
Sepasang suami-istri itu akhirnya tiba di lokasi proyek Villa yang digarap oleh SN group.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh Sang Arsitek proyek dan juga kepala Mandor.
"Selamat datang Bu Maira. " Sapa Rio sang Arsitek saat melihat Maira baru turun dari mobilnya.
Saat itu Bima masih mau memarkirkan mobilnya, tapi Maira minta diturunkan di depan pintu masuk proyek.Jadilah Maira turun terlebih dahulu dan Bima masih harus memarkirkan mobil ketempat khusus parkiran mobil yang sedikit agak jauh dari pintu masuk proyek.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bima masuk kedalam kawasan proyek itu. Dia mencari-cari sosok Maira yang entah ada dimana, Bima pun bertanya kepada beberapa tukang bangunan yang sedang beristirahat dan akhirnya Bima ditunjukkan kemana arah perginya Maira dan dua laki-laki yang tadi menyambutnya.
Bima mengikuti arah itu dan ia melihat Arsitek yang sedang bersama Maira tengah menjelaskan tentang prosfek proyek dengan menggunakan denah rancangannya.
Sesekali Arsitek muda itu terlihat sedang menatap Maira dengan tatapan kagum ketika mendengarkan Maira yang sedang memberikan tanggapannya. Entah kenapa hati Bima terasa memanas ketika menyaksikan hal itu.
Bima mendekati mereka namun tak berani mengganggu pekerjaan istrinya, ia hanya mengawasinya dari jarak dekat saja.
Menyadari sedang diperhatikan,Rio pun melihat kearah Bima yang menatapnya sinis.
Melihat dandanan Bima yang biasa saja membuat Rio berfikir kalau Bima itu hanya seorang Bodyguard saja.Karena pakaian Bima yang terlalu santai, dan menggunakan topi .
"Bu Maira,bawa bodyguard ya?."tanya Rio sambil melirik ke arah Bima.
" Hahahaa, itu suami saya."Maira kemudian memanggil Bima untuk mendekat kearahnya.
"Ah,maaf Bu. Saya salah menduganya. " Rio jadi gak enak hati.
"Sayang, ke sini. "panggil Maira sambil melambaikan tangannya kepada Bima.
Dengan langkah mantap Bima maju lebih dekat lagi.
" Ada apa sayang, apa kamu perlu sesuatu?."tanya Bima.
"Nggak kok, kenalin ini rekan kerja aku. Kamu kan belum pernah bertemu sama mereka.Ini Pak Rio, dia adalah Arsitek baru di SN Group, dan ini Pak Sastro kepala mandor disini. " ujar Maira sambil memperkenalkan kedua rekannya itu.
__ADS_1
"Saya Bima, suaminya Bu Maira." Bima menyambut uluran tangan kedua pria itu sambil membuka topinya.
Mendadak Rio merasa sedikit tersaingi, karena ternyata Bima lebih tampan daripada dirinya.Sejak pertama kali bertemu dengan Maira waktu itu, sebenarnya Rio sudah mulai merasa kagum kepada Bos SN group itu.Walaupun ia tau dari desas-desus dan ia juga sempat mendengar saat Maira dan Bima ber telponan waktu itu, kalau Bos nya itu sudah menikah, tapi Rio tetap memendam rasa suka nya kepada Maira.
Pesona kecantikan dan kepintaran Maira dalam menangani proyek yang ia garap bersama ini membuatnya tak bisa memungkiri rasa yang telah ada didalam hatinya.
Apalagi umur mereka tak terpaut jauh, Rio juga baru lulus tahun lalu sama seperti Maira.Sebagai laki-laki,Bima bisa merasakan kalau tatapan Rio ke istrinya itu ada apa-apa nya.
"Maafkan saya Pak Bima,saya kira tadi anda adalah....." Rio merasa bersalah sekali.
"Ah sudahlah, tidak masalah kok. Dulu istriku malah lebih parah, dia mengira kalau aku adalah.... . " Bima tak jadi melanjutkan ucapan nya karena Maira memberi kode dengan mata dan gelengan kepalanya kalau dia melarang Bima melanjutkan ucapannya yang sudah pasti akan membuat Maira malu.
Karena dulu Maira mengira Bima adalah seorang gigolo yang bisa dibayar. 😅
"Sayang, aku mau cek ke sebelah sana dulu ya. Kalau kamu mau duduk, kamu bisa tunggu aku disana. " ujar Maira sambil menunjukkan tenda tempat beristirahat.Maira mengenakan helm dan sepatu khusus pekerja proyek.
"Aku akan ikut kamu aja sayang,lagian aku khawatir sama kamu. Baru tiba sudah langsung bekerja, padahal perjalanan kita tadi lumayan jauh loh sayang. " Jawab Bima dengan nada khawatir.
"Mmm." Maira mengangguk.
Bima dengan sigap menjadi suami siaga. Ia mengambil alih boots itu dari tangan sang istri dan memasangkan nya dikaki Maira dengan lembut dan hati-hati. Melihat hal itu, tentu saja hati Rio menjadi sedikit terluka.
"Silahkan Bu Maira. " Rio segera mempersilahkan Maira untuk maju duluan dan jalan di depan.
Bima hanya mengikuti mereka dari belakang, bagaimanapun juga ini adalah pekerjaan istrinya, dia tidak mau menjadi suami yang terlalu ikut campur urusan istri, apalagi ini soal pekerjaan.
Berkali-kali Rio ingin mencoba untuk mengambil hati Maira, pas saat wanita itu hampir terinjak paku yang menancap di kayu bekas penyangga cor balok.Dengan sigap Rio menarik tangan Maira kearah nya agar tak kena.
Mata Bima langsung membola ketika menyaksikan hal itu. Ingin rasanya ia menarik istrinya ke arahnya.
"Bu Maira, awas!! ada paku. " ujar Rio sambil membawa tangan Maira ke sisi nya.
Tentu saja Bima yang tadi sedang asyik melihat-lihat ke atas jadi tidak tau kalau istrinya itu hampir saja menginjak paku itu.
__ADS_1
"Maaf, Bu. " ujar Rio berbasa-basi.
"Tidak masalah Rio, ayo kita lanjutkan jalannya. " jawab Maira, dia masih bisa tersenyum ramah. Tapi tidak dengan laki-laki yang berjalan mengekori mereka dari tadi.
Rahangnya mendadak mengeras dan sulit sekali untuk melentur kayaknya.
Maira hanya melirik sekilas ke arah suaminya, dan dia pun tersenyum. Setidaknya kali ini ia bisa melihat wajah tegang sekaligus jealous milik Bima yang sangat kelihatan merahnya.
Bima terus mengikuti Maira yang masih sibuk mengecek-ngecek hasil pembangunan.Apakah sudah sesuai atau belum dengan yang di rencanakan.
Setelah semuanya sudah sekeliling proyek ini jelajahi, akhirnya penunjukan hari itu selesai juga, hari juga sudah sangat siang, Bima segera mengingatkan istrinya itu untuk segera beristirahat.
"Sayang, ayo kamu duduk dulu. Ini minumlah. " Bima mendudukkan tubuh Maira di sebuah kursi, lalu memberi nya sebotol air minum kemasan yang ada manis-manisnya.
Maira pun meneguk air yang ada di botol berukuran sedang itu dengan dua kali tandas.Bima segera mengambil tissu untuk menyeka keringat di pelipis istrinya itu.
"Apa masih terasa gerah. "tanya Bima cemas, kini ia juga mengarahkan sebuah kipas angin besar yang ada ditenda istirahat itu kepada istrinya.
" Gak kok, sudah lumayan reda. "ucap Maira jujur, ia menatap Bima dengan gemesnya.Bagaimana bisa suaminya itu sibuk mengkhawatirkan dirinya sedangkan Bima sendiri mandi keringat, karena cuaca hari ini ternyata cukup panas di Puncak.
" Maaf Bu Maira kalau mau istirahat tidur siang nanti bisa di Villa yang saya sewa saja. Kalau disini pasti kurang nyaman. "Rio menganjurkan Maira untuk tidur di villa sewajarnya.
Mendengarkan itu Bima langsung menyela" Tidak perlu Pak Rio, saya sudah menyewa sebuah Villa dikawasan ini.Nanti kami akan menginap disana saja. "ujar Bima.
Kening Maira mengkeret mendengarnya.Kapan suaminya itu menyewa Villa??'fikirnya.Ah sudahlah, mungkin itu hanya akal-akalan Bima saja agar tak jadi menumpang di villa sewaan Rio.
" Oo, ternyata Anda sudah pesan villa Pak Bima.Kalau begitu saya akan traktir makan siang aja disekitar sini. Ada restoran Saung Sunda yang waktu itu kita makan bersama rekan lainnya Bu Maira. "Rio jadi inget waktu itu Maira datang bersama Andini sekretaris nya.
"Lalu dimana sekretaris Anda, kenapa dia tidak ikut?. " tanya Rio.
"Dia sedang saya tugaskan untuk mengatur pertemuanku dengan seseorang. " Jawab Maira.
"Siapa sayang?, Siapa orang yang kamu cari?. " tanya Bima dengan nada cemburu.
__ADS_1
Padahal orang yang dicari Maira itu sebenarnya adalah...........
"