
Lesy merengut dan terus bersikap seperti itu sejak mentari pagi menyingsing. Betapa kesal dan marah dirinya, setelah mendengar penuturan Endri tadi malam. Ia yang sudah merelakan diri untuk memasuki rumah ini, justru diminta untuk kembali ke apartemennya sendiri. Tentu saja ia menolak! Karena jika ia menerima ide tersebut, ia sama saja sudah kalah dari Niana.
Namun usaha Lesy dalam merengek tetap tak bisa memberikan arti apa-apa. Keputusan Endri sudah bulat. Bahkan saat ini suaminya itu sudah mengemas semua pakaiannya, dan ia enggan untuk membantu. Lesy tidak mau! Sungguh tidak mau! Ia tidak boleh kalah dari wanita tua itu!
"Bahkan sekalipun kamu sudah selesai mengemas semua pakaian itu, aku tetap tidak akan mau pindah lagi, Mas!" ucap Lesy kesal, dan ia masih berusaha. Setidaknya ia tidak mau menyerah begitu saja. "Aku kecewa padamu, semua kebaikanmu tadi malam ternyata hanya untuk ini! Kamu lebih memiliki Mbak Niana! Dia kan yang memintamu untuk mengusirku?! Iya, 'kan, Mas?!"
Lesy berangsur bangkit duduknya di tepian ranjang, dan berdiri di hadapan Endri yang masih sibuk mengurus pakaian di lantai kamar itu. Lesy bahkan sampai berkacak pinggang, berencana untuk mendominasi keadaan. Ia juga tidak segan untuk menitikkan air matanya. Sebuah air mata sandiwara hanya demi bisa mempengaruhi keputusan suaminya.
Helaan napas terdengar. Namun bukan Lesy yang melakukannya, melainkan Endri. Gerakan Endri pun terhenti. Padahal masih banyak pakaian dan juga barang yang harus ia kemasi. Perasaannya sungguh kesal. Ia kecewa. Mungkin juga karena pikirannya terlalu dipenuhi oleh banyak hal, terutama oleh reaksi Niana tadi malam. Rasa bersalah pun juga masih bersarang. Bahkan meski dirinya tidak menyukai cara Niana berbicara di hadapan Dominic, nyatanya Endri tidak bisa membenci istri pertamanya itu. Saat ini ia betul-betul sedang sadar akan kesalahannya sendiri.
"Bantu aku merapikan pakaianmu saja. Aku rasa bukan pekerjaan yang sulit. Jangan cengeng jika tidak ingin membuatku marah. Kamu sudah berbelanja banyak barang, seharusnya kamu bersyukur karena setidaknya aku lebih memanjakan kamu daripada Niana, Lesy. Jangan manja!" ucap Endri. Ia sudah tidak sanggup lagi dalam menjaga perkataannya. "Aku akan lebih bersamamu nantinya, jadi tenang saja. Ini semua demi anak kita!"
Lesy begitu tercengang. Setelah Endri sempat kembali seperti dulu, tetapi kini Endri justru bersikap dingin lagi. "Mas, ka-kamu barusan ...."
Endri mengembuskan napasnya secara kasar dan berangsur menatap Lesy dengan tajam. "Mau membantu atau tidak? Kalau tidak, jangan bawel. Aku sedang pusing sekali. Aku akan lebih pusing jika aku terus-terusan mendengar keluhanmu, Lesy!"
Terdiam dan syok. Belakangan ini Endri memang lebih dingin. Namun saat ini ucapan Endri menjadi lebih keras dan cenderung membentak, membuat Lesy akhirnya tidak berani membantah. Akan tetapi ia mulai curiga. Sejak malam itu, lebih tepatnya setelah bertemu dengan Niana, Endri mulai sensitif. Mungkinkah ... keputusan Endri untuk memindahkan Lesy juga karena Niana? Apa yang wanita itu lakukan pada suaminya?!
"Kalau aku sudah selesai, kita bisa segera berangkat. Kamu sarapan dulu. Nur sudah memasak. Nanti jika sudah pindah, aku akan menyewa seorang pembantu untukmu. Karena Nur tak mungkin bisa membantu lagi," ucap Endri dengan ekspresi yang super datar. Namun percayalah, kepalanya masih berantakan.
Sayangnya ucapan yang mengandung kebaikan itu tak Lesy tanggapi. Dan ia juga tetap tidak mau membantu kesibukan sang suami. Ia masih terdiam, merenung, dan akhirnya menderaikan air matanya lagi. Namun sampai saat ini, Niana yang paling ia salahkan atas setiap kejadian yang terjadi, termasuk berubahnya sikap Endri padanya.
***
__ADS_1
"Hei, Dom! Sepertinya ini masih teramat pagi bagi seseorang memutuskan untuk menyelinap masuk ke dalam ruang kerjaku, bahkan tanpa permisi sama sekali. Apa yang kamu inginkan, Brother? Mau seperti Arsyita? Meminta sebuah investasi untuk project film?" Dany berucap pada sang tamu istimewa sesaat setelah ia bangkit dari singgasananya, dan saat ini ia tengah berjalan ke arah sahabatnya tersebut. "Duduklah. Meski sebenarnya aku enggan berbicara lantaran kamu menolak ajakan main game tadi malam. Belum lagi, kedatanganmu yang tak membawa nasi uduk sama sekali! Menyebalkan! Sepertinya kakakku memang masih yang terbaik."
Dominic tidak berniat menanggapi celotehan Dany dan memutuskan untuk duduk di salah satu sofa abu-abu di tempat itu. Pria yang memiliki rambut hitam kecokelatan alami ini lantas menghela napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat sama sekali tidak bersahabat saking seriusnya. Dan memang benar bahwasanya Dominic memang sedang tidak ingin bercanda.
Melihat Dominic yang terus bersikap kaku, membuat Dany lantas mengernyitkan dahi. Pun rasa heran sekaligus penasaran mulai muncul di sanubarinya saat ini. Ada apa gerangan? Mengapa pria yang selalu ia panggil dengan nama singkat 'Dom' datang di pagi hari, bahkan sebelum jam operasional dimulai? Tak mungkin Dominic hanya bermain-main saja, atau sekadar merindukannya.
"Ada masalah apa, Dom? Wajahmu benar-benar mengerikan!" ucap Dany yang di berbagai situasi memang masih kerap bercanda. Namun ia akan mendengarkan dengan saksama, jika sang lawan bicara sudah mulai bercerita. "Apa kamu sudah terlalu merindukanku, Brother?"
Dominic menghela napas lagi, seiring dengan melengkungnya tubuhnya ke depan. Kedua sikunya beralaskan pangkuan. Dan tanpa menatap Dany ia pun berkata, "Aku ingin menerima tawaran yang pernah kamu berikan padaku, Dany."
"Mm?" Kedua alis Dany terangkat. "Penawaran apa maksudmu?"
Detik berikutnya, sepasang bola mata Dominic bergerak dan berakhir menjatuhkan tatapan pada sosok Dany yang diam pun masih terlihat seperti sedang selengean. "Niana," jawabnya singkat.
"Aku ingin merebutnya dari suaminya dan aku ingin kamu membantuku, seperti apa yang telah kamu tawarkan padaku pada saat itu, Dany. Aku serius!"
Dany terdiam, selain hanya rahangnya yang menganga. Bagaimana mungkin Dominic yang selama ini selalu menolak, justru datang sepagi ini karena berubah pikiran? Namun yang lebih membuat Dany heran adalah ... mengenai dirinya sendiri. Seharusnya ia senang, tetapi saat ini ia tidak merasakan hal itu sama sekali. Ia tidak terlalu mengerti, tetapi mungkin terjadi karena Niana sudah memberikan peringatan agar ia tidak mencoba menjadi mak comblang.
"Tidak bisa, Dom!" ucap Dany tegas. Ia memalingkan wajahnya dari Dominic dan berangsur menatap lantai. "Penawaranku sudah berakhir sejak lama. Dan aku tidak bisa membantumu lagi."
Dominic menggertakkan gigi. "Kenapa? Bukankah kamu bisa membuat penawaran itu menjadi ada lagi?"
"Tidak, sama sekali tidak bisa, Dom."
__ADS_1
"Iya, tapi kenapa?"
"Niana tidak akan menyukai rencana seperti itu. Niana sudah tahu dan aku diomeli olehnya."
"Kalau begitu ...." Dominic berangsur menegakkan tubuhnya. "Jangan sampai dia tahu. Ah, seharusnya aku pun bisa mendekatinya tanpa bantuanmu sama sekali. Dia sudah memberiku kartu namanya, tapi karena aku tidak berani, aku belum menghubunginya sampai saat ini. Baiklah, jika kamu menolak, aku yang akan bergerak sendiri, Dan."
Dany langsung mengarahkan tatapannya pada Dominic. Ia menelan saliva dengan perasaan yang sudah bingung. Lalu tiba-tiba muncul suatu desakan dari dalam dirinya yang ia sendiri tidak tahu apa artinya, hingga membuat bibirnya lantas berkata, "Tidak! Jangan, Dom!"
"Apa masalahmu, Dany?" Dominic menyeringai. "Aku sudah tidak memohon bantuanmu lagi, jadi, aku rasa kamu tak akan merasa dirugikan. Jangan terus-terusan merasa bahwa Niana adalah adikmu, atau orang yang bisa batasi pergerakannya. Jangan bersikap seperti kakak sesungguhnya baginya, dengan menolak pria lebih baik yang ingin mendekatinya. Dia bahkan tak ada hubungan darah denganmu. Jadi—"
"Aku tidak seserakah itu atas Niana, Dom!" Dany tersulut emosi karena ucapan Dominic yang cukup menyinggung perasaannya. "Aku hanya—"
"Hanya apa?!" potong Dominic. "Oh! Atau kamu ternyata menyukai Niana, jatuh cinta pada Niana? Dan mencoba menghentikanku untuk menyelamatkan wanita itu?!"
Dany syok. "A-apa?"
"Apa, apanya? Apa soal dirimu menyukainya atau mengenai aku harus menyelamatkan wanita itu, Dany?" Dominic menghela napas panjang dan berangsur bangkit dari duduknya. "Aku benar-benar akan merebutnya dari Endri, Dany. Dan jika kamu menyukainya, mari kita bersaing. Aku tidak akan kalah darimu, bahkan meski kamu memiliki kedekatan dengan Niana lebih dari diriku. Hanya ini yang ingin aku katakan. Selamat pagi, Tuan CEO! Aku permisi!"
Dengan cepat, Dominic meninggalkan tempat duduknya. Ia berjalan dengan gagah dan agak angkuh tanpa memedulikan kebingungan pekat yang saat ini menghinggapi nyaris di seluruh ruang hati Dany.
Dany tidak tahu mengapa Dominic menganggapnya telah menyukai Niana. Dan jika menyukai pun, Dany menyukai Niana seperti seorang saudara, alih-alih jatuh cinta. Tidak lebih! Jadi, mengapa Dominic mengajaknya bersaing?!
"Tapi ...?" Dany mencengkeram bagian tubuh di mana jantungnya berada. "Mengapa aku merasa aneh? Sesak sekali di bagian ini ...."
__ADS_1
***