First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 21-Bagaimana Jika Aku Membantumu Untuk Mendapatkan Niana, Dom?!


__ADS_3

"Hei, Dom!" ucap Dany sembari menepuk pundak Dominic yang sudah menunggu kedatangannya di salah satu kedai kopi. Detik berikutnya, ia menarik sebuah kursi yang berada di hadapan salah satu sahabatnya itu, kemudian ia lekas duduk. "Bagaimana kabarmu, Kawan?"


Dominic menghela napas lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul mengenai hobi Dany yang kerap jahil dan mengejutkan orang lain. Dan di usia sudah memasuki kepala tiga, Dany masih tak berubah, selain perubahan fisik yang semakin kekar dan tampan. Namun, tentu saja Dominic jauh lebih tampan!


"Ada apa, Dan? Aku pikir kamu sudah tak mungkin menemui diriku lagi," ucap Dominic. Ia lantas meneguk kopi hitamnya dan terus menatap Dany. "Perusahaanmu kan sedang menguasai pasar sekarang. Banyak produk yang digemari masyarakat."


Dany tersenyum. Sebelum memutuskan untuk memberikan jawaban, ia memanggil salah satu pelayan. Pelayan itu pun datang sesegera mungkin untuk menghampiri dirinya. Buku menu lantas diserahkan pada dirinya oleh pelayan terkait yang sudah tiba di hadapannya. Namun Dany tak berkenan untuk membaca setiap menu yang tertera, karena ia hanya menyukai satu jenis kopi saja.


"Tolong satu kopi hitam aroma pandan ya, Mbak," ucap Dany memesan.


"Baik, Tuan," jawab pelayan itu. "Mohon ditunggu sebentar."


Dany tersenyum, lalu sang pelayan segera undur diri untuk mempersiapkan hidangan yang ia inginkan. Detik berikutnya, ia kembali menatap Dominic yang sepertinya sudah menunggu jawabannya sejak tadi. Dan sebenarnya, memang sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan Dominic karena pekerjaannya yang bikin dirinya kalang kabut setiap hari. Lagi pula, Dominic yang bekerja sebagai seorang produser tentu jauh lebih sibuk.


"Aku hanya sedang merindukanmu, Kawan. Tak ada masalah yang serius. Aaah ... soal perusahaan, bukankah aku memang pantas menjadi pewaris utama daripada kakakku itu? Apakah kakakku masih pandai dalam berakting?"


"Syita? Ah, ya, selain cantik, dia memang sangat berbakat. Dia juga sangat baik. Aku rasa semua orang sangat menyukainya," jawab Dominic yang memang mengenal kakak perempuan Dany, Arsyita Darmawangsa, aktris 35 tahun yang masih populer dan memiliki banyak penggemar.


"Jangan tertipu olehnya, dia itu rubah. Kalau bertemu denganku dia sering bersikap menyebalkan." Dany berucap ketika sang pelayan kembali datang untuk menyajikan kopi hitam beraroma pandan yang ia inginkan. Ia menatap pelayan berparas manis itu, kemudian berkata, "Terima kasih, Mbak."


"Sama-sama, Tuan. Terima kasih kembali dan selamat menikmati." Dengan santun, pelayan itu menimpali ucapan Dany.


"Kalau aku yang jadi kakak seorang adik tengil seperti dirimu, aku pasti akan melakukan hal yang Syita lakukan, Dan. Dia menyebalkan karena kamu pasti jauh lebih menyebalkan." Dominic memberikan jawaban untuk ucapan Dany sebelumnya. "Setidaknya kamu harus bersyukur karena memiliki seorang kakak yang tak memperdebatkan soal perusahaan, berbeda dengan anak-anak pengusaha lain yang kerap bersaing seperti cerita di naskah yang aku garap. Aku mendengarnya dari Syita, dia malah lebih bersyukur karena tidak harus pusing-pusing mengurus perusahaan dan bisa mengejar mimpi sendiri saat kamu bersedia untuk mengambil alih."

__ADS_1


Dany hanya tersenyum selebihnya menelan saliva. Dalam masalah pilihan kakaknya, memang hanya Dominic saja yang mengetahui. Sementara Niana, Rubel, bahkan Keisya tak mengerti sama sekali bahkan sampai saat ini. Ucapan Dominic memang benar, Dany harus tetap bersyukur karena di dalam keluarganya tidak ada yang namanya perdebatan nilai saham atas perusahaan yang Dany pimpin saat ini.


Arsyita Darmawangsa yang terkenal bak Dewi di dunia hiburan sukses menjadi salah satu aktris dengan bakat berakting yang brilian. Namun ... gara-gara kakak perempuannya itu, Dany harus memendam impiannya menjadi seorang pebasket profesional. Ia satu-satunya anak laki-laki sekaligus satu-satunya anak yang harus bertanggung jawab pada perusahaan ketika Indra Darmawangsa—ayahnya—sudah semakin menua.


"Kamu masih bermimpi menjadi pemain basket di usiamu saat ini, Brother?" Dominic menebak sesaat setelah dirinya mendapati ekspresi resah di wajah Dany. "Dan apakah kamu masih merasa kesepian di semua kesibukanmu?"


"Tentu saja tidak, aku sudah tidak bermimpi untuk menjadi pemain basket. Aku sadar diri soal usiaku, Dom! Lalu untuk kesepian, ya, kadang kala memang masih terasa. Sejak Syita yang mulai sibuk dengan dunianya sendiri, kemudian ayah dan ibuku yang sama-sama berselingkuh, dan sampai sekarang ... aku masih merasakan hal yang sama. Sebuah kesepian."


"Dan kamu masih tidak berniat untuk menikah?" Dominic menghela napas. "Apa benar-benar tidak ada wanita yang bisa membuat dirimu terpikat, Kawan? Keisya, si gadis seniman itu masih single, apa kamu tak ingin mendekatinya saja? Toh, kalian kan sudah saling kenal sejak lama?"


"Jangan sembarangan! Keisya adalah temanku, juga temanmu. Jika pernikahan rusak, aku tak bisa berteman lagi dengannya. Lagi pula, single belum tentu punya pacar, bisa saja dia hanya belum ingin menikah. Dia pasti masih ingin menggelar pameran di berbagai negara juga, 'kan? Kamu tahu sendiri dia terbilang telat mengambil jurusan seni."


"Ya, kamu benar. Gadis itu masih belum puas sebelum diakui sebagai seniman yang sehebat sang maestro Leonardo da Vinci. Padahal dia sendiri tahu dia tak akan mengalahkan sosok yang melegenda itu."


"Si maniak yang gila. Jika aku menikah dengan dia, aku rasa aku akan semakin kesepian saja."


Sejenak tidak ada perbincangan setelah tawa Dominic berakhir. Kedua pria itu sama-sama sedang mengenang masa ketika masih menjadi mahasiswa. Hanya Niana dan Rubel saja yang mengambil jurusan terkait dengan tulus, tanpa paksaan siapa pun. Sementara Dany, Dominic, serta Keisya mengambil jurusan terkait karena dipaksa oleh orang tua mereka masing-masing. Namun pada akhirnya Dominic dan Keisya bisa melarikan diri dari paksaan tersebut.


Sementara Dany harus tetap belajar mengenai manajemen dan bisnis dengan sebuah keterpaksaan, karena ia tidak bisa menentang ucapan ayahnya. Hanya Niana dan Rubel tetap menikmati keadaan mereka.


"Hei, Dom!" ucap Dany lagi.


"Mm?" Dominic hanya menyahut demikian.

__ADS_1


Dany menghela napas lalu menatap Dominic dengan lebih serius. "Apa kamu mu masih menyukai Niana? Mau bertemu dengan dia lagi?"


"Hah? Apa katamu? Sekalipun aku masih menyukainya, dia kan sudah menikah!"


"Jadi, kamu masih menyukainya?"


Wajah Dominic menunjukkan ekspresi yang lebih berbeda. Seperti sedang bingung tetapi juga malu. "Aku rasa ... sudah tidak, para artis jauh lebih cantik daripada dia. Tapi, ... apa dia masih bekerja di perusahaanmu? Masih bawel seperti dulu? Dan masih kamu anggap sebagai adik kecilmu? Bukankah suaminya akan marah dan cemburu jika melihat keakraban kalian?"


"Mengaku sudah tak suka, tapi pertanyaannya sungguh bertubi-tubi, Kawan. Sepertinya kamu memang masih menyukainya."


"Ah!" Dominic menghela napas dan mengembuskan napasnya secara kasar. "Ck, aku tidak tahu, Dany. Lagi pula dia kan sudah menikah."


"Kamu menyukainya selama sepuluh tahun jika dihitung sampai saat ini. Kenapa tak pernah menyatakan cinta sama sekali?"


"Mana mungkin aku berani. Dia kerap disakiti, dan kalau sudah patah hati dia terlihat menderita sekali. Aku khawatir jika hubungan kami malah hancur ketika hubungan cinta kami tak berjalan dengan baik. Lagi pula, aku pun tahu jika dia tak pernah melihatku sebagai pria yang pantas untuk dia kencani. Aku menyukainya yang ceria, hangat, dan baik hati. Melihat dia sudah menikah dan hidup bahagia, rasanya sudah cu—"


"Bagaimana jika aku membantumu untuk mendapatkan Niana, Dom?"


"Haaah?!" Dominic begitu terkesiap. Bagaimana tidak, Dany mengatakan hal yang tidak masuk akal dan bahkan dengan ekspresi yang begitu serius. "Apa kamu sudah gila, Dany?! Maksudmu, kamu ingin membantuku untuk merebut istri orang lain, begitu? Sekalipun aku masih menyukainya, aku tidak segila itu, Brother!"


"Aih! Tidak seru sama sekali dirimu, Dom!" Dany berangsur menyandarkan punggungnya. "Padahal aku sangat serius jika kamu mau. Mungkin ... kamu yang lebih bisa membahagiakan adik kecilku itu, Kawan."


Dominic menelan saliva dengan susah-payah. Perlahan ia mencoba mencermati mimik wajah Dany. Sepertinya Dany memang seserius itu. Namun, mengapa? Setelah sekian lama, mengapa Dany ingin membantunya untuk mendapatkan Niana? Padahal Niana pun sudah menikah dan kalau tidak salah usia pernikahan Niana dengan sang suami sudah menginjak usia dua tahun.

__ADS_1


Tidak mungkin ada sesuatu yang tidak serius jika Dany sampai mengatakan hal se-demikian mengejutkan. Dan bisa jadi ada masalah yang menimpa Niana. Seandainya benar, mungkinkah ... pernikahan Niana dan pria yang bernama Endri itu sedang berantakan? Dominic mulai bertanya-tanya.


***


__ADS_2