
Maira menatap Ester dengan senyuman dibibirnya, dia ingin mengakrabkan diri dengan mantan pacar suaminya itu, bukankah ada kata pepatah yang berbunyi "Bertemanlah dengan musuhmu, agar kau bisa tau lebih banyak tentang dirinya. "
"Are you Bima's wife?. " tanya Ester.
"Yes, that's right. " jawab Maira santai.
Lalu tak lama kemudian,Bapak tukang sate itu datang menghampiri keduanya karena ternyata dia sudah menyelesaikan pesanan Ester.
"Ini Mbak satenya. " ujar Bapak tukang sate.
Ester yang melihat bungkusan dihadapannya jadikan mengerti maksud Bapak penjual sate, kalau pesanannya sudah jadi sekarang.Ester pun mengeluarkan uang 50 ribuan untuk membayar sate tersebut.
"Thanks." ujarnya pada tukang sate, kelihatannya dia sudah langganan dengan tukang sate ini, mungkin selama tinggal di perumahan ini beberapa hari belakangan si Ester sudah sering membeli sate Bapak ini,mereka terlihat akrab walaupun Bapak itu tidak mengerti apa yang Ester bicarakan, tapi mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Tanpa basa-basi kepada Maira, Ester meninggalkan tukang sate dan juga Maira yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.
Maira sengaja memperhatikan ester sampai wanita itu masuk kedalam gerbang rumahnya,agar dia bisa melihat apakah wanita bule itu akan menoleh ke belakang atau tidak,ternyata iya,"hmmm"ucap Maira lirih,ia menggelengkan kepalanya.Barulah setelah itu Maira masuk kedalam dan meminta Bik Piya untuk menutup gerbangnya.
Maira tersenyum puas, entah apa yang sedang ia fikirkan.Bima hanya bisa memperhatikan sikap aneh istrinya itu dari depan pintu utama.
Dia menunggu Maira disana setelah tadi ia memasukkan mobil Maira ke garasi di basement rumahnya.
"Kamu gak marah-marah sama dia?. " tanya Bima mengejutkan Maira yang sedang larut dalam fikirannya.
"Buat apa aku mesti marah-marah,cuma bikin sport jantung saja dan itu gak bagus buat janin aku." jawab Maira, padahal dihatinya dia sangat gedeg sekali, namun ia tahan.
"Aku gak nyangka aja kalo kamu bisa bersikap manis seperti tadi kepada orang yang pernah buat kamu sampai meninggalkan aku waktu itu.Tapi aku harap, kamu gak akan pernah menaruh curiga lagi sama aku dan juga dia. Percayalah sayang, aku sudah tidak memiliki rasa apapun terhadap Ester.Aku hanya mencintai kamu dan juga calon anak kita.Bagiku Ester hanyalah masalalu ku saja, dan aku harap kamu bisa ngertiin aku." pinta Bima sambil meraih kedua tangan Maira berharap istrinya mau mengerti.
"Iya, aku tau.Tapi kamu harus janji kalau kamu gak akan pernah berpaling pada wanita lain, secantik apapun wanita itu kamu hanya akan mencintai aku." ujar Maira sambil menatap mata Bima.
"Kamu gak usah khawatir soal itu,aku janji!. " jawab Bima sambil mengangkat tangannya.
"Ayo kita masuk. " ajak Maira, sementara Bima malah merasakan keanehan pada sikap istrinya itu.
"Kenapa Maira gak marah setelah tau Ester tinggal didekat sini?,kenapa dia gak curiga kalo bisa aja aku yang membawa Ester tinggal disekitar rumah ini?? Kok dia malah terlihat tenang-tenang saja?. " fikir Bima.
"Sayang, kok malah bengong. Ayo masuk. " Maira sampai menarik tangan Bima yang terlihat sedang melamun dan berfikir.
__ADS_1
"Iya, iya. Hati-hati kamunya jangan tarik-tarik aku. Nanti jatuh, bahaya. " jawab Bima mengingatkan.
"Kan ada kamu yang akan jagain aku agar selalu aman. " jawab Maira.
Bima tersenyum melihat senyum di wajahnya Maira.
"Terimakasih sayang. " ucap Bima.
"Terimakasih untuk apa?. " tanya Maira.
"Terimakasih karena kamu sudah mau mengerti aku, soal... "
"Si Ester??, aku hanya mencoba bersikap dewasa dan realistis saja kok. Selagi kamu gak bawa dia masuk ke rumah ini diam-diam dibelakang aku, selagi bukan kamu yang pegang-pegang dia,aku akan mencoba untuk memaklumi, taaaappiii...?!. " ucapan Maira terhenti. Matanya mulai menajam menatap kearah mata suaminya itu.
Bima jadi sedikit gentar melihat tatapan tajam Maira yang seakan sedang memburunya.
"Tapi apa sayang??? ".tanya Bima cemas menunggu jawaban lengkap istrinya.
" Tapi kamu tidak boleh lagi beri-beri dia harapan!. "ujar Maira tegas.
" Tentu saja, itu tidak akan pernah terjadi lagi.Kamu harus yakin dan percaya sama aku.Dia hanyalah masa lalu aku, dan masa depan aku hanya ada kamu dan anak-anak kita kelak. "jawab Bima meyakinkan Maira.
"Kebetulan tadi aku beli sate di depan, kita makan sate juga ya? . " ujar Bima.
"Oke,sate enak juga tuh. " sahut Maira.
"Tapi aku juga mau sholat magrib, bareng aja deh di musholah bawah seperti biasa. " ajak Bima..
"Baiklah kalau begitu, kamu tunggu aku selesai mandi dulu. "
"Mmm." angguk Bima.
Maira berlalu ke kamar mandi dan Bima turun kebawah untuk bilang ke Bik Piya soal makan malam, Bima juga bilang ke Bik Piya soal sate yang tadi ia beli, "satunya buat Bik Piya".
"Wah, terimakasih Den Bima satenya. " ujar Bik Piya.
Bik Piya yang sudah sholat duluan langsung menyiapkan meja makan untuk majikannya dan menyisihkan satu bungkus sate untuk dirinya.
__ADS_1
Bik Piya biasanya makan di meja makan yang ada didalam dapur , kalau siang ada Bik Sarni yang makan bersamanya, tapi kalau malam dia makan sendirian,hanya saja kalau Bima tak dirumah dia akan makan bareng Maira.Itu karena dia ingin menghormati Bima sebagai suami majikannya,walaupun kadang dia juga diajak makan bersama oleh kedua majikannya itu.
Bima dan Maira kini sedang sholat berjama'ah, keduanya sangat khusyuk sekali,setiap harinya mereka akan mengusahakan untuk sholat bersama meskipun kesibukan keduanya banyak menyita waktu mereka.
Maira menyalami tangan suaminya setelah do'a yang dipanjatkan Bima sudah selesai.
"Sayang, kamu tau gak?. " tanya Bima sambil menyambut tangan kanan Maira yang tadi dipakainya untuk sungkem padanya.
"Apa?? ".tanya Maira.
"Tadinya aku sangat ketakutan kalau kamu akan histeris dan marah-marah soal yang tadi didepan rumah.Tadi itu aku lagi nungguin kamu didepan gerbang,tiba-tiba ada tukang sate yang nawarin sate ke aku, aku beli aja itung-itung bantuin Bapak itu. Tak lama kemudian dia datang dan mau beli sate juga rupanya,aku sama dia sama-sama terkejut sekali karena gak nyangka bakalan ketemu disini, didepan rumah kita sayang.Sumpah✌, ini tuh cuma kebetulan saja, aku benar-benar gak tau kalo Ester tinggal dirumah seberang yang dekat pengkolan itu,dia juga gak tau kalo aku tinggal dirumah ini.Sungguh!!??, kamu percaya kan sama aku?. " tanya Bima.
"Iya, sudah gak usah dibahas lagi soal wanita itu, atau nanti aku beneran akan marah nih sama kamu!?. " Maira jadi gerah juga lama-lama kalau ngebahas tentang si Esteler itu. "Hukhh!. "
Bima juga mengerti apa maksud Maira, dia tidak akan membicarakan hal itu lagi sekarang.
"Karena kamu sudah gak marah, ayo kita makan sekarang?!. Aku juga pengen makan sate yang tadi,baru kali ini nih kita beli Sate di penjual sate keliling begini. " ujar Bima.
"Iya, buruan. Aku juga sudah tidak sabar, jadi kebayang aromanya. " ujar Maira yang buru-buru melepaskan mukenahnya dan menggantungnya sembarangan.
"Duhh, saking tidak sabarnya nih kayaknya istri aku. " Bima merangkul pundak Maira dan mengajaknya ke luar dari ruang Mushola lalu menuju meja makan.
Bik Piya sudah tidak ada disana.Mungkin dia lagi didalam dapur kotor.
Bima menarikkan kursi buat istri tercintanya,"Silakan duduk ratu ku. "ujar Bima.
" Terimakasih raja ku. "jawab Maira.
Keduanya tersenyum geli, rasanya panggilan itu terlalu lebay bagi mereka.
" Emmmmm, enak banget sayang.Ini sate bumbunya pas banget. Aku suka. "ujar Maira setelah mencoba gigitan pertama sate yang tadi dibeli Bima.
" Sayang, besok kita beli lagi yuk!?. "Maira sudah ketagihan.
" Besok minta saja bik Piya buat tunggu tukang satenya didepan pas habis magrib."ujar Bima.
"Iya deh. " jawab Maira.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai makan malam, Bima mengajak Maira untuk nonton tv dulu diruang keluarga, karena ada yang mau ia bicarakan.