First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 50-Maukah Kamu Makan Siang Bersamaku, Niana?


__ADS_3

Kurang ajar sekali! Niana sempat berpikir demikian dan benar-benar tidak menyangka. Pasalnya ketika dirinya pergi, Endri justru berkencan manis dengan Lesy. Namun ... saat ini, Niana mencoba menepis ungkapan itu. Sebuah pesan yang Endri kirimkan telah memasuki ponselnya sejak tadi malam, tepat ketika ia hendak merebahkan diri di atas ranjang kamar sebuah hotel yang ia sewa bersama Nur.


Melalui pesan itu, Endri mengaku bahwa hari ini ia akan membawa Lesy ke apartemen yang dulu pernah ditinggal. Endri juga mengatakan bahwa kencan manis itu hanyalah sebuah kamuflase untuk merayu Lesy sebelum membuat wanita itu bersedia hengkang.


“Semoga saja dia tidak mengingkari janji, agar aku bisa segera menyelesaikan segalanya,” gumam Niana lalu menghela napas panjang. Ia lantas mengarahkan mobilnya untuk memasuki basemen gedung perusahaan itu.


Untuk saat ini, Niana hanya perlu bekerja dan menunggu kabar bahwa Endri sudah berhasil membujuk Lesy keluar dari rumahnya. Dengan begitu, pesona Niana dan bagaimana Niana memanipulasi keadaan benar-benar dapat mempengaruhi Endri. Pria bodoh itu harus segera mendapat karma setelah berbuat curang! Dan ketika rencana itu sudah berhasil, Niana berjanji akan pergi. Benar-benar pergi dari kehidupan sang suami.


Niana segera bergegas turun sesaat setelah ia memarkir mobil kesayangannya di salah satu sudut dari basemen gedung tersebut. Suasana masih cukup sepi, karena memang masih pagi. Namun mobil milik Dany tampaknya sudah terparkir sejak tadi. Niana tersenyum sekaligus merasa kagum pada sikap disiplin Dany yang memang selalu terjaga sejak masih kuliah bertahun-tahun yang lalu.


Sayang sekali, pria sekompeten dan sebaik Dany justru enggan untuk menikah. Wanita mana pun pasti akan bahagia bersama Dany yang memang sudah masuk ke dalam kategori pria idaman. Bahkan tak hanya kompeten, Dany juga tampan, tinggi, serta menyenangkan.


“Niana!” seru seseorang yang akhirnya membuat Niana langsung menghentikan langkah kakinya.


Mata Niana melebar. Dirinya cukup terkejut dengan kehadiran orang tersebut. “Lho, Dom?!” Ia berkata sembari melangkahkan kakinya untuk menemui Dominic. “Pagi-pagi begini, kenapa kamu sudah ada di sini? Habis bertemu dengan Dany ya?”


Mereka berdua kompak menghentikan langkah ketika sudah saling berhadapan dengan dekat.


Dominic tersenyum lalu mengangguk pelan. “Iya, aku habis bertemu dengan Dany. Biasanya jam segini dia sudah ada di kantor, jadi aku langsung ke sini, alih-alih ke apartemennya terlebih dahulu. Dia kan Pak CEO yang sangat disiplin!” jelasnya.


“Haha, kamu benar,” sahut Niana disertai tawa kecilnya. “Padahal apartemennya tidak jauh dari sini, tapi dia selalu buru-buru sekali.”

__ADS_1


Dahi Dominic mengernyit. “Kamu tahu di mana apartemennya?”


“Iya, kemarin aku baru saja diajak ke sana.”


“Hah? Apa?” Mata Dominic melebar dan kerutan di dahinya semakin kelihatan. “Diajak oleh Dany?”


Tanpa berpikir macam-macam, Niana langsung menganggukkan kepala. Ia hanya menganggap kejadian kemarin tidaklah terlalu penting. Lagi pula, Dominic tahu betul tentang pertemanannya dengan Dany.


“Kamu pasti tahu kan kejadian tadi malam?” ucap Niana yang agak malu. Namun apa boleh buat, Dominic pun sudah mengetahui perselingkuhan suaminya. “Siang harinya aku sempat bertengkar dengan Endri, lalu Dany  yang mengetahui hal itu langsung membawaku pergi. Mungkin dia bingung hendak membawaku ke mana, jadi dia menawariku untuk mengunjungi apartemennya. Yah, berkat dia, aku merasa sedikit lebih tenang. Dan aku juga bisa menelan makanan, kendati hanya semangkuk mie instan. Padahal dia orang kaya, tapi memberi suguhan mie instan saja ya? Hahaha, yah mau bagaimana lagi, kami pun tidak berencana untuk datang ke tempat tinggalnya.”


Dominic tersenyum kecut. “Kedekatan kalian memang luar biasa.”


“Mm? Bagaimana?” Niana bertanya karena ucapan Dominic terdengar ambigu baginya.


“Aku?”


“Ya, Niana.”


“Mm ... entah, aku tidak tahu ada banyak pekerjaan atau tidak. Aku juga harus melakukan evaluasi para karyawan.” Niana tampak berpikir. “Tapi, aku akan menghubungimu setengah jam sebelum jam makan siang tiba, Dom! Kamu kirim pesan padaku sekarang ya, biar aku simpan nomor kamu.”


“Ah, oke. Maaf karena belum sempat menghubungimu sama sekali.”

__ADS_1


“Tidak masalah, Dom. Mm, oke, kalau begitu aku naik dulu ya. Aku harus mempersiapkan pekerjaanku.”


Dominic mengangguk. “Selamat bekerja, Niana, dan ... aku harap kamu selalu tabah.”


“Tabah? Aaa! Karena suamiku dan madunya? Tenang saja, Dom, aku punya cara tersendiri untuk membuat diriku lebih bahagia. Dan barang kali, aku juga membutuhkan bantuan darimu nantinya. Terima kasih atas perhatianmu dan aku berharap besar kamu berhati-hati di jalan.”


Niana segera mengambil langkah, sementara Dominic masih terdiam di tempatnya. Tatapan Dominic terus saja memperhatikan sosok wanita yang pernah ia sukai itu. Sejujurnya, Dominic agak merasa cemburu karena Niana bahkan bersedia diajak ke apartemen oleh Dany. Namun hanya ajakan makan siang darinya saja, Niana masih perlu mempertimbangkan lagi.


“Sudahlah,” gumam Dominic yang memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ketika Niana sudah memasuki sebuah elevator.


Tidak lupa Dominic mengirim pesan pada nomor ponsel Niana yang tertera di sebuah kartu nama sesaat setelah memasuki mobilnya. Yah, barang kali siang ini Niana akan menyanggupi tawaran makan siang darinya. Setelah itu, Dominic bergegas untuk melajukan mobilnya, meninggalkan gedung perusahaan milik temannya.


Di sisi lain, Niana yang sudah memasuki elevator mulai memikirkan tawaran Dominic. Apa yang bisa ia manfaatkan dari makan siang dengan pria itu, setelah Dominic pun mendengar ucapannya mengenai perselingkuhan suaminya tadi malam. Sebagai seorang teman, tentu saja, Niana tidak keberatan untuk makan siang bersama Dominic yang merupakan salah satu dari keempat sahabatnya yang lain. Namun jika ia bisa memanfaatkan situasi sedikit saja, ia tetap akan melakukannya, dengan catatan ia akan berkata jujur pada Dominic.


“Tak mungkin Endri tidak kesal padaku yang sudah mengungkapkan perselingkuhannya di depan Dom. Dia pasti kesal sekali meski sudah berjanji akan segera memindahkan Lesy. Untuk itu, aku harus membuatnya memaafkan sikapku, agar dia bisa sepenuhnya percaya sekaligus tunduk padaku,” gumam Niana. Detik berikutnya, ia menunduk dan kembali berkata, “Dom, sepertinya aku memang harus memanfaatkan sedikit saja dari tawaran makan siang yang akan aku penuhi. Maafkan aku, dan aku harap kamu benar-benar mengajakku makan bersama, Dom!”


Beberapa saat kemudian, Niana keluar dari elevator ketika pintu dari alat itu sudah terbuka. Ia berjalan ke arah ruangannya dengan membawa sejumlah pemikiran sekaligus beberapa harapan.


Sementara itu ....


Di tempat kerjanya sendiri, penampilan Dany justru sudah berantakan. Apalagi di bagian rambutnya yang agak gondrong karena sudah lama tidak ia potong. Ucapan serta tantangan dari Dominic sukses membuatnya merasa kalut sekaligus kacau-balau.

__ADS_1


***


__ADS_2