
"Ya ampun, Nyonya! Hari ini saya senang sekali, terima kasih karena sudah dikasih uang jajan lagi! Aaaa! Nyonya Niana memang yang terbaik!" ucap Nur sebelum Niana dan dirinya memasuki mobil milik majikannya tersebut. Saat ini ia tengah menenteng beberapa paperbag yang berisikan barang belanjaan dari salah satu pusat perbelanjaan.
Niana berangsur membuka pintu mobilnya. Namun ia tidak segera masuk, melainkan menatap Nur dan tersenyum. "Masuklah, ayo kita makan malam di restoran yang mewah. Aku sudah lapar sekali, Nur. Aku belum makan dengan baik hari ini," ucapnya.
Sikap hormat bak komandan upacara segera Nur tunjukkan. Detik berikutnya, ia berlari menuju tempat di mana ia akan duduk di dalam mobil itu. Bukan di bagian belakang, melainkan di bagian depan dan akan bersebelahan dengan Niana yang akan menyetir.
Setelah sedikit bertengkar dengan ibunya, Niana memang memutuskan untuk mencari kesibukan yang menyenangkan. Bersama dengan Nur, ia sempat menyambangi sebuah pusat perbelanjaan. Sebagian kecil gaji yang baru ia dapatkan satu minggu yang lalu sudah ia gunakan dalam agenda dadakan tersebut. Masa bodoh. Untuk hari ini saja Niana akan mencoba untuk tidak peduli mengenai tabungan. Lagi pula, ia memang masih membutuhkan banyak barang untuk mempercantik diri.
Saat ini pun Niana sudah mulai melajukan kendaraan pribadinya yang berwarna biru cerah tersebut. Ia berencana untuk mengajak Nur makan malam mewah di salah satu restoran bintang lima. Melakukannya sesekali tentu tak akan menjadi masalah bagi Niana. Anggap saja ia sedang menyenangkan hati Nur yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Nur, aku ingin memiliki rumah itu," celetuk Niana diiringi embusan napasnya yang terdengar kasar. "Aku memang ingin memiliki rumah sendiri, tapi aku tidak bisa melepaskan rumah itu begitu saja."
Nur yang sebelumnya sedang asyik bersenandung kini langsung terdiam. Ia menatap Niana dengan perasaan bingung. "Nyonya, Anda sudah membuat keputusan itu?" tanyanya.
"Bercerai?" sahut Niana lalu menggelengkan kepala. "Belum, tapi akan segera aku percepat, Nur. Tinggal menunggu apakah reaksiku tadi siang benar-benar membuat Endri merasa bersalah dan lantas membawa wanita itu untuk pergi. Bahkan meski rumah itu tak akan aku tempati ketika kami bercerai, aku tetap tidak akan melepaskannya, Nur. Daripada ditinggali oleh wanita itu setelah selama ini aku yang mengurusnya, lebih baik aku menjualnya saja ke orang lain."
Nur mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hal itu tidak perlu sama sekali. Namun ia sangat antusias dengan rencana Niana. Ia betul-betul mendukung majikan dermawannya itu. "Saya akan terus mendukung Nyonya Niana!" ucapnya sembari mengangkat tangan yang sudah terkepal sampai setinggi kepalanya sendiri. "Mari kita hancurkan mereka, Nyonya!"
__ADS_1
"Pft, hahaha!" Niana tertawa lepas. Gadis di sampingnya itu memang lucu. Selalu antusias, tetapi dengan wajah yang begitu lugu. Berkat gadis itu pula, ia sampai bisa tertawa setelah sekian lama dibuat murung oleh keadaannya. "Terima kasih, Nur. Karena kamu selalu membelaku dan juga selalu memahamiku. Percayalah, tidak ada orang yang lebih memahamiku selain dirimu, Nur!"
"Dan tidak ada majikan yang sebaik Nyonya Niana! Saya yang seharusnya sangat berterima kasih pada Nyonya karena terus-terusan memberi bonus pada saya. Bahkan karena Nyonya juga, saya bisa mengirim uang pada kedua orang tua saya di kampung setiap bulan."
Niana mengangguk dan hanya tersenyum saja. Jika sebuah sanjungan, ia selalu memilih memutus pembicaraan. Entah mengapa ia mengambil sikap sedemikian rupa. Ia bahkan tidak terlalu menyadari kebaikannya pada gadis yang selalu menemaninya tersebut.
Lalu, Niana lebih memilih untuk fokus pada perjalanan saja. Ia sudah lapar gara-gara hanya menyantap mie instan tadi siang. Belum lagi, ia harus mencari tempat penginapan karena tidak ingin pulang ke rumah kedua orang tuanya.
***
Meski masih ragu atas dugaannya sendiri, Lesy tetap mencoba untuk meyakini bahwa sepertinya perusahaan Endri memang sudah membaik. Pria itu ingin membuatnya senang setelah belakangan ini memaksanya untuk menahan dahaga belanja tentang barang-barang mewah. Atau bisa jadi, Endri ingin merayakan kehamilan Lesy yang sudah memasuki usia tiga bulan.
"Kalau sudah puas berbelanja, ayo kita makan," ucap Endri sembari membuka pintu mobilnya untuk sang istri kedua. "Kamu mau makan di mana? Aku akan menurutimu, Lesy."
Wajah Lesy semakin cerah. Ia mulai berpikir, mengingat-ingat kembali restoran mewah yang pernah ia kunjungi. "Bintang lima ya!"
"Iya, Sayang. Di mana saja," sahut Endri lalu tersenyum kecut.
__ADS_1
Bagaimana tidak kecut, dalam waktu satu jam, Endri sudah mengeluarkan banyak uang, dan sekarang Lesy ingin memerasnya lagi untuk makan di restoran mahal. Namun, ia tentu juga sadar bahwa dirinyalah yang memberikan kesempatan. Lagi pula, ia juga tidak ingin memberikan makanan sembarangan untuk sang istri kedua yang masih mengandung calon buah hatinya.
"Aku bakal arahin kamu sambil jalan saja, bagaimana, Mas?" ucap Lesy dengan mata yang tetap berbinar gembira.
Endri tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Iya, ayo. Masuk dulu," jawabnya lalu membantu istri keduanya untuk masuk ke dalam mobil, sembari melindungi kepala sang istri agar tidak sampai terantuk atap mobil.
Detik berikutnya, barulah Endri bergegas ke bagian ruang kemudi. Ia berangsur melajukan mobilnya. Dan jujur saja, jantungnya mulai berdebar-debar. Dengan memilih menuruti ucapan Niana, apakah keputusannya itu benar-benar akan tepat untuk ia ambil setelah perjalanan kencan ini berakhir? Endri tidak tahu. Namun ia sudah membayangkan bagaimana Lesy akan memberikan reaksi.
Sudah pasti wanita itu akan marah, kecewa, sekaligus membenci keputusannya. Akan tetapi, Endri membuat keputusan tak semata karena Niana saja, melainkan juga Lesy dan sang calon buah hati yang mungkin akan lebih nyaman ketika berada di apartemen sendiri. Endri berharap rencananya ini bisa terpenuhi, agar setidaknya hubungannya dengan kedua istrinya menjadi lebih baik daripada yang terjadi saat ini.
"Mas, aku benar-benar bahagia saat ini. Aku senang karena kamu kembali seperti dulu lagi, Mas," ucap Lesy sembari menyentuh pangkuan sang suami. "Jangan pernah berubah lagi ya, Mas?" Ia menatap Endri penuh harap.
Endri mengangguk pelan. "Tidak kok, tidak akan. Dan aku harap kamu juga bisa lebih sabar ya, Sayang. Sekaligus semakin menurut padaku sebagai suamimu."
Lesy agak ragu dalam menjawab. Namun ia tetap mengangguk dan berkata, "Iya, Mas. Tentu saja, aku akan berusaha kok!
***
__ADS_1