First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 6-Aku Mohon, Dany!


__ADS_3

Endri benar-benar tidak tahu diri! Seorang pria pengecut yang begitu tega membuat hati sang istri terluka. Dany sangat marah. Benar-benar marah sampai rasanya ingin menghampiri Endri saat ini juga. Sepertinya pria sejahat Endri memang halal untuk dipukuli.


Tentang mengapa Dany bisa sangat jengkel tentu saja ada alasannya. Sebab selama ini, Dany tak hanya menjadi sebagai teman baik bagi Niana. Ia memiliki banyak kenangan manis tak hanya dengan Niana sekaligus ketiga temannya yang lain, tetapi juga kenangan bersama kedua orang tua Niana. Keluarga Niana yang begitu hangat membuatnya mampu merasakan kehangatan di dalam keluarga.


Memang bukan hanya Dany yang dianggap sebagai anak oleh kedua orang tua Niana, ketiga teman lainnya pun begitu. Namun sebagai anak yang kekurangan kasih sayang, tentu saja keberadaan orang tua Niana benar-benar berharga bagi Dany. Itu sebabnya, Dany tak pernah keberatan jika Niana membutuhkan bantuan darinya. Dan bukankah wajar jika Dany merasa turut marah ketika anak dari kedua orang tua yang sangat ia hormati dihancurkan oleh pria bodoh macam Endri?!


“Bercerai saja darinya, Niana,” ucap Dany seraya mencengkeram kedua telapak tangan Niana. “Tinggalkan Endri meskipun hal itu pasti sangat sulit untuk kamu lakukan. Tapi—“


“Aku tidak bisa, Dany. Lebih tepatnya, aku belum bisa,” sahut Niana.


Wajah Dany kebas. “Apa maksudmu? Kamu ingin bertahan di dalam pernikahan itu? Apa kamu sudah gila? Sudah dibutakan oleh cinta dan tetap ingin bertahan? Dia sendiri juga ingin bercerai denganmu karena wanita murahan itu, ‘kan, Niana?!” Suara Dany berubah lebih keras. “Jangan jadi wanita yang bodoh, Niana! Aku saja yang hanya temanmu tidak bisa menerima perlakuan Endri terhadap dirimu, dan aku sudah sangat ingin memukuli wajahnya sampai hancur, apalagi Om Surya selaku ayah yang sangat menyayangimu, Niana!”


Niana memejamkan matanya. Ia berusaha untuk menguatkan diri dengan menarik napas berulang kali. Tentu saja ia membenarkan ucapan Dany. Sudah seharusnya ia bercerai dengan Endri. Namun, ia masih memiliki pemikiran sendiri. Ia tidak mau dicerai begitu saja, sementara suaminya akan berbahagia dengan wanita bernama Lesy saat perceraian itu terjadi.


“Tolong dengarkan aku terlebih dahulu, Dany,” ucap Niana setelah berhasil menguatkan dirinya. “Aku datang tidak hanya ingin mencurahkan isi hatiku saja. Aku ... aku ingin meminta bantuan darimu. Bantu aku untuk menghancurkan mereka, sebelum aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan mereka, Dany. Aku akan membayar bantuanmu dengan apa pun yang kamu inginkan, aku berjanji!”


“Ini bukan masalah bayaran, Niana! Membantumu tanpa bayaran apa pun, aku tidak akan menjadi miskin! Tapi kamu? Apa yang akan kamu lakukan, Niana? Menghancurkan mereka dengan bertahan di tengah-tengah mereka?! Cih! Kamu sudah gila, Niana!” sahut Dany.

__ADS_1


“Ya! Aku memang sudah gila, Dany! Bahkan saat ini, aku sudah terhitung gila! Seorang suami yang aku pikir selalu menjaga diriku selama ini dan kami menjalani hidup tanpa masalah apa pun, tiba-tiba ada kenyataan buruk yang harus aku terima setelah pengkhianatannya. Kamu pikir aku akan tetap waras, hah?!” Niana mulai jengkel. “Lalu, kamu pikir setelah aku bersedia untuk dicerai, aku bisa bahagia? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana diriku yang pasti akan terpuruk dalam kesendirian di saat Endri dan Lesy bersenang-senang?! Kamu pikir aku akan lantas baik-baik saja?!”


Niana segera bangkit dari duduknya lalu memukul-mukul dadanya sendiri. Matanya melebar menatap Dany penuh amarah dan kenestapaan. Dan air mata masih kerap bercucuran. “Aku bisa jauh lebih gila setelah aku memutuskan untuk pergi dari sisinya tanpa berbuat apa-apa, Dany. Aku kesepian, aku akan sendirian, dan masih harus membayangkan betapa bahagianya mereka. Bukankah lebih baik aku menghancurkan keduanya sebelum memutuskan untuk pergi?” Ekspresi di wajah Niana berubah menjadi lebih memelas. “Aku ... a-aku mohon, Dany. Bantu aku, tolong aku, aku akan membayar bantuan darimu. Setelah rencanaku berhasil nantinya, aku bahkan rela bekerja tanpa bayaran. Tolong ... tolong, Dany. Hanya kamu yang bisa membantuku. Tolong aku, sebelum aku benar-benar menggila.”


Dany terdiam, sementara Niana justru bergerak ke samping ke tempat yang tidak ada benda apa pun dan lantas bersimpuh padanya. Tak ada yang bisa Dany lakukan untuk sekarang dan bahkan membantu Niana untuk bangkit saja masih tidak mampu untuk ia lakukan. Sebagai seorang teman yang juga sangat menghormati kedua orang tua Niana, sungguh Dany tidak ingin membiarkan Niana bertahan dengan rencana konyol di dalam pernikahan itu. Namun membujuk Niana untuk mundur tentu masih sulit untuk ia lakukan di saat kondisi Niana jauh dari kata stabil.


Endri, pria itu ... bagaimana bisa dia membuat wanita mungil ini menerima penderitaan yang sangat besar? Niana tidak akan mampu menanggung semuanya sendirian dan hanya akan berakhir gila jika aku tidak membantunya. Sebenarnya, rencana apa yang Niana pikirkan? Bagaimana dia akan menghancurkan Endri dengan menggunakan diriku? Batin Dany sembari menatap penuh iba pada wanita mungil itu.


“Hei, bangunlah, Niana!” ucap Dany.


“Bangunlah, Brian akan salah paham jika dia mendadak masuk ke ruangan ini. Sebentar lagi jam makan siang, tentu dia akan mengingatkanku soal itu sebagai sekretaris pribadiku, Niana. Dan aku malas menjelaskan kenyataan yang ada jika dia sampai salah paham.”


Niana tetap menggeleng, menolak bangkit sampai Dany bersedia untuk membantunya.


“Ayolah, Niana! Bangunlah dan jangan keras kepala. Aku bukan Dewa, aku hanya seorang CEO yang ditunjuk. Kamu tidak seharusnya menyembah diriku seperti itu. Dan lagi, kamu sudah bukan gadis belia yang harus dibujuk rayu, bukan? Bangunlah dan mari makan siang. Aku ingin mendengar semua rencana yang sudah kamu rancang.”


Mata Niana melebar. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk bangkit. Ketika sudah berdiri, ia segera menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Dan saat memberanikan diri untuk menatap Dany, rupanya pria itu sudah tersenyum-senyum sendiri. Bukan karena kagum pada dirinya, Dany sudah pasti sedang meledeknya.

__ADS_1


"Berhentilah menatapku seperti itu, Dany." Niana berucap lalu menghela napas. "Yah, aku memang pantas untuk dikasihani, tapi jangan meledekku."


"Cih! Tidak, aku tidak sedang menggodamu. Hanya saja ... entahlah, aku hanya merasa seperti kembali ke masa lalu," sahut Dany berkilah. "Lagi pula, mana mungkin aku mencoba mengejek dirimu yang sedang terluka? Aku kan bukan suamiku yang tidak punya hati itu."


Niana mendecapkan lidah. "Jadi, kamu mau membantuku?" Ia ingin memastikan hal ini. "Aku bersedia melakukan apa pun untukmu, jika—"


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untukku? Aku rasa akulah yang bisa melakukan segalanya untukmu!"


Niana terdiam, membenarkan ucapan Dany yang cukup menohok. Kadang kala ucapan Dany memang cukup blak-blakan, tetapi Niana tetap mengakui bahwa pria itu memang selalu memahami dirinya. Semua orang pasti akan mencercanya sekarang, tetapi, meski sempat mendesaknya untuk bercerai, pada akhirnya Dany akan tetap membantunya. Pria itu selalu berada di pihaknya, seperti seorang kakak yang kerap menggoda tetapi ujung-ujungnya pasti membela.


"Ayo kita makan siang. Kamu masih membutuhkan bantuan dariku, bukan?" ucap Dany sesaat setelah bangkit dari duduknya. "Kita makan siang saja di restoran ayam dekat kampus kita dulu. Itupun jika kamu tidak keberatan, Niana."


Niana segera menggeleng. "Ti-tidak! A-aku sangat setuju kok!" jawabnya.


Senyuman Dany mengakhiri perbincangan yang ada. Pria berwajah tampan dengan netra berwarna cokelat itu segera melangkah untuk keluar dari ruangan. Sementara di belakangnya, Niana berjalan tergopoh-gopoh hanya demi menyusul langkahnya yang lebar. Setidaknya Niana sudah mulai tenang dan tak lagi menangis. Persetujuan dari Dany sudah seperti obat penawar bagi wanita itu. Meskipun sampai saat ini Dany masih tetap ragu. Mau bagaimanapun ia tidak ingin membiarkan Niana yang bahkan sudah ia anggap seperti saudara sendiri semakin hancur jika bertahan di dalam pernikahan yang sudah ternoda kebohongan tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2