First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 57-Tanpa Aku Menguji Jantungku, Ternyata Kamu Memang Se-berharga Itu


__ADS_3

Dany memeluk erat tubuh Niana yang bergetar. Gagal sudah rencananya untuk menguji jantungnya. Namun yang terpenting, ia harus bisa menenangkan dan menjaga Niana. Ia tidak mau Niana terlena pada segala luka hingga menderita depresi jangka panjang. Endri, cecunguk satu itu seharusnya dimusnahkan.


Bahkan seandainya Endri sudah menyesali perbuatannya, Endri tetap tidak akan bisa meninggalkan Lesy begitu saja. Niana akan tetap diduakan oleh Endri sampai kapan pun ketika Niana terus-terusan berada di dalam bahtera rumah tangga itu.


"Sekarang biarkan aku yang mengambil alih segalanya, Niana. Biarkan aku yang menghukum pria itu. Kamu tidak perlu bersusah-payah lagi, apalagi sampai menyerahkan dirimu," ucap Dany. "Aku akan melanjutkan misimu, dan kamu hanya akan bergerak ketika aku yang meminta saja. Kamu setuju, bukan?"


Di pelukan Dany, Niana mendongakkan kepalanya. Ia berusaha meredakan tangisannya, meski mata dan pipinya tetap basah. "Tidak, jangan lakukan apa pun. Kamu sudah berbuat banyak hal untukku. Aku tidak mau melibatkan dirimu terlalu jauh, Dany. Aku membutuhkanmu sebagai teman cerita saja," sahutnya.


"Tidak, aku juga harus bergerak. Karena ...." Dany menelan saliva dengan susah-payah. "Karena ... se-sepertinya, dirimu jauh lebih berharga bagiku daripada yang aku kira, Niana."


"A-aku tidak bisa melihatmu terluka. Saat ini, maupun ketika kita masih berkuliah bersama. Sejak dulu, aku selalu ingin menjagamu. Dan kini, aku menyadari satu hal tanpa aku harus menguji jantungku seperti apa yang Syita katakan. Bahwa kamu memang berharga bagiku, Niana," lanjut Dany.


"Dany ...?"


Niana langsung menarik dirinya dari dekapan Dany. Matanya yang masih basah lantas menatap wajah Dany yang begitu serius. Barusan, Dany mengatakan kalimat yang merujuk ke arah apa? Karena Niana sudah seperti adik sendiri, atau justru ...?


"Tidak mungkin ...." Lirih, Niana berkata. Benaknya mulai melayang membayangkan ingatan masa silam.


Ketika masih menjadi mahasiswa, untuk pertama kalinya Niana berjumpa dengan Dany di rumah makan kecil milik ayahnya. Dany tidak membawa uang dan Niana memberikan banyolan, tetapi pada akhirnya Niana menggeleng sebagai ungkapan tak masalah jika Dany ingin berhutang terlebih dahulu, asalkan Dany membawa lebih banyak pelanggan.

__ADS_1


Pada saat itu, teman Niana hanyalah Rubel saja. Sementara Dany memiliki Dominic dan Keisya. Dany menepati janji dengan membawa Dominic dan Keisya ke rumah makan kecil milik orang tua Niana yang memang cukup dekat dengan kampus.


Kedekatan Niana dengan Dany terjadi ketika Niana terus-terusan membahas kejadian di mana Dany tak membawa uang, dan di mana pun. Kedua orang tua Niana sampai menyangka bahwa Dany memang teman dekat Niana, termasuk Dominic serta Keisya, dan tentu saja juga Rubel. Cerewetnya Niana dan kebaikan orang tua Niana yang akhirnya membuat mereka berlima tetap akur dan sering makan bersama. Hubungan mereka terjalin sampai ke kampus, dan persahabatan pun terbentuk.


Namun lagi-lagi, Dany-lah yang menjadi orang pertama yang melihat Niana menangis sesenggukan karena patah hati. Dengan sikap kerap meledek, Dany tetap mendengarkan setiap keluhan gadis itu. Tak seperti Rubel yang sudah bosan mendengar kebodohan Niana dalam kisah asmara, Dany justru sangat sabar. Hal itulah yang membuat Niana selalu mencari Dany demi mencurahkan isi hati, dibandingkan sahabatnya yang lain. Meski pada akhirnya, Niana juga menceritakan kisahnya pada yang lain. Para sahabatnya itu selalu membelanya ketika ia mendapatkan masalah, tetapi Dany yang menjadi pendengar terbaik daripada ketiga orang lainnya.


"Hei!" Tiba-tiba Dany menyentil dahi Niana, sampai lamunan serta ingatan masa lalu yang terlintas di benak Niana menjadi buyar. "Jangan memikirkan apa yang aku katakan tentang betapa berharganya dirimu untukku terlebih dahulu, Niana. Pusatkan perhatianmu pada misi yang sudah kamu susun. Sebagian besar rencanamu lebih baik serahkan padaku saja. Dan jangan sekali-kali menyerahkan dirimu lagi pada Endri, bahkan meski pria itu masih menjadi suamimu hingga saat ini. Kamu sudah terlalu jijik padanya, aku tidak mau jika kamu sampai menderita asam lambung akut gara-gara dia!"


Niana mengangguk pelan kemudian berkata, "I-iya."


Dan tak ada kata lain, yang keluar dari bibir Niana karena hatinya masih syok sekaligus bingung.


Kemudian, Dany berangsur bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah kursi yang ia duduki sebelumnya. Ia sempat berekspresi penuh rasa bersalah, karena sudah mengatakan perasaannya yang mungkin akan sangat membebani Niana. Namun ia pun juga membenarkan sikap yang ia ambil barusan. Sebab jika ia tidak berkata sejujur itu, Niana pasti akan terus menolaknya untuk ikut campur terlalu dalam. Dan Dany tidak mau membiarkan wanita yang sudah sehancur itu berjuang sendirian. Lagi pula, memang benar, meski terbilang cepat, rasa sakit yang menghujam hati Dany setelah mendengar keluhan Niana barusan sukses membuat Dany menyadari bahwa wanita itu memang begitu berharga.


"Bukan salahmu kok. Jangan mengatakan semua ini gara-gara kamu. Aku saja yang terlalu emosional," sahut Niana.


"Tapi, aku masih ingin tetap meminta maaf. Dan tolong jangan jauhi aku lagi setelah aku mengatakan perasaanku padamu, Niana. Karena jika kamu menjauh, percayalah, kali ini aku akan terus mengejarmu ke mana pun kamu pergi. Aku tidak akan pasrah seperti saat kamu terus menjaga jarak mulai dari dua tahun yang lalu."


Niana menelan saliva dengan susah-payah. "Ma-mana mungkin. A-aku tidak akan menjauhi dirimu kok, Dan."

__ADS_1


"Kamu sempat mencegahku untuk ikut campur barusan, itu artinya kamu ingin menjaga jarak dariku lagi."


"Maaf, itu karena—"


"Niana, aku tidak pernah memintamu untuk memikirkan aku. Aku sudah sangat senang ketika kamu mengandalkan aku lagi, seperti saat kita masih sangat muda."


Kelopak mata Niana bergetar ketika ia juga terus menatap paras tampan, terutama netra cokelat milik Dany. Namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa pun. Ia memilih untuk kembali menyantap makanan yang tersaji meskipun seleranya nyaris hilang. Setidaknya, ia mendapatkan pelampiasan daripada terjebak kecanggungan terus-terusan.


"Makanlah yang banyak. Saat ini aku membawa uang kok, jadi tenang saja," ucap Dany bergurau tentang kejadian di masa silam saat ini tidak membawa uang, sementara seorang gadis sudah menunggu proses pembayaran yang harus ia lakukan.


Mendengar ucapan Dany, akhirnya sebuah senyum terulas di bibir Niana. "Rupanya kamu masih ingat kesalahan pertamamu, ya? Padahal karena kecerobohanmu itu, aku selalu berpikir bahwa kamu adalah anak orang tak mampu. Pada saat itu, kamu tidak terima dengan ucapanku dan sampai ingin membuktikan diri dengan mentraktir Dom dan Keisya, termasuk juga Rubel."


"Ya. Tapi, pada akhirnya


makanan kami berempat justru digratiskan oleh kedua orang tuamu yang menganggap kita semua dekat. Dan setelah itu, kita memang dekat sih."


"Ya. Dan selama itu pula, aku selalu menganggapnya sebagai anak laki-laki miskin, aku benar-benar terkejut karena ternyata kamu adalah putra seorang konglomerat, Dany."


"Maafkan aku, Niana. Hehe. Aku tidak pernah mau terlihat di mata publik. Setelah akhirnya, Syita merusak prinsip hidupmu. Yah, tanpa dia pun, jabatan yang aku miliki sekarang pasti akan membuatku lebih terkenal. Apalagi aku adalah pria yang tampan!"

__ADS_1


"Dasar!"


***


__ADS_2