
"Jadi, nanti malam jam tujuh di restoran daging dekat kampus?" ucap Niana melalui sambungan sinyal ponselnya pada Dany yang saat ini tengah duduk meringkuk di atas sofa.
Dany tetap mengangguk bahkan meski ia tahu jika Niana tak mungkin tahu. "Benar, Niana. Kami belum berubah pikiran. Dan Dominic sudah aku paksa datang, dia akan menyempatkan waktu katanya. Keisya masih sulit karena saat ini dia masih berada di Italia. Mungkin Rubel akan datang, kalau tak ada lembur di kantor," jawabnya.
"Hmm, kamu sangat luar biasa, Dany. Ternyata kamu tidak bercanda ketika berniat untuk menggelar reuni kecil. Aku salut sekali. Dan ya, aku akan datang. Jam tujuh, ... sepertinya aku bisa."
"Seharusnya memang bisa, daripada berada di rumah dengan suami dan wanita jahat itu, lebih baik kamu bersenang-senang bersama kami, 'kan, Girl?"
"Ya, ... kamu benar. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam. Aku sudahi dulu, aku sedang berbelanja di swalayan bersama Nur."
"Oke."
Dany tidak berniat mematikan panggilan yang terjadi, sampai Niana mengakhirinya sendiri. Dan saat ini, Dany memang tak lagi bersama Dominic. Ia hanya sendiri. Setelah menemui Dominic di pagi akhir pekan ini, ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya saja. Ia sudah meminta Brian untuk mengosongkan semua jadwalnya. Ia membutuhkan waktu untuk bisa bernapas dengan lega, setelah sekian pekan tak ada hari libur yang membebaskan dirinya.
Sayangnya, benak Dany tak sepenuhnya bebas. Masih ada beberapa beban pikiran yang kerap membuatnya menghela napas. Mengenai pekerjaannya, keluarganya yang tak kunjung harmonis, dan juga mengenai Niana. Meski sebenarnya ia hanya perlu menunggu instruksi dari Niana, tetap saja, ia tetap memikirkan bagaimana wanita mungil itu menjalani hari di atap yang sama dengan Endri sekaligus Lesy.
Lalu, Dominic ... sejujurnya, Dany ingin mendorong Dominic agar bersedia untuk merayu Niana. Toh, perasaan Dominic pada Niana begitu tulus dan tampaknya masih begitu besar. Akan lebih bagus, jika Dominic bisa menyelamatkan Niana dari pernikahan yang sudah rusak parah. Mungkin Dominic akan turut marah jika mendengar nasib buruk yang menimpa Niana belakangan ini.
Namun, sampai pertemuan di kedai kopi itu berakhir, Dany masih tidak mampu menceritakan kisah pernikahan Niana pada temannya tersebut. Karena mau bagaimanapun, Dany harus menjaga privasi Niana, dan rencana Niana yang mungkin akan menemui titik paling berbahaya. Dany hanya berharap pertemuan nanti malam bisa membuat Dominic yang sebelumnya menolak tawarannya lantas bisa berubah pikiran.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan pada wanita kecil itu? Kenapa dia keras kepala sekali? Dia tidak akan mundur meskipun kerap dilukai. Dia sampai mengambil risiko menderita dengan hidup bersama istri kedua suaminya. Ah, Niana, kenapa saat sudah dewasa dia jauh lebih gila?" ucap Dany lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Detik berikutnya, ia berangsur menyandarkan punggungnya di sofa berwarna hitam pekat tetapi memiliki bahan yang super lembut itu.
Dany menghela napas dalam-dalam. Matanya pun sejenak terpejam. Namun pikirannya tetap berantakan. Banyak sekali hal tak terduga yang harus ia pikirkan. Soal Niana yang sudah lama menjauh, lalu tiba-tiba membawa kabar duka. Lalu, ayahnya yang ternyata masih bermain wanita tanpa memedulikan umur yang sudah senja. Ibunya pun masih bersikap dingin terhadap dirinya. Ditambah Arsyita yang selalu sibuk sendiri.
Sebenarnya Dany tidak terlalu ingin memedulikan keadaan keluarganya. Hanya saja, sewaktu-waktu ia bisa merasa sangat terluka dan kesepian. Mungkin detik ini merupakan waktu di mana ia akan nyaris seperti orang depresi. Dan keesokan harinya ia akan kembali bugar dan seolah tak memiliki beban pikiran.
Namun melalui momen kerumitan, bahkan meski hanya beberapa jam tetap sangat menyulitkan bagi pria yang sukses memimpin perusahaan manufaktur Golden Rich milik keluarganya tersebut. Ia membutuhkan pelepasan, tetapi saat ini ia tidak menginginkan sebuah pekerjaan yang akan mengekang dirinya terlalu lama.
Sebuah senyum tipis lantas terulas di bibir Dany, dan tak lama berselang, ia berkata, "Aku ke rumah makan Ayah dan Ibu saja deh! Aku ... tidak ingin kalah lagi dengan perasaan semacam ini." Senyumnya tersapu oleh raut wajah yang sendu.
Ayah dan Ibu, Surya dan Rita. Merekalah yang Dany maksud. Setelah pertemuan di malam itu, ia merasa seperti bertemu dengan keluarganya kembali. Hal yang akhirnya membuat Dany sangat bersyukur karena dirinya tidak dilupakan begitu saja oleh kedua orang tua Niana. Baiklah, mungkin Surya bisa menjadi pengganti ayah yang baik untuk Dany yang bagaikan sebatang kara.
***
Namun di sisi lain, Niana tidak ingin mengecewakan Dany yang sudah begitu antusias merencanakan sebuah reuni. Dany sudah membantunya, bahkan rela datang ke rumah orang tuanya ketika ia memintanya secara dadakan. Dan Dany juga sedang berusaha menjauhkan dirinya dari situasi di rumah Endri. Sudah seharusnya Niana menghargai. Apalagi ketika pria itu yang nantinya akan membantunya dalam memberikan penghukuman pada Endri dan sang istri kedua.
"Nyonya? Nyonya tampak pucat, apa tidak lebih baik jika Nyonya keluar lebih dulu? Biar saya yang mengantre," ucap Nur yang begitu setia menemani Niana.
Niana lantas menatap Nur kemudian berangsur menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja, Nur. Hanya sedikit bingung. Nanti malam Dany memintaku untuk datang ke acara reuni kecil-kecilan. Dan jaraknya cukup jauh. Aku tidak mungkin meminjam mobil Mas Endri, karena pastinya Mas Endri punya rencana sendiri bersama istrinya," jawabnya.
__ADS_1
"Ah, Nyonya kan juga masih istri Tuan Endri."
"Aku?" Senyum masygul terulas di bibir Niana yang saat ini terpoles liptint merah maroon. "Aku hanya istri dari sebuah perjanjian, Nur. Statusku sudah berbeda."
Nur menggigit bibir bawahnya. Cukup merasa bersalah, meskipun ia tak sepenuhnya berbuat salah.
"Ah!" Kemudian, wajah Niana mendadak cerah. "Setelah belanja, lebih baik kita membeli mobil saja, Nur. Tak perlu mewah, asalkan menawan, itu sudah cukup deh."
"Haaah? Ny-nyonya serius?" Wajah Nur menampilkan ekspresi yang terkesiap.
"Tentu saja. Aku juga harus memiliki kendaraan sendiri, karena mulai saat ini aku harus hidup lebih mandiri, bukan?"
"Tapi, apa tidak sebaiknya berbicara pada Tuan Endri dulu? Tuan Endri pasti akan marah, Nyonya."
"Tidak perlu. Dia sudah menyetujui ucapanku tadi pagi, Nur. Dia tidak boleh mencampuri urusanku. Dan mungkin inilah saat di mana aku ...."
Niana tidak melanjutkan ucapannya karena harus maju ketika seseorang yang ada di hadapannya pun maju di antrean itu. Namun yang pasti, Niana sudah membulatkan tekad untuk memulai pemberontakannya sekaligus caranya untuk hidup foya-foya di rumah suaminya yang akan dimiskinkan oleh sang istri kedua. Ia akan menghabiskan uang tabungannya, karena mungkin ia bisa menguasai perusahaan suaminya.
***
__ADS_1