
Tadi siang, Niana sudah mendengar semua kisah hidup Dany yang selalu menjadi misteri selama ini. Ia pun juga sudah menceritakan perbincangannya dengan Endri, meski Dany berakhir menertawainya. Dan waktu begitu cepat dalam berlalu. Jam pulang sudah tiba. Namun Niana masih berada di dalam mobilnya. Ia tidak akan pulang ke rumah Endri, dan saat ini ia kebingungan. Haruskah ia pulang ke rumah kedua orang tuanya?
Meski sudah yakin bahwa rencananya dalam menumbuhkan rasa bersalah di hati Endri akan berhasil, Niana masih memikirkan kemungkinan Endri dan Lesy akan memiliki waktu manis bersama dengan menyenangkan tanpa dirinya.
Niana menghela napas. "Tak masalah. Lagi pula, ada aku di rumah atau tidak, mereka tetap akan tidur bersama. Untuk apa aku marah? Tidur dengan Endri pun sudah tidak sanggup untuk aku lakukan," gumamnya setelah itu.
"Baiknya aku memang harus pulang ke rumah Ayah Ibu dan mengatakan kalau Endri sedang keluar kota jika mereka bertanya," lanjut Niana yang akhirnya sudah membuat keputusan.
Detik berikutnya, Niana langsung melajukan mobilnya. Mungkin ia tidak ingin segera tiba, tetapi ia juga tidak mungkin berada di basemen itu terlalu lama. Atau mungkin ia bisa berubah pikiran ketika melihat sebuah kafe di pinggir jalan. Karena dalam kekalutan seperti ini, akan lebih bagus jika dirinya tetap sendiri.
Sementara itu, Dany masih berada di kantornya kendati seluruh ruangan di perusahaannya sudah sepi. Dan Niana mungkin juga sudah keluar dari gedung perusahaannya itu. Namun Dany justru memilih berdiam diri terlebih dahulu. Sama sekali tidak ada rasa takut walaupun sebentar lagi malam akan segera tiba. Ruang kerja memang kadang kala menjadi tempat penginapan bagi Dany yang kerap memiliki banyak pekerjaan.
Namun untuk saat ini bukan pekerjaan yang membuat Dany memutuskan untuk tinggal lebih lama di tempat itu. Ia justru terdiam dengan kedua tangan yang terlipat ke depan, punggungnya pun tersandar di sandaran kursi kerjanya, kepalanya tertunduk, dan matanya menatap ke arah lantai marmer hitam bercorak gurat emas yang ia pijaki saat ini. Benak Dany terisi oleh bayangan wajah Niana. Dan sungguh hal itu benar-benar aneh karena bisa terjadi pada dirinya.
Bagaimana bisa? Nyatanya Niana memang begitu cantik dan bagi Dany, Niana adalah wanita yang imut. Bukan hal asing lagi di matanya mengenai paras menawan yang dimiliki oleh wanita itu. Namun mengapa saat ini Dany justru kepikiran? Apakah ia memang kepikiran wajah Niana atau justru sekadar tangisan Niana saja? Sebab, wanita itu jarang menitikkan air mata karena dirinya dan justru kerap menangis gara-gara pria lain. Oh, ataukah mungkin karena Niana adalah wanita pertama yang bertandang ke tempat tinggalnya?
"Aaaarrrggg! Aku tidak tahu! Perasaan yang aneh ini cuma bikin sesak dan menyebalkan! Seharusnya aku tidak memikirkan keanehan yang terjadi pada diriku, dan lebih baik mendampingi Niana sebagai seorang teman sekaligus kakak yang baik saja!" ucap Dany yang sudah sangat geregetan dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dany tidak mau keanehan yang terjadi pada dirinya justru membuat hubungan pertemanannya dengan Niana menjadi rusak!
***
"Dom!" seru Arsyita saat melihat Dominic baru keluar dari salah satu studio milik sebuah stasiun televisi. Ketika Dominic menatapnya, ia langsung berlari menuju ke arah pria itu.
Dominic tersenyum singkat, lalu menghela napas. Ia senang bisa bertemu Arsyita, tetapi rasa senangnya akan berubah menjadi malas jika Arsyita kembali menginginkan project yang begitu sulit. Apalagi jika wanita itu sampai membujuknya untuk memproduseri sebuah naskah untuk dijadikan film dengan dana yang cukup besar. Dominic memang kagum pada Arsyita yang tidak hanya sekadar seorang aktris, melainkan juga pandai menilai naskah yang bagus. Namun Arsyita akan menjadi pengganggu baginya ketika Arsyita memutuskan untuk datang padanya setelah Dany tidak bersedia memberikan bantuan.
Belum lama ini, Dominic sempat mendengar jika film yang akan dibintangi oleh Arsyita akan diundur tanggal produksinya karena alasan kekurangan dana. Bisa jadi, Arsyita akan merecokinya karena hal itu.
"Hai, Kak! Aku tidak tahu kamu ada di sini. Sebagai bintang tamu talkshow ya?" tanya Dominic berlagak tidak tahu sesaat setelah Arsyita menghentikan langkah di hadapannya.
"Iya, Kak. Mohon do'anya saja dan jangan lupa untuk menonton, sebab pemeran utamanya adalah mantan pacar Kakak!"
"Untuk itu aku tidak akan menonton, bahkan meski kamu memaksaku. Dia lelaki jahat, kenapa pula kamu menjadikannya pemeran utama? Huh!" Arsyita melipat kedua tangannya ke depan dan wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.
Dominic tersenyum. "Aku hanya bersikap profesional. Kejahatan yang dia lakukan pada Kakak juga tidak menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Dia aktor berbakat dan begitu pas untuk peran utama di project kami."
__ADS_1
"Ah iya deh iya!" Meski masih kesal, Arsyita sadar dirinya sudah tidak bisa menyangkal. "Mm ... malam ini kamu punya waktu tidak?"
Dahi Dominic berkerut samar. "Kakak mau mengajakku berkencan? Ada sih, tapi maaf, Kakak ketuaan bagiku."
"Oh astaga! Kamu sama jahatnya dengan lelaki jahat itu, Dom! Lagi pula kamu juga bukan tipikal pria idamanku yang pantas diajak kencan kok! Huh!"
Dominic tertawa kecil. "Maaf, Kak, maaf. Hanya bercanda."
"Huh! Menyebalkan sekali! Aku ingin mengajak kamu makan malam dan aku juga akan membawa manajerku. Jadi, ajakanku itu pastinya bukan sebuah ajakan kencan. Saat ini aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbincang dengan kamu, Dom. Jadi, aku ingin kamu meluangkan sedikit waktumu nanti malam. Ada yang ingin aku bicarakan. Tapi tenang saja, bukan masalah yang berkaitan dengan dana produksi kok, melainkan soal Dany, Dom."
"Ooh ... o-oke. Aku pasti akan datang, Kak." Dominic agak terkejut karena pembahasan yang ingin Arsyita sampaikan padanya adalah mengenai Dany. "Mm, sepertinya aku bisa datang di jam tujuh malam. Silakan Kakak yang menentukan tempat dan kirim alamat temannya melalui pesan padaku, Kak."
Arsyita mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terima kasih, Dom. Baiklah kalau begitu, aku harus pergi. Aku masih punya jadwal syuting ke tempat lain. Sampai jumpa nanti malam."
"Baik, Kak. Kabari saja nanti kalau sudah menentukan tempatnya."
Arsyita tersenyum. Kemudian ia segera mengambil langkah ke arah manajernya yang sudah melambaikan tangan padanya. Ia meninggalkan Dominic. Harapannya adalah semoga pertemuan nanti malam bisa benar-benar bisa terjadi. Ia ingin membicarakan soal Dany sekaligus wanita yang bersama Dany di malam itu, yang seingat Arsyita wanita itu bernama Niana. Barang kali, Dominic memiliki informasi tentang Niana. Toh, Dominic juga sempat berada di restoran itu saat Arsyita baru tiba di sana lima menit sebelum Dominic menghilang.
__ADS_1
Niana. Jika wanita itu benar-benar bisa membuat Dany jatuh cinta, Arsyita akan turun tangan untuk membujuk Niana agar bersedia menerima cinta dari adiknya. Setidaknya, Arsyita harus mencari informasi terlebih dahulu. Barang kali, hubungan Niana dengan sang suami sedang mengalami guncangan saat ini. Sebab tak mungkin bagi seorang istri begitu bebas bertemu dengan pria lain, di saat masih memiliki suami, kecuali jika ada sesuatu yang tidak beres di pernikahan mereka. Arsyita tahu betul gejala-gejala kerenggangan sebuah rumah tangga, karena kedua orang tuanya memiliki hubungan yang sudah hancur lebur.
***