
"Alaaaah!" Dany yang hendak keluar dari apartemennya justru mendapati sosok yang paling menyebalkan seantero jagat raya.
"Pagi, Adik tampanku yang manis sekaligus yang jomblo sejak lahir!" Sosok itu akhirnya bersuara. Sosok yang pastinya sudah tidak asing lagi di layar kaca. Aktris kenamaan yang tetap populer di usia 35 tahun, Arsyita Darmawangsa, kakak Dany satu-satunya. "Aku membawakan sarapan untuk kamu! Mari makan dulu, Sayangku!"
Dany memasang ekspresi kesal. Ia pun tahu Arsyita tak mungkin datang secara tiba-tiba dan sampai bersikap seheboh itu jika tidak ada maunya. Pasti berkaitan dengan sponsor untuk sebuah film. Memangnya apa lagi yang Arsyita inginkan selain dukungan Dany sebagai pengusaha berkasta tinggi dan turut tersohor karena menjadi adiknya, selain fakta pertama tentang memiliki paras yang tampan?
"Aku mau berangkat, Syit!" ucap Dany menentang.
"Huh! Jangan panggil aku Syit, kedengarannya kamu sedang mengumpat padaku, Dik! Sudahlah ayo makan dulu, lagi pula kamu kan pimpinannya, telat sedikit tidak masalah kali! Aku tahu kamu pasti belum sarapan!"
Arsyita langsung mencengkeram lengan Dany dan menyeret adiknya itu untuk kembali masuk ke dalam apartemen. Sembari terus menghela napas panjang, Dany terpaksa mengikuti kakaknya itu. Apalagi saat dirinya merasa enggan untuk berangkat ke kantor, sepertinya akan lebih bagus kalau datang sedikit terlambat. Ia hanya tinggal menghubungi Brian saja.
Setibanya di apartemen bagian ruang tamu, Arsyita langsung melepaskan cengkeramannya dari tangan Dany. Detik berikutnya, ia bergegas untuk ke dapur demi mencari peralatan makan serta air mineral. Setelah itu ia berjalan untuk ke ruang tamu lagi dengan membawa semua benda tersebut, di mana adiknya pun sudah duduk-duduk malas di salah satu sofa.
"Kakak mau meminta apa lagi memangnya? Mau minta aku untuk mensponsori project Kakak lagi?" tanya Dany tanpa banyak basa-basi.
"Mm, makan dulu deh! Aku juga lapar! Aku membeli nasi uduk kesukaanmu waktu kecil tahu!" ucap Arsyita.
Dany menghela napas. "Sekarang pun aku masih suka makanan itu, Kakak tidak tahu?"
"Tahu! Makanya aku membelinya untukmu, Dik!" Arsyita meletakkan sepiring nasi uduk di hadapan Dany. "Tapi, kamu kan sudah memimpin perusahaan besar. Kamu pasti jarang beli makanan seperti ini lagi."
"Aku masih kerap membelinya kok. Kakak tidak tahu juga?"
Arsyita mendecapkan lidah. Ia duduk di kursi sofa yang lain dengan memasang ekspresi masam. "Sudah sejauh ini, tapi kamu masih tampak kesal karena dulu aku kerap meninggalkanmu demi karierku ya, Dan?"
"Iyalah!" sahut Dany cepat. "Kakak justru bersenang-senang dan aku disuruh di rumah ketika Ayah dan Ibu terus bertengkar. Kakak macam apa Anda ini, hah?!"
"Aih! Menyebalkan! Sudah dibawakan makanan juga!"
"Aku tidak memintanya!"
"Dany!"
__ADS_1
"Apa maumu, Syit?!"
Arsyita rasanya ingin berteriak lebih keras lagi. Namun apa daya, saat ini ia sedang membutuhkan Dany. Ia tidak mungkin bersikap keras kepala dan terus menyahuti rengekan adiknya yang masih menyimpan dendam padanya itu. Salahnya sendiri terus mengabaikan Dany selama ini dan lebih memilih sibuk sendiri.
Namun meski tidak menyangkal kesalahannya, sejujurnya Arsyita juga menginginkan sebuah pengertian. Pada saat itu ia sama kecilnya dengan Dany. Usianya baru lima belas tahun dan sudah harus menonton pertengkaran kedua orang tuanya. Ia yang muak memutuskan untuk menerima tawaran dari salah satu manajemen artis dan mulai menjajal dunia akting. Dan tentu saja ia menjadi lebih abai pada Dany.
"Dany?" ucap Arsyita dengan lebih lembut. Matanya menatap sang asik dengan sorot berbinar bak mata kucing yang meminta makanan. "Bisakah kamu mensponsori filmku lagi? Bisa, ya?!"
"Tidak mau!" sahut Dany cepat dan langsung menyantap satu sendok nasi uduk tersebut. "Tak ada untungnya bagiku."
"Ih, kamu kan bisa semakin terkenal!"
"Aku tidak berniat untuk terkenal."
"Kalau begitu, perusahaanmu bisa semakin besar."
"Perusahaanku sudah besar."
"Dany!"
"Bantu aku, ya? Ya?! Please ... jika dananya kurang, film fantasi yang jarang diproduksi bakal dibatalkan produksinya tahu! Aku ingin memerankan karakter utamanya. Naskahnya bagus, dan dijamin bombastis nantinya!"
"Iya, aku percaya. Tapi tetap tidak ada untungnya bagiku, Kak."
Ekspresi di wajah Arsyita kembali masam. Rasanya ingin mengumpat, atau bahkan menampar mulut adiknya yang terkesan enteng tetapi bikin sakit. Sayangnya, jika ia bertindak demikian, yang ada Dany akan terus bersikap menyebalkan. Akan fatal jadinya, jika Dany sudah benar-benar tidak bisa dibujuk. Sepertinya Arsyita harus berusaha lebih keras lagi.
"Ah! Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" tanya Arsyita. Matanya kembali berbinar penuh harapan. "Aku akan membantumu."
Dany menelan makanan di dalam rahangnya. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Dan tidak ada yang perlu kita sepakati," jawabnya masih acuh tak acuh.
"Dengarkan aku dulu!" Arsyita sedikit berteriak. "Aku akan mendekatkan kamu dengannya."
Saat ini dahi Dany mulai berkerut samar. Tanda tanya besar pun mulai muncul di benaknya. "Dengannya siapa maksud Kakak?"
__ADS_1
"Cewek itu lho!"
"Cewek? Siapa?"
"Halah! Jangan pura-pura begitu, Dik! Aku tahu kok! Kalau tidak salah dua hari yang lalu, kamu bersama seorang wanita sampai malam hari di salah satu restoran, 'kan? Kamu sedang PDKT dengan wanita itu, 'kan?"
"Hah? Sudah gila ya? Sampai mengarang seperti itu?" Dany mendecapkan lidah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak ada wanita di hidupku. Kalaupun bersama di restoran, mungkin dengan Niana, temanku. Sebelum itu pun ada teman-temanku yang lain. Lagi pula, Niana sudah menikah. Jadi jangan ngaco, Syita!"
"Ah, sudah menikah toh! Tapi ... memangnya kenapa kalau sudah menikah? Selama kalian masih hidup, kamu bisa mendapatkan dia lho, Dan! Aku akan membantumu untuk merebutnya dari suaminya!"
"Sudah gila ya?!"
Dany mulai kesal dengan ide gila Arsyita yang semakin ada-ada saja hanya demi mendapatkan persetujuan soal sponsor darinya. Sepertinya, Arsyita memang begitu menginginkan project tersebut. Dany akui semua project film yang Arsyita pilih sebagai salah satu pemeran, baik pemeran pertama atau hanya pemeran pendukung penting, cukup bagus dan pantas untuk dinikmati.
Kakak satu-satunya dari Dany itu terlihat begitu teliti dalam memilih setiap tawaran yang masuk, bahkan meski terkadang bukan sebagai pemeran pertama. Arsyita akan mengambil apa pun perannya yang penting memiliki dampak besar dalam project yang ia kerjakan. Bahkan meski harus memerankan tokoh antagonis, asalkan karakternya menarik, Arsyita akan mengambil.
"Dan lagi, memangnya Kakak ingin seperti Ayah dan Ibu yang begitu tenang serta menghalalkan sebuah perselingkuhan? Kakak tidak segila itu, 'kan?" ucap Dany. "Apa jangan-jangan Kakak sudah menjadi selingkuhan pejabat?"
"Enak saja!" tukas Arsyita begitu cepat. "Aku tahu betul bagaimana sakitnya kita ketika memiliki orang tua yang keduanya suka berselingkuh. Jadi, aku tidak akan melakukannya sama sekali. Soal project saja selalu aku pilih dengan teliti, apalagi pacar!"
"Nah itu tahu! Kenapa malah mau membantuku untuk merebut wanita itu dari suaminya? Walaupun itu hanya ide Kakak untuk membuatku setuju, tetap saja salah. Misalnya aku setuju, apa Kakak akan benar-benar melakukannya?"
"Mungkin ...," jawab Arsyita pelan dan ragu-ragu.
Namun Dany tetap bisa mendengar. "Apa?!" ucapnya.
"Jika hal itu yang akan membuatmu mau menjalin hubungan dan bahkan menikah, aku akan melakukannya. Aku akan membantumu merebut wanita itu dari suaminya, tapi kamu harus menikahinya. Kamu kan sampai saat ini selalu menutup hati pada wanita mana pun. Semua gara-gara Ayah dan Ibu, termasuk aku yang mengabaikanmu. Bahkan meski aku sendiri belum menikah, aku tidak se-fobia dirimu untuk menjalin hubungan, Dan. Aku takut kamu menua sendirian. Dan aku tidak mau menikah jika kamu belum terlihat memiliki pasangan. Karena jika aku bahagia sendirian lagi, kamu pasti akan terluka seperti saat itu."
Dany terdiam. Aktivitasnya dalam menyantap makanan juga terhenti. Ia ingin berpikir bahwa Arsyita mungkin hanya sedang menipunya demi persetujuan soal apa yang Arsyita minta. Namun paras Arsyita menunjukkan sebuah keseriusan yang tidak boleh Dany anggap main-main. Dan lagi, sampai saat ini Arsyita memang masih sendiri, padahal gosip Arsyita sedang menjalin hubungan kerap menjadi sajian utama di layar kaca.
Mungkinkah memang benar jika Arsyita menunda keinginan untuk menikah hanya karena Dany yang begitu fobia dalam menjalin hubungan asmara?
***
__ADS_1