
"Tidak mau!" ucap Lesy dengan keras dan tegas. Matanya pun sudah melebar dan menatap tajam ke arah wajah tampan milik kekasihnya. "Aku tidak mau menjadi istri kedua, Mas Endri! Kamu kan sudah berjanji akan menceraikan Niana dan menikahi diriku secara sah! Tapi, kenapa sekarang kamu justru berubah pikiran dan malah ingin menikahiku secara siri terlebih dahulu, hah?!"
Endri menghela napas. Sebenarnya ia sudah menyangka jika Lesy akan memberikan respon sedemikian rupa. Namun tetap saja kenyataan itu masih membuat Endri menjadi kebingungan sendiri. Padahal ia sudah sengaja melewatkan jam makan siangnya hanya demi bisa bertemu dengan Lesy di apartemen bernuansa merah muda ini, sekaligus demi mengatakan keinginan Niana pada kekasihnya itu. Pada akhirnya ia masih harus menemui sebuah kesulitan.
Demi apa pun, Endri tidak pernah berniat untuk menyalahkan Lesy. Ia menyadari mood swing yang dialami oleh Lesy yang sedang hamil muda. Dan Endri cukup mengerti soal itu dari beberapa sumber yang mengatakan setiap kesulitan seorang ibu hamil. Mungkin Endri memang harus lebih berusaha lagi dalam memberikan bujukan serta alasan yang bisa membuat Lesy berubah pikiran.
"Sayang, dengarkan aku terlebih dahulu. Saat ini, perusahaanku sedang kesulitan. Dan kamu pasti tahu betul soal itu, bukan? Kamu kan pernah bekerja bersamaku dan baru satu bulan ini keluar, pastinya kamu memahami apa yang aku alami." Endri berucap dengan suara lembut, sementara telapak tangannya sudah sibuk menggenggam jemari lentik milik Lesy yang duduk di sampingnya.
"Niana menawarkan bantuan jika aku bersedia untuk tidak menceraikan dia, dia akan membantuku dalam mengurus keuangan rumah, Lesy. Lagi pula ... kita bisa memanfaatkan dia terlebih dahulu. Perusahaan di mana dia bekerja pun merupakan perusahaan yang sangat besar. CEO dari perusahaan itu adalah teman dekat Niana sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Kita bisa memanfaatkan Niana untuk mendapatkan bantuan dari CEO itu. Kamu tahu, bukan, jika beberapa proyek yang aku jalankan mangkrak karena kekurangan dana, padahal dana yang aku keluarkan sebelumnya juga tidak sedikit, Lesy," lanjut Endri dengan ekspresi bak anak kucing yang sedang mengharapkan santapan terlezat.
Kelopak mata Lesy bergetar. Ia menggertakkan giginya. Rahangnya sampai mengeras ketika ia masih berusaha untuk menahan gejolak emosi yang seolah ingin meledak. Mau bagaimanapun alasannya, Lesy tetap tidak mau jika dijadikan sebagai istri kedua.
Sudah seharusnya Niana yang tidak lagi Endri cintai lekas hengkang dari kehidupan sekaligus dari rumah milik Endri. Namun mengapa Niana yang seharusnya menderita serta kecewa justru memilih bertahan dengan memberikan iming-iming yang begitu menggiurkan bagi Endri? Mengapa Niana yang sudah tidak berharga masih saja tak mau mengalah pada wanita hamil dan lemah layaknya Lesy?
"Kenapa dia sebegitu tidak tahu malunya, Mas?! Dia seharusnya tahu diri karena dia sudah tak berharga lagi untuk kamu! Seharusnya dia yang minggat, alih-alih membuat keputusan konyol dan seolah-olah ingin bertarung denganku!" Kesal, Niana menyahut ucapan Endri dengan perkataan yang masih berisi tentang kedongkolannya terhadap istri sah kekasihnya itu. "Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau jika dijadikan sebagai istri kedua, Mas! Aku mau menjadi istri satu-satunya untuk kamu, Mas!"
Ekspresi di wajah Lesy berubah lebih memelas. Detik berikutnya, ia berangsur melepaskan jemarinya dari genggaman tangan Endri dan lantas mencengkeram lengan kemeja yang dikenakan oleh pria itu. "Ayolah, Mas. Ceraikan dia saja dan jadikan aku sebagai istri kamu satu-satunya agar kita bertiga juga bisa hidup lebih bahagia. Toh, sebelumnya perusahaanmu pernah mengalami masalah yang sama, bukan? Dan kamu berhasil menyelamatkan perusahaanmu pada saat itu. Tanpa CEO perusahaan di mana Niana bekerja pun, kamu masih bisa mendapatkan bantuan dari orang lain, 'kan, Mas?"
__ADS_1
Mata Endri terpejam. Helaan napas yang panjang juga mulai terdengar. Sulit sekali melawan emosi tak terkalahkan dari seorang wanita hamil. Namun sekali lagi, ia tidak bisa menyalahkan wanita yang sedang mengandung buah hatinya tersebut. Karena pada dasarnya, Endri juga memiliki kesalahan. Ia sudah menjanjikan pernikahan dan gelar istri sah pada Lesy yang ingin menjadi satu-satunya baginya.
Endri sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa Niana akan memberikan penolakan atas sebuah perceraian. Belum lagi mengenai alasan-alasan Niana untuk mengambil keputusan tak terduga itu sangat kuat serta masuk akal, sehingga membuat Endri pada akhirnya tetap menyetujui. Keuntungan yang Endri peroleh pun bisa berkali-kali lipat, setelah ia memikirkan beberapa hal yang dimiliki oleh Niana. Termasuk jalinan pertemanan Niana dengan Dany yang bisa Endri manfaatkan dengan sebaik mungkin. Sebelumnya, ia terlalu mengabaikan Niana dan lebih memperhatikan perusahaannya serta kekasih simpanannya, hal-hal mengenai Dany pun tak pernah terlintas di benaknya. Berbeda dengan pada saat itu, kini Endri seolah mendapatkan sebuah titik terang.
Lagi pula, syarat yang Niana inginkan bukanlah syarat yang menyulitkan. Niana hanya meminta Endri menikahi Lesy secara siri terlebih dahulu sampai menemukan solusi untuk mengatakan kebenaran pada pihak keluarga besar, sekaligus demi menjaga citra Endri sebagai direktur utama perusahaannya sampai datang sebuah bantuan besar. Syarat yang Niana katakan pada akhirnya tetap akan menguntungkan bagi Endri. Satu syarat lainnya, Niana hanya meminta agar Endri untuk tak terlalu mencampuri beberapa urusan Niana. Dan itu juga masih mudah bagi Endri. Saat ini ... hanya ibu hamil cantik di hadapannya-lah yang masih sulit untuk ia atasi.
"Sayang, aku pasti akan menjadikanmu sebagai istri satu-satunya. Tapi, tolong pahami situasiku terlebih dahulu, ya?" ucap Endri selembut mungkin. "Lagi pula, aku sudah tidak mencintai Niana, jadi meskipun dia masih menjadi istriku, aku tetap akan mengabaikannya dan lebih memperhatikan dirimu. Kita hanya perlu memanfaatkan apa yang dia tawarkan. Lagi pula, dia yang memberikan penawaran, sementara aku tidak pernah mengemis penawaran apa pun darinya."
Lesy masih cemberut. "Tidak mau. Aku tidak mau, Mas! Pokoknya aku tidak mau, titik!"
Endri mengembuskan napasnya secara kasar. Dan ia mulai kesal meskipun ia masih berpikir bahwa dirinya tidak boleh menyalahkan Lesy sama sekali. Ia berangsur menaruh kepalanya di badan sofa. Matanya terpejam. Salah satu telapak tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya.
Namun memutuskan untuk menerima keputusan Endri untuk mempertahankan sang istri sah, tentu saja bukan sesuatu yang mudah bagi Lesy. Ketika ia menjadi istri kedua apalagi dinikahi secara siri, ia hanya akan dipandang sebagai wanita simpanan jahat dan akan dicemooh oleh banyak orang.
"Mas?" Lesy berangsur meraih telapak tangan Endri yang berada di sampingnya. "Kamu kesal padaku?"
Mata Endri yang terpejam kini berangsur terbuka lebar. Detik berikutnya, ia menatap Lesy yang tampak cemas. Membuatnya tidak tega untuk bersikap abai apalagi sampai marah besar. Namun dengan menunjukkan kekesalannya mungkin bisa menjadi cara terakhir untuk membujuk kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Ya, aku tidak tahu jika kamu adalah wanita yang sangat keras kepala seperti ini, Lesy," ucap Endri penuh kehati-hatian. Meski terdengar menohok, ia tetap mengatakan hal itu dengan perasaan bersalah yang teramat dalam.
Lesy menelan saliva. Ingin sekali ia menimpali ucapan Endri, tetapi seketika itu juga ia memutuskan untuk menahan diri. Endri sudah menganggapnya sebagai wanita yang keras kepala, sehingga lebih baik menahan diri saja.
"O-okay ... a-aku akan menerima keputusanmu, Mas," ucap Lesy penuh keragu-raguan. "Ta-tapi, aku juga punya beberapa syarat."
Detik itu juga, Endri langsung menarik diri dan menegakkan badannya serta menatap Lesy dengan binar mata penuh harap. "Syarat apa yang kamu inginkan, Sayang?" ucapnya.
Lesy menghela napas. "Pertama, aku ingin kamu meresmikan pernikahan kita secepatnya. Aku memberimu waktu maksimal dua bulan, selama kandunganku belum terlalu besar. Kedua, aku ingin kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan aku. Ketiga ... bawa aku untuk tinggal di rumahmu, Mas, di mana Niana juga tinggal di sana."
"A-apa? Ke rumahku?" Wajah Endri berangsur kebas. "Semua syarat itu bisa aku tepati, tapi jika tinggal bersama Niana, bukankah itu terlalu ...?"
Lesy menggeleng. "Tidak, tidak terlalu berlebihan kok. Aku tahu betul bahwa dia sedang menantangku, Mas. Dan aku hanya menerima tantangannya itu. Dia memberimu penawaran yang menurutnya tidak bisa aku lakukan untuk kamu. Dia bahkan rela dimadu, seolah-olah dia tidak ingin menunjukkan lukanya pada kita. Jadi, aku juga ingin menunjukkan apa yang tidak bisa dia lakukan padamu, Mas, langsung di hadapannya!"
Mengapa kedua wanita ini sangat aneh dalam membuat keputusan? Pikir Endri. Namun ia tidak bisa mengatakan apa pun dalam beberapa saat dan hanya terdiam. Memberikan jawaban atas pertanyaan dari Lesy tentu saja masih merupakan sebuah kesulitan, karena Niana belum tentu setuju.
Lantas, apa yang seharusnya Endri lakukan?
__ADS_1
***