First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 59-Pertemuan Niana Dan Arsyita


__ADS_3

Niana menelan saliva dengan susah-payah. Agak ciut nyalinya ketika ia harus berhadapan dengan seorang aktris cantik dan memiliki bakat yang luar biasa. Di hadapan aktris tersebut, Niana merasa dirinya hanyalah sebongkah batu yang disejajarkan dengan sebuah berlian mewah nan mahal. Adalah Arsyita Dharmawangsa yang saat ini tengah menemui Niana di sebuah kedai kopi.


"Halo, Niana? Kenapa kamu tampak gugup begitu? Apakah aku sangat membuatmu takut?" tanya Arsyita yang sore hari ini akhirnya bisa bertemu dengan Niana setelah ia mencuri kontak Niana dari ponsel adiknya. Dan tadi siang, ia langsung menghubungi Niana via suara.


Dengan cepat Niana segera menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Nona. Saya justru merasa gugup karena bisa berhadapan dengan Anda secara langsung!" ucapnya.


"Lho? Bukankah kita juga sudah pernah bertemu secara langsung?" serang Arsyita.


"Ah, i-itu. Saya benar-benar malu kalau mengingat hal itu, Nona. Saya harap Anda tidak menertawai saya."


"Hei, hei! Mana mungkin aku tertawa di atas penderitaanmu, Niana!" tepis Arsyita. "Tidak mungkin. Aku justru turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Jika kamu sudah mendengar kisah keluargaku dan Dany, mungkin kamu juga akan sangat paham berapa menderitanya aku dan adikku tersayang itu, Niana."


"Saya memang sudah mendengarnya, Nona."


"Nona? Oh, astaga! Sejak tadi kamu memanggilku seperti itu? Apakah karena aku masih awet muda? Atau karena aku belum menikah?"


"I-itu ...." Niana mengusap tengkuk bagian belakangnya. "Saya rasa Anda masih pantas untuk—"


"Ayolah, Niana! Jangan berbicara terlalu formal padaku! Santai saja! Aku ini bukan putri seorang raja kok."


Niana tersenyum canggung. "Bersikap kasual di pertemuan awal, saya tidak bisa melakukannya, Nona Syita."


"Alah!" Arsyita menghela napas. "Tapi, baiklah. Hanya saja, ubah saja caramu memanggil namamu. Panggil aku kakak saja, toh, kamu adalah teman dekat adikku. Jadi, tidak sulit, bukan?"


"I-iya. Sa-saya akan mencobanya, Nona ... ah! Kak."

__ADS_1


"Bagus, Niana! Untuk seterusnya panggil aku kakak juga."


Sepertinya Arsyita pun sudah tahu mengenai kedekatan yang terjalin di antara Niana dan Dany. Membuat Niana sejujurnya agak terkejut. Mungkin antara Arsyita dan sang adik memang ada keakraban, sehingga mereka bisa saling bercerita. Hanya saja, Niana masih merasa sungkan. Ia yang masih menyandang status sebagai istri orang justru diketahui sedang dekat dengan Dany. Meskipun tidak ada apa pun di antara dirinya dengan pria itu, tetap saja kemungkinan Arsyita akan salah paham bisa saja terjadi.


Niana sendiri masih tidak tahu alasan mengapa Arsyita mendadak mengundangnya untuk menyantap kopi bersama. Niana yakin ada sesuatu yang sangat penting, misalnya Arsyita ingin menyelidiki tentang dirinya yang memang sedang digosipkan dekat dengan Dany oleh para karyawan. Belum lagi jika Dany mengatakan kejadian tadi malam yang Niana sendiri masih bingung, pastinya akan membuat Arsyita merasa sangat penasaran. Bahkan bisa jadi, wanita cantik yang berprofesi sebagai seorang aktris itu berencana untuk menjauhkan Dany dari Niana.


Sesaat setelah menghela napas dalam-dalam, Niana lantas bertanya, "Sebenarnya apa yang membuat No ... mm, Kakak sampai meminta saya untuk datang ke tempat ini? Padahal, sepertinya kita tidak ada kaitan apa pun. Apa karena Dany?"


"Mm ...." Arsyita berangsur meletakkan cangkir kopinya ke tempat semula. Kedua lengannya pun segera ia naikkan ke atas meja. Ia bersikap begitu santai, tak seperti Niana yang tampak lebih elegan. "Mengenai dirimu kok."


"Sa-saya?" Terkejut, Niana menuding dirinya sendiri. "Ke-kenapa dengan saya?"


"Kamu diselingkuhi oleh suamimu, bukan?"


"I-itu ... mungkin Kakak juga sudah mendengarnya, bukan?"


"Tapi, kenapa?" Sepasang bola mata Niana bergerak-gerak, tetapi fokus tatapannya masih sama, yakni wajah cantik milik Arsyita. "Kenapa Kakak ingin mengejar dan bertemu saya?"


"Karena hanya kamu yang bisa dekat dengan Dany. Jadi, aku pikir kamu adalah gebetannya hehe."


"Hah?"


"Hanya bercanda, Niana. Jangan terkejut begitu." Arsyita meralat ucapannya. "Sebenarnya Dany sudah meminta tolong padaku. Dan aku sudah sedikit mendengar tentang rencanamu untuk membalas perbuatan suamimu."


"A-apa?"

__ADS_1


"Jangan marah ya, Niana. Dany tidak bersalah kok. Dia hanya berusaha dengan sekeras mungkin untuk membantumu, dan sebenarnya dia ingin mengatasinya sendiri. Tapi meski dia juga dikenal sebagai adik kandungku sekaligus juga CEO perusahaan keluarga kami, dia tidak akan terlalu bisa membuat Endri menjadi sosok yang bisa dikenal banyak orang."


Niana terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Rupanya Dany memang mengatakan segala situasinya pada Arsyita. Ia yakin tentang dugaannya itu, sebab Arsyita sampai mengetahui tentang rencananya untuk membuat nama Endri dikenal oleh lebih banyak orang.


"Aku adalah seorang aktris dan kamu pasti sudah tahu tentang hal itu. Aku akan datang ke perusahaan suamimu dan mengatakan bahwa aku adalah brand ambassador yang dikirimkan oleh Dany, demi kelancaran kerja sama mereka. Proyek yang mereka jalankan setelah Endri membuat proyek itu menjadi mangkrak, harus didobrak agar lebih sukses, bukan? Yah, itu sih jika sesuai perjanjian. Tapi sekarang kan tidak. Karena ... sebelum proyek itu sukses, bukankah kamu ingin menghancurkannya, Niana?"


Niana menelan saliva. Rasa bingung masih melanda. Meskipun


Arsyita sudah mengetahui tentang rencananya, tetap masih sukar baginya untuk berbagi cerita.


"Niana, percayalah padaku dan jangan ragukan aku. Sebenarnya aku bisa saja melakukan permintaan Dany tanpa memberitahukanmu terlebih dahulu, tapi aku merasa seperti pencuri jika tidak meminta persetujuan darimu terlebih dahulu. Barang kali niatmu untuk menghancurkan suamimu sudah lenyap, sebelum aku melakukan tugasku," ucap Arsyita.


"Saya ... saya memang ingin melakukannya, Kak." Akhirnya Niana bersedia untuk memberikan tanggapannya. "Tapi, jika Kakak yang membuat Endri dikenal, pasti Kakak akan terlibat. Saya tidak mau gara-gara saya, nama baik Kakak yang Kakak jaga selama bertahun-tahun menjadi tercoreng."


"Alah! Tenang saja, Niana. Namanya juga seorang intertain. Hujatan, kritikan, sampai rumor sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Aku sudah kebal. Tapi, ada satu hal yang harus aku tekankan padamu. Bahwa aku ini adalah seorang aktris, aku bisa sedikit bersandiwara untuk mengamankan namaku sendiri, Niana."


Niana kembali terdiam.


"Niana, tampaknya kamu begitu ragu ya? Apakah karena kita baru berkenalan? Ataukah karena kamu malu padaku karena aku sudah mendengar beberapa hal tentang dirimu?"


"Saya hanya merasa tidak enak saja, Kak," sahut Niana.


"Mm, kalau kamu tidak mau berhutang budi, kamu juga bisa melakukan sesuatu untukku, Niana."


"A-apa itu?"

__ADS_1


Arsyita tidak langsung menjawab, melainkan memilih untuk meraih cangkir kopinya terlebih dahulu. Ia menyesap kopi creamy latte itu secara perlahan dan sampai beberapa kali.


***


__ADS_2