First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 28-Aku Minta Maaf Atas Sikap Lesy


__ADS_3

Meski sudah mengatakan sebagian besar rencananya pada Dany, nyatanya Niana tetap memiliki rasa ragu tersendiri. Bukan ragu dalam mengayunkan langkah maju, melainkan ragu tentang rencananya—apakah bisa berhasil suatu saat nanti. Apalagi jika Dany memutuskan untuk berhenti dalam membantunya atau dirinya yang tidak mampu lagi membendung kesulitannya.


"Sudahlah, kalau aku memikirkan hal yang belum pasti bahkan sebelum melakukan apa pun, aku hanya akan kalah sebelum berperang," gumam Niana. Kemudian ia menghentikan laju mobilnya.


Padahal sekitar lima meter lagi Niana sampai di rumah yang masih ia tinggali. Namun kekalutan di dalam dirinya membuatnya tidak ingin langsung pulang untuk menemui Endri. Ia bahkan tidak memedulikan waktu yang sudah menunjukkan nyaris pukul sepuluh malam. Waktu yang mengingatnya pada kebodohannya sendiri.


Pada saat itu, di waktu-waktu ini Niana tengah menunggu Endri yang tak kunjung datang. Bahkan ia sampai rela tidak makan duluan. Ketika waktu sudah larut malam, Endri bahkan tak memberikan kabar meski sekadar melalui pesan. Lalu, tak berselang lama setelah Niana merasakan kantuk, mendadak deru mobil Endri terdengar. Ia pun bergegas keluar, tetapi setelahnya, yang ia dengar adalah sebuah pengakuan. Pengakuan tentang perselingkuhan yang telah dilakukan oleh Endri dengan Lesy, juga soal kehamilan Lesy, yang akhirnya membuat Niana menjadi sosok yang sekejam saat ini.


"Aku akan senang jika dia pun menunggu kedatanganku sampai pegal-pegal, seperti saat aku menunggunya," ucap Niana lalu mengembuskan napasnya secara kasar. "Sayangnya aku tidak membawa sebuah pengakuan yang bisa menyakiti hatinya."


Beberapa detik kemudian, Niana memutuskan untuk melajukan mobilnya lagi. Meski malas dan enggan untuk bertemu Endri, ia tetap harus pulang. Dirinya pun sudah merasa lelah dan mulai mengantuk. Apalagi di sepanjang siang, ia begitu sibuk dalam mempelajari banyak hal untuk mengubah penampilan diri.


Niana hendak turun dari mobilnya dan berniat untuk membuka pintu gerbang. Namun tiba-tiba saja suara kunci gerbang terdengar, membuktikan bahwa seseorang sedang membuka gerbang itu dari dalam. Niana membatalkan niatnya untuk turun, di mana setelah itu ia mendapati suaminya sudah berdiri di ambang gerbang tersebut dan mempersilakannya masuk menggunakan gesture tangan.


"Ternyata dia benar-benar menungguku, cih, apa dia benar-benar terpana pada penampilan baruku sampai mendadak memberikan perhatian? Sesimpel ini lho cara mengubah diriku, dan dia justru berselingkuh. Dasar pria tidak waras!" gumam Niana sembari melajukan mobilnya untuk memasuki pekarangan rumah itu.


Bukannya merasa senang, ternyata perasaan Niana justru masam. Sepertinya perhatian Endri memang sudah tidak terlalu ia inginkan dan mungkin kehancuran Endri-lah yang saat ini lebih ia idam-idamkan. Meskipun begitu ia harus tetap menunjukkan diri sebagai istri yang baik hati agar segala rencana yang ia susun bisa tetap berjalan dan menemui sebuah keberhasilan.


"Terima kasih, Mas," ucap Niana sesaat setelah turun dari mobilnya sementara Endri sudah berada di hadapannya. Saat ia menengok, pintu gerbang pun sudah tertutup rapat. Kemudian ia tersenyum. "Kamu sedang apa? Habis dari luar, ya?"


Endri menggeleng pelan. "Tidak, Niana. Aku di rumah saja sejak tadi. Lesy sudah tidur setelah merasa mual-mual lagi. Kandungannya belum terlalu kuat," jawabnya.


"Oh begitu."


"Mm." Endri tersenyum kecut. Dan ketika Niana hendak melangkah, ia ingin menyentuh lengan Niana, tetapi niat itu segera ia urungkan. "Niana!" Akhirnya ia menyerukan nama istri pertamanya itu.


Niana yang nyaris menginjakkan kaki di lantai teras segera menghentikan langkahnya. Detik berikutnya, ia menoleh dan menatap Endri yang belum berpindah tempat. "Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Aku menunggumu," jawab Endri.


"Oh ya?"


"Ki-kita sudah berjanji untuk berbicara, 'kan? Dan saat ini Lesy sudah tidur, jadi—"


"Kita tidak mungkin bicara di halaman, 'kan? Bukankah lebih baik kita berbicara di dalam?"


"Ah, ka-kamu benar."


"Kalau begitu ayo masuk. Teh atau cokelat hangat tampaknya bagus sebagai teman berbincang."


"Biarkan aku yang menyeduhnya untukmu, Niana."


Niana melebarkan matanya, tetapi ia segera bersikap biasa saja. "Oh, tentu saja dan aku akan berterima kasih jika kamu melakukannya untukku, Mas."


"Terima kasih karena sudah mengerti. Ah, kalau mau menyeduh cokelat, ada di lemari atas paling kanan."


"Mmm ...."


Niana mengikuti langkah Endri yang saat ini justru sudah berada di depannya. Tak ada perbincangan sama sekali hingga mereka sudah memasuki pintu utama. Saat sudah berada di dalam pun, Endri bergegas untuk menuju dapur, sementara Niana mengunci pintu. Nur sudah tidak terlihat. Sepertinya Nur telah tertidur atau sedang asyik bermain ponsel di dalam kamar. Tak masalah, lagi pula Nur pun pasti lelah karena sering Niana beri perintah.


Baru satu menit Niana duduk di salah satu sofa, Endri muncul dari arah dapur. Sebuah nampan berisikan dua mug berisikan cokelat hangat telah berada di tangannya.


"Aku ingat kamu paling suka minum cokelat kalau tidak bisa tidur atau kalau sedang lembur," ucap Endri sembari menyajikan kedua mug di atas meja dan salah satu mug ia letakkan di hadapan Niana. "Sudah lama kita tidak minum bersama."


Niana menghela napas. Itu terjadi karena kamu sibuk berselingkuh, Mas! Batinnya diam-diam.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Niana. "Untuk cokelat hangatnya dan juga untuk ingatanmu mengenai kebiasaanku, Mas. Aku pikir kamu sudah lupa segalanya tentang diriku."


Endri tersenyum kecut. Detik berikutnya, ia duduk di sofa lain dan berhadapan dengan Niana. Ia melihat istri pertamanya itu mulai menyesap cokelat hangat bahkan meski minuman tersebut masih cukup panas. Namun ia pun ingat Niana memang menyukai minuman yang masih mengepulkan asap, karena menurut Niana bisa membantu menghilangkan rasa pusing di kepala.


"Apa kamu bersenang-senang?" tanya Endri memulai pembicaraan.


"Tentu, aku bertemu dengan Dominic, Rubel, dan Dany. Mereka masih sama seperti ketika kami masih kuliah, mungkin penampilan dan fisik mereka saja yang berubah, tentu saja termasuk keuangan mereka," ucap Niana dan tanpa menyadari ada noda cokelat di atas kiri bibirnya, meskipun ia sempat mengusap perlahan.


Melihat noda cokelat itu, Endri reflek bangkit. Tanpa persetujuan dari Niana, ia membersihkan noda tersebut dari atas bibir kiri milik Niana. Sementara Niana justru tertegun diam dan jujur saja agak terkejut.


"Ada cokelat," ucap Endri. "Aku senang jika kamu bersenang-senang."


"Ah terima kasih. Hmm ... lalu, apa yang ingin Mas bicarakan denganku?"


Endri terdiam dalam beberapa saat. Ia cukup bimbang dan juga bingung. Entah topik serius apa yang bisa ia perbincangkan dengan Niana. Sepertinya tidak ada. Namun ia yang sudah menunggu Niana tidak menginginkan perbincangan berakhir begitu saja. Lagi pula, sudah lama sekali ia tidak duduk bersama Niana sembari membicarakan banyak hal.


"Mm, bukan sesuatu yang serius. Aku hanya ... hanya ingin meminta maaf padamu soal sikap Lesy yang kerap marah-marah dan membuatmu terganggu, Niana." Pada akhirnya Lesy menjadi alasan yang Endri pikir cukup tepat.


Niana menghela napas. Gila, inikah yang hendak Endri katakan? Lesy dan Lesy! Semakin lama, Niana muak sendiri jika terlalu sering mendengar nama Lesy. Namun ia harus tetap tenang. Jika terlihat gelisah, bisa saja Endri menganggapnya sedang cemburu buta. Lagi pula, Niana belum berniat untuk menggoda Endri dengan gaya lebih centil. Ia masih ingin sok jual mahal dan seandainya rencananya berjalan lancar, Endri pasti akan mengejarnya duluan. Apalagi ketika tubuh Lesy sudah menunjukkan perubahan karena kehamilan, bisa saja Endri akan beralih pada dirinya yang berangsur berhasil dalam mengubah penampilan.


"Oke, aku memaafkanmu, Mas. Tapi, jika suatu saat aku kehabisan kesabaran, tolong jangan salahkan aku. Lagi pula, aku sudah berusaha untuk menghindari dia, 'kan? Jadi, kalau dia marah-marah saat bertemu denganku, berarti dia duluan yang memulai. Aku juga paham kok kalau dia sangat membenciku. Melihatku hanya akan membuatnya mudah terbakar emosi dan berakhir uring-uringan sendiri." Niana tersenyum lebar. Detik berikutnya, ia justru berdiri. "Kalau cuma itu saja, aku rasa perbincangan kita sudah cukup setelah aku memberikan kata maaf. Dan aku lelah, Mas, aku ingin segera tidur. Terima kasih atas cokelatnya. Aku akan membawanya ke kamar dan menghabiskannya. Ah, selamat malam dan selamat tidur ya!"


Niana serius ketika memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Endri. Ia tidak ingin mendengar nama Lesy lagi. Lagi pula ia sudah lelah sekali dan ingin segera merebahkan diri.


Sepeninggalan Niana, tubuh Endri begitu lunglai. Ia bersandar di badan sofa sembari memejamkan matanya. Rupanya ia sudah semakin jauh dari Niana. Padahal sebelumnya ia berencana untuk menceraikan Niana, tetapi saat ini ia kesepian ketika Niana tak lagi menatapnya seperti sedia kala. Padahal secara hukum Niana masih menjadi istri sahnya, dan ia pun masih berhak untuk mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari istri pertamanya itu.


Bukankah Niana sudah keterlaluan dalam membuat batasan?

__ADS_1


***


__ADS_2