
Andi yang diminta untuk bergabung bersama Ayah dan Mama nya Netta di meja makan merasa sedikit canggung, tapi untung saja dia bisa segera berbaur dengan obrolan yang dimulai oleh Pak Sasongko.Suasana yang beku itu jadi mencair juga.
Pak Sasongko menanyakan tentang maksud kedatangan Andi kerumahnya.Walaupun selama ini dia sudah tau sedikit banyak tentang hubungan Netta dan juga Andi yang mulai dekat, tapi tetap saja dia harus mengenal pria pilihan Netta ini, karena dia tidak ingin kegagalan rumah tangga Netta sampai terulang untuk yang kedua kalinya.
Setelah banyak berbincang dan mendengarkan keinginan dan juga melihat sikap tulus yang anak muda itu tunjukkan pada putrinya, akhirnya Pak Sasongko pun menyerah dan memberikan restu untuk hubungan pasangan itu.
Ponsel Nyonya Shinta berdering saat makan malam itu hampir selesai.Dilayar ponselnya tertera nama Farhan suaminya Tiara sang menantu.
"Siapa Ma?. " tanya Netta dan Pak Sasongko kompak.
"Dari Farhan Pa,bentar ya Mama angkat dulu."
Nyonya Shinta menggulir lambang berwarna hijau yang sedari tadi naik turun bergetar.
["Iya Hallo Farhan, bagaimana keadaan Tiara?."] Nyonya Shinta sudah bisa menebak kalau Farhan pasti akan mengabarkan soal Tiara yang diketahui mengalami kontraksi-kontraksi palsu.
["Tiara dijadwalkan akan dioperasi Secar Ma, jam 5 pagi nanti.Farhan harap Mama dan Papa serta Kak Netta bisa menemani disini. "] ujar Farhan.
["Tentu, setelah ini kami akan langsung ke sana.Tolong kamu jagain Tiara dengan baik ya, Mama juga akan membawakan persiapan persalinan Tiara dan bayi nya. "]
[" Terimakasih Ma, Farhan juga akan segera mengabari keluarga Farhan. "]
[" Iya, silakan. "]
Nyonya Shinta segera mengakhiri panggilan itu, lalu ia segera pamit untuk menyiapkan barang-barang yang akan disiapkan untuk Tiara dan anaknya yang akan lahir di rumah sakit nanti.
"Kalau begitu,kita juga akan ikut kerumah sakit. " ujar Andi.
"Tentu." sahut Netta.
Mereka sekeluarga berkumpul dirumah sakit, hanya Maira dan Bima yang tidak ada disana.Ya tau sendiri kan kalau Maira dan Bima masih di Surabaya.
Ibu hamil itu sangat sibuk melakukan beberapa penataan ruang,Maira juga membantu menjamu para tamu d8 hotel milik suaminya itu.
"Sayang, kamu istirahat gih. Takutnya nanti kamu kecapean loh. Aku gak mau kalau kamu sampai sakit ingat! ada yang hidup didalam sana. " ujar Bima sambil mengelus perut Maira yang mulai terlihat membesar.
"Iya, aku tau. Kamu gak usah khawatir, selesai merangkai bunga yang satu pot ini, aku akan segera kembali ke kamar kita. " jawab Maira dengan memegang tangan Bima yang ada didepan perutnya.
"Aku antar ya. " ujar suaminya itu.
Setelah menyelesaikan merangkai mawar-mawar didalam Pot besar yang ada di Koridor lantai 3,Maira segera kembali ke kamar mereka diantarkan oleh Bima.
Bima menyuruh nya beristirahat, karena dari kemaren istrinya itu selalu saja ingin bekerja dan tak mau diam.Selalu ada saja yang Maira kerjakan.
Bima juga tidak mampu untuk melarangnya, karena Maira juga bukan tipe wanita yang bisa tak melakukan kegiatan apa-apa dalam sehari saja. Walaupun ia sangat mudah tertidur dana saja, tapi kalau menyangkut pekerjaan dia adalah orang yang sangat perfctionist.
"Kamu mandi dulu ya, biar aku siapkan air hangatnya. " Bima langsung berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tapi.. " Maira padahal belum ingin mandi. Dia masih harus mengecek pekerjaannya di Jakarta yang baru saja dikirim oleh Andini lewat email kepadanya. Namun Bima tak mendengar apa yang ia katakan.
Maira terduduk lesu di sofa besar yang ada dikamar mereka.Lalu ia membuka laptopnya.
Setelah membaca beberapa e-mail dari Andini, Maira bisa tersenyum lega karena tidak ada masalah diperusahaan, semuanya berjalan sebagai mana mestinya.
"Sayang, air hangat nya udah siap tuh, kamu mandi dulu ya.Aku kebawah sebentar. " ujar Bima setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Kamu mau kemana lagi, bukannya semuanya sudah beres?. " tanya Maira.
"Ya udah, kamu mandi dulu.Biar aku hubungi Pak Danu saja untuk menyuruh orang mengantarkan pesanan makanannya kemari."
"Oohh, makanan?. " Sahut Maira sebelum ia masuk kekamar mandi. Ternyata Bima memesan makanan untuk mereka berdua.
Disaat Maira sedang asyik berendam, tiba-tiba ponsel Maira yang diletakkannya di nakas berbunyi. Bima segera melihat siapa yang menelpon, ternyata itu dari Rasty.
Bima tidak ingin mengganggu Maira,oleh sebab itu ia langsung berinisiatif untuk mengangkatnya sendiri.
Ternyata Bima telat, karena Rasty sudah menutup panggilan.Baru saja Bima mau meletakkan ponsel Maira kembali ke tempatnya semula, sebuah notifikasi pesan masuk.
Kening Bima mengkerut saat membaca pesan itu sekilas tadi.Bima ingin membacanya ulang, tapi notif itu segera menghilang, butuh kata sandi untuk membuka ponsel istrinya itu.
Tapi dari apa yang dia lihat tadi, Rasty mengabarkan bahwa Ia kembali bertemu dengan Esteler.(Itu julukannya Ester yang dibuat Maira dan Rasty).
Bima sedikit curiga,entah apa yang sedang direncanakan oleh Istrinya itu dan temannya
"Esteler???. " fikir Bima.
"Tadi kayaknya ada yang telepon bkeng HP aku ya?. " Tanya Maira yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggelungkan handuk di kepalanya.
"Oh, itu tadi telepon dari Rasty, tapi belum sempat aku angkat sudah dimatikan. " jawab Bima santai.Maira berlalu ke Walk-in Closet untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai ia segera mengeringkan rambutan dengan menggunakan hairdryer didepan cermin meja rias.
"Sini, biar aku bantu. " ujar Bima seraya mengambil alih hairdryer dari tangan Maira.
Dengan cekatan Bima mengeringkan rambut sang istri, membuat Maira tersenyum bahagia.
"Kalau cium kamu yang sudah harum seperti ini bawaannya pengen..... " Bima nyengir kuda sambil menaik-naikkan alisnya.
Maira melihat tingkah aneh suaminya itu di cermin.
"Pengen apa??. " pancing Maira pura-pura tidak mengerti.
"Ah... kamu kayak gak tau aja sayang. " Bima gantian mengedipkan matanya
"Mata kamu kenapa,kremian??. " Maira malah usil.
__ADS_1
"Ihhh, sayang. Ituuuu...... " Bima memberi kode dengan mengetuk-ngetukkan kedua jari telunjuknya.
"Gak ada!!!, kita belum makan sayang.Lagi pula ini masih Sore, belum malam-malam banget." Cegah Maira.
"Jadi gak boleh ya. " Bima mengerucutkan bibir nya dan berpindah duduk disofa yang terbuat dari rotan dipinggir kolam renang yang ada di bagian luar kamar mereka.
"Ngambek???. "tanya Maira mendekat.
Maira kini duduk disamping suaminya itu.
mereka bersenda gurau berdua, Maira memencet-mencet hidung Bima dengan dan Bima balas memencet-mencet hidung Maira.
Tapi pada akhirnya keduanya malah saling tatap, dan tatapan itu menjadi semakin dalam, dalam, dan menghanyutkan keduanya.Baru saja keduanya akan menyatukan bibir mereka, tiba-tiba bel berbunyi.Keduanya pun kaget dan urung berciuman.
" Ganggu aja. "umpat Bima seraya berdiri dan ingin berjalan ke arah pintu.
" Sabar sayang.. "Sahut Maira sambil mengekor dibelakangnya.
Setelah pintu dibuka, ternyata ada dua pelayan yang mengantarkan makanan pesanan Bima. Mereka mempersilahkan para pelayan itu memasukkan makanan yang mereka dorong di troli ke dalam.
" Susun saja di meja makan! "perintah Bima.
" Baik Pak. "sahut para pelayan itu. Mereka petugas dari restoran yang ada dihotel ini.
" Kami permisi Pak Bima, Bu Maira. "ucap kedua pelayan wanita itu pamit undur diri.
" Tunggu dulu. "panggil Maira saat keduanya hampir meraih gagang pintu.
" Iya Bu?. "keduanya berhenti dan berbalik ke arah suara Ibu bos.
" Ini untuk kalian. "
Maira memberikan uang tip buat keduanya, masing-masing seratus ribu rupiah.
"Wah, terimakasih banyak Bu Maira, Pak Bima. " Ujar Mereka kompak.
"Sama-sama, silakan. " Ujar Maira, sambi tersenyum kepada dua pelayan itu.
"Setelah kedua pelayan itu pergi, Bima menggandeng tangan istrinya dan membawanya ke meja makan dan menarikkan kursi untuk Maira duduk.
" Istri aku baik banget ya sama para karyawan,Nah sekarang Bunda dan bayinya harus isi nutrisi dulu. Nih ayah sudah pesankan makanan yang sehat untuk Ibu hamil dan jabang bayinya. "
Bima Menyendokkan sayur capcay, ke piring Maira, dan ditambah nya dengan ayam goreng mentega.
"Suapiiiinn." ucap Maira dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Baiklah, ayah akan suapin ya.. Aaaaaaa. " Bima mengangakan mulut agar Maira juga membukakan mulutnya.
Keduanya malah makan sambil saling suap-suapan.