
Tentu saja Endri kepikiran mengenai Niana dan ucapan dari istri pertamanya itu. Apalagi Niana sempat berkata dengan air mata yang mengucur deras dari pelupuk mata. Tadinya Endri merasa sangat kecewa karena Niana sudah begitu tega dalam menyampaikan perkataan yang terbilang cukup kasar, sampai membuat Lesy stres. Namun, saat ini Endri justru merasa bersalah. Bagaimana tidak, ketika ia justru merusak kebahagiaan yang baru Niana dapatkan tadi malam.
Endri menghela napas dalam-dalam lalu menghentikan mobilnya untuk sejenak waktu di hadapan gerbang rumahnya sendiri. Ia melihat pekarangan rumah yang begitu bersih, padahal selama ini ia tidak memperkerjakan seorang tukang kebun. Niana-lah yang membersihkan semuanya, dan tentu saja bersama Nur. Niana juga selalu sigap memanggil jasa kebersihan ketika ada bagian yang sudah sulit dibersihkan dengan tenaga sendiri. Rumah itu dan segala urusan di dalamnya, Niana pandai menata semuanya. Endri pun ingat jika Niana juga gemar bercocok tanam, sehingga sebuah taman kecil di samping rumah memiliki beberapa jenis bunga yang indah.
Jika dibandingkan dengan Lesy, tentu saja Niana lebih baik untuk menjadi seorang istri yang tak hanya bisa berkarier, tetapi juga pintar mengurus rumah ketika memiliki banyak kesibukan. Endri sadar betul bahwa dirinya sudah menyia-nyiakan wanita sehebat Niana. Apalagi Niana bukan wanita yang begitu materialistis. Hanya satu kekurangan Niana selama ini, yaitu tidak pandai merawat diri. Dan hanya karena Niana terlihat norak serta geeky, Endri begitu tega melakukan perselingkuhan dengan Lesy yang menurutnya jauh lebih bening dan menyenangkan.
"Apa yang harus aku lakukan di saat sudah berada di situasi seperti ini?" gumam Endri bertanya-tanya. "Jika aku dan Niana bercerai, apa aku juga akan merasa sebingung ini saat melihatnya sudah berubah? Atau aku akan kesulitan karena rumah itu akan terbengkalai jika Niana tidak tinggal di sana lagi? Atau apakah aku justru akan lebih fokus pada kebahagiaanku dengan Lesy, tanpa Niana?"
Endri menelan saliva dengan susah-payah. "Mengapa istri yang hendak aku buang, justru membuatku menjadi sangat bimbang? Dan yang paling membuatku sakit adalah aku merindukannya. Aku jatuh cinta padanya lagi, tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa melepaskan Lesy. Aku mungkin juga masih mencintai Lesy. Lantas, aku harus bagaimana? Apakah Niana akan terus bertahan ketika aku masih memiliki istri selain dirinya?"
Pusing dan bingung. Apalagi setelah menyadari kemungkinan yang akan datang di masa mendatang. Endri bisa kehilangan Niana ataupun Lesy sekaligus anaknya. Ia merasa tak akan bisa mempertahankan kedua wanita itu dalam kurun waktu yang lama. Dan parahnya, ia tidak bisa memilih wanita mana yang akan ia jadikan sebagai pendamping seumur hidup. Mengenai Lesy, Endri cukup ragu karena Lesy tidak sepintar Niana dalam urusan rumah tangga. Lesy begitu manja, bahkan untuk membersihkan apartemen kecil saja, Lesy meminta bantuan petugas kebersihan.
"Sudahlah," ucap Endri. Detik berikutnya, ia turun dari mobil itu lalu bergegas untuk membuka pintu gerbang. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Nur, sampai tidak datang untuk membukakan pintu gerbang itu. Setahunya, Nur masih melakukan hal tersebut, bahkan meski wewenang atas jasa Nur sudah diambil alih oleh Niana secara sepenuhnya.
Sesaat setelah masuk dan memarkir mobil di halaman agak kiri dari teras rumahnya, Endri tak menunda lagi rencananya untuk masuk ke dalam rumah. Meski ia tahu betul jika rumah itu tampak lebih senyap karena ketidakhadiran Niana.
Mungkin saat ini, Niana sudah sampai di rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kesenyapan semakin menyambut kedatangan Endri yang baru memasuki ruangan pertama rumahnya itu. Kondisi pintu memang tidak sedang terkunci, bahkan meski dikunci, Endri selalu membawa kunci cadangan untuk dirinya sendiri. Niana tidak ada, itu memang benar. Namun Nur pun juga tidak kelihatan batang hidungnya. Untuk Lesy, Endri masih belum mengetahui.
"Mas!"
Akhirnya suara seseorang pun terdengar. Namun Endri tidak bisa berharap lebih jika suara itu adalah milik Niana. Selain Niana yang berkata bahwa tidak akan pulang, Endri tahu betul siapa pemilik dari suara tersebut.
"Kamu habis mandi?" ucap Endri sembari menatap keberadaan Lesy dengan balutan jubah mandi berwarna putih. Namun Lesy tampaknya baru keluar dari ruang dapur. "Kamu tidak mual lagi, 'kan? Sudah minum obat dengan benar, 'kan?" Endri bertanya lagi sembari berjalan ke arah istri keduanya itu.
"Iya, Mas. Aku baru saja minum obat. Hari ini aku hanya memesan makanan. Aku tidak suka pada masakan Nur. Terlalu pekat bumbunya, aku mual. Dia susah dinasehati, aku memintanya memasak sesuai yang bisa aku makan, tapi dia—"
"Kamu ingat kalau Nur bukan pembantumu, 'kan? Aku tidak membayar gaji Nur lagi, Les, Niana yang membayarnya. Jadi, dia juga sudah tidak bisa kamu suruh-suruh lagi. Dia masih bersedia menjagamu, itu sudah untung."
"Iya, iya, aku tidak akan memerintah dia lagi. Tapi, kamu tahu, 'kan, kalau aku hamil dan tidak bisa sembarangan bergerak? Aku juga tidak pandai memasak. Jika bukan pada Nur, lantas aku bisa meminta tolong pada siapa lagi? Kalau selalu beli, nanti aku salah lagi." Lesy menghela napas kesal. "Setidaknya kamu juga harus memberikan asisten rumah tangga untukku, Mas!"
"Tidak perlu, Lesy. Nur masih bisa memasak dan aku rasa masakannya tidak aneh-aneh dan masih bisa dicerna. Lagi pula, tugas rumah pun masih bisa Nur atasi. Kalau aku menyewa pembantu lagi untukmu, pembantu baru bakal lebih banyak menganggur. Jika seandainya kamu tidak cocok dengan masakan Nur, kamu boleh jajan saja. Dan lagi, sebagai seorang istri seharusnya kamu mulai belajar memasak. Atau minimal tahu cara dan resepnya dulu. Jadi—"
"Tidak mau! Kenapa aku harus memasak?! Sebelum menikah saja aku selalu membeli makanan enak dan mahal, kenapa setelah menikah aku justru disuruh belajar di dapur?! Tidak mau! Ini tidak adil, Mbak Niana punya Nur dan aku tidak punya siapa pun!"
__ADS_1
Ekspresi di wajah Endri semakin masam. Salah sendiri karena sudah mengatakan hal-hal yang tidak Lesy sukai. Padahal sejak awal ia pun tahu jika Lesy tidak bisa mengolah makanan. Bahkan meski berasal dari keluarga berantakan dan tak terlalu kaya, Lesy cukup bisa dianggap sebagai wanita manja.
Mungkin karena sudah lama tidak memiliki seorang ibu dan hanya memiliki ayah pemabuk, sehingga Lesy tumbuh menjadi seseorang yang memiliki keterbatasan dalam urusan perempuan, kecuali shopping dan dandan. Dari segi pergaulan pun mungkin juga menjadi salah satu faktor penyebab dan telah mempengaruhi sosok Lesy sampai membentuk dirinya yang seperti saat ini.
Endri menghela napas. Ia berpikir sejenak sebelum mengatakan sesuatu yang sudah terlintas di benaknya. Sebuah kencan. Sepertinya Lesy akan senang jika diajak untuk keluar. Namun ... Endri memiliki rencana lain di balik ajakan kencan yang ingin ia katakan pada sang istri kedua.
"Persiapkan dirimu dan jangan cemberut seperti itu. Mari berjalan-jalan agar kamu tidak stres. Selama ada aku di sisimu, kandunganmu dan dirimu, aku akan menjaganya," ucap Endri.
Mata Lesy langsung melebar dan berbinar cerah. Senyumnya terulas begitu indah. "Baik, Mas! Aku akan bersiap dengan cepat!"
"Ya, Sayang, kita akan berangkat setelah Maghrib."
"Yey!"
Lesy langsung mengambil langkah begitu cepat meski Endri terus memperingatinya agar berhati-hati. Sebegitu senangnya Lesy setelah diajak kencan oleh sang suami, setelah belakangan ini ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Kalau bukan karena kondisi kandungannya, ia pasti sudah berjalan-jalan sendirian sejak lama. Ia juga khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya seandainya tak ada Endri di sampingnya.
Sementara Lesy yang sudah berjalan menuju lantai kedua, Endri justru masih terdiam di tempatnya. Namun matanya terus menatap kepergian istrinya keduanya itu. Giginya menggertak dan hatinya mengharap. Semoga saja keputusan yang sudah ia ambil nantinya akan membuahkan hasil yang baik. Ya, keputusan yang merujuk pada rencana sebenarnya yang sudah terpatri di dalam benaknya saat ini.
__ADS_1
"Semoga Niana senang jika rencanaku berhasil," gumam Endri.
***