First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 42-Niana Sangat Cantik, Batin Dany


__ADS_3

Ini pertama kalinya bagi Niana bertandang ke tempat tinggal seorang pria, setelah ia menikah dengan Endri. Ketika masih gadis, mungkin ia pernah diajak oleh kekasihnya terdahulu. Namun untuk saat ini, ia diajak sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara. Dany. Meskipun sudah begitu klop bak kakak adik, nyatanya Niana masih bisa merasa canggung. Dan ia mulai berpikiran lain, bahwa keputusannya untuk ikut ke tempat tinggal Dany mungkin adalah sesuatu yang sangat salah. Sayangnya, meski sudah mulai berpikir sehat, hati Niana masih merasa tidak enak ketika hendak pamit untuk pergi saja.


Kecanggungan tidak hanya meliputi diri Niana. Saat ini Dany juga merasa serba salah dan salah tingkah. Biasanya Dominic yang datang dan Dom merupakan seorang pria sama seperti dirinya, selain pria itu, mungkin hanya Arsyita saja. Dan tidak pernah ada wanita satu pun yang pernah menjamah tempat di mana Dany tinggal selama ini. Bahkan ketika masih kuliah saja, ia selalu menolak jika teman-temannya ingin datang ke tempat tinggalnya.


"Mm, maaf kalau tempat tinggalku berantakan dan bikin kamu tidak nyaman," ucap Dany sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Detik berikutnya, ia menunjuk ruang tamu lalu kembali berkata, "Duduklah di sana. Biar aku yang memasak mie instan ini."


"Ah, mm, o-oke." Niana sungguh canggung. "Dan ... alih-alih berantakan, tempat tinggalmu tampaknya lebih tepat jika disebut minim barang, Dan. Ha-ha."


"Itu karena aku tidak suka bersih-bersih, makanya aku minimalisir pengadaan barang haha."


"Cih, kamu kan bisa menyewa jasa bersih-bersih!"


"Untuk itu, tentu saja aku menyewanya. Tapi kalau aku punya banyak barang, bagaimana jika barangku dicuri oleh mereka? Apalagi aku jarang sekali di apartemen karena sibuk bekerja."


"Kamu kan kaya! Orang mencuri satu barangmu, tidak akan membuat kamu menjadi miskin, 'kan?"


"Kamu meng-copy paste ucapanku ya?" Mata Dany memicing, menaruh curiga pada Niana.


Dan Niana tidak menyangkal, melainkan langsung mengangguk mengiyakan. "Benar, hehe. Sudahlah sana masak. Aku lapar." Ia menatap waktu di jam tangannya. "Kita hanya punya waktu dua puluh menit saja."


"Tak masalah masuk terlambat. Lagi pula, kamu kan terlambat karena bersama Tuan CEO-mu ini, Niana."


Dany mulai bergerak ke arah dapur, sementara Niana hanya mendecapkan lidah setelah mendengar kenarsisan seorang Dany Dharmawangsa. Namun alih-alih lekas duduk seperti yang pria itu inginkan, Niana justru mengayunkan sepasang kakinya. Ia berjalan mengikuti Dany dengan maksud ingin sedikit membantu. Lagi pula, ia cukup penasaran dengan model dapur di apartemen sahabat sekaligus atasannya tersebut.


"Kenapa mengikutiku?" tanya Dany menoleh pada Niana sembari terus berjalan ke arah tujuannya.

__ADS_1


"Mau membantu. Barang kali kamu tidak becus memasak mie instan, Tuan," jawab Niana.


"Kamu meremehkan kemampuanku?"


"Mm!" Niana menganggukkan kepala dengan gerakan yang mantap. "Tentu saja. Kamu kan tumbuh sebagai tuan muda. Hidupmu pasti selalu dilayani."


"Iya sih. Tapi sejak kuliah bersamamu aku sudah hidup di tempat ini sendiri. Aku lebih sering memasak sendiri. Hmm, kamu ingat cerita tentang kedua orang tuaku, 'kan? Aku tidak betah di rumah karena mereka sering sekali bertengkar." Dany meletakkan kantong plastik yang berisikan tiga mie instan itu di atas meja permanen bagian dapur. Ia mulai membuka plastik itu dan mengeluarkan isinya. "Demi reputasi, mereka memilih mempertahankan pernikahan yang sudah rusak parah. Mereka terus bertengkar, lalu mengabaikan aku dan Arsyita. Arsyita memilih hengkang dari rumah sejak berusia lima belas tahun untuk menjadi seorang aktris. Sementara aku yang saat itu masih berusia tiga belas tahun kerap merasa sendirian meski banyak pelayan di rumah kami. Dan suara Ayah serta Ibu ketika bertengkar sudah seperti MP3 yang rajin aku dengar setiap hari."


Niana mengerjap-ngerjapkan matanya. Hatinya terenyuh. Rasa simpati lantas ia berikan pada Dany yang hidup di dalam keluarga sehancur itu. Mental Dany kuat sekali, tetapi mungkin Dany juga sudah kesakitan sejak masih kecil. Bisa-bisanya Niana justru kerap menumpahkan kesedihannya pada pria yang sudah memiliki banyak luka. Betapa tega diri Niana selama ini. Dan bahkan ia sudah begitu egois, karena telah menjauhi Dany lalu mendatangi Dany lagi ketika sedang membutuhkan saja.


Ketika ucapannya tidak disahuti oleh Niana, Dany mulai merasa ada yang aneh. Detik itu juga, Dany langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap Niana yang masih berdiri di belakangnya.


"Lho, lho, lho! Kok nangis?!" ucap Dany ketika melihat mata Niana sudah berlinang. Ia cepat-cepat mendekat dan mengusap air mata di pipi wanita itu. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


Niana menggelengkan kepala, lalu menunduk demi menyembunyikan kecengengannya.


Wanita ini sangat cantik, batin Dany tanpa ia sadari. Dan ketika sudah sadar, matanya kian melebar. Lantas, muncul pertanyaan, 'Apa yang sudah aku katakan?'


"Tidak kok, kamu tidak mengatakan sesuatu yang salah." Niana menurunkan kedua telapak tangan Dany dari wajahnya. "Mendengar kisah hidup yang kamu ceritakan membuat, air mataku meluruh begitu saja. Dan ... hatiku merasa bersalah. Padahal kamu memiliki banyak luka, tapi, ... aku justru menceritakan kesedihanku padamu. Bahkan, aku datang ketika aku sedang butuh saja. Maafkan aku, Dany, aku benar-benar minta maaf."


"Hei, ayolah. Aku tidak semenderita itu kok. Semenderita-menderitanya diriku, aku masih bisa membeli apa saja, bahkan pulau sekalipun, Niana!" Dany sampai memajukan wajahnya. Ia juga menyentil pucuk hidung Niana. "Jangan merasa bersalah. Karena ketika kamu datang padaku lalu menceritakan banyak hal, aku justru merasa bahwa diriku ini memang berguna. Dan jujur saja, kamulah orangnya, Niana ...."


"Hmm?" Dahi Niana berkerut samar. "Orang apa?"


"Kamu yang bikin aku tertawa lepas. Melihatmu yang begitu bodoh dan menangis konyol, aku selalu ingin tertawa."

__ADS_1


"Cih! Aku pikir sesuatu yang waaah! Jahat sekali tertawa di atas penderitaanku. Lalu apakah sekarang juga masih begitu?"


"Tidak." Dany memutar badannya lagi. "Saat ini aku justru ingin menyelamatkanmu. Dan awalnya dengan meminta Dom mendekati kamu, aku pikir aku bisa menyelamatkanmu. Tapi, ternyata aku justru membuatmu amat terbebani. Sekali lagi maafkan aku soal hal itu, Niana."


"Sudahlah, yang penting kamu sudah meminta maaf dan tak akan mengulanginya lagi."


Niana beringsut. Detik berikutnya, ia menuju ke arah lemari pendingin yang sudah ia temukan di dapur bernuansa hitam dan putih itu. "Kamu punya daun bawang, cabai, atau telur?"


"Ada telur. Tapi tidak dengan dua bahan yang lain. Akhir-akhir ini aku tidak memasak."


"Kenapa? Malas? Kamu berangkat pagi-pagi sekali lho, memangnya tidak sarapan?"


"Aku sarapan, tapi hanya roti dan susu."


"Ya tak masalah, selama ada sumber energi, Dan."


Niana mulai membuka lemari pendingin itu. Ada beberapa minuman isotonik, air mineral, selai cokelat, lalu telur. Hanya itu saja. Tak ada sumber makanan lainnya. Ia menghela napas. Perasaannya prihatin. Padahal Dany kaya raya, tetapi bahan makanan dan barang di apartemen terlihat begitu sedikit. Pria itu seperti tidak memperhatikan kehidupannya sendiri.


"Dany?" ucap Niana lalu membalikkan tubuhnya. "Bolehkah aku bertanya? Ah, boleh ya? Apa kamu masih tidak punya pacar? Maksudku pasangan yang ingin kamu nikahi? Mm, aku hanya penasaran. Soalnya kamu membawaku kemari seperti tanpa beban. Dan lagi, jika kamu memang sudah memiliki calon istri, tentu kita tidak boleh terlibat bersama sesering belakangan ini. Kamu harus mempertahankan dia agar kamu bisa menikahi dia dan kamu juga bakalan diurus sama dia. Makananmu, pakaianmu, dan rumahmu pasti dia bisa mengurus segalanya untuk kamu, Dan."


Dany menelan saliva dengan susah-payah. "Tidak ada, Niana. Tidak ada wanita yang ingin aku nikahi, aku masih bisa mengurus diri sendiri. Sebenarnya ... aku ini takut untuk menikah."


"Apa?"


Dany hanya diam, lalu memilih untuk melanjutkan aktivitasnya. Ia harus memasak kedua mie instan itu agar rasa laparnya segera terobati.

__ADS_1


***


__ADS_2