Flash Marriage

Flash Marriage
Bab 42 Rencana Keluarga Mu (1)


__ADS_3

Tifanny Wen sekalinya gemetar, sudut keningnya langsung muncul beberapa garis hitam yang tidak terlukiskan.


Entah kenapa dia merasa Yansen Mu sekarang seperti sedang marah.


Dia barusan.... sepertinya tidak mengusik atau menganggunya.


Saat itu, tubuh mereka berdua hanya dibatasi oleh bathtub.


Cahaya lampu didalam kamar mandi sangat transparan, embun dari gemuruhnya air menutupi pernapasan, gemuruh air didalam kamar mandi pun mereda, suara saling menghirup napas perlahan-lahan memecahkan keheningan didalam ruangan.


Pipi Tifanny Wen memerah, dia tidak bisa menahannya.


Meskipun dia tidak terbiasa, tapi dia tidak menolak ciumannya.


Didalam lubuk hatinya sangat merasa berhutang budi karena kebaikan Yansen terhadapnya, jadi dia juga tidak ingin selalu mendorong orang jauh hingga beribu mil.


Teringat hari ini Yansen Mu menolongnya, Tifanny Wen berusaha sekuat mungkin menahan rasa malu di hatinya, dia mengulurkan tangannya yang putih itu melingkar di leher Yansen Mu, mencium bibirnya perlahan.


Anggap saja gerakannya ini sebagai balasan kebaikannya.


Yansen Mu sedikit terkejut, dia berhenti sejenak karena merasa tidak menyangka, ciuman paksaan malah justru berbalik menjadi ciuman yang mesra, dia hanya pelan-pelan menggambarkan bentuk bibirnya, tenaga tangan yang menahan punggung Tifanny bukannya berkurang.


Tetapi, justru semakin sedikit tidak terkendali. Setelah mencicipi rasanya, dia tidak hanya merasa puas, rasa enggan didalam lubuk hatinya malah berbalik semakin berat.


Tangannya gemetar, tidak dapat mengendalikan tangannya yang menyentuh tubuh yang berada didalam air. Sentuhan ini, Yansen Mu merasakan tubuh yang dia sentuh itu gemetar, telapak tangannya terasa licin dan lembut seperti setelah menyentuh batu giok.


Dia menghirup napas dalam-dalam, dia merasa temperatur udara di sekelilingnya semakin lama semakin menaik, air yang disentuh tangannya pun seperti panas mendidih, semakin lama semakin panas.


Tatapan mata Yansen Mu semakin lama semakin dalam, garis pandangan matanya itu melihat ke arah Tifanny Wen yang saat itu kedua matanya setengah terbelalak, memikirkan nampak ekspresi wajahnya.


Setelah melihat ini, tangannya berhenti bergerak, dia mengedipkan mata, setelah menutupi matanya yang sedikit muram, tiba-tiba dia melepaskan Tifanny Wen.

__ADS_1


Dia tidak bisa melihat penolakan dari mata Tifanny Wen, bahkan tidak ada.... rasa senang dalam dirinya.


Dia menerima, hanya karena suaminya atau harga dirinya sendiri.


Seseorang yang terlalu serakah, pasti tidak akan mendapatkan hasil yang baik.


Seperti halnya Yansen Mu saat ini, berusaha keras membangkitkan semangat, sengaja tidak gentar mengambil handuk untuk mengusap tubuh Tifanny Wen, didalam lubuk hatinya.... secara sederhananya dia memiliki rasa ambisi yang akan berkobar.


Rasa ini.... seorang pria biasa benar-benar tidak akan mampu menahannya!


"Kamu...."


Pikiran Tifanny Wen masih benar-benar sangat kacau, dia berpikir hari ini dirinya akan dihabisi, tetapi pria itu tiba-tiba melepaskan tangannya dan membuat dia sedikit tidak menyangka.


"Kamu tidak mungkin....." perkataannya tidak sampai keluar dari bibirnya, tetapi ditelannya kembali.


Tifanny Wen saat itu sudah hampir selesai mandi, melihat Yansen Mu tiba-tiba berbalik badan mengambil handuk untuknya, dia sebenarnya tidak bisa menahan rasa penasaran di lubuk hatinya, melirikkan mata melihat kedua kaki Yansen Mu..... mengarah pada sebuah bagian.


Tifanny Wen bukan benar-benar berharap terjadi sesuatu. Dia hanya benar-benar penasaran. Penampilan fisiknya sepertinya juga tidak begitu jelek, suasana barusan sudah terlihat jelas seperti itu, suatu daerah seorang wanita yang tidak seharusnya disentuh pun malah sudah disentuh olehnya, tak disangka dia begitu cepat memutuskan untuk melepaskannya.


Yansen Mu menengok ke belakang, kebetulan saat itu dia melihat ke arah sebuah bagian tubuh Tifanny Wen yang ditutupi handuk, hatinya terhenti seketika......


Raut wajah Yansen Mu tiba-tiba memerah, dalam hatinya tidak mengingat seberapa banyak tekanan yang dialaminya.


Dia langsung berjalan ke hadapan Tifanny Wen, dan langsung memeluknya.


Yansen Mu menggunakan handuk untuk mengelap hingga kering sisa air di tubuh Tifanny, lalu membantunya mengenakan piyama, kemudian Yansen Mu langsung menggendong Tifanny Wen masuk ke dalam kamar. Dia menelepon dan menyuruh dokter untuk kemari dan membawakan obat terbaik untuk Tifanny Wen.


Setelah selesai menelepon, Yansen Mu berlari masuk ke kamar mandi.


Dia sekarang sangat membutuhkan air dingin untuk mandi!

__ADS_1


Saat menunggu dia keluar dari kamar mandi, kebetulan dokter sudah tiba, memeriksa Tifanny Wen, dan memberikan dia obat luar, setelah tugasnya selesai dokter itu langsung pergi.


Pagi hari mengalami masalah seperti itu, Tifanny Wen merasa sangat lelah, setelah mengoleskan obat, dia langsung berbaring di ranjang.


Yansen Mu sepertinya memiliki kebiasaan tidur siang juga, dia pun ikut berbaring bersamanya.


Hanya saja Tifanny Wen merasa tubuh Yansen Mu sangat dingin, dia merasa sedikit mengerti seketika, teringat kejadian tadi di kamar mandi.


Orang seperti dia, ternyata bukan tidak normal.


Tifanny Wen merasa sedikit bersalah dan takut, dia mengatakan kalimat ini sembarangan,"Kamu adalah suamiku, aku ingin..... aku seharusnya mempersiapkan mental."


Kalimat ini...... menjelaskan karena dia merasa bersalah dan tiba-tiba menghentikan gerakan tuan Mu, dia juga takut Yansen Mu di dalam hatinya merasa bersalah, pada akhirnya tidak ada keinginan untuk tidur siang.


Tifanny Wen: ......


.......


Pada saat ini.


Di mansion utama keluarga Mu.


"Benar-benar terjadi masalah semacam ini?"


Kakek Mu duduk di hadapan Putri Bai dengan wajah menggosipnya, dia bertanya: "Putri keluarga Wen yang kamu bilang itu benar-benar menampar Kevin Qin? Sekali tampar langsung 2 tamparan?"


Nenek Mu duduk di samping Kakek Mu, dia juga merasa terkejut sambil melihat ke arah Putri Bai menantunnya itu.


Meskipun 2 orang itu sudah tua, tetapi sangat kekanak-kanakan. Hobi mereka biasanya..... yang pertama adalah : Menggosip! dan yang kedua adalah : mengejar para aktris.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2