First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 45-Kapan Kamu Punya Anak Sih, Niana?


__ADS_3

"Jadi, kapan kalian mau punya anak, Niana? Kalian menikah sudah menikah selama dua tahun lebih lho, masa' kalian masih ingin menunda terus sih? Bukankah Dany juga sudah membantu memulihkan perusahaan suamimu?" ucap Rita sembari membersihkan meja di rumah makan miliknya itu.


Niana menghela napas lalu menggertakkan gigi. Tentu saja ia tahu perasaan ibunya yang sedang menunggu kehadiran seorang cucu dari putri satu-satunya, tetapi, di sisi lain, Niana juga tidak mungkin lagi memiliki anak dari pria yang sudah berselingkuh darinya dan bahkan sampai menikahi wanita lain.


Sejak dulu pun, bukan Niana yang membuat keputusan untuk menunda kehamilan. Bodohnya, ia memang selalu menuruti ucapan Endri. Perusahaan selalu dijadikan sebagai alasan, Endri mengaku masih ingin mengembangkan bisnis di bidang properti menjadi lebih besar lagi.


"Tanya saja sama Mas Endri, Ibu. Aku kan tidak pernah berniat untuk menunda punya momongan sejak dulu. Dan aku wanita yang sehat kok! Aku rajin memastikan kondisi rahimku ke dokter!" Pada akhirnya Niana tidak ingin memosisikan dirinya sebagai seseorang yang bersalah. Dan ia juga tidak mau menjaga nama baik suaminya lagi. Lagi pula, Endri yang menjadi biang keladi di balik alasan mengapa sampai dua tahun pernikahan Niana masih belum bisa memberikan anak.


Rita menghela napas, lalu berangsur duduk di hadapan Niana. Wajahnya tampak murung. Usianya semakin tua, tetapi ia belum bisa menimang cucu seperti teman-temannya yang lain. Bukan hal asing lagi baginya jika diberikan pertanyaan, 'Bagaimana, Niana sudah hamil belum?', 'Aduh, kapan dong bisa gendong cucu sendiri?' dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut membuat Rita merasa minder dan kepikiran. Tak hanya memikirkan keinginannya sendiri, melainkan juga Niana. Bagaimana jika Niana tidak kunjung hamil sampai beberapa tahun ke depan? Itulah yang selalu Rita pertanyakan.


"Anak itu penting. Memang sih yang mengatur soal anak adalah Yang Maha Kuasa, tapi setidaknya manusia harus ada usahanya dulu, Niana. Kalau sudah usaha dan tak kunjung diberi, nah baru deh mencoba untuk mengikhlaskan takdir yang harus kamu jalani," ucap Rita. "Ibu hanya sedih melihat kamu yang belum hamil-hamil. Padahal kamu cantik dan pintar. Pasti keturunan kamu juga sebagus dirimu. Masalah ekonomi juga pastinya tidak sulit bagi kalian. Tapi kenapa ...? Ah, aduh!"


Niana menelan saliva dengan susah-payah seraya mengusap tengkuk bagian belakangnya. Hatinya mulai kesal. Mengapa harus dirinya saja yang didakwa sedemikian rupa? Ah, sepertinya keputusannya untuk pulang ke rumah atau sekadar mampir ke rumah makan orang tuanya bukanlah keputusan yang bagus. Padahal ia sudah memanggil Nur agar segera datang. Kalau begini jadinya, lebih baik ia mengajak Nur jalan-jalan saja dan menginap di hotel nantinya.


"Mungkin aku bakal bisa hamil jika tidak menikah dengan Mas Endri, Ibu. Aku bahkan menyesal karena sudah menikah dengannya. Kenapa aku harus menikah dengan pria yang tak mau punya anak dariku, coba? Dia juga bukan pria yang baik! Tapi, kenapa aku selalu menuruti omongannya? Bukankah lebih baik kami bercerai saja, Ibu?" celetuk Niana saking jengkelnya.


Detik itu juga, mata Rita langsung melebar. Ia menatap Niana dengan nanar. "Niana?!" Suaranya keras dan cenderung membentak putrinya. "Kamu ngomong apa sih? Bercerai? Kok sampai kejauhan begitu mikirnya? Ibu kan cuma memastikan, itu saja!"

__ADS_1


Niana menghela napas lalu mengembuskan napasnya itu dengan kasar. Detik berikutnya, ia langsung bangkit dari duduknya. "Lupakan saja ucapanku, Ibu. Dan Ibu tidak salah kok. Aku hanya sedang lelah. Sudah lelah malah ditagih punya anak lagi. Aku malah berharap Ibu tidak lagi menagih-nagih hal itu. Kalau Ibu mau punya cucu, nanti aku carikan di panti asuhan saja. Banyak anak yang tanpa orang tua, 'kan? Aku bisa mengadopsi salah satu dari mereka. Aku pergi dulu, Ibu. Maaf ...."


"Niana! Tunggu dulu, Nak! Jelaskan pada Ibu dulu! Hei, Niana!" Rita sampai bangkit dan berusaha mengejar Niana.


Namun langkah Niana terbilang sangat cepat, meskipun tidak sampai berlari. Niana pun masuk ke dalam mobilnya dan segera membanting pintu kendaraannya itu dengan keras. Kesal sekaligus menyesal. Ia malu sekaligus marah besar. Semuanya gara-gara Endri, cecunguk gila yang mementingkan fisik dan nafsu saja. Memangnya apa lagi kalau bukan fisik dan nafsu?


Ketika Niana berpenampilan norak, Endri enggan untuk menyentuh, bahkan mungkin sudah tak pernah bernafsu lagi pada Niana sampai memutuskan untuk mencari wanita yang lebih seksi. Namun ketika tubuh Lesy sulit dijamah lagi, Endri langsung memburu Niana yang sudah berubah drastis! Lelaki macam apa itu?!


"Sudah Ayah bilang jangan menagih-nagih lagi, Ibu. Niana pasti juga memiliki kesulitan tersendiri, bukan?" ucap Surya yang mendadak muncul di belakang Rita, sesaat setelah dirinya keluar dari dapur rumah makan itu.


Rita menghela napas lalu mengelus-elus bagian jantungnya. Ia juga menelan saliva ketika matanya menatap lantai. "Sepertinya ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka, Ayah."


Rita mengangguk pelan. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk bangkit lagi ketika sebuah mobil memasuki halaman dari rumah makannya. Ia hafal betul dengan pemilik mobil yang memang kerap mampir untuk makan setelah pulang kerja. Setidaknya selalu muncul tiga orang dari mobil hitam legam tersebut. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak pelanggan setia di rumah makan Surya dan Rita.


Dan tak hanya Rita saja yang bangkit, melainkan juga Surya. Meskipun di dapur ada beberapa pemuda-pemudi yang bekerja untuk mereka berdua.


***

__ADS_1


Niana menghentikan mobilnya di persimpangan jalan untuk sejenak waktu. Perasaannya masih campur aduk, lebih tepatnya buruk. Andai saja ia tidak datang ke rumah makan orang tuanya, ia pasti tidak akan melukai hati ibunya. Ia benar-benar menyesal karena sudah mengatakan hal yang kasar, dan mungkin akan menimbulkan tanda tanya yang besar.


Namun saat ini, Niana tidak bisa kembali di saat hatinya belum sepenuhnya tenang. Jika berada di dalam kondisi demikian, Niana merasa seperti tidak punya tempat untuk pulang. Ia merasa sendirian.


"Seharusnya aku punya rumah sendiri, sekalipun hanya rumah kecil. Setidaknya aku memiliki tempat untuk bersembunyi." Niana bergumam lalu menghela napasnya. "Aku harus menghubungi Nur, agar dia tidak datang ke tempat Ayah Ibu, dan malah diinterogasi oleh mereka."


Detik berikutnya, Niana mengambil ponsel yang masih berada di dalam tasnya. Ia langsung menghubungi Nur dengan cara menelepon.


***


Malam hari pun tiba. Lesy sudah terbalut gaun oranye yang manis. Perutnya memang sudah agak menonjol, tetapi belum terlihat begitu jelas. Meski sudah mulai muncul tanda-tanda perubahan fisik dan biasanya hatinya akan langsung merasa sedih, untuk saat ini Lesy mencoba untuk tidak peduli terlebih dahulu. Ia harus terlihat cantik dan menawan di hadapan suaminya sekaligus semua orang yang akan melihatnya.


"Sudah belum? Kalau sudah, ayo berangkat. Kita tidak boleh pulang terlalu malam," ucap Endri dari ambang pintu kamar. Matanya menatap ke arah Lesy yang masih saja berkutat dengan make up.


Lesy menoleh pada sang suami. Senyumnya kian melebar. Detik berikutnya, ia memberikan anggukan yang mantap. "Sudah, Mas!" katanya. "Ayo berangkat." Ia beraih tas jinjing mahal yang sudah ia siapkan di atas meja rias itu. Kakinya pun sudah terbalut sepatu high heels.


Sebenarnya Endri ingin memberikan sedikit peringatan. Ia tidak mau jika Lesy mengenakan sepatu dengan hak yang lancip. Namun ia tidak mau membuat istri keduanya itu langsung badmood. Apalagi setelah berkencan, mungkin ia akan membuat Lesy benar-benar kehilangan mood. Untuk saat ini, ia hanya perlu membuat Lesy gembira terlebih dahulu.

__ADS_1


Endri tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Lesy lantas menerima tangannya. Mereka pun saling bergandengan untuk menuruni setiap anak tangga di rumah itu. Lesy berharap bisa menikmati kencan pada malam hari ini. Sementara Endri, ia berharap supaya dirinya mampu membujuk istri hasil perselingkuhannya itu.


***


__ADS_2