First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 36-Niana Tetap Lanjut!


__ADS_3

"Niana? Niana, kamu kenapa?" tanya Endri sembari mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Tidak apa-apa, Mas," sahut Niana dari dalam kamar mandi itu.


"Tapi—"


Ucapan Endri terhenti ketika Niana terdengar sedang membuka pintu kamar mandi itu. Dan tidak berselang lama, Niana muncul dengan sebuah senyuman. Namun wajah Niana tampak sedikit pucat. Tak mungkin jika Niana baik-baik saja, itulah yang Endri pikirkan saat ini.


"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Endri sembari menyentuh pipi Niana. "Wajahmu pucat sekali. Jika sakit sebaiknya kamu tidur saja, Niana. Aku tidak akan memaksa kamu."


Niana langsung menunjukkan wajah masam. Lebih tepatnya ekspresi orang yang sedang ngambek. Bibirnya sedikit melengkung ke bawah, pun pada kedua alisnya yang saling bertaut muram. Namun meski menampilkan wajah murung, Niana tetap bertindak. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Endri.


"Aku tidak apa-apa lho, Mas, sungguh!" ucap Niana dan semoga saja Endri percaya.


Niana memang tidak boleh menyerah, bahkan meski dirinya sudah begitu jijik pada sang suami. Sebab kesempatan seperti ini akan jarang terjadi. Jika sudah pulang ke rumah, Endri sudah sepenuhnya milik Lesy. Namun jika Niana sukses membuat Endri tergoda pada dirinya lagi, dapat dipastikan Endri akan terus merindukannya walaupun berada di kondisi sedang tidur bersama sang istri kedua.


"Asam lambungku kambuh, tapi hanya sebentar, gara-gara aku makan masakan Indri yang super pedas. Kamu kan tahu kalau aku tidak kuat makan pedas setelah menderita asam lambung, Mas. Tapi anak itu pasti akan mengomel kalau aku tidak makan hasil masakannya. Aku tidak mau membuat kecewa sang calon pengantin, Mas," ucap Niana. Ia menghela napas berat. "Apa kamu begitu jijik padaku hanya karena aku tampak pucat? Aku kan sudah baik-baik saja dan aku jamin aku tidak akan begitu lagi. Mungkin waktu kita hanya malam ini saja lho, Mas. Kita akan lebih sulit mencari waktu bersama karena kondisi istri keduamu."


Endri memberanikan diri untuk merengkuh pinggang Niana, bahkan ia tak segan untuk menarik tubuh Niana agar menempel pada dirinya. Ia tersenyum pada Niana kemudian berkata, "Apakah kamu memang serindu itu padaku, Niana?"


"Memangnya apa lagi kalau bukan rindu? Aku kan masih mencintai kamu, Mas. Salah satu alasan kenapa aku tidak mau bercerai selain dua alasanku yang lain, ya pastinya karena aku masih mencintai kamu. Hanya saja, selama ini kamu menunjukkan sikap kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi, jadi aku terpaksa menyembunyikan perasaanku dengan ketegasan yang aku lakukan terhadap dirimu, Mas."


"Benarkah seperti itu? Benarkah kamu masih menginginkanku, Niana?"


"Kalau aku sudah tidak menginginkan dirimu, mana mungkin aku ada di hotel ini bersama kamu? Dan kamu tahu tidak? Belakangan ini aku belajar cara merawat diri dan menjadi wanita yang menarik demi bisa dilirik oleh kamu lagi lho, Mas!"

__ADS_1


Senyuman Endri semakin melebar. "Ternyata begitu ya? Tapi, Niana, aku tidak menyangka kamu bisa senakal ini. Pft ... haha, sepertinya aku harus mengusahakan banyak waktu untuk bisa berduaan dengan kamu. Tapi ... tentu aku masih harus menjaga bayi di rahim Les—"


"Sssttt ...." Niana menaruh jari telunjuknya di bibir Endri. "Lupakan dia dulu, seperti yang kamu bilang, Mas. Sekarang fokuslah pada diriku saja."


"Baiklah ... hap!"


Endri langsung mengangkat tubuh Niana, sementara istri pertamanya itu sibuk memekikkan suara. Dengan cepat ia membawa tubuh Niana ke atas ranjang. Lalu ia merebahkan tubuh Niana secara perlahan. Pertama ia masih memberikan beberapa candaan. Sampai akhirnya ia sudah tidak tahan.


Dan ketika Endri mulai beraksi, di saat itulah Niana berusaha keras untuk menahan rasa jijiknya. Ia harus mencoba menikmati, setidaknya sebagai nafkah batin yang memang masih pantas untuk ia dapatkan atau ia berikan. Wajah Lesy tak boleh hadir di benaknya agar perutnya tak lagi melilit, meski hal ini begitu sulit untuk ia atasi. Karena mau bagaimanapun pengkhianatan Endri dan wanita itu sudah terlalu menjijikkan.


Sampai akhirnya Niana memilih untuk terus mengingat semua rencana yang sudah ia katakan pada Dany selama ini, demi bisa menyingkirkan rasa jijiknya. Akan lebih bagus jika ia terlena di dalam suasana. Namun jangan sampai dirinya terlena di hari-hari selanjutnya, sebab ia tidak mau mencintai suaminya lagi. Cukup malam ini saja atau ketika ia memerlukan adegan semacam ini sebagai salah satu langkahnya.


***


Niana mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa agak mengantuk. Sampai akhirnya ia bisa menatap pemandangan wajah tampan di hadapannya, meskipun matanya masih belum terbuka secara sempurna. Rupanya ia bisa melalui malam yang rasanya begitu panjang itu. Dan saat ini pun, pria yang sempat membuatnya mual masih terlelap di depan matanya.


Aku harus bangun sebelum dia membuka mata. Aku tidak ingin melakukan hal seperti yang kami lalui tadi malam, batin Niana. Lalu setelah itu, ia berangsur mengubah sikapnya dengan gerakan yang begitu pelan. Semoga saja, Endri tidak terjaga. Toh, waktu masih teramat pagi.


"Mm ...." Endri pun bersuara.


Dan sayangnya, Niana harus terjebak. Niatnya untuk segera menyingkir menjadi gagal total ketika Endri merengkuh pinggangnya dengan cepat. Niana menelan saliva dengan susah-payah. Matanya menatap tajam ke arah depan, menatap sebuah televisi yang bertemankan beberapa vas bunga serta ornamen milik hotel.


"Kamu mau ke mana, Niana? Masih gelap, 'kan? Baru jam lima kok," ucap Endri dengan suara yang serak.


Niana tersenyum secara terpaksa. Detik berikutnya, ia menoleh dan menatap suaminya yang masih tiduran. Namun rupanya Endri pun sudah membuka mata. "Aku mau mandi, Mas. Dan kita harus pulang. Kita kan masih harus bekerja hari ini," ucapnya setelah itu.

__ADS_1


"Tidak bisakah kita membolos saja?"


"Kamu mungkin bisa, tapi aku tidak bisa karena aku hanya seorang karyawan bukan seorang pimpinan, Mas. Lagi pula, kasihan Nur kalau memasak sendirian."


"Kamu baik sekali sih, Niana? Padahal Nur dibayar untuk memasak, tapi kenapa kamu kerap membantunya?"


"Karena aku sudah terbiasa ikut memasak setelah memutuskan untuk memasakkan makanan untukmu dengan tanganku, Mas."


"Hmm." Endri menarik tubuh Niana yang hanya terbalut selimut tebal itu. "Tidurlah dulu, sebentar saja. Lupakan urusan masak. Nanti kita sarapan di luar saja. Pulang untuk berganti pakaian, lalu berangkat. Aku akan mengantarmu."


"Itu tidak—"


"Jangan khawatir soal Lesy."


"Mm, dia bisa mengomel."


Endri tidak menjawab. Memilih tidak menggubris alasan Niana. Lagi pula, Endri memiliki alasan tersendiri untuk niat mengantar Niana. Detik berikutnya ia semakin menarik tubuh Niana sampai Niana terpaksa merebahkan diri lagi. Erat, Endri memeluk Niana. Endri melakukan hal iseng lagi, membuat Niana lagi-lagi harus berusaha menahan diri.


"Mas kita tidak boleh melakukannya lagi. Benda itu sudah habis. Aku tidak mau kecolongan. Kita kan sudah sepakat, lagi pula, tubuhku sudah terlalu lelah. Kamu melakukannya dengan begitu luar biasa," ucap Niana berniat untuk mencegah Endri melakukan apa pun terhadap dirinya. Lagi pula, ia tidak mau jika dijadikan sebagai alat pemuas oleh Endri di saat Lesy masih tidak boleh disentuh karena kondisi.


Endri menghela napas, meski berat ia tetap mengangguk setuju. Ia bersikap seperti itu karena tidak ingin membuat Niana tertekan apalagi sampai kesakitan. "Baiklah. Tapi, mungkin sekadar memeluk pun tak masalah, bukan?"


"Tentu."


Pelukan lebih baik daripada sesuatu yang Niana rasa cukup berat. Dan sekarang ia sudah merelakan tubuhnya untuk disentuh lagi oleh sang pengkhianat. Tujuan yang sebenarnya mungkin akan berhasil dengan cepat, kecuali jika mendadak muncul beberapa kendala. Niana yakin setelah mengetahui kebersamaannya dengan Endri tadi malam, Lesy akan semakin menggila. Bahkan bisa saja Lesy menyusun rencana untuk segera menyingkirkannya sebagai istri pertama. Orang seperti Lesy, biasanya akan menggunakan trik playing victim yang bisa membahayakan posisi Niana sebagai tokoh utama di dalam kisah mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2