
Lesy sudah menghadang Endri yang hendak keluar kamar untuk berangkat bekerja. Matanya begitu buas dalam menatap wajah sang suami yang pias. Ia pun berkacak pinggang dan berniat untuk mendominasi keadaan. Lesy tidak mau diabaikan seperti saat Endri baru datang bersama Niana, tetapi Endri justru terus kabur setiap ia bertanya. Lesy membutuhkan jawaban dari beberapa pertanyaan dan apakah hal itu terbilang keterlaluan?
Helaan napas berat terdengar dari diri Endri, membuktikan bahwa dirinya sedang tidak habis pikir saat ini. Mengapa Lesy begitu terobsesi tentang jawaban dari pertanyaan mengenai apa saja yang ia lakukan bersama Niana sampai tidak pulang semalaman? Di dalam rumah ini ia adalah kepala rumah tangga, tetapi belakangan ini ia justru terkesan dikendalikan apalagi diremehkan.
Jika lagi-lagi Lesy menggunakan kehamilan sebagai alasan, oh, sungguh! Endri sudah nyaris muak mendengarnya. Ia mencintai Lesy yang dulu, yang bisa menyenangkan diri, yang bisa menuruti keinginan batinnya. Bukan Lesy yang saat ini begitu manja dan emosian. Jika alasannya karena Niana, baiklah, mungkin sudah waktunya bagi Endri untuk memidahkan Lesy ke apartemen sebelumnya. Toh, tempat itu masih kosong dan sepertinya Lesy tidak akan pernah berniat untuk menjualnya.
"Jawab aku, Mas! Kamu tadi malam berbuat apa saja dengan Mbak Niana?!" ucap Lesy mempertanyakan hal yang sama. "Kamu menginap di rumah orang tuamu, atau kamu memilih tempat lain untuk berduaan dengan dia? Kamu kan sudah berjanji untuk tidak memedulikan dia lagi, Mas! Dan kamu sudah mengaku bahwa aku adalah pemilik hatimu saat ini! Kamu tidak boleh membuat aku stres apalagi sampai meninggalkanku hanya untuk bersenang-senang dengan dia dong, Mas! Itu tidak adil!"
"Lesy!" bentak Endri sampai membuat Lesy tersentak. "Ini baru pertama kalinya aku bersama Niana sejak aku memutuskan untuk bersama kamu. Dan lagi, kami itu masih suami istri. Seandainya kami menginap, bukan sesuatu yang salah, 'kan? Kamu ini lho, baru satu bulan tinggal di sini, kenapa sudah banyak berubah? Kenapa sering emosian dan menganggap serius sesuatu yang sepele?"
"Karena aku mencintaimu kamu, Mas! Karena aku hamil dan aku—"
"Hentikan membawa-bawa kehamilanmu, Lesy. Anak di dalam kandunganmu bukan anak berdosa yang bisa kamu jadikan sebagai tameng secara terus-menerus!"
Mata Lesy mulai berkaca-kaca. "Mas, ka-kamu su-sudah tidak mencintaiku? Ke-kenapa kamu berubah? A-apa karena Mbak Niana juga sudah berubah lebih cantik dari aku? Apa karena tubuhku terlihat lebih besar sampai kamu seperti itu?"
Endri menghela napas, matanya pun turut terpejam dalam beberapa saat. Detik berikutnya, ia membuka matanya lagi lalu tersenyum lebih lembut. "Tidak, Sayang," katanya sembari membelai kepala Lesy. "Aku masih mencintai kamu, tapi tolong! Tolooong sekali, jangan mudah emosi. Kalau kamu seperti ini terus, aku bisa muak denganmu. Dan mungkin aku akan memulangkan kamu ke apartemenmu lagi."
"Mu-muak? Me-memulangkanku? Te-teganya kamu, Mas. Aku begini karena aku takut, Mas. Takut jika kamu berpaling dariku dan kembali pada istri pertamamu. Mau bagaimanapun aku ini cuma istri siri saja. Dan ... dan seperti kata Mbak Niana, a-aku takut jika kamu hanya menjadikanku sebagai rahim pengganti saja, Mas. Se-setelah aku melahirkan bisa saja kamu membuangku, kemudian kamu dan Mbak Niana langsung merebut anakku. Aku takut, Mas, benar-benar takut. I-itu yang membuatku mudah stres dan emosi." Lesy akhirnya menangis.
Endri memicingkan mata yang juga membuat dahinya berkerut. "Apa katamu? Rahim pengganti?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Itulah yang aku dengar dari Mbak Niana."
Lesy memberanikan diri untuk melangkahkan kaki mendekati Endri. Sembari menangis merintih ia mencengkeram pakaian Endri, dan ia tidak peduli jika akan menimbulkan kekusutan di pakaian suaminya itu. Sementara Endri masih terdiam, tetapi tanpa ia sadari salah satu tangannya sudah berangsur mendekap tubuh Lesy. Rahim pengganti? Kalimat yang terdiri dari dua suku kata tersebut sungguh mengganggu pikirannya. Jika seandainya memang benar bahwa Niana yang mengatakan kalimat itu, lantas apa maksud Niana? Bukankah Niana sudah berjanji untuk menghindar saja? Mengapa Niana justru mengatakan perkataan yang membuat Lesy overthinking seperti sekarang?
***
Niana akhirnya tetap berangkat menggunakan mobilnya sendiri setelah mendapati wajah Lesy yang super buruk. Ia sudah kadung lelah setelah melewati malam bersama Endri tanpa kenikmatan, dan justru dengan perasaan jijik serta berbagai kemarahan. Ia lelah untuk bertengkar dan dituding macam-macam, bahkan sekalipun tudingan Lesy benar, ia tetap memutuskan untuk segera berangkat bekerja.
Dan saat ini Niana sudah sampai di perusahaan di mana ia mencari uang. Suasana sudah cukup ramai. Dany juga tidak kelihatan seperti sebelumnya. Mungkin Dany sudah naik duluan. Lagi pula, tak mungkin Dany terus menunggu Niana hanya untuk berbincang di luar urusan pekerjaan. Terlebih lagi, ketika pria itu masih kecewa atas sikap Niana terhadap Dominic yang sengaja diundang.
"Selamat pagi, Bu Niana," ucap seseorang yang sukses membuat Niana terkejut. Seorang wanita yang bernama Kasih sekaligus bawahan paling dekat dengan Niana. Ia membersamai langkah Niana yang begitu cepat.
Niana menatap Kasih secara sekilas sembari terus berjalan. "Selamat pagi juga, Kasih," jawabnya.
"Ah, itu ... tadi ada urusan di luar."
Ya Niana menjawab dengan jujur, karena ia baru check out dari hotel di jam enam. Setelah itu, ia menyantap sarapan bersama Endri di salah satu kedai. Belum lagi ia harus pulang untuk berganti pakaian sekaligus mempersiapkan beberapa barang yang berkaitan dengan pekerjaan, sehingga membuatnya terpaksa harus berangkat lebih siang.
"Bu, Bu Niana tahu tidak?" ucap Kasih lagi.
Niana melangkah ke dalam elevator, diikuti oleh Kasih. Setibanya di dalam ia lantas menatap Kasih dengan durasi lebih lama daripada sebelumnya. "Tahu soal apa, Kasih?" tanyanya.
__ADS_1
"Mm ... itu ...." Kasih menatap Niana dengan ragu-ragu.
"Katakan saja, gosip apa lagi yang mencatut namaku, Kasih? Aku ingin tahu meskipun aku bakal tidak peduli setelah mendengarnya."
"Mm, soal penampilan Bu Niana"
"Penampilanku? Kenapa? Karena lebih memperhatikan penampilan, aku malah jadi terlihat aneh ya?"
"Tidak, tidak!" Kasih menyangkal sembari mengibas-ngibaskan tangannya. "Bukan aneh, lebih tepatnya semakin anggun! Bahkan beberapa karyawan ada yang naksir pada Bu Niana."
"Cih, tidak masuk akal! Katakan gosip yang paling memuakkan saja, seandainya memang ada, Kasih."
Kasih tertawa dengan perasaan kecut. "Tidak masuk akal bagaimana? Bu Niana kan memang cantik, dan semakin cantik saat ini. Mm, so-soal gosip lain, sebenarnya ... ada kaitannya juga dengan Tuan Dany. Belakangan ini tampaknya kalian terlihat bersama, jadi, perubahan penampilan Bu Niana juga dikaitkan pada kedekatan Bu Niana dengan Tuan Dany."
"Apa?" Wajah Niana cukup terperangah. Namun detik berikutnya ia justru tertawa cukup keras, meski kondisi sikapnya tetap anggun dan elegan. "Ada-ada saja! Yang bikin gosip siapa? Tapi, yah, untuk orang yang selalu berpikiran jauh, gosip semacam itu bisa masuk akal sih. Tapi, Kasih, kami itu berteman sejak zaman kuliah! Oke! Jadi, jangan percaya! Dia itu sudah seperti kakak bagiku, pun aku yang sudah seperti adik baginya."
Kasih tersenyum kecut. "Tapi, Bu, Ibu juga harus hati-hati lho. Selama bukan kakak kandung, Ibu bisa jatuh cinta kapan saja. Lagi pula, cinta kan kadang kala berawal dari seringnya bersama."
"Aku sudah menikah, Kasih!"
Niana menggeleng-gelengkan kepala sembari keluar dari elevator itu, dan masih tetap diikuti oleh Kasih. Namun meski tetap menyangkal ucapan Kasih, sebenarnya Niana teringat akan sesuatu. Bukan yang berkaitan dengan Dany, melainkan dengan suaminya sendiri. Mungkin Endri jatuh cinta pada Lesy bukan karena paras Lesy yang cantik atau karena penampilan buruk Niana saja, melainkan juga waktu kebersamaan Endri dengan Lesy memang lebih banyak daripada Endri dengan Niana.
__ADS_1
***