First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 61-Sebuah Perceraian yang Ingin Segera Direalisasikan


__ADS_3

Niana datang menemui Dany pagi ini. Sepagi mungkin, ia menuju ruang kerja pria itu, agar setidaknya kebersamaannya bersama Dany tidak menjadi perhatian bagi banyak karyawan. Dan tentu saja ada sesuatu yang hendak Niana sampaikan. Sebuah bantuan, lagi dan lagi. Namun, bisa jadi bantuan kali ini adalah bantuan yang perlu Dany berikan untuk terakhir kalinya atas permasalahan Niana dengan Endri. Setelah memberikan bantuan tersebut, Niana berharap Dany pun berhenti untuk mengorbankan diri lagi. Yah, setidaknya itu yang bisa ia pikirkan saat ini, sebab ia tak yakin apa yang akan terjadi. Termasuk tentang perasaannya yang bisa berubah-ubah kapan saja.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku di pagi yang semanis ini, Niana? Udara cukup sejuk, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Kamu tidak merasa galau gara-gara cuaca, bukan?" ucap Dany sembari mengambil sikap duduk di kursi sofa lain dan di hadapan Niana. "Katakan saja, Niana, jangan ragu-ragu. Mm, apa kakakku mengatakan sesuatu yang aneh padamu? Tadi malam, aku baru tahu kalau kakakku menemuimu, kalau tahu, mungkin aku akan mencegahnya. Bukankah Arsyita sangat merepotkan?"


Niana menggeleng pelan. "Tidak, Dany. Tak perlu cemas. Dan tak perlu juga mencegah keinginan beliau untuk menemuiku. Lagi pula, alih-alih merepotkan, beliau justru menyenangkan. Dan aku justru berterima kasih, karena ternyata Kak Syita bersedia membantuku," jawabnya.


"Kak Syita?" sahut Dany sembari mengernyitkan dahi.


"Ah ... itu, sebelumnya aku memanggil beliau dengan sebutan nona, tapi beliau tidak berkenan dan memintaku untuk memanggil kakak saja. Apa kamu keberatan, Dany?"


"Tidak dong! Kenapa aku harus merasa keberatan?"


"Barang kali kamu merasa tersaingi setelah ada orang yang dianggap sebagai adik oleh kakakmu satu-satunya."


"Hahaha ... aku tidak se-bocil itu kok, Niana!"


Niana tersenyum. "Tapi, beberapa kali kamu bersikap layaknya anak kecil. Suka ngambek."


"Aku? Tidak kok! Aku hanya ... ke-kecewa, dan ... dan—"


"Dan pokoknya kamu suka ngambek!"


"Tidak, Niana!"


"Ayolah, Dany." Niana tertawa kecil. "Kamu memang memiliki tingkah yang seburuk itu, jadi mengaku saja!"


"Oh astaga!" Dany ingin menyanggah lagi, tetapi melihat Niana yang tertawa kecil membuat Dany akhirnya memutuskan untuk mengalah saja. "Kamu ... cantik kalau tertawa seperti itu."


"Hah?"

__ADS_1


Niana melongo, sementara Dany langsung melebarkan mata karena terkejut dengan ucapannya sendiri. Hingga akhirnya kecanggungan menyelinap di antara mereka. Dany sampai tidak bisa berkata-kata. Niana pun mulai merasakan kehangatan di sekujur wajah hingga tengkuknya. Belakangan ini Endri mengatakan bahwa dirinya memang cantik, tetapi, rasanya sungguh berbeda ketika Dany yang mengatakan hal tersebut. Seolah seperti bukan Dany yang Niana kenal selama ini.


Jika Dany benar-benar menyukai Niana, sungguh, Niana semakin tidak tahu harus bagaimana. Kendati ia pun sudah berencana untuk bercerai dengan Endri dan sebentar lagi perceraian itu akan terjadi, tetap saja, Niana hanyalah seorang janda yang tengah menderita trauma. Dany terlalu tampan, terlalu baik, serta terlalu sempurna untuk dirinya yang sudah bukan seorang gadis ranum.


Niana menghela napas, kemudian berkata, "Dany, aku—"


"Ma-maafkan aku, tolong jangan terbebani oleh ucapanku barusan. Lagi pula kamu memang cantik, siapa pun akan berkata seperti itu, 'kan?" potong Dany yang cukup gugup dalam mengatakan ucapannya.


"Tidak kok," sahut Niana. Sebuah senyum lebar lantas terulas di bibirnya. Bersikap tenang dan seolah tidak merasakan getaran apa pun, adalah keputusan yang paling baik, begitu pikirnya. "Aku kan memang cantik. Kenapa pula aku harus terbebani oleh pujian yang menyatakan sebuah fakta itu, Dany?"


"Ah!" Dany yang sekarang dibuat melongo. Santai sekali wanita itu. Namun itu lebih baik daripada menjadi canggung lebih lama lagi. "Ya, ya, percaya dirilah selagi bisa, Niana. Dan, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku sekarang? Kamu sudah mendengar apa yang ingin kakakku lakukan, bukan? Apa kamu setuju pada keinginannya itu?"


Niana mengangguk. "Sudah tidak ada jalan untuk mundur, Dany. Aku tidak mau bertemu dengan Endri lebih lama lagi. Tadi malam pun dia datang, tapi beruntung aku bisa sedikit menghindar darinya tadi malam."


Karena Niana memang sedang datang bulan, tetapi ia tidak bisa mengatakan hal itu pada Dany. Namun yang pasti, ia berhasil membuat Endri tak lagi berbuat macam-macam. Dan nasib baik berpihak padanya, ketika tiba-tiba saja Lesy menghubungi Endri di jam sebelas malam dengan keluhan sakit perut.


Mendengar keluhan dari wanita menyebalkan itu, tentu saja Endri langsung bergegas. Endri menunjukkan sikap begitu cemas, seolah keamanan Lesy memang lebih penting daripada perasaan Niana. Padahal bisa saja Lesy hanya sedang bersandiwara untuk membuat Endri kembali ka apartemen detik itu juga.


"Ya, aku memang sudah berniat seperti itu. Siang nanti, Kak Syita akan datang ke perusahaan Endri. Kak Syita berjanji dalam waktu tidak sampai dua minggu, beliau akan membuat sosok Endri menjadi pusat perhatian. Aku rasa itu sudah cukup, meskipun Endri tidak sampai terkenal. Kak Syita juga memiliki rencana lain, hanya saja, aku belum tahu apa isi rencana tersebut."


"Yah, Syita memang betul-betul tulus untuk membantumu, Niana. Dia tahu rasanya. Lalu sekarang apa yang bisa aku lakukan?"


"Hari ini aku akan mengurus surat perceraianku, aku ingin membuatnya terlebih dahulu. Tapi, aku juga tidak ingin sekadar bercerai setelah apa yang aku lakukan sampai saat ini. Aku ingin meminta bantuanmu untuk membuatkan surat kuasa atas perusahaan Endri sekaligus rumah yang aku tempati saat ini, aku ingin memiliki keduanya dan aku ingin Endri menandatanganinya."


"Mudah saja," jawab Dany lalu menghela napas. Detik berikutnya, ia menunduk lalu berkata, "Tapi, bagaimana caranya kamu mendapatkan tanda tangan pria itu, Niana? Bahkan meski saat ini, Endri sudah tunduk padamu, pria itu belum tentu mengabulkan permintaanmu. Apalagi sebuah perceraian, jika saat ini Endri sedang jatuh cinta padamu lagi, sepertinya hal itu akan sulit kamu dapatkan."


"Rencanaku belum berubah, Dany. Dan inilah misiku sejak awal. Aku hanya lebih mempercepat saja karena aku sudah muak. Agar ibuku juga tidak terlalu mendesakku untuk punya anak dengan Endri, agar pernikahan adik iparku tidak terlalu rusak nantinya, meski keputusanku tetap akan memberikan dampak buruk baginya. Tapi mau bagaimana lagi, mentalku akan sangat tertekan jika terus-terusan menatap Endri. Untuk itu aku akan melakukan segala cara demi mendapatkan tanda tangannya di semua surat yang sudah aku persiapkan nantinya."


Dany menggertakkan gigi. "Jangan bilang kamu hendak menyerahkan dirimu lagi, Niana?!"

__ADS_1


"Jika itu memang harus aku lakukan, aku harus melakukannya, agar semua segera berakhir. Menahan diri sedikit lagi, aku masih mampu dan—"


"Tidak!" tukas Dany, kemudian ia segera bangkit dari duduknya. "Tidak boleh! Saat ini kamu terlalu berharga untuk tidur bersama cecunguk gila itu, Niana!"


"Jika ada cara lain, aku pasti tidak akan melakukannya, Dany!"


Niana mendongak menatap wajah Dany yang tampak begitu marah. Rupanya Dany memang sangat memedulikan dirinya, mungkin memang benar jika Dany juga menyukainya dan saat ini sedang berusaha untuk melindunginya.


Seandainya Niana juga jatuh cinta pada Dany sebelum menikah dengan Endri, mungkin ia akan berusaha mengejar Dany, bahkan meski Dany masih ketakutan terhadap sebuah hubungan asmara. Sesuai kata Arsyita, mungkin Niana pun sanggup membuat Dany sembuh dari trauma sekaligus fobia. Namun Niana yang sekarang hanyalah seorang calon janda yang tidak pantas, yang kotor, dan penuh pemikiran jahat. Ia benar-benar tidak pantas untuk Dany!


"Aku akan membuat surat-surat pengalihan kekuasaan yang kamu inginkan, dan aku akan mencari cara agar kamu tidak menyerahkan dirimu. Dan jika memungkinkan, akulah yang akan memaksa Endri untuk menandatangani surat-surat itu, Niana!" tegas Dany. "Aku tidak akan menyerahkan dirimu padanya lagi. Dulu, aku tidak setuju pada pernikahanmu dengan Endri, tapi aku hanya bisa menghela napas saja. Tapi, sekarang aku akan bertindak. Kamu memang masih boleh memberikan pelayanan untuknya, karena perceraian kalian memang belum terjadi. Tapi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kendati aku akan menerima akibat dari sebuah dosa."


Mata Niana mengerjap-ngerjap. Ia pun langsung bangkit dari duduknya. Sebuah senyum masygul lantas terulas di bibirnya. Ia merasa haru sekaligus bersyukur. Pria di hadapannya itu memang jauh lebih baik daripada Endri.


"Kamu tidak boleh melakukan kekerasan yang hanya akan membuatmu menjadi seorang penjahat, Dany," ucap Niana.


Dany menelan saliva. "Jika hal itu harus aku lakukan untuk dirimu, aku benar-benar tidak keberatan jika dianggap sebagai seorang penjahat, Niana," sahutnya.


"Aku senang karena kamu begitu memedulikan diriku sampai seperti itu. Tapi, Dany, pasti ada cara lain, bukan? Dan cara lain pastinya tidak hanya ada satu, melainkan banyak! Oleh sebab itu, mari kita mencari cara-cara itu bersama, jangan bertindak sendiri hanya untuk wanita sepertiku, Dany. Karena aku juga tidak akan rela jika namamu tercoreng gara-gara aku seorang."


Hati Dany berdesir-desir, tetapi juga merasa sakit. Niana tetap memikirkannya di situasi yang sepelik itu. Niana memang wanita yang baik, yang membuatnya akhirnya terlena. Ia benar-benar menyesal karena baru menyadari perasaannya belakangan ini, alih-alih sedia kala ketika Endri masih tidak ada.


Detik berikutnya, Dany mengambil langkah. Ia berjalan ke arah Niana. Meski masih agak malu, ia tetap memutuskan untuk mendekati Niana. Barang kali, Niana juga tersentuh oleh sikap dan perhatiannya. Lalu ketika sudah sampai di hadapan Niana, Dany merengkuh tubuh wanita itu. Mendekap Niana dengan erat dan penuh perlindungan.


Meski sempat terkejut, nyatanya Niana tidak menolak. Dany selalu menjadi sandaran baginya selama ini. Dan sekarang, Dany rela menyerahkan bahu dan dekapan untuk membuat Niana menjadi lebih tenang. Niana menutup matanya, sementara tangannya mulai bergerak untuk membalas dekapan dari pria itu. Sikap Niana yang begitu terbuka, membuat Dany lantas tersenyum haru.


"Aku akan selalu melindungimu apa pun yang terjadi dan bagaimanapun caranya, Niana. Kamu memang se-berharga itu bagiku. Maafkan aku ... karena aku baru menyadarinya saat ini. Saat di mana kamu sedang terluka parah. Tapi percayalah, aku bisa membahagiakanmu dan aku tidak akan pernah melakukan kejahatan seperti yang Endri lakukan padamu," ucap Dany begitu pelan, tetapi ia yakin Niana masih dapat mendengar.


Dan seharusnya Niana menjauh, bukan? Seharusnya ia menghindar atau segera melepaskan diri dari pelukan Dany. Ia harus tahu diri dan ingat bahwa dirinya adalah calon janda. Namun entah mengapa, Niana tidak mampu melakukannya. Dekapan Dany terlalu hangat untuk ditolak, perhatian Dany terlalu manis sampai membuat hatinya merasa haru. Apalagi janji Dany yang terdengar begitu tulus sukses meruntuhkan pertahanan Niana ketika jantungnya berangsur berdetak dengan sangat cepat.

__ADS_1


Seandainya Dany adalah sosok yang akan mengobati luka Niana, lantas, pantaskah Niana mencoba mengambil kesempatan tersebut? Namun jika Niana memutuskan untuk mengambilnya, apakah Dany mampu menunggunya sampai lukanya benar-benar sembuh secara sempurna?


***


__ADS_2