First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 9-Penawaran Sederhana Dari Dany


__ADS_3

Hari sudah semakin sore dan akhirnya jam kerja berakhir begitu saja. Namun Niana masih duduk di tempat kerjanya dengan berbagai berkas lamaran dari calon-calon karyawan baru. Ia terduduk diam dan mengabaikan semua berkas itu. Kepalanya tertunduk, tangannya sibuk memainkan bolpoin. Dan tak diragukan lagi, bahwa kondisi hati serta pikirannya masih kacau-balau. Ia tidak siap untuk bertemu Endri yang sudah menaruh luka hingga menciptakan bara api yang begitu besar di dalam dirinya.


Sayangnya, dalam waktu yang bersamaan ketika kemarahan mulai menguar, Niana pun masih menyadari perasaan cintanya terhadap suaminya itu. Kenangan indah masa silam kerap bermunculan membuat benaknya nyaris seperti benang kusut. Kenangan indah yang membuatnya bersedih sekaligus merindu. Dalam kondisi yang sudah sepelik ini pun dirinya masih mengharapkan perputaran waktu, agar setidaknya ia mampu memperbaiki apa yang salah di dalam dirinya sampai Endri begitu tega mengkhianati cintanya.


Niana menghela napas dalam-dalam. Ia mencoba untuk tetap tenang di keadaan yang membuat psikisnya berantakan. Ketika ia mulai membuka matanya yang sempat terpejam, sebuah panggilan masuk membuat ponsel di atas meja kerjanya menjadi bergetar. Lantas Niana menatap layar dari benda pintu itu. Tertera tulisan 'Suamiku' yang diiringi emoticon hati, menunjukkan bahwa Niana memang selalu mencintai sosok Endri.


"Kenapa dia menghubungiku?" gumam Niana lalu menelan saliva dengan susah-payah. Tangannya yang mulai gemetar berangsur meraih ponsel tersebut. Meski ragu dan serasa enggan, pada akhirnya ia tetap menerima panggilan dari sang suami. Dan ia lantas menempelkan layar ponselnya di telinga sebelah kanan.


"Ya, Mas. Ada apa?" ucap Niana sebagai sambutan pertama.


"Niana, kata Nur kamu belum pulang. Apa kamu masih di kantor?" tanya Endri dari kejauhan dan Niana tidak tahu pria itu ada di mana. "Kamu ada lembur?"


Bisa-bisanya lelaki jahat ini mempertanyakan sesuatu yang seharusnya dia ketahui. Aku tahu dia bukan orang yang sangat peka, tapi setelah menyakitiku, apa dia benar-benar tidak memperhitungkan segala luka yang aku terima? Batin Niana. Kesal dan marah, membuat gemuruh nyala api di dalam dirinya semakin membesar. Telinga, wajah, hingga tengkuknya bahkan sudah mulai menghangat. Bukan karena malu, melainkan sedang beramarah.


Niana menghela napas dalam-dalam, tetapi sangat pelan. Matanya sampai turut terpejam, dan ketika sudah mulai tenang, ia membuka matanya lagi. "Ya, aku masih di kantor, Mas," jawabnya setelah itu. "Ada apa?"


"Aku di depan gedung kantormu, Niana. Kamu tidak perlu naik taksi lagi, aku akan menunggumu di sini sampai kamu selesai bekerja."


"Apa?"


Niana sungguh tidak menyangka. Mengapa pula Endri bersikap sok baik? Padahal selama ini, Endri jarang sekali datang untuk menjemput dirinya. Endri hanya menambah uang bulanan Niana untuk ongkos taksi ketika pulang kerja, atau bahkan ketika hendak berangkat. Memang benar kesibukan Endri jauh lebih parah daripada kesibukan yang selalu menahan Niana untuk berlama-lama di dalam pekerjaannya. Namun rasanya tetap aneh dan seolah disengaja, ketika Endri mendadak muncul seperti ini.


"Niana?" ucap Endri ketika Niana tak kunjung memberikan jawaban.


Niana menghela napas. "Baiklah, aku akan segera keluar, Mas. Lima menit yang lalu pekerjaanku sudah selesai. Dan terima kasih sudah menjemputku."

__ADS_1


"Tak perlu berterima kasih, Niana, mau bagaimanapun aku masih suamimu."


"Yah, baiklah. Tunggu sebentar ...."


Niana menurunkan ponsel itu dari samping telinganya dan menekan tombol untuk mematikan panggilan. Rasa herannya terhadap keberadaan Endri kembali meradang di dalam dirinya. Ia sama sekali tidak yakin jika niat Endri untuk datang menjemputnya didasari oleh rasa bersalah. Perasaan Niana tidak enak dan ia menduga bahwa dirinya akan menghadapi sesuatu yang jauh lebih parah.


Namun, meski enggan dan rasanya ingin menghindar, Niana tetap harus bangkit. Ia sudah menyusun rencana dan bahkan sudah berhasil mendapatkan bantuan dari Dany. Demi tidak semakin menggila, ia akan menuntaskan semua ini. Keadilan untuk dirinya yang terluka harus ia dapatkan sebelum memutuskan untuk melarikan diri.


Detik berikutnya, Niana berangsur bangkit dari duduknya. Ia memasukkan semua berkas yang sudah ia tumpuk rapi ke dalam tas jinjing berukuran agak besar. Kemudian ia berjalan untuk menuju pintu keluar dari ruang kerjanya yang sudah kosong itu.


"Niana!"


Seruan seseorang menyambut keluarnya Niana dari ruangan tersebut. Sosok Dany muncul dari sebuah elevator yang memang tidak jauh dari sana. Kemungkinan besar, Dany baru saja turun dari ruangan CEO yang berada di lantai atas. Kini, Dany berjalan ke arah Niana yang sudah terpaku diam sembari menatap keberadaannya.


"Sudah kuduga, kamu pasti belum pulang," ucap Dany setibanya di hadapan Niana. "Mau aku antar?"


Dahi Dany lantas berkerut sama. "Siapa? Endri?"


"Ya, memang dia."


"Kamu tak ingin mengerjainya saja?"


"Mm?" Kali ini Niana yang mengerutkan kening. "Mengerjainya?"


"Kamu bisa membuatnya menunggumu selama berjam-jam di sana."

__ADS_1


"Aah, itu tidak mungkin. Aku sendiri bisa jenuh di dalam kantor apalagi jika sendirian."


"Ada aku bersamamu, Niana."


"Kamu hanya akan memintaku untuk terus bekerja, bukan?"


"Hahaha!" Dany tergelak. "Tentu saja tidak! Kita bisa menonton film di ruang rapat. Lalu memesan makanan secara daring."


"Sudahlah," sahut Niana dengan ekspresi meremehkan ide Dany. "Aku tidak ingin melakukan hal-hal yang kurang penting. Sebaiknya, aku lekas turun saja. Aku tidak ingin membuat dia curiga dengan bersikap lebih berbeda daripada sebelum-sebelumnya."


Niana tersenyum secara terpaksa. Detik berikutnya, ia merundukkan tubuhnya di hadapan Dany seolah dirinya memang sangat menghormati teman yang sekaligus atasannya tersebut. Dan pada akhirnya, Niana mulai mengambil langkah untuk melanjutkan tujuan awalnya.


Dany menelan saliva dengan susah-payah. Tatapan matanya terus terarah pada punggung Niana yang semakin menjauh darinya. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Setelah sekian lama, akhirnya ia dan Niana bisa mengobrol lagi seperti sedia kala. Dan Dany tidak mau momen pertama setelah sekian lama itu langsung berakhir hari ini.


Cepat, Dany mengejar Niana. Ia menangkap lengan Niana sebelum wanita itu berhasil memasuki elevator.


"Hei! Apa yang kamu lakukan? Ini masih di kantor dan jika ada orang yang tahu, kamu bisa terlibat gosip yang tidak jelas bersamaku, Dany!" ucap Niana memperingatkan.


Helaan napas mengiringi sikap Dany yang berangsur melepaskan lengan Niana. "Aku akan mengantarmu sampai ke Endri."


"Tidak boleh! Aku khawatir kamu akan memukulinya, apalagi ketika rencanaku belum berhasil."


"Tidak, Niana. Aku tidak segegabah itu. Aku hanya ingin menamparnya dengan kenyataan bahwa kita berdua masih memiliki kedekatan sebagai sepasang sahabat. Tapi di matanya, kedekatan kita pasti dianggap sebagai kedekatan yang tak pantas. Bukankah kamu ingin memastikan apakah Endri masih bisa cemburu ketika kamu dekat dengan pria selain dirinya, Niana?"


Niana terdiam selebihnya menelan saliva. Ia juga tengah menatap Dany sementara di dalam benaknya tengah mempertimbangkan ide yang pria itu katakan. Membuat Endri cemburu? Apakah Niana memang harus melakukannya? Jika berhasil, mungkin ia akan senang.

__ADS_1


Namun jika ternyata Endri justru bersikap biasa saja, lantas apa yang akan terjadi pada Niana? Bukankah luka hati Niana akan semakin membesar? Akan tetapi, ... mengapa pula penawaran Dany cukup bikin penasaran?


***


__ADS_2