
Niana dan Nur tengah berada di salah satu tempat perbelanjaan pakaian yang tidak terlalu jauh dari rumah Endri. Niana pikir ia harus mulai mengubah penampilannya. Setelah menatap sosok Lesy yang diselimuti dengan barang-barang mewah, Niana merasa bahwa 'mungkin' penampilan menjadi salah satu penyebab Endri tak lagi mencintai dirinya. Namun dugaan tersebut hanyalah sebatas spekulasi Niana saja. Ia tidak tahu alasan yang tepat mengenai perubahan sikap dan perasaan Endri terhadap dirinya.
Akan tetapi, sedikit mengubah penampilan tentu tidak ada salahnya, bukan? Niana sudah lama sekali tidak berbelanja. Ia cenderung hidup dengan hemat selama ini. Dan sekarang, uang yang selalu ia kumpulkan untuk persiapan kehamilan dan memiliki buah hati sudah tidak akan berfungsi sesuai tujuan awal. Ia tidak akan pernah memiliki anak bersama suaminya lagi. Dan Niana sudah bertekad untuk tidak akan pernah mengharapkan hal yang sama seperti saat dirinya masih belum terluka.
"Nyonya Niana?" Nur berkata sembari menyentil lengan Niana. "Nyonya Niana masih belum baik-baik saja, apa sebaiknya kita ke tempat lain saja? Sejak masuk ke sini, Nyonya sama sekali tidak fokus. Seharusnya Nyonya tidak terlalu memaksakan diri. Nyonya harus beristirahat."
Niana berangsur menatap Nur yang gelisah. Oh, Nur yang malang. Padahal ketika baru berangkat ke pusat perbelanjaan ini, Nur tampak gembira. Namun karena Niana kerap melamun, kegembiraan Nur juga harus berakhir begitu saja.
"Maafkan aku, Nur. Kamu tidak perlu khawatir, kita bisa lanjut berbelanja. Aku tidak apa-apa kok, hanya sedang berpikir hendak memilih pakaian model apa. Aku kan sudah lama tidak berbelanja. Jadinya malah bingung sendiri," ucap Niana sembari mengulas senyuman.
Nur menghela napas. Parasnya yang manis khas gadis Jawa masih menunjukkan sejumlah rasa cemas.
"Baiklah, Nyonya." Nur menjawab lemah. Masih sungkan baginya untuk bersikap begitu girang.
"Ah!" Dering ponsel yang terdengar membuat Niana agak terkejut. "Kamu pilih-pilih dulu, Nur. Aku mau mengangkat telepon di tempat lain terlebih dahulu. Seseorang ingin berbicara denganku."
"Baik, Nyonya."
"Pilih saja semaumu. Tak perlu cemas, aku yang akan membayar nanti. Jangan sungkan. Uang tabunganku masih banyak kok."
__ADS_1
"Ah, Nyo—"
Ketika Nur ingin menolak, Niana justru sudah berlalu dengan langkah yang sangat terburu-buru. Entah siapa yang menghubungi Niana, Nur pun tidak tahu. Namun Nur berspekulasi bahwa si penelepon bukanlah Endri, karena saat ini Endri pasti sedang berduaan dengan sang istri baru.
Niana menghentikan langkahnya di lorong gedung perbelanjaan itu yang dekat dengan toilet umum. Tempat itu tak seramai di bagian perbelanjaan. Sehingga Niana mungkin bisa berbincang dengan lebih nyaman. Perbincangan via suara yang akan ia lakukan bersama Dany. Ya, Dany, pria yang belum lama ini sudah ia kirimi pesan berisi suatu permohonan dan sedikit curahan hati.
"Halo, Dany. Mm, maafkan aku, karena aku telah meminta pertolongan secara mendadak," ucap Niana.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku juga tidak ada kegiatan apa pun. Lagi pula aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan siap siaga jika kamu sedang membutuhkanku," sahut Dany dari kejauhan. "Mm, jadi, wanita itu benar-benar sudah dibawa pulang oleh suamimu?"
Hati Niana terenyak sakit. Sebelumnya, ia terpaksa mengungkapkan kenyataan itu di pesan yang ia kirimkan pada Dany. Hal tersebut ia lakukan agar Dany bersedia untuk datang ke rumah orang tuanya.
"Sudahlah, tak perlu banyak meminta maaf. Kamu sedang tidak baik-baik saja, 'kan? Apa tidak lebih baik jika kamu menyingkir terlebih dahulu, Niana?"
"Sebenarnya, aku sudah menyingkir. Aku sedang berada di salah satu mal yang paling dekat dengan kediamanku. Aku bersama Nur, asisten rumah tanggaku. Ya, kamu benar, menyingkir membuatku jauh lebih tenang. Aku juga ingin menghabiskan uang yang sudah aku kumpulkan selama ini demi persiapan ketika aku sudah memiliki buah hati. Aku menggunakannya untuk berbelanja karena aku tidak akan berencana untuk punya anak dengan Endri lagi."
"Tabahlah, Niana. Aku ingin kamu berhenti, tapi sekali lagi, tampaknya desakanku tak akan mempengaruhi niat besarmu." Dany menghela napas panjang. "Sekarang katakan padaku, kamu ada di mana? Aku sedang di dalam perjalanan. Dan akan langsung ke rumah ayahmu. Sepertinya aku bisa menghampirimu terlebih dahulu. Arah rumahmu dan Om Surya kan sama."
"Di Beauty Mal."
__ADS_1
"Tunggu aku dan aku akan membantumu untuk bersiap-siap, Niana."
"Itu tidak perlu, Dan—"
Ucapan Niana terputus ketika Dany mematikan komunikasi jarak jauh itu secara sepihak. Ah, Niana menjadi semakin tidak enak hati. Mengapa ia sampai membuat Dany kerepotan seperti ini? Seharusnya ia cukup meminta Dany datang ke rumah orang tuanya tanpa banyak mencurahkan isi hati. Namun nyatanya kebiasaan Niana ketika masih begitu akrab dengan Dany belum bisa ia akhiri. Dany sudah seperti kakak laki-laki yang membuatnya kerap merasa nyaman serta aman.
"Ya sudahlah," gumam Niana. Detik berikutnya, ia berangsur mengambil langkah. Ia berencana untuk menghampiri Nur yang mungkin masih sibuk memilih-milih pakaian kesukaan.
***
Dany memang masih berada di dalam perjalanan, tetapi bukan dari kantor apalagi kediaman, melainkan dari sebuah restoran. Pertemuannya dengan seorang rekan bisnis yang seharusnya masih berlangsung setengah jam lagi terpaksa ia akhiri. Ia memutuskan untuk menyudahi pertemuan itu setelah membaca pesan dari Niana yang memberikan kabar duka.
Rupanya Endri memang sudah kelewat gila. Endri begitu tidak tahu diri sampai tega membawa sang istri kedua untuk tinggal bersama Niana. Mungkin tak hanya Endri yang gila, Niana pun bisa dianggap demikian. Ambisi Niana masih terlalu besar. Niana enggan untuk menyerah dan keluar dari pernikahan yang sudah berantakan hanya demi mencari keadilan. Padahal Niana masih tergolong muda dan pastinya masih banyak pria lebih baik yang mau menerima dirinya meskipun nanti akan berstatus sebagai janda.
"Aku bersyukur karena dia tidak sampai membuat kekacauan dengan menjambak rambut wanita selingkuhan suaminya itu. Tapi, aku yakin dia benar-benar frustrasi saat ini. Gadis kecil itu ... mengapa dia tidak berhenti membuatku khawatir? Tak hanya sekarang, dulu pun dia kerap membuatku ngos-ngosan karena aku pikir dia akan bunuh diri setelah dicampakkan," gumam Dany sembari terus melajukan mobilnya. "Dua tahun lamanya ... aku pikir dia sudah bahagia, tapi malah ...."
Dany lantas mengumpat setelah mengakhiri ucapannya yang tak sanggup ia selesaikan. Dan waktu yang semakin mepet serta kecemasan di dalam hatinya yang semakin menebal, membuatnya tak sungkan untuk mempercepat laju mobilnya. Yang ada di benak Dany saat ini hanyalah segera bertemu dengan Niana, wanita yang sudah ia anggap tak sekadar sebagai sahabat, melainkan saudara serta adik kecil bagi dirinya.
***
__ADS_1