First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 40-Niana yang Manipulatif


__ADS_3

Niana dan Endri saling bertatapan satu sama lain, sementara Dany berada di meja lain sembari menyamar sebagai pria bertopi. Belum lama ini, Dany membeli topi dari salah satu pengunjung restoran itu. Bahkan ia merelakan uang ratusan ribu melayang hanya demi sebuah topi bekas sekaligus berkeringat. Namun tak apa, Dany akan menahan rasa jijiknya demi menjaga wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Ada apa, Mas? Aku mengecewakanmu di bagian mana? Dan memangnya apa yang Lesy katakan padamu, sampai kamu begitu ngotot untuk meminta penjelasan dariku? Tapi, penjelasan untuk apa?" tanya Niana bertubi-tubi pada sang suami. "Apa karena tadi malam aku menahanmu di hotel? Bukankah kamu yang menginginkan kita berdua menginap di sana?"


Di mata Dany tampaknya Niana sudah memulai pembicaraan, sayangnya ia tidak bisa mendengar perbincangan wanita itu bersama Endri dengan jelas.


Kembali pada pasangan suami istri itu. Endri mulai memalingkan tatapan matanya dari Niana. Ia pun senang karena bisa quality time bersama Niana lagi tadi malam. Namun curahan hati Lesy yang ia dengar tadi pagi sungguh mengganggunya sampai saat ini. Tak hanya mendengar ungkapan tentang 'Rahim Pengganti', Lesy juga telah dipemari megenai Endri yang sempat menunggu Niana pulang dari reuni sampai malam hari. Menurut penuturan Lesy, Niana juga pernah menakut-nakuti Lesy tentang perubahan bentuk badan seorang ibu hamil dan akan lantas membuat Endri tak lagi mecintai.


"Makan dulu saja," ucap Endri dengan ekspresi super masam.


Niana menghela napas. "Kamu pikir aku bisa menelan makanan jika kamu memasang ekspresi seperti itu? Dan lagi, saat ini aku masih belum tahu apa yang membuat kamu begitu kecewa padaku, Mas!" jawabnya tegas.


"Aku hanya ingin bertanya saja, Niana. Ini soal Lesy."


"Aku tahu! Istri tersayangmu itu pasti sudah mengadu macam-macam padamu, bukan? Apa saja yang dia adukan, aku akan menjawab dengan jujur seandainya aku memang melakukan seperti apa yang dia adukan padamu, Mas. Aku tidak akan membohongimu sekalipun jika aku akan tetap salah di mata kamu."


Endri masih memilih diam, terlihat ia tengah menelan saliva ketika jakun di lehernya naik turun. Pandangannya pun menurun, menatap jari manis Niana yang masih dilingkari cincin pernikahan. Wanita itu memang selalu setia padanya selama ini, selalu menuruti apa perkataannya, dan nyaris tidak pernah berbohong. Niana memang wanita yang baik. Namun Endri tidak pernah tahu bagaimana jika Niana sedang marah besar. Entah akan menghancurkan berbagai hal atau tetap diam dan tenang.


Jika Niana mengatakan semua hal buruk pada Lesy sesuai yang Endri dengar, mungkin dengan cara itulah Niana melampiaskan kemarahan. Namun mau bagaimanapun itu, Niana tidak seharusnya bersikap demikian. Sekali lagi, kondisi kandungan Lesy harus tetap dijaga dengan baik. Niana tidak boleh membuat Lesy sampai stres dan bahkan kerap ketakutan.

__ADS_1


"Apa benar jika kamu mengatakan bahwa Lesy hanyalah rahim pengganti, Niana? Dan apa benar jika kamu menakut-nakutinya dengan kemungkinan perubahan bentuk tubuh pada seorang ibu hamil? Dan jika tubuhnya akan berubah, dia tidak lagi akan aku cintai? Jika memang benar, apa maksud kamu, Niana? Kamu ingat kan tentang perkataanku bahwa kandungan Lesy belum benar-benar kuat dan jika stres sedikit dia bisa kenapa-napa?" Endri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Niana menggertakkan gigi. Ternyata memang begitu. Lesy mengadukan semua ucapannya di pagi itu. Wanita bodoh tersebut sangat menjengkelkan. Oh seandainya Niana sudah tidak memiliki hati nurani, ia pastikan kandungan Lesy akan keguguran. Namun ia masih belum berada di tahap yang segila itu.


"Benar," ucap Niana diiringi embusan napas kasarnya. "Aku mengatakan semua yang kamu tanyakan padaku, Mas. Aku mengatakannya padanya."


Endri menelan saliva. Kini hatinya sudah benar-benar kecewa, padahal ia masih berharap Niana tidak melakukannya. Kebahagiaan yang ia rasakan setelah melewati malam manis bersama Niana pun lantas menguap. Tentu ia akan memilih calon buah hatinya, jika seandainya Niana memang sudah sejahat itu dalam berkata-kata.


Kondisi mereka tampaknya sungguh tak baik, batin Dany yang masih mengintai dari meja yang memang tidak terlalu dekat dengan Niana dan Endri. Sebab ia khawatir jika kehadirannya justru ketahuan.


"Kenapa kamu melakukannya, Niana? Di dalam rahim Lesy adalah anakku lho, bahkan mungkin bisa menjadi anak kamu juga," ucap Endri.


"Niana—"


"Mas!" potong Niana begitu cepat. "Anak itu tidak bersalah! Jangan menjadikan anak itu sebagai alasan agar aku terus bisa memaklumi sikap Lesy terhadapku. Jangan kalian jadikan kehamilan itu untuk menyudutkan diriku!" tegasnya setelah itu.


Mata Endri melebar. Ia seperti mendengar ucapannya sendiri. Namun ia hanya bisa menelan saliva dengan susah payah.


"Aku sudah bilang padamu, bukan, jika aku pun bisa melukai perasaan Lesy jika dia tetap tidak bisa menjaga sikap? Selama ini aku sudah diam dan menghindar. Tapi kenapa dia terus menghadang? Kamu pikir kesabaranku sudah seluas samudera? Tidak, Mas! Aku juga bisa marah. Aku sudah mewanti-wanti kamu sejak lama, jika Lesy tidak bisa menjaga sikapnya, aku bisa melawannya! Kenapa pula kamu tidak bisa menasihatinya sebagai seorang suami? Apa kamu sudah begitu lemah karena mencintai dia?" ucap Niana lagi. Detik berikutnya, ia menghela napas dalam-dalam. "Padahal aku pikir kita sudah berbaikan. Aku pikir kamu akan memercayai aku jika pagi ini Lesy akan marah-marah karena kita tidak pulang pagi. Tapi ternyata kebahagiaan kita tadi malam hanya kebahagiaan sesaat saja ya? Bolehkah aku yang bergantian merasa kecewa, Mas?"

__ADS_1


Niana tidak memberikan kesempatan untuk Endri berbicara. Dan ia langsung kembali berkata, "Kamu yang membawanya sendiri ke rumah di mana aku masih tinggal, 'kan? Entah setan apa yang membuatmu sampai berpikiran untuk membawanya pulang. Bahkan meski jika hal itu merupakan permintaannya, seharusnya kamu tidak setuju! Pria-pria yang mendua biasanya tidak akan menyatukan kedua istri mereka demi menghindari pertengkaran. Tapi rupanya untuk dirimu dan Lesy ini, ck, kalian sungguh kasus yang aneh bin unik, Mas."


"Sekarang dengarkan aku, Mas. Jika kamu tidak ingin Lesy stres karena terus melihatku, lebih baik kamu pulangkan dia di rumahnya sendiri. Atau mungkin kamu mau membelikan rumah baru? Terserah! Setelah kami hidup terpisah, pasti kami tidak akan bertengkar lagi. Lebih tepatnya, dia tidak akan mengajak aku bertengkar lagi dan aku tidak akan mengatakan hal jahat padanya. Oh iya! Jangan pernah berpikir untuk mengusir aku dari rumah itu, Mas, karena aku tidak akan pernah pergi dari rumah yang selalu aku jaga dan aku rawat sejak kita baru menikah. Lagi pula, kamu tidak mau, 'kan, jika kedua orang tuamu menemukan wanita selain diriku jika mereka bertandang ke rumah itu?"


Niana terus mencecar Endri. Dan Endri tidak bisa berkutik lagi. Ingin kembali mengungkapkan kekecewaan rasanya sudah tidak pantas. Justru Niana-lah yang saat ini tampak jauh lebih kecewa. Bahkan kedua pipi Niana sampai dibasahi air mata. Mungkin Niana sudah berharap tinggi untuk bisa mendapatkan cintanya kembali setelah apa yang terjadi tadi malam. Namun Endri justru memberikan kekecewaan yang mendalam.


"Niana, aku minta maaf karena sudah menyudutkan dirimu. Tapi, ...." Endri menghela napas dalam-dalam. "Lesy juga tidak mau pergi dari rumah itu. Jika aku memaksanya, dia akan lebih stres dan berpikiran macam-macam."


"Sampai saat ini pun kamu tetap membela dia daripada aku ya, Mas. Sepertinya tadi malam pun, kamu hanya mencari pelampiasan karena merasa kesepian setelah tidak bisa menyentuh Lesy, daripada karena merindukan aku. Aku sungguh kecewa padamu, Mas! Jika kamu adalah orang pintar, seharusnya kamu memilih membawa Lesy pergi demi menjaga anak kalian!" Niana mengusap air mata palsunya dengan kasar. "Tapi sekarang terserah kamu saja, Mas! Dan ingat baik-baik soal ini, Mas! Soal aku yang bukan barang yang bisa kamu pakai kapan saja ketika kamu sedang kesepian atau bosan. Aku istri kamu yang ingin didatangi karena cinta dan kerinduan.


"Baiklah aku akan pergi, dan bersenang-senanglah dengan Lesy karena aku tidak akan pulang malam ini!" Detik berikutnya, Niana langsung bangkit dari duduknya.


"Niana! Niana! Tunggu!" Endri bangkit ketika Niana hendak berbalik dan pergi. Ia meraih lengan istri pertamanya itu.


Niana segera menepis tangan Endri, lalu menatap mata suaminya dengan tajam dan penuh binar kekecewaan. Detik berikutnya, ia melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan restoran dan tentu saja suaminya yang bodoh. Sebuah seringai licik mengiringi langkah Niana yang keluar melalui pintu utama restoran.


"Rasakan bagaimana jika aku sudah mengabaikan dirimu, Endri, kejar aku dan merasa bersalah-lah padaku," gumam Niana.


Dany yang melihat kepergian Niana langsung beranjak. Ia tetap menutupi wajahnya dengan sebaik mungkin. Perasaan cemasnya kembali menaungi hatinya. Sepertinya kondisi Niana tidak baik-baik saja. Dany harus mengejar wanita itu.

__ADS_1


***


__ADS_2