
Meskipun karena kejadian kecelakaan mobil itu, tidak sedikit orang yang merasa bahwa Juwita munafik tapi mereka juga merasa Tifanny juga belum tentu baik, tapi setidaknya orang yang merasa begitu sudah berkurang.
Setelah Tifanny keluar dari toko perhiasan, Yansen Mu tentu saja diam diam mengikutinya juga.
waktu itu sudah mendekati pukul 22:00, kedua suami istri itu naik mobil dan bersiap untuk pulang kerrumah.
Didalam mobil, Tifanny memegang cincin ditangannya, matanya terus saja menatap lelaki yang menyetir mobil itu, perasaannya masih saja kaget dan kacau.
"Tuan Mu, apakah kamu bisa memberitahuku mengapa kamu tiba-tiba menjadi orang super kaya?"
Setelah mendengar perkataan itu, Yansen berkata dengan sedikit tidak berdaya,"Nyonya Mu, apakah aku terlihat sangatlah miskin?
Dia memang adalah orang kaya dari awal.
"Namun mobilmu ini..."
"Mobil yang di ubah sendiri, aku lebih suka diam-diam."
"Terus kamu bisa masak sendiri..."
Sekali mendengarkannya, senyuman Yansen semakin terlihat jelas,"siapa bilang orang kaya tidak bisa memasak?"batin Yansen.
"Jika tidak belajar memasak, bagaimana caranya bisa menaklukan perutmu?"kata Yansen.
Pipi Tifanny Wen memerah...
Lihat saja orang ini: tampan, kaya, tidak suka pamer, dan bisa memasak.
dibandingkan dengan dirinya sendiri....duh! sekali dibandingkan, Tifanny merasa ingin menangis.
"Mulai besok aku akan belajar memasak."
__ADS_1
Wajahnya merah, Tifanny melirik Yansen secara diam-diam, dia lalu mengerakkan cincinnya,"Sekali tidak sengaja aku langsung membelinya, meskipun kamu terlihat tidak kekurangan uang, namun jika uangnya dipakai dengan cara seperti ini juga terlalu mewah. Tuan Mu....terima kasih."
Kartu tabungan Yansen sangatlah banyak, yang diberikannya kepada Tifanny adalah sebagian kecil dari tabungannya, jika dihabiskan sekalipun, dia juga tidak akan peduli.
Tifanny tidak tahu pasti seberapa banyak sebenarnya kekayaannya, dia merasa ini terlalu mewah juga masuk akal.
Disaat Tifanny berbisik dalam hati bahwa ayahnya memilihkan seorang lelaki yang sangat baik, tidak terasa dia sudah sampai dirumah.
Suasana hati Tifanny lumayan baik, namun entah kenapa, sepulangnya kerumah, dia merasa lemas, bahkan dia juga tidak ingin pergi mandi.
Setelah Yansen selesai mandi, dia masih saja tiduran di atas sofa.
Wajahnya yang memerah tadi berubah menjadi pucat, dia sedang menyusutkan badannya dan memegang perutnya.
Hanya dalam waktu sekejap saja, perut Tifanny sangatlah sakit, badannya lemas, dia akhirnya tahu bahwa sepertinya dia datang bulan.
Mengapa bulan ini sedikit tidak tepat waktu?
"Tuan Mu, aku...."
Ketika Tifanny melihat Yansen keluar dari kamar mandi, dia baru mengangkat kepalanya dari sofa lalu meminta bantuan,"Aku datang bulan, perutku sangat sakit, apakah kamu bisa membantuku mencari sebuah toko yang belum tutup untuk membeli keperluan datang bulan, merek apa saja boleh, aku butuh yang pemakaian pagi dan malam."
Yansen: .....
Baru saja keluar dari kamar mandi, dia lalu mendengarkan perkataan ini, dan Yansen terhenti disamping sofa, dia menatapi wanitanya yang sedang menatap kearahnya juga dengan sepasang alis yang mengerut.
Datang bulan?
Meskipun dia bukanlah wanita, tapi dia juga mengerti apa ini.
"Sakit karena datang bulan?"tanya Yansen.
__ADS_1
"Iya."
"Sangat sakit?"
"Iya!"
Kerutan kening Yansen semakin jelas, dia segera mengganti pakaiannya dan keluar.
Tengah malam, direktur Mu menyetir mobil hingga berkilo-kilo, akhirnya dia menemukan sebuah toko yang masih buka, dia lalu mengambil beberapa peralatan yang digunakan oleh wanita.
Ketika membayar, pelayan meliriknya dan bertanya,"Kamu membelinya untuk pacarmu?"
Direktur Mu menggelengkan kepalanya,"Istriku."
Seusai berkata, dia lalu bertanya kepada pelayan itu,"Apa yang harus dilakukan jika seorang wanita sakit perut jika datang bulan."
Pelayan itu tersenyum, dan berkata,"Makan obat itu ada efek sampingnya, kamu pegang perutnya saja menggunakan tanganmu, dia pasti akan merasa nyaman dan sakitnya berkurang.
Yansen berterima kasih, setelah dia kembali ke apartemennya, dia menyadari bahwa wanita itu sudah tidak berada disofa, sedangkan didalam kamar mandi terdengar suara air.
"Tuan Mu, kamu sudah pulang? Apakah barang yang aku mau sudah dibeli?"
Saat ini Tifanny kebetulan mengunci keran air, dan telah selesai mandi. dia hanya bisa menggunakan handuk dulu, dan sedikit membuka pintu kamar mandi.
Yansen saat ini tengah berdiri didepan pintu kamar mandi dan memegang sekumpulan peralatan wanita, dia ingin mengantarkan barang itu kepada Tifanny, saat pintu kamar mandi dibuka, dia malah tercengang.
Wanita ini tengah menatap barang yang berada ditangan Yansen, tangannya yang putih bersih diulurkan dari dalam kamar mandi.
Meskipun Tifanny tidak keluar, dan hanya membuka sedikit pintunya, namun terlihat bahwa dia tengah mengenakan sebuah handuk yang tidak panjang , badannya yang putih ditambah lagi dengan butiran air yang menggoda, membuat Tifanny semakin cantik, ditambah lagi asap didalam kamar mandi, rambut panjang wanita itu seolah berada didalam kabut tersebut, kaki panjangnya yang seksi terus gemetaran, ini tidak bisa hanya sekedar dijuluki 'peri kecil'
******
__ADS_1
Bersambung