanya akan segera berakhir. Dan sebentar lagi, Niana akan sepenuhnya menjadi seorang janda!
__ADS_1
***