
Tapi setelah menunggu Tifanny Wen turun dari mobil, wanita itu tidak tahu bahwa Helen Mu yang berada di dalam mobil itu tertawa penuh arti. Helen Mu bicara pada dirinya sendiri: "Hahaha..... Aku tidak tahu bagaimana respon kakak begitu berpikir bahwa Tifanny yang memberikan CD Video porno dan durex...Hahaha... Apakah seseorang bisa bangun keesokan harinya?"
Tifanny Wen yang malang. Wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa teman terdekatnya sedang mengerjainya.
.........
Saat ini di Sentum Group.
"Presdir Mu, perumahan Taixia sebelumnya sudah berdiskusi dengan Presdir tentang proyek kerjasama Canton Plaza. Presdir Jiang dari Taixia Group ingin membuat janji bertemu dengan Anda untuk membicarakan persetujuan kerjasama ini."
Asisten berjalan mendekati ruang kantor Presdir lalu bicara beberapa kalimat pada Yansen Mu.
"Perumahan Taixia?"
Yansen Mu menaikkan alisnya.
Yansen Mu teringat. Proyek Canton Plaza adalah sebuah proyek besar. Pria itu berharap kerjasama dua perusahaan bisa selesai.
Dan Taixia Group sebelumnya bergantung pada bisnis perumahan. Walaupun perusahaan itu biasa saja, tetapi dalam aspek real estate perusahaan Taixia cukup bagus.
Sebelumnya Kakek Mu memiliki rencana bekerja sama dalam proyek ini dengan Taixia Group.
Tapi persetujuan kerjasama ini sampai sekarang belum di tandatangani.
"Aku tahu. Kamu atur saja."
Yansen Mu menatapnya, lalu dengan datar memerintah.
Selesai bicara, bawahannya langsung melangkah keluar dari ruang kantor.
Mengingat Presdir Jiang dari Taixia Group, ada rasa tidak suka yang sulit dijelaskan dari hati Yansen Mu.
...Sebenarnya dia ingin menemui si 'sampah' itu yang tidak disangkanya bisa merubah gadis bodoh dirumahnya menjadi terpikat pada pria ...
itu.
.........
Ketika Yansen Mu kembali ke rumah dalam keadaan resah, Tifanny Wen sudah selesai makan malam, tetapi Tifanny Wen masih menghidangkan makan malam untuk Yansen Mu.
"Kamu tidak makan?" Ketika Yansen Mu mengambil mangkuknya sendiri, pria itu bertanya.
"Aku sudah makan di luar dengan Helen."
"Oh ya, aku membelikanmu sesuatu." Ucap Tifanny Wen.
__ADS_1
Tifanny Wen teringat dengan peringatan Helen Mu, lalu memberikan hadiah yang diberikan Helen Mu kepada dirinya.
Tifanny Wen tidak lupa. Helen Mu berkata dirinya tidak boleh memberitahu bahwa Helen Mu yang memberikannya.
Baiklah, karena Helen Mu adalah teman dekatnya, Tifanny Wen akan membantunya menjadi pelaku yang 'menghambur-hamburkan uang.'
"Hm?"
Yansen Mu menerima kotak kecil rapi yang diberikan Tifanny Wen, lalu mengangkat alisnya dengan terkejut.
'Gadis bodoh ini masih memiliki hati?'
Tifanny Wen tidak melihat Yansen Mu membongkar hadiah itu. Wanita itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Yansen Mu juga tidak buru-buru membuka hadiah. Selesai makan, Yansen Mu merapikan alat makannya lalu baru membuka kotak kecil itu.
Begitu melihat, Yansen Mu langsung melongo.
Durex?
Dan ada satu CD?
Benda ini.... Durex. Bagaimanapun Yansen Mu adalah seorang pria. Walaupun dia belum pernah memakainya, tapi tidak mungkin kalau dia tidak tahu benda itu.
Durex yang diberikan gadis itu ada ukuran kecil, sedang, dan besar. Mungkin dia tidak tahu ukuran milik Yansen Mu.
Yansen Mu merapikan Durex lalu mengambil laptop dan menyetel CD tersebut. Begitu melihat filmnya, wajah Yansen Mu langsung menggelap.
Video porno?
Melirik video tersebut membuat wajahnya memerah, detak jantung Yansen Mu juga menjadi cepat.
Yansen Mu agak tidak percaya.
Gadis bodoh itu bisa-bisanya memberikannya benda seperti ini!
Apa maksudnya?
Hati Yansen Mu dipenuhi dengan banyak tebakan dan kemungkinan.
Akhirnya, Yansen Mu yang tidak percaya dengan hal ini menelepon asistennya.
"Halo.... Presdir Mu?" Asisten Liu sangat terkejut.
Ya Tuhan, sudah begitu malam dan Presdir Mu meneleponnya. Ada masalah apa?
__ADS_1
"Aku ingin bertanya padamu. Jika seorang wanita memberikanmu Durex dan CD yang berisi video porno, itu untuk apa?" Wajah Yansen Mu memerah, sama sekali tidak menghindar dari pertanyaan ini.
Asisten Liu terdiam.
"Pfffttt...."
Jika biasanya asisten Liu akan takut pada Presdir Mu, tapi saat ini asisten Liu sama sekali tidak takut malah langsung menyemburkan tawanya.
Asisten Liu yang sedang menyesap tehnya menyemburkan tehnya dan airnya memenuhi meja.
"Presdir Mu, bukankah itu sudah jelas? Dia ingin melakukan 'itu' denganmu!"
Perasaan asisten Liu menjadi kacau, di saat yang bersamaan juga penasaran dan terkejut.
Tidak disangka Presdir Mu akan bertanya tentang hal ini.
Apakah mungkin beliau memiliki wanita?
Ini tidak mungkin, kan?
Asisten Liu selalu berpikir bahwa Presdir Mu menyukai pria.
Begitu mendengar jawaban asisten Liu, Yansen Mu mengernyit,"Jika dia tidak menyukaiku?"
Tidak menyukainya tapi memberikannya barang seperti itu?
"Pfffttt....."
Asisten Liu sangat terkejut.
Di dunia ini ada yang tidak menyukai presdir Mu?
"Tidak mungkin. Suka atau tidaknya dia pada presdir, tapi apakah presdir Mu tidak tahu? Walaupun dia tidak menyukai presdir, tapi dia mungkin ingin tidur dengan presdir. Presdir harus tahu, banyak wanita walaupun tanpa cinta tapi menginginkan s*ks."
Yansen Mu merasa ucapan asisten Liu masuk akal.
Dengan perasaan kacau Yansen Mu menutup telepon. Yansen Mu duduk di atas sofa, lalu melirik lagi video tersebut. Alisnya mengkerut, diam-diam berpikir dalam-dalam.
Sedangkan Asisten Liu sudah berada di dalam kamarnya sambil tertawa hebat seperti orang yang kejang-kejang.
Ketika Tifanny Wen selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, wanita itu melihat Yansen Mu sedang duduk di atas sofa. Mata pria itu menggelap sambil menatap layar laptop dengan pandangan yang tidak dimengerti.
Apa yang sedang pria itu lakukan?
Tifanny Wen langsung berjalan menghampiri.
__ADS_1
Bersambung