
Masih di tempat yang sama, perbincangan panas ketiga orang itu masih berlangsung. Niana yang semakin mendapatkan kepercayaan diri, sementara Lesy yang justru kalang kabut sendiri. Padahal sampai saat ini Niana masih membatasi ucapannya karena ia tidak ingin dicurigai oleh suaminya. Ternyata nasib baik berpihak pada Niana, ketika emosi Lesy justru meletup-letup dan nyaris tidak terkontrol tanpa Niana banyak melakukan hal buruk. Entah apa yang ada di pikiran Lesy sampai bersikap seceroboh itu, atau mungkin Lesy hanya sedang sensitif karena hormon kehamilan. Apa pun itu, Niana tidak berniat untuk mundur dari perbincangan yang sudah ia genggam.
Tak berselang lama, Lesy memutuskan untuk meraih cangkir saji yang berisi teh. Perlahan ia menyesap teh tersebut, tetapi ....
"Uhuk! Teh apa ini?!" Lesy terbatuk nyaris tersedak. Ia menaruh cangkir berisi teh itu dengan kasar di atas meja. "Kenapa pahit sekali?!"
"Nuuur!" Endri segera memanggil Nur sementara Niana mengernyitkan dahi karena tidak tahu-menahu.
Nur yang sudah berjaga-jaga di dalam dapur segera berlari menuju ruang tamu rumah itu. Tentu saja ia adalah pelakunya. Pelaku yang membuat teh tanpa gula untuk istri kedua dari tuannya. Dan ia tidak takut dengan risiko yang ada. Karena ia yakin Niana akan lantas membelanya.
"I-iya, Tuan? A-ada apa ya?" tanya Nur berlagak bodoh ketika sudah sampai di hadapan ketiga orang itu.
"Kamu sengaja ya?!" Lesy bangkit dari duduknya dan menatap Nur dengan marah.
"Hah?" Nur melongo, tentu saja hanya ekspresi yang tercipta dari sandiwaranya. "Kenapa ya, Mbak?"
"Apa? Mbak kata kamu?" Lesy semakin emosi.
Endri mulai jengkel. "Kenapa teh untuk Nyonya Lesy begitu pahit, Nur?"
"Eh?! Masa' iya, Tuan?" Nur menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Apa saya lupa menaruh gula ya tadi? Ah, Mbak, maksud saya Ny-nyonya Lesy, hehe. Maafkan saya, soalnya saya sudah terbiasa membuat dua cangkir teh saja untuk Nyonya Niana yang cantik dan Tuan Endri hehehe."
Melihat ekspresi Nur yang konyol, lagi-lagi hati Lesy merasa tersindir. Ia yakin pembantu kampungan itu sengaja ingin meracuninya dengan teh yang sangat pahit. Niana sudah membuatnya nyaris gila di pertemuan pertama, dan sekarang ada seorang pembantu durjana. Bagaimana ia tidak marah apalagi kecewa?! Bahkan ia sampai menyesali keputusannya untuk tinggal di rumah yang sama dengan mereka!
Cepat, Lesy meraih cangkir teh. Dan ia sudah bersiap untuk melempar benda itu pada Nur. Namun ....
__ADS_1
"Cukup!" ucap Niana tegas sembari bangkit dari duduknya. Sikapnya membuat rencana Lesy menjadi tertunda. "Mas, aku tolong bawa istri barumu ke kamar saja. Kondisi emosinya benar-benar buruk. Aku khawatir dengan kondisi kandungannya yang lemah jika dia terus-terusan marah tidak jelas begini. Kamu tahu sendiri, 'kan, kalau Nur memang gadis yang kerap plin-plan? Tak hanya sekali ini saja Nur melakukan kesalahan sepele. Tapi jika karena kesalahan sepele itu, Nona Lesy sampai ingin melempar cangkir yang keras, aku tidak akan diam saja. Jika Nur sampai terluka, bukankah Nona Lesy sudah terhitung melakukan suatu tindak pidana?"
Kepala Endri merasa pusing tujuh keliling. Ia bangkit dengan lemah dan tampak lelah. Emosi Lesy memang cukup merepotkan dirinya akhir-akhir ini. Dan ia harus terus menjaga kesabaran untuk menghadapi istri kedua tercintanya itu. Dulu, ia melihat Lesy sebagai wanita yang sangat ceria, cantik, dan menyenangkan. Namun sekarang, ia harus mengakui bahwa Niana jauh lebih bijak dan dewasa. Setidaknya ia harus bertahan selama tujuh bulan untuk menghadapi perubahan sikap si ibu hamil.
"Nur, lain kali jangan diulangi lagi ya?" ucap Endri pada Nur. Ia pun sudah merengkuh pinggang Lesy dari belakang. "Ayo, Lesy. Kamu harus beristirahat. Seperti kata Dokter, kamu tidak boleh banyak pikiran."
Lesy masih tidak terima. "Mas, tapi mereka—"
"Sudahlah, mereka masih tetap sama seperti sebelumnya. Mungkin kamu yang sedang sensitif saja."
"Mas!"
"Ayo!"
Lesy menyerah sembari menahan rasa dongkol yang kian membesar. Kakinya terpaksa mengikuti langkah Endri yang entah akan menuju ke mana. Ia sangat membenci pertemuan pertamanya dengan Niana setelah dirinya menyandang status sebagai istri baru dari Endri. Dan ia akan membuat perhitungan ketika kondisinya sudah lebih tenang.
Endri yang sudah berada di pertengahan anak tangga bersama Lesy, lantas menghentikan langkah kakinya. Pun istri keduanya tersebut. Ia menoleh ke arah bawah di mana Niana berada. "Ada apa?" tanyanya.
"Pukul tujuh malam, Dany ingin kita berdua datang ke rumah ayahku. Jadi kamu harus sudah siap ketika sudah setengah tujuh," sahut Niana. "Aku sudah meminta Dany untuk berbicara dengan ayahku, karena sebelumnya Dany lebih mempercayai ayahku daripada kamu."
"A-apa?"
Niana menghela napas. "Maksudku bukan karena kamu tidak hebat, tapi, mengingat hubungan ayahku dan Dany yang sudah sangat akrab, sepertinya ayahku bisa menjadikan diri beliau sebagai jaminan kerja sama yang aku inginkan untuk membantu perusahaan kamu, Mas. Itu pun jika kamu berkenan untuk datang. Kamu tahu, bukan, membujuk pengusaha besar untuk berinvestasi di perusahaan yang sedang pailit sangatlah sulit? Dan Dany sudah memberikan kesempatan karena posisiku yang istri kamu ini adalah sahabatnya, sementara ayahku adalah orang yang sudah Dany anggap sebagai keluarga."
"Tidak boleh, Mas. Aku sedang tidak enak badan lho! Dan aku baru pertama kali berada di tempat ini!" sahut Lesy.
__ADS_1
Endri menatap Niana dan Lesy secara bergantian. Kebimbangan begitu besar dalam menyelimuti hatinya.
"Mas, kamu bisa melakukannya besok atau hari-hari yang lain, bukan?" desak Lesy.
"Tidak bisa," sahut Niana. "Dany bukan orang yang tak punya kesibukan. Dan dia sudah meluangkan waktu untuk kita, Mas. Di rumah ayahku. Lagi pula, kenapa kamu tidak mengatakan apa pun jika hari ini kamu akan membawa Nona Lesy? Kalau aku tahu, aku pasti akan membujuk Dany untuk datang di lain hari."
"Uuugggh! Mas, tolong ...." Lesy tidak mau kalah.
Namun akal sehat Endri tetap berjalan. Ia akan memilih untuk mengikuti Niana, karena kesempatan besar belum tentu datang untuk kedua kalinya.
"Aku akan bersiap-siap, Niana. Terima kasih atas bantuan yang telah kamu berikan," ucap Endri.
"Sama-sama, Mas. Lagi pula, aku kan istri kamu. Jadi, aku harus bisa membantu kamu, Mas."
Endri langsung membawa Lesy untuk segera naik ke lantai dua. Bahkan meski istri keduanya itu masih saja merengek dan marah-marah. Tak apa, Endri harus bersabar menghadapi ibu dari calon buah hatinya. Namun ia tetap akan mengikuti ucapan Niana demi kelangsungan hidup perusahaannya.
Niana tersenyum licik, menikmati betapa bodohnya kedua insan itu. Padahal tak ada janji apa pun malam ini. Namun ia bisa mendesak Dany agar Dany datang ke rumah orang tuanya. Lagi pula, Dany sudah berjanji akan selalu siaga ketika Niana membutuhkan. Jika rencana Niana nanti malam gagal, tentu saja Niana sudah mempersiapkan alasan. Yang pasti, ia bisa membuat Lesy kecewa terlebih dahulu.
"Nyonya Niana tidak apa-apa, 'kan?" tanya Nur yang keberadaannya di tempat itu nyaris dilupakan oleh Niana.
Niana tersentak. Detik berikutnya ia menatap Nur, "Bohong jika aku baik-baik saja, Nur. Tapi, aku merasa ada yang aneh di hatiku. Mungkin ... sedikit rasa puas. Ah iya, kerja yang bagus, Nur! Aku suka dengan idemu. Tapi, usahakan setiap ide yang kamu lakukan jangan sampai berisiko menyakiti dirimu sendiri. Mm, ambil tasmu, Nur. Dan tidak perlu mandi, mari kita berbelanja. Aku akan meminjam mobil Mas Endri dan mulai menyetir sendiri lagi."
"Ah! Siap, Nyonya!"
Dengan penuh semangat Nur berlari menuju kamarnya. Sementara Niana mulai bisa tersenyum. Ia pun memutuskan untuk menuju kamarnya yang juga berada di lantai dua. Tempat di mana Endri dan Lesy pun ada di sana, di kamar yang lain.
__ADS_1
***