First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 41-Perhatian Dany


__ADS_3

"Dany?" Niana berucap tetapi parasnya tampak melongo ketika mendapati sahabat sekaligus atasannya yang menghampiri dirinya, bahkan sampai masuk ke dalam mobilnya di bagian kemudi. Dany lalu merampas kunci mobil dari tangannya. "A-apa-apaan kamu?"


"Ingin menjadi sopirmu, memangnya apa lagi?" sahut Dany dengan segera. "Cepatlah masuk, sebelum Endri mengetahui keberadaanku di sini. Aku bisa menjelaskan kenapa aku ada di sini sambil jalan."


"Ta-tapi?" Niana masih kebingungan. Ia celingak-celinguk memastikan hal yang tidak jelas. "Mobilmu! Bagaimana dengan mobilmu?"


"Aku bisa mengurusnya nanti. Ayo cepat!"


Niana agak terkejut ketika Dany agak membentaknya agar ia segera memasuki mobil. Namun ia pun tidak punya pilihan lain. Ia bergegas ke arah tempat duduk penumpang di mobilnya itu sendiri, sebelum Endri mengetahui keberadaan Dany. Ia baru saja mengikat Endri lagi, dan rencananya barusan tidak boleh gagal setelah kegagalannya gara-gara Lesy.


Setelah Niana memasuki mobil, Dany pun segera bergegas. Sebetulnya ia sendiri tidak tahu harus membawa Niana ke mana, di saat kondisi Niana tampak tidak baik-baik saja. Jika diajak ke restoran pun sepertinya Niana tidak mau makan. Lalu untuk kembali ke kantor, mungkin mood Niana akan semakin berantakan.


"Kenapa kamu ada di sana? Kamu mengikuti aku ya?!" tanya Niana hendak memastikan lagi alasan sebenarnya mengapa Dany berada di tempat yang sama. Ia pun sudah menatap pria itu dengan tajam. "Bukannya kamu sedang marah padaku, sampai semua pesanku tidak kamu balas satu pun, Tuan Dany Dharmawangsa?"


"Ya, aku memang agak kecewa padamu. Karena kamu malah meninggalkan Dom sendirian," sahut Dany lalu menghela napas dengan perasaan penuh sesal. "Tapi sekarang sudah tidak. Aku tidak mungkin ngambek dalam waktu yang lama, Niana."


"Salah sendiri kenapa mendadak mengundang Dom? Kamu benar-benar ingin menjodohkanku dengan dia? Yang benar saja, Dany! Mana mungkin! Bahkan jika aku sudah bercerai dengan Endri, aku belum tentu bisa menyukainya. Jangan ngaco! Dan jangan ambil keputusan sendiri apalagi melibatkan diriku! Baik, aku minta maaf jika aku terus-terusan meminta bantuan dari kamu. Tapi, kamu ... ah! Coba pikir!" Niana sampai geregetan sendiri. Pasalnya ia sudah memperingatkan agar Dany tidak melakukan hal konyol karena terus berusaha untuk menjodohkan dirinya dengan Dominic. "Aku ini habis disakiti. Sulit bagiku untuk membuka hati, buat siapa pun! Tujuanku hanya dua, menghancurkan mereka lalu hidup sendiri dengan bahagia. Jika memang tidak mengerti, tolong jangan buat hal-hal konyol lagi, Tuan Dany Dharmawangsa."

__ADS_1


Dany mengerjap-ngerjapkan matanya. Bibirnya tenggelam di antara giginya. Detik berikutnya, ia lantas berkata, "Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya khawatir padamu, aku takut jika kamu semakin aneh-aneh saat membuat rencana. Apalagi jika kamu sampai sakit hati lagi pada Endri." Dany menelan saliva. "Aku sudah mengenalmu sejak lama. Kamu dulunya adalah gadis yang selalu ceria. Melihatmu yang hancur lebur seperti ini, hatiku ikut sakit."


Kali ini mata Niana yang tengah mengerjap. Ia juga menelan saliva. Perkataan dan permintaan maaf Dany sungguh begitu tulus kedengarannya. Sampai rasa jengkel dan kecewa di hati Niana teruntuk atasannya itu berangsur menghilang, lalu digantikan dengan perasaan haru dan terima kasih yang besar. Dari masa itu, hingga saat ini, Dany memang kerap memberikan bantuan padanya. Meski ketika masih muda, hanyalah sebatas waktu dan kata-kata saja.


Niana mulai bersedia untuk menenangkan dirinya. Ia bersandar lagi dan memilih diam dalam beberapa saat, meski ia tidak tahu Dany akan membawanya ke mana saat ini. Namun setidaknya, Niana sudah benar-benar mengeluarkan kejengkelannya atas sikap Dany yang seenaknya mendekatkan dirinya pada Dominic. Dan setidaknya, Dany juga sudah meminta maaf dengan suara dan paras yang tampaknya cukup tulus.


"Kamu bertengkar dengan Endri? Mm, sebelum itu, sebenarnya aku tadi memang sengaja mengikuti kamu karena kamu tampak terburu-buru, bahkan sampai mengabaikan seruan dariku. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padamu, atau mungkin pada kedua orang tuamu. Jadi aku terpaksa membuntuti kamu, Niana. Dan aku tidak mencuri dengar kok soal perbincangan antara kamu dan Endri. Aku hanya mengawasi kalian dari kejauhan saja, tapi aku justru melihat kamu yang tampak begitu marah, lalu sepertinya kamu juga sampai menangis," jelas Dany.


Niana berangsur menatap Dany lagi. "Cih, semakin lama kami semakin mau ikut campur saja ya? Iya sih, aku yang melibatkan dirimu, tapi aku tidak menyangka kamu akan bergerak dengan aktif, Dan."


"Maaf."


Ah, rupanya Dany memang sudah salah langkah. Padahal ia paling tahu rasa sakit karena memiliki keluarga yang sudah berselingkuh. Namun karena terlalu ingin menghentikan rencana-rencana Niana, Dany sampai mengabaikan kemungkinan Niana akan ketakutan pada sebuah pernikahan sama seperti dirinya.


"Mau ke rumahku?" tanya Dany seketika.


"Hah? Apa?" Dan tentu saja Niana langsung terkejut.

__ADS_1


Dany menatap Niana secara sekilas. "Ke apartemen maksudku. Aku ingin mendengar cerita tentang pertemuanmu dengan Endri tadi. Kamu tampak marah sekali, barang kali aku bisa membantumu. Dan lagi, mungkin kamu tidak suka makan di luar. Aku akan memasak untukmu. Maksudku memasak mie instan hehehe."


"Ide bagus dan makanan yang enak. Tapi, Dany," ucap Niana. "Kamu tidak tahu gosip yang beredar di antara kita?"


"Gosip? Oh! Maksudmu gosip jika di antara kita ada hubungan spesial? Hahaha. Tentu saja aku tahu. Tapi memangnya kenapa? Namanya manusia pasti tak luput dari omongan orang. Biarkan saja."


Dahi Niana berkerut samar. "Jadi, kamu tidak terganggu dengan gosip semacam itu?"


"Tentu saja tidak. Mereka masih makan dari perusahaanku. Itu artinya aku masih melampaui mereka dan untuk apa juga mendengar omongan orang yang tidak akan membangun diri kita? Aku akan lebih mendengar jika yang berkomentar itu orang yang lebih cerdas, atau setidaknya cukup cerdas. Seperti kamu, Niana. Kamu sangat cerdas. Tapi ...."


"Ada tapinya?!"


"Hahaha. Kamu cerdas sebagai salah satu karyawan di perusahaanku, tapi kamu tetap bodoh dalam urusan cinta. Dari dulu dan juga sekarang."


"Cih! Biar saja. Lagi pula, aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi. Ini kesempatan terakhir bagiku untuk menghancurkan pria yang sudah menyakitiku, apalagi dia berstatus sebagai suamiku."


Dany kembali tertawa sementara Niana hanya menahan rasa kesal saja. Namun perbincangan mereka kembali berlanjut. Perbincangan ringan sekadar untuk mengisi waktu di perjalanan. Dan perjalanan itu saat ini mengarah ke apartemen Dany, bahkan tanpa Niana mengatakan sebuah persetujuan. Namun Dany tidak peduli, apalagi ketika Niana tidak memprotesnya sama sekali. Lagi pula, Dany tidak tahu tempat mana yang pantas dikunjungi saat dirinya sedang membawa wanita berhati kalut.

__ADS_1


***


__ADS_2