
Niana meletakkan tas jinjing di atas nakas, kemudian berangsur merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia baru saja pulang. Mata dan tubuhnya terasa begitu berat. Mungkin dirinya memang sudah terlalu lelah. Ada banyak sekali hal yang menguras emosinya sejak hari sebelumnya. Ia sampai harus menangis dan bahkan menahan napas berkali-kali. Dirinya pun masih merasa kotor ketika teringat setiap sentuhan tangan sang suami. Beruntungnya, ia masih mampu mengatasi masalah yang disebabkan oleh Lesy atau bahkan dirinya sendiri.
“Haaaah ....” Niana mengembuskan napas dengan kasar. Matanya yang sempat tertutup rapat kini kembali terbuka. Ia tidak boleh tidur di sore hari menjelang petang.
Bahkan meski tidak berniat membantu Nur di dapur, Niana tetap harus bangkit. Ia tidak mau ketiduran sampai malam, apalagi ketika dirinya memiliki sebuah janji pertemuan dengan seseorang. Namun bukan dengan Endri janji pertemuan itu Niana setujui, sebab tadi siang Endri masih berniat untuk berada di apartemen Lesy. Endri mengaku ingin mengurus barang-barang sekaligus membuat hati Lesy menjadi lebih tenang terlebih dahulu. Dan apa boleh buat, Niana tetap mengangguk setuju setelah sempat bersandiwara mau tidak mau.
Sementara orang yang memiliki janji dengan Niana adalah Dany. Pria itu mengundangnya ke sebuah restoran dengan ruang VVIP yang privasi. Niana pun tak memiliki pilihan lain selain mengangguk setuju, apalagi setelah ia menolak tawaran makan siang dari sahabat sekaligus atasannya itu. Lagi pula, ia juga harus menyampaikan sesuatu pada Dany.
“Nyonya Niana?” Suara Nur terdengar dari balik pintu kamar Niana disertai bunyi ketukan jari di pintu itu. “Airnya sudah hangat kalau Nyonya ingin mandi sekarang."
“Iya, Nur, terima kasih. Sebentar lagi aku akan keluar,” sahut Niana dengan suara yang masih bisa didengar oleh Nur.
“Baik, Nyonya. Apa Nyonya juga akan langsung makan?”
“Tidak, Nur. Kamu makan saja kalau sudah lapar. Dan setelahnya simpan saja sisa masakan untuk dihangatkan esok hari. Malam ini aku ada janji temu dengan seseorang.”
“Oh, baik, Nyonya.”
__ADS_1
Hanya berkisar beberapa detik saja, terdengar langkah kaki Nur yang menjauh dari pintu kamar Niana. Setelah tak ada lagi suara di luar sana, Niana lantas menghela napas. Ia pun berangsur mendudukkan dirinya. Benar-benar tidak ingin terlena bisikan bantal yang memintanya untuk tetap memejamkan mata.
Sebenarnya Niana merasa cukup malas, tetapi ia tetap harus bergerak. Dany bisa lebih kecewa padanya daripada tadi siang. Lagi pula, Niana juga cukup penasaran dengan apa yang ingin Dany katakan sampai harus me-reservasi private room di sebuah restoran. Kemungkinan besar ada hal yang jauh lebih penting daripada yang ingin Niana ucapkan pada pria itu. Ketika Endri tidak ada di rumah menjadikan malam ini adalah waktu yang tepat. Niana tidak mau membuat kepercayaan Endri menurun lagi seandainya Endri justru tahu bahwa Niana ingin bertemu dengan Dany.
Niana mengambil jubah handuk yang masih bersih di dalam lemari, sekaligus mengambil pakaian yang memang ia perlukan. Detik berikutnya, ia lantas berjalan untuk keluar dari kamar tersebut. Ia ingin membersihkan kotoran di seluruh dirinya, dan seandainya bisa, ia ingin membuat sentuhan tangan Endri sampai tak lagi terasa. Meskipun besok atau lusa, ia tetap perlu merayu suami yang sebentar lagi akan hancur di tangannya itu.
***
Malam hari pun tiba. Niana sudah mempersiapkan dirinya. Sebuah blazer cream yang menutupi kaos putih serta celana dengan warna senada telah membalut tubuhnya. Untuk malam ini, ia sengaja menguncir rambutnya dengan model kuncir kuda. Gaya make-upnya masih sama saja, tetapi menjadi lebih baik dan rapi. Parasnya yang sudah cantik semakin bertambah segar dan menarik. Kemudian, kalung berliontin dan sepasang anting dengan permata kecil pun menghiasi daun telinganya. Tak ketinggalan sebuah jam tangan, tas selempang, serta sepatu high heels putih turut mendukung betapa cantik Niana pada malam hari ini.
Nur yang berencana mengantarkan Niana ke teras bahkan sampai terpana. Segala pujian dan kata antusias keluar dari mulutnya. Tak segan, Nur pun mulai membandingkan kecantikan Niana dengan Lesy dan baginya, sang nyonya kesayangan adalah pemenangnya.
“Iya, Nur, tenang saja. Tapi, kalau besok berat badanmu naik atau wajah kamu jerawatan jangan salahkan aku, ya!” sahut Niana. "Kamu kan suka kalap sama martabak."
“Tidak dong, Nyonya! Tenang saja, lagi pula saya hanya bercanda kok! Hihi. Eh tapi kalau Nyonya bersedia ya tidak apa-apa! Hihi.”
“Dasar gadis ini!” sahut Niana dan tetap tersenyum. “Kalau begitu aku berangkat dulu, Nur, kamu jaga rumah. Dan kalau Mas Endri datang, katakan saja kalau aku sedang ke rumah makan orang tuaku.”
__ADS_1
“Siap, Nyonya! Dan hati-hati di jalan.”
Niana mengangguk kemudian bergegas untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia menempelkan ponsel di dashboard kendaraan itu. Sebelum melaju, ia memutuskan untuk menekan tombol ponsel untuk menghubungi Dany terlebih dahulu. Dan sembari menunggu pria itu menjawab, Niana mulai mengemudikan kendaraannya itu.
***
“Hai, Niana. Kamu sudah berangkat?” ucap Dany beberapa detik setelah menerima panggilan dari Niana. Ia pun sedang berada di dalam mobilnya sendiri dan sedang menuju restoran yang sudah ia reservasi. “Sampai mana? Mm ... sepuluh menit lagi ya, baik. Aku juga akan sampai sebentar lagi. Mungkin aku yang akan sampai lebih awal ... mm, baik, ... jaga dirimu, Niana. Ya ... bye, Girl!”
Setelah itu, Dany menutup panggilan ketika perbincangannya dengan Niana telah selesai. Malam ini ia tidak hanya ingin mendengar cerita di malam sebelumnya dari mulut Niana sendiri, ia pun berencana untuk menyelidiki perasaannya terhadap wanita itu seperti yang Arsyita inginkan. Kata Arsyita, jika seseorang sedang jatuh cinta, maka jantung orang tersebut akan mudah berdebar-debar ketika menatap sang pujaan.
“Tapi, aku harus menguji jantungku dari mana dulu? Menatapnya? Sekadar berbincang dengannya? Atau ... mencoba menyentuhnya?” Dany bergumam. Detik berikutnya, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya pun telah menunjukkan ekspresi jijik dan ia tujukan pada dirinya sendiri. “Dasar bodoh! Niana akan menganggapku sebagai pria mesum kalau aku mendadak menyentuhnya! Lagi pula, masa tiba-tiba kasih sentuhan begitu saja? Bodoh sekali otakku!”
“Oh, Kak. Tak masalah jika aku tetap memegang status sebagai jomblo sejak lahir, daripada ditugaskan untuk menyelidiki perasaanku sendiri. Mana perasaan jatuh cinta lagi! Mana aku paham, Syita!” Dany mulai mengomel. “Bodohnya kok aku tetap mengikuti perkataan Syita sih?! Lagi pula, Syita tak akan tahu jika aku tidak melakukan syaratnya, bukan? Tapi ... kenapa aku juga penasaran?”
Dany ingin menjatuhkan dirinya karena merasa agak lemas dan bodoh. Namun hal itu tidak mungkin ia lakukan sebab dirinya masih dalam keadaan menyetir sebuah kendaraan. Lagi pula, ia harus segera sampai ke tempat perjanjian untuk mendengar cerita dari Niana sekaligus untuk menguji jantungnya.
Namun, ... percayalah! Saat ini pun jantung Dany sudah berdebar-debar. Ia merasa gugup, padahal yang ia temui hanyalah Niana, wanita yang sudah ia kenal sejak lama dan bahkan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Anggapan itu mungkin saja akan berubah, ketika Dany sudah mengetahui hasil dari rencana pengujian yang akan ia lakukan terhadap jantungnya ketika berada di dekat Niana.
__ADS_1
***