
Niana sudah nyaris siap. Penampilannya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dan ia mengenakan pakaian yang sudah ia tentukan. Dany cukup membantunya, meskipun tidak semua saran Dany ia turuti. Namun yang pasti Niana sudah melihat beberapa gaya berpakaian Arsyita Darmawangsa yang masih menjadi trendsetter hingga saat ini. Di sepanjang waktu, Niana pun lebih banyak berada di dalam kamarnya hanya untuk mempelajari cara bergaya. Ia keluar sebentar ketika memerlukan beberapa make up yang sudah habis atau bahkan tidak ia miliki. Dan tentu saja tidak hanya Arsyita, beberapa aktris atau selebriti pun ia amati melalui foto-foto mereka di laman sosial media.
Sekarang, Niana sudah tampil nyaris sempurna, meskipun ia tetap akan kalah telak jika dibandingkan dengan sosok Arsyita. Namun ia tetap harus merasa sedikit bangga. Siapa tahu di mata Endri, ia sudah jauh lebih menarik daripada sebelum-sebelumnya atau bahkan sudah mampu mengalahkan Lesy.
"Sudah jam setengah tujuh, sebaiknya aku segera bergegas. Dany bisa mengamuk kalau aku terlambat. Lagi pula, aku juga merindukan mereka, terutama Rubel. Terakhir bertemu dengan Rubel satu tahun yang lalu, aku penasaran apakah dia masih setia dengan satu kacamatanya saja," ucap Niana lalu tersenyum tipis. Hatinya cukup tak sabar dan mungkin ada sedikit rasa senang, tetapi dalam waktu yang bersamaan, ia merasa bimbang. Canggung dan minder pun sudah singgah di sanubarinya. Mengenai satu pertanyaan yang mungkin akan ia terima dari Rubel maupun Dominic, sampai saat ini ia masih belum menemukan jawaban terbaik.
"Ah entah. Berkata bahwa Mas Endri sangat sibuk, aku rasa sudah cukup. Meskipun alasan semacam itu terdengar klasik sekali." Niana menghela napas, lalu menelan saliva dengan susah-payah.
Detik berikutnya, Niana bangkit dari tempat duduknya di hadapan meja rias itu. Ia membungkukkan tubuhnya lagi sebelum benar-benar memutuskan untuk pergi. Ia menatap pantulan wajah cantiknya di cermin yang terpasang di meja rias itu, memastikan lagi apakah ada sudut wajahnya yang kurang atau berlebihan dalam memakai riasan. Dan pada akhirnya ia merasa bahwa sudah tidak ada yang aneh pada dirinya.
Niana mengeluarkan sebuah tas dengan brand ternama yang merupakan barang pemberian Endri ketika usia pernikahan mereka menginjak usia satu tahun. Tas selempang berwarna putih itu pernah membuktikan betapa Endri mencintai Niana. Harga tas yang mahal pun tidak Endri pedulikan hanya demi membuat hati Niana senang. Namun, sayang, saat ini hati Endri sudah berpindah ke wanita lain. Tas putih itu hanya akan menjadi saksi bisu atas cinta di masa lalu.
"Kenapa aku selalu menyimpan barang ini? Hanya karena harganya yang super mahal, sehingga aku merasa sayang? Apakah Mas Endri kecewa karena aku tidak kerap memakai barang ini? Seandainya memang kecewa, kenapa dia malah diam saja? Aku pikir ... prinsip hidupku tidak mengganggunya, karena dia memang tidak pernah melontarkan protes apa pun. Aku pikir dengan hidup lebih sederhana aku bisa mendapatkan satu nilai positif di matanya. Tapi, ternyata justru tidak sama sekali. Alih-alih menuntunku yang begitu bodoh ini, dia justru mencari wanita lain," ucap Niana penuh sesal.
Akan lebih baik jika Endri mengajukan gugatan cerai sebelum menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun pada kenyataannya, Endri justru bermain api sebelum menyelesaikan pernikahannya dengan Niana yang akhirnya mematahkan hati Niana, ketika Niana berpikir bahwa benar-benar tidak ada yang salah di dalam pernikahannya. Ketika Niana pun juga sudah merencanakan program kehamilan setelah persiapan dana pribadinya sudah lebih dari cukup. Dan bahkan, Niana sempat berpikir untuk menunda lagi keinginannya itu di saat perusahaan Endri sedang bermasalah. Namun Endri justru memberikan balasan yang begitu menyakitkan. Bagaimanapun itu, rasanya tetap tidak adil!
"Sudahlah. Jika memikirkan masalah ini lagi, aku hanya akan menangis. Akan sia-sia usahaku dalam memperbaiki penampilanku jika tangisanku merusak riasan di wajahku." Setelah berkata demikian, Niana segera mengambil tas selempang putih tersebut. Ia menggunakan sepatu putih berhak rendah. Detik berikutnya, ia segera bergegas keluar dari kamarnya.
Namun ketika baru saja membuka pintu, pergerakan Niana justru terhenti. Seseorang nyaris mengetuk pintu kamarnya. Beruntungnya bukan sosok Lesy, karena Niana tidak ingin mendebat semua ucapan kasar wanita itu. Melainkan Endri yang entah mengapa ingin menjumpai Niana dengan datang ke kamar tersebut.
__ADS_1
"Niana?" ucap Endri lalu menelan saliva.
"Iya, Mas? Ada apa? Mau mengambil pakaianmu atau barang lain?" sahut Niana.
Endri menelan saliva dengan susah-payah. Sejak kapan wanita ini begitu menarik? Apakah dia memang pandai merias diri? Batinnya bertanya-tanya.
Niana tersenyum ketika menyadari jika suaminya sedang terpana pada dirinya. Mungkin ia terbilang terlalu cepat dalam membuat spekulasi. Namun, ia tidak peduli. Memangnya sebutan apa lagi yang pantas diperuntukkan pada pria yang terpaku diam sembari menatapnya dengan ekspresi tertegun, selain sebutan bahwa pria itu sedang terpana?
"Mas?" ucap Niana berusaha menyadarkan keterpanaan suaminya itu.
Endri terkesiap. "Ah iya. Mm, itu ... sebenarnya aku ingin berbicara dengan kamu, tapi sepertinya kamu mau pergi ya?"
Niana tidak mengatakan hal yang salah. Setelah hamil, Lesy memang lebih mudah emosi. Namun meski mengetahui kenyataan itu, hati Endri tetap merasa tersinggung. Mungkin lebih tepatnya merasa malu, karena ia telah menikahi wanita lain yang tampaknya tidak lebih baik dari Niana. Apalagi setelah dirinya menikah dengan Lesy, Niana mulai menunjukkan perubahan. Terutama soal penampilan, Niana terlihat lebih modis dan tambah cantik.
Apakah selama ini ... yang membuat dia terus hidup berhemat adalah aku, alih-alih dirinya sendiri? Batin Endri.
"Dan soal mobil, aku minta maaf karena aku tidak membicarakan hal itu denganmu, Mas. Yah, aku menganggap bahwa setiap pembelian yang aku lakukan sudah tidak perlu aku laporkan padamu. Sesuai kesepakatan awal kita, kalau kita tidak boleh ikut campur urusan masing-masing. Lagi pula, mobil itu kan hanya mobil bekas saja, dan tidak terlalu mahal. Memang benar sih, aku membeli mobil itu bukan hanya dari gajiku sendiri, melainkan juga jatah bulanan yang kamu berikan padaku selama ini. Ah, tapi, jika kamu keberatan karena aku menggunakan uang yang kamu berikan tentu saja aku bersedia untuk mengembalikannya, Mas. Kebetulan, uang tabungan dari gajiku pun masih ada," serang Niana.
Endri menghela napas. "Tak usah berlebihan, Niana, aku memberikan uang padamu karena aku adalah suami kamu. Uang yang kamu terima sudah pasti menjadi hak milikmu. Kamu tidak perlu mengembalikannya. Selama ini pun kamu sudah terlalu berhemat, jadi kamu boleh saja menikmati hasil tabunganmu untuk dirimu sendiri," sahutnya.
__ADS_1
"Mm?" Niana cukup terkejut dengan reaksi yang Endri berikan. Ia pikir Endri akan tersinggung dan marah-marah. Namun Endri justru berkata begitu bijak. "Kalau begitu ya sudah. Aku berterima kasih soal itu padamu, Mas. Ah! Aku harus segera berangkat, Mas."
Niana berjalan dengan sedikit menyenggol pundak Endri di saat pria itu tak kunjung bergeser. Namun saat Niana hendak melangkah lagi, Endri justru meraih lengannya. Dan tentu saja langkah Niana terhenti detik itu juga. Detik berikutnya, ia menoleh ke arah pria itu.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Niana.
Kelopak mata Endri bergetar. Ia segera melepaskan lengan Niana dan berkata, "Bolehkah aku saja yang mengantarkan kamu ke tempat acara?"
"Mm, tidak perlu, Mas."
"Apa Dany juga datang?"
"Ah, tentu saja, karena dia yang membuat acara. Kamu ingin bertemu dengan dia untuk membicarakan pekerjaan?"
Endri menggeleng. "Tidak, aku hanya ingin mengantarkanmu. Lagi pula, kamu kan sudah lama tidak menyetir sendiri."
"Maaf, Mas. Sekali lagi! Istri mudamu sedang hamil, kalau dia tahu kamu keluar bersamaku, dia akan marah-marah lagi. Aku tidak mau dituduh macam-macam sekalipun mungkin aku masih berhak untuk meminta tolong padamu. Soal menyetir, tenang saja, Mas, aku ini sudah bisa menyetir sejak masa SMA. Lagi pula, belakangan ini aku juga kerap meminjam mobilmu. Aku akan baik-baik saja. Kalau begitu, aku permisi dulu. Jaga istri mudamu dengan baik, Mas."
Endri kecewa. Namun apa daya, ia tidak bisa menahan Niana yang sudah melangkah begitu cepat untuk meninggalkannya. Ah, meninggalkan. Bukankah Endri yang saat ini telah meninggalkan Niana? Namun, mengapa Endri yang merasa bahwa dirinya sedang ditinggalkan oleh istri pertamanya itu? Padahal ia tidak boleh bersikap se-demikian egois. Niana pun sudah ia lukai sampai mungkin sudah mati rasa. Dan Niana sudah setegar itu dalam menerima kehadiran Lesy di dalam rumahnya. Untuk merasa curiga pada Niana pun dengan alasan apa? Bukannya dirugikan, Endri justru mendapatkan keuntungan. Namun bedanya, ia sudah tidak berhak untuk menyentuh Niana.
__ADS_1
***