
Karena satu hari sebelumnya, Erin Leng menugaskan Angela yang baru masuk kelompok agen khusus untuk mendekati mata-mata jepang. Erin Leng ingin Angela mengambil sebuah daftar nama agen khusus dan data yang penting dari mata-mata jepang itu.
Alasan memilih Angela untuk menyelesaikan tugas itu adalah karena agen khusus jepang itu, Helmi Wei adalah seorang pria yang haus akan **** dan dari awal sudah tertarik dengan Angela.
Kira-kira proses pengambilan dokumennya seperti ini : Helmi Wei berinisiatif mengundang Angela bertemu di tempat tinggalnya dalam waktu yang lama yaitu, di Gedung Wan kamar nomor A105. Setelah Angela masuk ke kamar Helmi Wei, teman yang lain berencana menjauhkan musuh dari markas, membuat sebuah kecelakaan di gedung Wan dan menarik Helmi Wei untuk mau tidak mau mengecek keluar kamar.
Angela harus memanfaatkan waktu, awalnya wanita itu sudah menemukan keberadaan daftar nama tersebut dikamar.
Tapi, Angela yang baru pertama kali melakukan tugas, tidak disangka di waktu krusial dimana hampir menyelesaikan tugasnya, Angela mendengar pintu kamar berbunyi. Karena takut, Angela tidak mengambil daftar nama tersebut.
Karena ketakutan, setelah Helmi Wei kembali ke kamarnya, saat Helmi Wei bicara tentang keadaan, Angela semakin tidak berani untuk mencuri daftar nama tersebut.
Sebenarnya, selama Angela berani sedikit lagi, tugas ini tidak akan gagal.
"Aku...." Di wajah penuh daya tarik Angela, saat itu samar-samar berkilauan, A..a...akuu.. tidak sengaja. Ini pertama kalinya aku mengemban tugas. Aku tidak menduga bahwa tugas ini sebegitu pentingnya, semua orang takut mati, aku juga takut. Aku...."
"Saat itu ketika aku menyelamatkanmu dari rumah pelacuran, kamu terus menerus berkata bahwa kamu bersedia menjadi anggota kami, berani mati, lalu sekarang kamu bilang padaku bahwa kamu takut mati? Empat orang prajurit yang kami korbankan, siapa yang harus membayar kematian mereka?" Suara Erin Leng sangat dingin dan tajam, seperti benang sutra yang bergetar karena angin.
"Jika bukan karena kebetulan Helmi Wei tertarik padamu, jika bukan karena kamu adalah orang yang paling mudah mendekatinya, bagaimana bisa kami berani mengambil resiko dan menggunakanmu, kami sudah mempertaruhkan nyawa kami!"
Erin Leng melangkah maju ke depan, matanya dingin dan tajam seperti Asura, makhluk mitologi India, aura di seluruh tubuhnya menguat dan sangat menakutkan.
Erin Leng yang merasa sakit karena kehilangan teman seperjuangannya, saat ini kedua kepalan tangannya bergetar. Dari tubuhnya menguar aura membunuh yang menakutkan. Seperti melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah pembunuh yang membunuh teman-temannya.
__ADS_1
Walaupun Angela merupakan salah satu yang mampu dalam segala bidang. Tapi wanita itu juga orang yang masih dalam tahap pendewasaan. Dari awal Angela sudah dipaksa untuk menjadi *******, setelah itu Angela bertemu dengan Erin Leng. Setelah keluar dari rumah pelacuran, dengan tegas wanita itu memilih masuk ke kelompok agen khusus. Hanya sayangnya..... Angela yang sekarang, memiliki ambisi, berpura-pura mengambil keuntungan dari daya tariknya, memiliki otak yang cemerlang tapi ketika melaksanakan tugas.... Dia kurang memiliki keberanian.
Nantinya, dia bisa menjadi seorang agen yang tidak memiliki ketakutan akan apapun.
Dan Angela yang sekarang adalah Angela yang pertama kali mengemban tugas.
Berkaitan dengan penyesalan, ketakutan, menyalahkan diri sendiri, dan perasaan yang saling membelit yang dirasakan Angela saat ini, awalnya Juwita Wen sangat percaya diri.
Dia sudah berlatih lama untuk peran ini.
Tapi saat menangkap tatapan Tifanny Wen yang dingin, tajam, serta pandangan membunuh, Juwita Wen malah bergetar. Kepercayaan diri dalam hatinya saat ini ambruk.
Ekspresi mata Tifanny Wen sudah memasuki jalan cerita drama ini.
Rasa cerita itu bertambah kuat melalui tubuh Erin Leng, selalu membuat Angela penasaran. Dari tubuh Erin Leng sering menguarkan aura dingin yang membunuh, selalu membuat Angela ketakutan.
Terlebih lagi saat ini, dari tubuh Tifanny Wen menguar aura kuat dan mengintimidasi sebagai kakak tertua yang 'serba bisa', membuat orang merasakan tekanan hingga sulit bernapas. Membuat Juwita Wen memuja, takut, menyesal, dan juga sedikit merasa rendah.
Angela saat itu merasa Erin Leng adalah orang yang sulit digapai, secara natural ada perasaan itu di diri Juwita Wen.
Tapi setelah Juwita Wen terkejut, ketika wanita itu sadar bahwa dirinya sudah masuk dalam perasaan itu, dia menggelengkan kepalanya, wajahnya memucat, lalu mundur selangkah karena tidak bisa menerimanya.
Tidak!
__ADS_1
Bagaimana mungkin dia memiliki perasaan seperti itu pada Tifanny Wen!?
Dia harus berada di atas Tifanny Wen. Apa alasannya untuk memiliki perasaan seperti ini kepada Tifanny Wen?
Apa alasannya Tifanny Wen mau mengkritik dirinya? Harusnya Tifanny Wen lah yang menangis pahit di bawah kakinya.
Juwita Wen tidak bisa menerima baru saja digantikan. Juwita Wen melawan perasannya, menyebabkan Juwita Wen memberitahu dirinya sendiri: Ini hanya akting, bukan nyata!!
Tapi saat ini Juwita Wen kehilangan fokusnya dan perasaannya berbelit, menyebabkan dirinya yang sudah masuk ke dalam alur cerita tiba-tiba keluar begitu saja dari alur cerita, bahkan membuat Juwita Wen gugup karena melupakan naskah dialog selanjutnya.
"Berhenti!"
Suara sutradara Aliando Zhang menghentikan adegan.
"Juwita, ekspresi matamu aneh, aktingmu kacau bahkan dialog pun lupa. Apakah ini kualitas dirimu?"
Sutradara Aliando Zhang memberi komen yang sangat menyakitkan.
"Aku....." Tiba-tiba kesadaran Juwita Wen kembali, wanita itu baru sadar bahwa ia kehilangan konsentrasi saat berakting.
Juwita Wen melirik Tifanny Wen dan sadar bahwa aura wanita itu tiba-tiba kembali, tatapan mata yang dingin dan bengis saat ini sudah kembali tenang dan sudut bibir wanita itu, seperti tersenyum samar.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung