Flash Marriage

Flash Marriage
Episode 113


__ADS_3

Setelah Bima membukakan pintu kamar itu, masuklah Netta bersama tunangannya Andi dan juga Tiara beserta suaminya Farhan dan juga bayi mungil mereka Thalia.


"Maira!." hardik Netta.


Maira menengok dan kemudian ia berdiri di hadapan saudari-saudarinya dengan mata yang masih berlinang.


"Ada apa??, kenapa kalian kemari?!." tanya Maira.


"Maira,kakak mohon sama kamu. Tolong cabut laporan kamu terhadap Mama.Apa kamu tidak kasihan sama Ayah,beliau sekarang sedang dirawat dirumah sakit.Tolonglah, jangan kekanak-kanakan seperti ini, semuanya sudah terjadi. Kakak bukan mau bilang apa yang dilakukan Mama itu benar, bukan. Tapi coba lihat Ayah,selama ini ia menutupi semua kebenaran itu demi keutuhan keluarga kita. " jelas Netta mengiba.


"Hekh!!! apa???, keutuhan keluarga kita??!. Apa tidak salah???!, Kak Netta seharusnya ingat, betapa dulu kalian memperlakukan aku seperti seonggok sampah yang tidak berarti apa-apa dirumah ini.Kapan kalian pernah menganggap aku ada?hah??!. "ujar Maira sambil terus terisak.


"Kalian tidak tau bagaimana rasanya dikucilkan, bahkan kalian juga tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tidak punya Ibu, dan bagaimana rasanya kehilangan Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanmu.Coba sehari saja kalian jadi aku!! " bentak Maira.


"Sabar sayang, ingat bayi kita. Sebaiknya kita pulang kerumah saja dulu ya, ayo. " Bima membimbing tubuh istrinya itu untuk meninggalkan rumah Sasongko.


Meskipun Maira masih terlihat enggan untuk meninggalkan rumah itu, tapi Bima terus meyakinkannya agar segera pulang kerumah mereka dulu agar Maira bisa menenangkan dirinya.


Netta dan yang lainnya hanya bisa memandangi punggung Bima dan Maira yang menjauh dan keluar dari rumah itu.


"Kak, kita harus bagaimana sekarang?. " tanya Tiara.


"Entahlah, Kakak sedang bingung sekarang.Yang pasti kita harus carikan Mama pengacara yang bagus agar bisa mengeluarkan Mama dengan jaminan. " ujar Netta.


"Apa kakak yakin kalau Mama bisa dibebaskan?. "tanya Tiara lagi.


" Jujur saja, Kakak gak yakin sih. Kamu tahu sendiri kan ini bukanlah kasus yang mudah,ancaman hukumannya juga tidak main-main. "


"Kalau begitu cara satu-satunya adalah memohon kepada Kak Maira agar ia mau mencabut laporannya. " ucap Tiara.


"Iya, setidaknya hukuman Mama bisa lebih ringan. Kasihan Mama, diusianya ini harus berurusan dengan hukum, hukumannya tidak main-main pula. "


"Sabar sayang, aku akan bantu. " ujar Andi yang setia disamping Netta.


"Terimakasih Mas Andi. " jawab nya.


"Ayo kita kerumah sakit jenguk Ayah. " ajak Tiara.

__ADS_1


"Gak Dek, kamu tetap dirumah aja.Karena sekarang kamu harus menjaga bayi kamu, rumah sakit tidak baik untuk bayimu yang masih terlalu kecil.Kamu dirumah aja, Biar Kakak dan Mas Andi yang akan kerumah sakit."


"Tapi Kak ."


"Sudah, jangan membantah.Kamu juga belum empat puluh hari,pamali." ujar Netta.


"Iya sayang,aku temanin kamu dirumah. " sambung Farhan.


*****


Sekarang Netta sudah tiba dirumah sakit lagi bersama Andi.Mereka memasuki ruangan rawat Ayahnya,dimana Pak Sasongko terlihat sedang diperiksa lagi oleh dokter.


"Bagaimana dokter kondisi Ayah kami?. " tanya Netta khawatir.


"Beliau kondisinya belum begitu stabil, beliau harus dirawat intensif sampai kondisinya pulih.Biarkan beliau beristirahat,jangan diajak ngobrol dulu ya. " ujar Pak dokter.


"Baik dokter, saya pasti akan menuruti anjuran dokter. "


*****


"Sayang, ayo makan dulu. Ini aku sudah masakkan spaghetti untuk kamu. " bujuk Bima.


Namun istrinya itu hanya terdiam dan masih terus menatapi foto ibunya.Kelihatannya Maira benar-benar telah kehilangan nafsu makannya.


"Aku suapin ya?, ingat sayang.. ada bayi kita didalam perut kamu, dia butuh asupan.Jangan menyiksa diri seperti ini,pikirkan anak kita sayang.Kamu gak mau kan kalau dia kenapa-napa?. " lagi-lagi Bima berusaha membujuknya.


Perkataan Bima ternyata bisa membangkitkan rasa keibuan di diri Maira, ia menoleh ke arah suaminya itu dan menatap Bima dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.


"Sayang, apakah menurut kamu yang aku lakukan hari ini sudah benar?. " tanya Maira.


Bima menaruh piring yang ada ditangannya ke atas meja,lalu ia meraih kedua tangan istrinya itu.


"Apapun yang menurut kamu benar, kamu lakukan saja sayang.Semua yang bersalah memang harus dihukum, tapi kalau kamu merasa berat hati dan tidak menginginkan perpecahan ditengah keluarga, memang sebaiknya semuanya dimaafkan. Tapi kalau aku jadi kamu, aku pasti akan tetap melaporkan Mama Shinta.Karena kita harus memberikan ia pelajaran agar tidak mengulangi perbuatannya lagi." jelas Bima.


"Lalu bagaimana dengan Ayah, apakah Ayah akan membenciku setelah ini ?. " tanya Maira lagi.


"Kita berharap saja, semoga Ayah bisa memahami maksud dan tujuan kita. Kamu tenang saja, aku akan selalu mendampingi kamu sayang. " ujar Bima menenangkan.

__ADS_1


"Terimakasih sayang. " ucap Maira.


Bima mengelus puncak kepala istrinya itu dengan lembut,"Sama-sama sayang."jawab Bima


"Kalau begitu sekarang kamu harus makan ya,biar anak kita sehat dan kamunya juga sehat. " kalian ini Bima beralih mengelus perut buncit nya Maira.


"Oke." Maira kembali tersenyum, ia pun makan dengan disuapin oleh Bima.


*****


Beberapa jam kemudian,ada bunyi Bel di depan.


Bik Sarni yang tadi juga ikut pulang kerumah majikannya masih disana, ia pun membukakan pintu untuk tamu yang datang.Setelah pintu dibuka,ternyata Bik Piya yang datang, dia baru saja dari kantor polisi untuk memberikan keterangan.


"Mbak Piya?. " Bik Sarni sedikit terkejut.Apalagi melihat wajah Bik Piya yang sepertinya bengkak karena habis menangis.


"Sarni,saya ke sini mau mengambil pakaian saya." ujar Bik Piya.


"Maksud Mbak Piya, Mbak mau pergi dari sini?. " tanya Bik Sarni.


"Mungkin setelah kejadian ini, Non Maira sudah tidak mau mempekerjakan saya lagi Sarni. " isaknya sedih.


"Belum tentu Mbak,Non Maira itu orangnya baik.Dia pasti mengerti kenapa selama ini Mbak bisa menyembunyikan kenyataan pahit itu,pasti Non Maira masih mau Mbak ada disini. " ujar Bik Sarni menenangkan rekan kerjanya itu.


"Saya tidak pantas dimaafkan Sar,selama ini saya diam saja ketika dipintai keterangan saat kasus kecelakaan Nyonya Nurmala terjadi, karena Tuan Sasongko melarang kami berkata jujur, karena ia tidak mau melihat keluarganya hancur, dan anak-anak nya kehilangan sosok Ibunya. " jawab Bik Piya.


"Tapi itu bukan sepenuhnya salah Mbak kok Mbak, Mbak hanya menuruti apa kata majikan Mbak saja. "


"Entahlah Sarni,O ya... apakah Non Maira dan Den Bima ada dirumah?. " tanya Bik Piya sambil celingak-celinguk melihat kesana kemari.


"Ada Mbak, biar saya panggilkan. Tadi Pak Bima naik ke atas membawa nampan berisi makanan dan juga segelas air. Mungkin ia mau ngajakin Non Maira untuk makan. " jawab Bik Sarni.


"Baiklah, bilangin ke mereka saya ada dibawah pengen ketemu. " pinta Bik Piya.


"Baiklah Mbak, Mbak masuk dulu aja ke dalam,Nanti aku yang panggilkan ke atas. "


"Terimakasih Sar, kamu memang udah kayak saudara bagi aku. " ucap Bik Piya lalu ia masuk ke kamarnya untuk berkemas.

__ADS_1


__ADS_2