
Sepertinya janjinya pada Endri, Niana memutuskan untuk tidak lagi makan bersama. Selepas selesai memasak bersama Nur, ia langsung menyantap sarapan paginya bersama asisten rumah tangganya itu, bahkan meski masih jam enam pagi. Namun tak lagi masalah di jam sedini itu sudah mengisi perut, daripada harus satu meja dengan sang wanita hamil yang menyebalkan. Karena keadaan kehamilan Lesy pulalah, Niana masih harus menahan dirinya untuk melakukan serangan. Setidaknya ia masih memiliki hati nurani untuk tidak membuat bayi tak berdosa menjadi celaka.
"Yah, hari ini Nyonya sudah mulai bekerja lagi, jadi saya harus berada di rumah dengan wanita itu saja. Umm ... sepertinya saya akan tetap disuruh-suruh deh, Nyonya," celetuk Nur yang sejak tadi malam sudah merasa resah karena lagi-lagi ia akan ditinggalkan bersama sang perebut suami orang.
Niana menatap Nur lalu tersenyum tipis. "Pergilah keluar atau setidaknya jangan keluar dari kamar, Nur. Jangan mau disuruh-suruh karena kali ini aku sendiri yang membayarmu, bukan dia," jawabnya.
"Nyonya, Nyonya itu tegar sekali tahu! Saya saja kerap emosi kalau melihat wajahnya."
"Aku bukannya tegar, Nur. Tapi aku memang harus bersabar untuk sesuatu yang lebih besar."
"Saya berharap keinginan Nyonya bisa terlaksana dan berhasil."
Sekali lagi, Niana mengulas senyuman. Namun tidak ada lagi suatu perkataan. Ia memutuskan untuk segera menyantap makanan, sebelum seseorang datang dan merusak selera makannya. Ia tidak mau lagi mengosongkan perut terlalu lama seperti saat dirinya baru saja mendengar pengakuan gila dari suaminya. Apalagi saat ini tubuhnya terasa semakin ringan, itu artinya ia lebih kurus daripada sebelumnya. Lagi pula, untuk mencapai tujuannya, ia memerlukan banyak tenaga.
"Ah, sudah selesai, kenyang sekali. Tampaknya aku terlalu kalap dalam menyantap sarapan, Nur," ucap Niana beberapa saat kemudian. Ia meraih segelas air putih dan meneguknya secara perlahan. Detik berikutnya, ia lantas berdiri lalu berkata lagi, "Aku mau langsung berangkat, Nur. Di hari Senin biasanya aku lebih sibuk. Aku harus mengurus beberapa pekerjaanku sebelumnya. Lagi pula aku tidak mau terjebak macet. Biasanya sampai jam delapan pun masih saja macet."
Nur yang juga sudah selesai dalam bersantap turut membangkitkan dirinya. "Baik, Nyonya. Yang penting Nyonya hati-hati di jalan," katanya.
__ADS_1
"Tentu saja, Nur. Terima kasih."
Tugas membereskan peralatan makan yang kotor, tentu saja Nur yang akan melakukannya. Karena tak semua kegiatan dapur Niana turut ikut campur. Lagi pula, ia harus bekerja. Ia pun segera meninggalkan dapur sekaligus ruang makan yang masih satu area itu.
Sesaat setelah keluar dari ruangan tersebut, Niana menghentikan langkah kakinya ketika merasa ada sepasang mata yang mengawasinya. Detik berikutnya, ia mendongakkan kepala. Kemudian, sesosok wanita yang mengenakan gaun piyama putih tengah berada di lantai dua dan sibuk menatap Niana. Tidak lain dan tidak bukan adalah Lesy, yang mungkin baru saja membuka mata.
"Kenapa Mbak Niana melihatku sampai seperti itu? Mbak sedang membayangkan tentang kegiatan yang aku dan Mas Endri lakukan tadi malam, ya? Oh atau jangan-jangan Mbak sudah merindukan pelukan Mas Endri?" ucap Lesy pada Niana.
Niana tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu ia tidak akan tinggal diam ketika dianggap sedemikian rupa. Terlebih lagi ketika Lesy sudah mengatakan omong kosong. Kenyataannya Niana tidak merindukan pelukan Endri, ia justru tidak ingin terlibat adegan ranjang dengan suaminya itu lagi.
"Kenapa saya harus merindukan Mas Endri, Nona Lesy?" ucap Niana ketika dirinya sudah tiba di lantai dua. Jarak antara dirinya dan keberadaan Lesy kurang lebih tiga meter panjangnya. Matanya pun sudah menatap istri kedua dari suaminya itu. Ia tidak tahu Endri ada di mana, mungkin masih tidur atau sedang sibuk di kamar mandi.
Lesy yang awalnya tampak meremehkan kini justru memasang ekspresi masam dan penuh kebencian. Lagi-lagi ia gagal membuat Niana tertekan. Rupanya istri pertama suaminya itu memang jauh lebih tegar daripada yang ia duga sebelumnya.
"Apa Mbak Niana sama sekali tidak memiliki rasa cemburu? Bahkan ketika tinggal satu rumah dengan diriku yang lebih dipilih oleh Mas Endri, Mbak sama sekali tidak terlihat keberatan. Apa Mbak sudah tidak punya hati sama sekali? Apa Mbak Niana memang tidak pernah mencintai Mas Endri? Jujur saja, Mbak, jangan berbohong. Kalau memang tidak pernah mencintai Mas Endri, seharusnya Mbak pergi saja!" ucap Lesy ingin memastikan.
Niana menghela napas. Ia berangsur melangkahkan kakinya untuk mendekati Lesy. Dan ketika jarak antara dirinya dan Lesy hanya berkisar satu meter, ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya lagi. Kedua tangannya terlipat. Postur tubuh serta ekspresi wajahnya menunjukkan ketangguhan sekaligus keangkuhan. Niana tidak akan membiarkan Lesy berhasil dalam mendominasi keadaan.
__ADS_1
"Cinta dong! Kami kan pacaran selama dua tahun, dan menikah pun selama dua tahun. Keberadaan Nona Lesy justru membuat saya sadar bahwa Mas Endri hanya bosan karena saya tidak bisa berdandan. Dan mulai sekarang saya akan mengubah penampilan. Sssttt ... ini rahasia, tapi tabungan saya banyak lho! Jadi, saya bisa banyak belanja dan perawatan! Saya kan juga punya gaji pribadi yang bernilai besar!" Niana tersenyum semringah.
"Saya pun sudah tidak lagi memikirkan soal punya anak. Toh, tanpa saya hamil pun, Mas Endri sudah bisa punya anak dari Nona Lesy. Saya akan tetap cantik dengan tubuh bugar tanpa merasa mual apalagi lemah. Terima kasih karena Nona sudah mengorbankan diri sebagai rahim pengganti, dan memberikan kesempatan agar saya bisa menjadi lebih cantik lagi. Ah, kalau tidak bisa menjaga kondisi, nanti tubuh Nona akan mulai gemuk, kusam, serta mudah sakit-sakitan lho. Kan Mas Endri menyukai Nona karena cantik, ah! Tapi tenang saja, saya yang akan menggantikan Nona untuk menjadi wanita cantik bagi suami kita, anggap saja sebagai balas budi saya terhadap Nona yang sudah bersedia menjadi rahim pengganti untuk saya," lanjut Niana.
Kedua telapak tangan Lesy mengepal erat. Urat-urat hijau pun mulai bermunculan di wajahnya, bahkan rona merah karena amarah sudah menyebar hingga tengkuknya. Lagi-lagi Niana membuat dirinya jengkel. Senyuman Niana yang sinis dan menyebalkan itu, rasanya ingin ia lempar menggunakan batu besar.
"Jangan memasang ekspresi seperti itu, apalagi sampai marah dan banyak pikiran. Nona Lesy harus tetap menjaga kandungan Nona yang lemah, bukan? Jika sampai kenapa-napa, Mas Endri bisa kecewa lho!" Niana berucap lagi. "Oh ya! Soal tadi malam ya? Memangnya apa yang Anda lakukan dengan Mas Endri? Kata Mas Endri, Nona Lesy kan mual-mual lagi. Mm, sebenarnya tadi malam kami sedikit berbincang. Setelah pulang dari restoran mahal, ternyata Mas Endri sudah menunggu saya dan bahkan bersedia membukakan gerbang untuk saya dan mobil saya. Lagi pula, kalau kandungan Nona lemah mana mungkin Mas Endri berani menyentuh Nona? Ih! Ada-ada saja Nona Lesy kalau bercanda. Hahaha!"
Tawa Niana mengiringi langkahnya untuk pergi dari hadapan Lesy. Ia tidak mau terlalu lama menyudutkan Lesy karena ia masih harus mempertimbangkan dampak yang terjadi pada wanita itu. Dan setidaknya ia sudah memberikan peringatan agar Lesy tetap menjaga kandungan. Namun sejujurnya, Niana merasa sangat puas karena bisa membuat wajah wanita itu begitu kebas.
Dan memang benar, kondisi Lesy jauh lebih buruk. Ekspresinya tidak hanya kebas, melainkan juga syok berat. Kalau tidak teringat tentang kandungannya, mungkin ia sudah berlari mengejar Niana dan menjambak rambut istri tua suaminya itu. Jika ia tetap nekat dan Niana melawan, ia bisa saja jatuh dan fatalnya bisa keguguran. Saat ini bayi yang tak pernah ia inginkan itu telah menjadi aset penting untuk mempertahankan hubungannya dengan Endri.
Namun bagaimana jika ucapan Niana benar? Bagaimana jika Endri berpaling dari Lesy yang akan mengalami perubahan bentuk tubuh saat kehamilannya kian membesar? Bagaimana jika hormon di dalam dirinya membuatnya kacau balau dan kusam? Bagaimana jika ia tidak lagi menjadi sesosok istri cantik dan justru berubah menjadi ibu-ibu anak satu yang kurang ideal?
Segala pertanyaan bermunculan di benak Lesy dan membuat perutnya terasa melilit. Ia mencengkeram perutnya, ketika rasa mual kembali terasa. Dengan langkah tertatih-tatih, ia kembali berjalan untuk memasuki kamarnya. Dan satu pertanyaan paling mengerikan jika sampai menjadi kenyataan membuat perasaannya kian berantakan. Bagaimana jika ternyata Endri dan Niana hanya memanfaatkannya sebagai rahim pengganti saja?
***
__ADS_1