
keesokan harinya
Sudah pagi,Bima sudah bersiap dengan setelan koko berwarna putih yang memiliki sedikit bordiran dibagian pundaknya. Sedangkan Maira, ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan Bathrob dan juga handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan sisa air di rambut panjangnya.
"Kamu udah siap?. " tanya Maira pada suaminya yang sudah kelihatan makin ganteng dari hari ke hari.
"Udah nih,aku pake baju koko aja. Kan acaranya aqiqahan baby Thalia dan pertunangan Kak Netta.Menurut kamu cocok gak sayang?. " Bima minta pendapatnya Maira mengenai pakaian yang sedang ia kenakan.Bahkan ia sampai berputar-putar di hadapan Maira.
"Bagus kok, udah cocok banget buat kamu sayang.Keren." puji Maira sambil menampilkan kedua jempol tangannya.
"Bagus deh kalau kamu suka,karena kalau kamu udah bilang keren. Pasti artinya memang keren. Karena aku juga gak akan peduli kok sama penilaian orang lain, yang penting itu penilaian dari istri aku yang tercinta." ujar Bima sambil menyentuh wajah Maira dengan tangan kanannya lembut.
"Gombal ih,aku ganti baju dulu.Coba deh kamu tolongin aku cariin gaun yang cocok buat aku,kalau bisa yang senada sama koko yang kamu pake, biar kelihatan serasi sayang." pinta Maira.
"Oke."
Bima kini tengah meneliti gaun milik Maira yang berwarna putih,pilihannya jatuh kepada gaun jenis kaftan yang dihiasi dengan swarovski dibagian pundaknya ke bagian dada dan juga pinggangnya.
"Kamu pasti cantik banget sayang kalau pakai ini,tuh lihat kita juga pasti akan sangat serasi.Benar 'kan?." ucap Bima sambil menyandingkan kaftan itu ditubuh Maira yang sedang berdiri berdampingan dengannya didepan cermin.
"Okey, aku pakai yang ini." Maira segera meraih gaun dari tangan Bima dan dengan santainya ia mengganti pakaiannya di hadapan suaminya tanpa rasa malu lagi.
Bima tak berkedip menatapnya, andai saja tidak ingat kalau akan ada acar penting hari ini, mungkin dia akan langsung mengajak Maira untuk berlayar ke lautan cinta berdua.
"Gimana, abis ini akun pakai apa untuk kepalanya. Apa harus pakai jilbab?. " tanya Maira.
"Kayaknya kita keringin dulu rambut kamu. Biar aku bantu."
Maira jadi merasa kayak punya salon pribadi, karena ini bukan pertama kalinya Bima mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.Maira senyum-senyun sendiri dibuat nya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?. " tanya Bima.
"Lucu aja lihatin kamu dari kaca.Kamu mahir banget ya gunain hairdryer itu.Kenapa gak buka salon aja?. " ledek Maira.
"Yaaa,kalau aku jadi tukang salon.Entar yang ada suami kamu ini malah dikira ngondek. " ujar Bima sambil memperagakan gayanya benconk kalau lagi ngondek.
__ADS_1
Melihat itu Maira jadi terpingkal-pingkal.
"Udahan ketawanya, ingat! jangan bilang kesiapa-siapa soal ini, entar yang ada aku jadi malu... sayang. " ujar Bima keki.
Tapi ia tetap melanjutkan menata rambut istrinya itu, lanjut dengan menggunakan catokan dan dililitkan nya sampai membentuk spiral dibagian bawahnya.
"Aku kepikiran, kayaknya kamu akan makin cantik kalau pakai turban ini. Warnanya kan juga serasi dengan kaftannya. "
"Kan itu memang bawaannya sayang. " jawab Maira.
Kini penampilan Maira sudah seperti seorang ratu, dengan kaftan putih nan terlihat cantik, mewah dan berkelas.Ibarat kata bunda Inul Daratista itu terlihat "Mahal."
"Make-up nya???. " seketika Maira ingat kalau dia belum memakai riasan make-up sama sekali.
"Waduh, lupa sayang. Kalau soal yang satu itu kamu lebih ahli. Aku gak bisa bantu. " ujar Bima.
"Ya udah,tunggu sebentar. Aku akan selesai dalam sepuluh menit lagi. "
Maira mulai meloloskan Primer dan sebagainya di kulit wajahnya yang akhir-akhir ini berubah jadi sedikit kering. Mungkin karena faktor hormonnya yang sekarang sedang hamil.
"Wah, cantiknya istriku. " Bima sampai gak tahan mau mengecup puncak kepala Maira yang sudah tertutupi turban putih dengan hiasan swarovski senada dengan kaftan yang ia kenakan.
"Kalau udah,ayo kita segera turun dan berangkat. " ajak Maira.
"Bik Piya dan Bik Sarni udah siap belum ya?. " Maira menilik-nilik dari tangga apakah para ART nya itu sudah siap atau belum.
Ternyata Bik Piya dan juga Bik Sarni sudah siap dengan gamisnya yang kompakan.Entah kapan kedua ART nya membeli gamis kembaran seperti itu, tapi terlihat cute.
"Kapan belinya?. " tanya Maira.
"Ini kami pesan lewat online Non.Kan acaranya mendadak, Sarni gak bawa baju gamis, kalau mau pakai punya saya juga kegedean.Jadi pas Sarni mau pesan di aplikasi belanja online, saya ikutan juga. Biar kembaran gitu. " jelas Bik Piya.
"Ooo, cantik kok Bik.Bibik berdua kayak adek kakak jadinya. " ujar Bima menimpali.
"Iya."angguk Maira setuju.
__ADS_1
" Oke,sebaiknya kita segera berangkat kerumah Ayah Sasongko sekarang. "
*****
Hari ini Bima mengeluarkan koleksi mobil Alphard nya.Mobil putih yang lega itu akan lebih nyaman bagi istrinya yang sedang hamil trimester kedua.
Pak Andi jadi supirnya hari ini, karena Bima ingin duduk santai bersama istrinya di bagian tengah.
"Kalau ada yang tanya gimana?. " bisik Maira pada Bima.
"Udah, gak usah difikirkan. Nanti kalau banyak yang julid, kita pamit pulang aja. " ujar Bima.
"Gak bisa gitu dong sayang. " ujar Maira.
"Kalau gitu kita ceritakan saja yang sebenarnya. "jawab Bima.
Kedua Bibik yang duduk dibelakang jadi saling lirik.Entah apa gerangan yang sedang dibisikkan oleh pasangan ini? 'Mungkin itu yang ada dalam fikiran mereka.
****
Tiba juga akhirnya dirumah keluarga Sasongko, disini sudah siap dengan semua persiapan,dan juga dekorasi yang megah.Kelihatannya Nyonya Shinta memang mempersiapkan semuanya secara spesial, maklum saja, ini adalah acara penting kedua anaknya.
Tapi tanpa Maira duga,di bagian belakang panggung sudah ada fotonya dengan Bima dengan tulisan syukuran empat bulanan kehamilan Putri kedua kami Maira.
Dibagian sebelah kanannya adalah foto Netta dan juga Andi dengan tulisan pertunangan putri pertama kami Netta dan Andi,dan disebelah kiri dari foto Maira adalah foto Tiara, suami dan juga putri kecilnya Thalia dengan keterangan Aqiqah baby Thalia Faranisa.
" Wah, meriah sekali ya Non. "ujar Bik Piya.
Bik Sarni juga tak kalah terperangah. Ini kali pertamanya datang kerumah Sasongko, tidak seperti Bik Piya yang dulu lama tinggal di sana.
" Dulu Bik Piya kerja disini kan?. "tanya Bik Sarni.
" Iya, ini rumah orang tuanya Non Maira.Saya lah yang merawat Non Maira dari kecil, apalagi sejak Nyonya Nurmala meninggal. "kenang Bik Piya.
" Pantas saja Non Maira deket banget sama Mbak Piya. "ujar Bik Sarni.
__ADS_1
" Ya, begitulah. Akhirnya kami bisa sangat dekat seperti sekarang.Bagi saya Non Maira itu sudah seperti anak saya sendiri. "ujar Bik Piya.