
Geram semakin membesar di hati Lesy ketika Endri justru terdiam. Ia tidak mau jika suaminya malah mengabaikan sikap Niana. Dan sepertinya ia harus membuat Endri sadar. Lagi pula, bukankah Endri masih memiliki wewenang untuk mengatur kehidupan Niana yang masih menyandang status sebagai istri pertama?
"Mas, kenapa Mbak Niana begitu seenaknya saja sih? Apa karena sikapnya yang seperti itu, sehingga kamu akhirnya memutuskan untuk memilih aku?" ucap Lesy lalu menyelipkan dirinya di antara kursi dan meja. Ia pun berangsur meraih telapak tangan Endri lalu memberikan genggaman di jemari suaminya itu. "Mas, kamu kan harus menghentikan dia. Dia harus lebih prihatin dengan situasi perusahaan kamu dan juga kita lho."
Endri menghela napas lalu berangsur menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Lesy. Lagi pula, Niana kan membeli mobil itu dengan uangnya sendiri, bukan uang kita, Sayang."
"Tapi, kan dia masih istri kamu juga, Mas! Dia harus manut sama kamu! Kalau dia tidak menurut, seharusnya kamu bisa menceraikan dia! Ayolah, Mas, jangan membuatku hidup bersama dia terlalu lama. Aku bisa stress kalau terus berada di atap yang sama dengan dia! Dan lagi, apa kamu tidak memikirkan perasaanku saat dia sibuk berbelanja banyak barang mewah, sementara aku? Aku harus tetap memahami situasi kamu, Mas! Kamu bahkan sudah jarang memberiku hadiah lagi!"
"Setidaknya kamu memiliki hatiku, Lesy. Setidaknya aku lebih memilih kamu daripada dia. Perhatianku dan cintaku lebih tercurah padamu. Bahkan, aku dan Niana sudah seperti orang asing. Kamu sudah mendengar sendiri bahwa pernikahan kami sudah berubah menjadi pernikahan atas dasar kesepakatan saja, 'kan?
"Halah! Kamu pikir hidup cuma makan cinta dan perhatian saja?! Apalagi ketika anak kita sudah lahir, kita harus memiliki banyak uang, 'kan? Tapi, istri tuamu bukannya membantu, eh malah ingin memamerkan kekayaannya! Memang benar aku sudah mendengarnya, tapi mau bagaimanapun dia masih menumpang di rumah kamu!"
"Oleh sebab itu, kita harus hidup berhemat, Sayang. Daripada membeli barang tak jelas, lebih baik kita hidup berhemat. Biarlah Niana menjalani hidupnya selama dia tidak merugikan kita, sebab dia sudah membantuku untuk membujuk Dany Darmawangsa. Dia juga masih turut bertanggung jawab dengan rumah ini, dia kerap memasak dan berbelanja kebutuhan dapur. Hubungan kami menguntungkan satu sama lain. Lagi pula perusahaanku masih belum sepenuhnya stabil, aku masih harus memanfaatkan dia. Sampai di sini paham, 'kan?"
__ADS_1
"Uugh ...."
Lesy kesal dan sejujurnya masih ingin membantah. Namun ia tidak mampu, sebab ekspresi di wajah Endri terlihat mulai marah. Mungkin karena lelah dan masih banyak kesibukan, lalu ia datang dengan membawa kabar mengenai Niana yang semakin seenaknya saja. Baiklah, ia akan diam. Namun demi apa pun! Ia tidak akan ikhlas jika Endri tidak bisa memberinya kehidupan glamor yang pernah Endri janjikan. Hidup itu penuh gengsi dan Lesy tidak mau menurunkan derajat dirinya hanya karena punya tanggungan baru berupa anak.
Berbeda dengan Endri yang mulai memikirkan cara hidup Niana selama ini. Sebelumnya ia kerap menilai Niana begitu bodoh karena memilih untuk hidup berhemat. Namun pada akhirnya, prinsip Niana tetap berguna di saat-saat yang genting. Hanya saja, Niana sedang tidak merasa genting, melainkan Endri yang saat ini berada di situasi cukup genting. Seandainya Endri tidak mengkhianati Niana, mungkin Niana akan merelakan semua tabungan untuk membantu Endri dalam menyelamatkan perusahaan, alih-alih membeli mobil baru. Sayang sekali.
***
[Dany, maaf jika aku mengganggumu lagi. Coba lihat foto yang aku kirim. Jika aku memakai setelan biru muda dengan garis putih itu, menurutmu rambutku harus diatur bagaimana? Lengannya panjang lalu roknya sepanjang betis, aku jadi serba salah untuk mengatur diriku sendiri, Dan, aku benar-benar kampungan deh! Aku malu bertanya pada orang lain dan barang kali kamu lebih paham. Lagi pula, outfit kamu kan selalu keren!]
"Dasar aku, sudah dewasa pun masih tidak tahu cara bergaya. Apakah sewaktu muda, penampilanku juga sangat buruk?" gumam Niana sembari menghela napas dan berangsur duduk di tepian ranjangnya. "Lesy. Dia memang cantik. Semua yang melekat pada dirinya memiliki merek terkenal, tapi kalau mencontoh dirinya, tentu saja aku sama saja sedang menjatuhkan harga diriku. Lagi pula, menurutku dia terlalu glamor dan norak. Penampilannya benar-benar tidak cocok untuk diriku."
Sekali lagi, Niana menghela napas panjang. Rupanya mengubah penampilan membutuhkan banyak tenaga, ide, kehati-hatian, dan terutama uang. Setelah sekian lama memegang prinsip untuk terus hidup berhemat dan kerap mengurangi pembelian barang tidak terlalu penting, kini Niana merasa sedikit kesulitan. Soal fashion pun sudah semakin maju dan penuh warna jika dibandingkan dengan fashion di masa remajanya. Ia sungguh berharap Dany dapat membantunya. Lagi pula, Dany memiliki seorang kakak yang bekerja sebagai aktris terkenal.
__ADS_1
"Aku tidak mau terlihat kumal di hadapan teman-temanku, sekalipun yang datang hanya Dominic dan Rubel saja. Mereka ... sama sekali tidak boleh melihat kehancuran diriku melalui wajah sekaligus penampilanku," ucap Niana lalu menelan saliva.
Ya, setidaknya Niana harus terlihat lebih segar dan baik-baik saja. Meskipun keberadaannya tanpa suami akan membuat mereka lantas bertanya-tanya. Dominic dan Rubel, bahkan Keisya memang sahabatnya. Dulu pun Niana kerap berbagi cerita. Namun setelah sekian lama tidak berjumpa, rasanya tetap akan canggung. Soal cerita rumah tangga yang sudah berantakan, sungguh, Niana tidak ingin mengatakan. Hanya Dany dan cukup Dany saja. Agar setidaknya ia tidak dipandang menyedihkan oleh lebih banyak orang.
Lalu, sebuah notifikasi pesan masuk pun terdengar. Cepat, Niana mengangkat ponselnya yang sempat ia genggam dengan lemah di atas pangkuannya. Ia melihat sebuah pesan masuk dari Dany. Senyuman lebar merekah di bibir Niana yang masih terpoles liptint merah maroon.
Dany: Sanggul atau urai saja rambutmu. Tapi, jika diurai, buat sedikit keriting di bagian bawah. Aku kerap melihat rambut bawah kakakku dikeriting jika dia sedang menggunakan pakaian seperti itu. Atau jika kamu mau, mari kita bertemu sebelum ke tempat perjanjian. Aku akan mengantarkanmu ke salah satu salon langganan kakakku. Seseorang bisa membuat dirimu jauh lebih cantik, Dik! Lagi pula, kenapa harus terlalu mementingkan penampilan? Apa karena akan bertemu dengan Dominic?
"Cih ... kenapa membawa-bawa nama Dominic? Ada-ada saja." Niana menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hmm ... ke salon ya?"
Keraguan mendadak muncul di hati Niana. Ide Dany memang brilian. Namun Niana tidak terlalu menginginkan. Karena saat ini yang ia inginkan adalah membuat Endri dan Lesy terkejut lagi. Mereka harus tahu bahwa dirinya sudah berubah. Jauh lebih cantik, rapi, serta pantas untuk diajak kondangan. Dan jika memilih untuk ke salon sesuai ucapan Dany, pastinya selepas dari salon Niana harus langsung pergi ke tempat perjanjian dan ia tidak akan bisa menunjukkan dirinya di hadapan Endri dan sang istri kedua.
"Tidak, Dany, aku tidak bisa ke salon jika tempatnya jauh. Aku ingin pamer penampilan baru pada suami jahatku dan wanita simpanannya itu. Tolong beri saran padaku lewat pesan saja, atau kirimkan foto kakakmu agar aku bisa sedikit mencontek gayanya hehe," ucap Niana mengeja kalimat yang ia ketik di papan pesan. Detik berikutnya, ia mengirimkan pesan tersebut ke pria yang masih sama.
__ADS_1
***